Sudah tuntas baca Aisyah sebelum nikah. Begitu terpesonanya dengan kehidupan rumah tangga Aisyah dan Rasulullah ﷺ yang penuh dengan manisan, alhasil senyum senyum hampir diabetes di setiap halamannya.
Keindahan rumah tangga Aisyah dan kecerdasannya yang luar biasa membuat beliau lah yang menjadi panutanku diantara beberapa Ummul Mukminin. Terkadang suami iseng menjahili dengan bertanya, "kalau jadi aisyah berarti siap dong ada hafsah?", yang hanya akan terjawab dengan pelototan mata yang menyeramkan😁. "bukan itu poinnya, kalau jadi Aisyah, ya berarti kamu panggil aku Khumaira" tegasku sambil mencubitnya.
Tapi setelah menjalani empat bulan kehidupan rumah tangga, kok, ya, rasanya akan lebih pas jika berpanutan kepada Ibunda Khadijah. Beliau yang menemani Rasulullah ﷺ di awal perjuangannya dakwahnya. Pada rumah tangga Khadijah, perjuangannya lebih terasa. Sedangkan, pada kehidupan Rasulullah ﷺ dengan Aisyah, Aisyah dihadirkan sebagai penyejuk dan pemanis dalam kehidupan Rasulullah di masa kekhalifahannya.
Mari menyelami kisah Ibunda Khadijah, semoga banyak menemukan penguat diri sebagai istri seseorang yang tengah berjuang menuju jalan dakwah!
PS: mau seperti Khadijah ataupun Aisyah, suami harus siap segala kekurangan istri.
Aisyah memang cantik, cerdas, lincah, dan menghadirkan keceriaan di tengah tugas-tugas berat Rasulullah ﷺ, tetapi siapkah wahai suami, beristrikan Aisyah yang pencemburu berat, bersekongkol dengan hafsah, sehingga Rasulullah ﷺ mengharamkan madu untuk dirinya, dan membanting piring jamuan di depan para tamu?
Khadijah memang begitu menentramkan dalam kondisi banyaknya perlakuan menyakitkan kepada Rasulullah di awal-awal risalah. Tetapi siapkah wahai suami untuk bersikap qanaah mengingat usia Khadijah yang jauh lebih tua?