Bicara Tentang Perpisahan
Lucu, ya? Aku terus menanyakan hal yang sama sedangkan kau (mungkin) takpernah membacanya. Sesal itu masih menggantung di dadaku. Hanya kata maaf yang terus tumbuh di reranting perasaan dan berguguran di sepanjang musim. Dan, ya, maaf, aku memulai tulisan ini dengan sebuah pertanyaan yang taklagi ada haknya untukku bertanya.
Begitu sulit melupakan apa-apa yang selalu kulakukan untukmu; perihal doa-doa di sepertiga malam, atau bahkan hanya sekadar untuk mencari tahu apakah kamu terlihat bahagia apa belum. Apakah kita benar-benar melihat langit yang sama? Sesuatu yang dulu pernah menjadi sepotong harap dan kusematkan di atas semesta.
Oh, iya, berjaga-jaga kamu takbertanya balik: aku baik-baik saja. Menutupi segala luka yang basah; oleh hujan dan air mata; tepat setelah kamu memastikan kebahagiaanmu dan menangis bahagia karenanya.
Bahkan ketika aku tidak bisa berada di sana.
Ini semesta, yang terus memisahkan kita. Hanya itu alasannya, dan aku tidak mencari apa pun. Segalanya hanya menjelma kata dan aku baik-baik saja untuk itu. Mungkin, suatu hari nanti aku akan mengunjungimu, tanpa doa-doa lama dan perasaan yang dulu pernah hidup di dalam dada. Aku mengunjungimu untuk menuntaskan perpisahan; untuk memaknai perasaan lebih dalam lagi,
"Apakah aku memang pantas untuk mencintai lagi?"
"Apakah kelak aku akan dicintai oleh seseorang yang lain?"
Aku tidak benar-benar bahagia meski bibir ini berkata sebaliknya. Tidak benar-benar baik saja meski aku ingin kamu mengetahui sebaliknya. Ini ialah satu-satunya jalan yang bentang di hadapan.
I was fine. But, I wasn't.
Rumit? Iya. Mencintaimu begitu sederhana dan melepasmu sebegini rumitnya. Sampai aku menyadari segala yang kulakukan hanyalah bagian dari ketidakmampuan untuk mengatakan "selamat tinggal" atas segala kenangan yang telah disimpan di dalam peti untuk ditenggelamkan di dasar samudra. Keenggananku untuk berlayar lagi menjadi bentuk mirat-mirat dari definisi bodoh perihal cinta.
Iz, satu-satunya alasan aku menulis ini hanyalah aku ingin benar-benar melepaskan segalanya dan dengan mengatakan yang sebenarnya, aku bisa pergi.
Iz, aku mencintaimu.
Kita tidak pernah bicara perpisahan sebelumnya, dan ini ialah waktu di mana aku harus mengatakannya--maaf bila perpisahan ini begitu dingin dengan menyampaikan isi perasaan yang sesungguhnya. Toh, apa pun yang terjadi kita tidak akan pernah bersama.
Maaf, bila tidak bisa menyampaikannya lebih mula; maaf bila aku terlalu bodoh untuk berpikir kamu tidak akan merasakan hal yang sama.
Sekarang aku hanya ingin mengubur kenangan lama dalam-dalam dan surat ini menjadi kata-kata yang kusematkan di dalam kepala; berjaga-jaga perasaanku masih bertanya keberadaanmu yang hilang dari ruang-ruang di dalamnya.
Semoga berbahagia, Iz. Senang bisa menjadi temanmu.
Jakarta,
13 Februari 2019