Jumat siang kurasa "kita harus bertemu". Ya. Bersama teman lama yang tidak pernah berubah.
Kukirimkan pesan singkat kepadamu dan seorang kawan kita. Mari jumpa di hari Sabtu. Kita habiskan sepanjang Sabtu bersama.
Sabtu siang dengan hati gembira, aku datang, walau menerjang macet jalanan akhir pekan. Walau peluh keringat bercucuran. Walau angkutan umum selalu tidak bersahabat di jalanan. Aku hanya teringat satu hal: "aku akan bertemu kamu dan mereka!"
Ya. Mereka. Teman-teman lama yang rasanya tidak pernah berbeda. Mungkin kamu juga adalah mereka.
Kita pilih kursi kayu di depan pintu kaca di bawah pendingin ruangan, di pojok etalasi kayu, bermeja bundar.
Seperti biasa, aku hanya memesan greentea latte, minuman favoritku. Kawan lainnya memesan kopi dengan latte dan caramel. Kamu tak memesan apapun, "tadi pagi sudah", begitu katamu. Kamu hanya duduk di depanku, berbisik banyak cerita, sesekali kita tertawa bersama. Menunggu minuman tiba.
Minuman tiba. Tradisi terbahagia: bertemu untuk saling cerita. Kamu memulai cerita tentang bossmu yang unik, tragis, dan kaya raya (lalu jatuh miskin) karena jadi budak cinta. Kami semua tertawa, sesekali meringis dan terheran. Semua terasa mengalir begitu saja. Tegukan greentea latte dingin rupanya menyegarkan tenggorokanku. Aku masih setia mendengar cerita. Rasanya, begitupun dengan kawan-kawan lainnya.
Kisah tentang bossmu berakhir. Entah kemudian siapa yang memulai. Teringat jelas, kamu yang saat itu dicecar untuk cerita. Kamu sempat tersipu malu, enggan cerita. Aku hanya sanggup terdiam, enggan ikut menekan, karena aku sudah lebih dulu tahu ceritamu. Ya. Aku sudah tahu ceritamu kan? Kemudian kamu tanya "kasih tahu gak?", aku isyaratkan dengan mata bermakna "tak perlu", tapi bila dipikir, pandangan dari yang lain mungkin kamu perlukan.
Tak hiraukan isyaratku, kamu mulai cerita. Kronologis. Jelas. Tergambar. Ya. Kamu menceritakan kisahmu bersama cintamu. Aku tersenyum, sesekali ada luka yang terasa. Seperti ada duri kecil menancap. Tak apa, aku selalu senang dengar ceritamu.
Detik terus berganti jam. Dari siang, hingga petang. Segelas ukuran grande untuk greentea latte-ku perlahan-lahan mulai habis. Ceritamu mungkin membuatku haus. Persahabatan memang sesehat itu, kamu cerita, yang lain tidak setuju dengan sikapmu dan kamu dinasehati. Tidak ada kata-kata manis, tapi jujur. Itu kan yang memang seharusnya?
Sabtu itu aku merasa lebih senang dari Sabtu lainnya. Debaran jantungku memang kian cepat. Kamu yang membuatnya. Aku juga tahu, kamu tidak perlu tahu. Toh aku sudah menahun menyimpan ini. Puluhan bulan pun aku bisa lalui. Aku hanya ingin menikmati rasa ini, Tuhan tidak pernah salah. Rasa ini sungguh indah.
Aku kemudian tersadar, rasa untukmu sepertinya memang akan selalu begini. Kamu nyaman berbagi cerita denganmu, aku pun sama. Tapi kamu hanya nyaman karena aku temanmu. Meski aku tidak begitu.
Tak mengapa. Terkadang memang sebatas cukup untuk tahu diri. Tapi jangan menyalahkan rasa yang kamu punya. Jangan pula berubah bila suatu hari kamu tahu, betapa aku mencintaimu. Biarkan saja, aku merasakannya sendiri. Kamu sudah menjadi miliknya. Jangan merasa bersalah. Jangan pula menjauh, karena aku tak sanggup.
Biarkan kita menjadi teman baik. Selamanya.
Ya. Ini kisah tentang Malam Mingguku bersamamu. Kalau kamu ingat tentang kisah ini, jangan musuhi aku. Bila kamu baca kisah ini, beritahu aku, kamu sudah tahu. Biarkan saja semua yang kurasa ini mengalir. Kemudian hilang. Muaranya adalah menerima kehilangan.