Si vives para tenerlo todo, lo que tienes nunca es suficiente.
Vicki Robin

seen from Malaysia

seen from United Kingdom
seen from China
seen from Philippines
seen from Germany
seen from Norway
seen from China

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Uruguay

seen from Germany
seen from United States

seen from Uzbekistan

seen from Russia
seen from Bangladesh
seen from United States
seen from China
seen from Brazil
seen from United States
seen from Israel
Si vives para tenerlo todo, lo que tienes nunca es suficiente.
Vicki Robin
Review Buku - Your Money or Your Life
Saya mendapatkan referensi buku ini sewaktu saya mengikuti acara "Kompasfest", terutama untuk topik mengenai Frugal Living yang dibawakan oleh pembicara Samuel Ray, seorang praktisi gaya hidup Frugal. Buku yang ditulis oleh Vicki Robin dan Joe Dominguez ini pertama kali diterbitkan di tahun 1992, dan kemudian mengalami cetak ulang berkali-kali dengan penambahan materi ataupun perubahan karena banyak hal yang sudah tidak lagi relevan dengan perkembangan jaman, hingga akhirnya saya pun baru membacanya di tahun 2022 ini. Judul buku ini sendiri cukup provokatif, seakan mengajak siapapun yang membaca untuk memilih apakah kita memilih uang/harta kita atau nyawa kita. Judul itulah yang sebetulnya mengawali perjalanan kita untuk mendalami kehidupan keuangan kita sepanjang membaca buku ini.
Di Bagian awal buku, kita diajak untuk berkaca ke diri kita sendiri, bagaimana sebetulnya hubungan kita dengan "Uang", apakah kita selama ini merupakan orang yang "YOLO" sehingga uang seakan tidak pernah ada dalam kendali kita dan hanya merupakan "Alat" pemuas keinginan-keinginan kita, atau uang itu merupakan alat yang bisa membantu mewujudkan cita-cita kita. Kemudian setelah menyadari kenyataan mengenai hubungan kita yang sebenarnya dengan uang, kita juga diajak merefleksikan, bahwa apakah selama ini kita sudah bekerja dengan layak atau belum? maksudnya layak disini adalah sering kali dalam bekerja, ternyata kita mengorbankan begitu banyak hal, hubungan dengan keluarga, sahabat ataupun hal-hal yang kita senangi, semuanya tersedot kedalam pekerjaan, sehingga kita tidak lagi bekerja untuk hidup (Make a Living) melainkan bekerja untuk menyambut kematian (Make a Dying), selain judulnya yang provokatif, di dalam buku ini anda akan banyak berjumpa dengan kata-kata yang cukup ceplas ceplos yang seakan mengajak kita untuk tersadar dari berbagai anggapan yang dibuat oleh diri kita sendiri. Kita pun diajak untuk menghitung berapa jam dalam hidup kita yang kita korbankan dan berapa sebetulnya "bayaran" kita dalam hitungan jam, saat kita melihat nominal gaji kita, mungkin sebagian dari kita ada yang tersenyum puas melihat jumlah digit yang tertera, tapi siapa sangka banyak digit tersebut sebetulnya menyimpan banyak pengorbanan, kita harus rela pulang malam, menghabiskan banyak uang di Kafe atau sekedar "Healing" karena stress yang menumpuk dalam pekerjaan dan lain-lain, sehingga diakhir bulan, biasanya saldo kita mendadak menyusut ke nilai yang membuat hidup kita serba sulit, hal ini lah yang coba digali oleh penulis sehingga kita menyadari, apakah pekerjaan kita saat ini betul-betul membuat kita lebih hidup atau malah perlahan membuat kita menggali kuburan kita sendiri.
Di bagian tengah buku, kita mulai diajak membuat sebuah grafik, dimana kita diajak, melihat, sebetulnya pemasukan kita jikalau dibandingkan dengan pengeluaran, apakah seimbang apakah berat sebelah atau bagaimana dari waktu ke waktu, beruntunglah mereka yang bisa menahan pengeluaran atau gaya hidupnya di level yang rendah, sementara bisa terus menaikkan pemasukannya, tetapi kenyataan seringkali berkata lain, pengeluaran kita terus bertambah seiring pemasukan kita bertambah, maka dari itu, ajakan untuk membuat grafik ini juga bisa membantu kita menyadarkan diri kita dari halusinasi bahwa kita harus "YOLO" hidup hanya sekali, hiduplah hari ini dan lain sebagainya, saat kita memiliki gaya hidup yang terlalu tinggi, kita hanya akan menggali kuburan yang semakin dalam yang akan membuat diri kita di masa depan menanggung penderitaannya dalam menutupi setiap hutang-hutang yang kita miliki. Oleh karena nya kita juga diajak untuk berkaca agar tidak hanyut dalam gaya hidup konsumtif tanpa menyisakan sedikitpun uang untuk kita simpan di masa yang akan datang, selain itu kita juga semakin disadarkan akan pentingnya dana darurat, karena hidup kita tidak akan selamanya mulus, ada saja peristiwa yang tidak kita duga yang bisa menguras banyak uang yang kita miliki.
Di bagian akhir buku, kita juga diajak untuk mengenal beberapa instrumen investasi, yang selain bisa menjaga nilai uang yang kita miliki, tapi juga bisa membantu kita menambah nilai dari uang yang ada, mungkin investasinya pun juga tidak seperti yang diberikan oleh influencer di medsos seperti kripto, saham dan lain sebagainya yang memiliki resiko sangat tinggi, tapi lebih ke investasi yang cukup aman, tapi kembali lagi dengan profil resiko masing-masing dan tentunya tujuan keuangan kita masing-masing, dari sana kita juga diajak untuk melihat, bahwa perjalanan menuju FIRE (Financial Independence, Retire Early) merupakan perjalanan sepanjang hidup, sebetulnya kita bisa pensiun lebih dari sekali, maksudnya bagaimana? Bekerja atau tidak bekerja sebetulnya itu pilihan hidup masing-masing individu, dunia saat ini sudah sedemikian terdisrupsi dengan perkembangan teknologi, sehingga bayangan akan pekerjaan itu selalu dikonotasikan bekerja kantoran dan berpakaian rapi, padahal ada banyak pekerjaan lain yang bisa kita lakukan tanpa harus berada di kantor dan berpakaian rapi, dan pada saat kita memutuskan untuk bekerja di kantor, itu menjadi keputusan kita, ataupun saat kita merasa lelah dengan dunia kantor, kita bisa memutuskan untuk "Pensiun" atau berhenti dari pekerjaan tersebut.
Buku ini cukup provokatif tapi memiliki pelajaran yang sangat banyak, sangat disarankan untuk kalian yang saat ini bertanya-tanya apakah pekerjaan kalian saat ini tepat untuk kalian atau tidak, apakah kalian bisa menggunakan uang kalian untuk hidup Sejahtera? temukan jawabannya melalui buku ini dan melalui refleksi dengan diri kalian masing-masing, Selamat Membaca!
The last book recommendation from an AQUARIUS:
You can actually help the collective, just by focusing on your own personal growth, but you should already know that.
A simple shift in perspective.
CHECKLIST: THINK BEFORE YOU SPEND
•Don’t go shopping.
•Live within your means.
•Take care of what you have.
•Wear it out.
•Do it yourself.
•Anticipate your needs.
•Research value, quality, durability, multiple use, and price.
•Buy it for less.
•Meet your needs differently.
Your Money or Your Life by Vicki Robin, Joe Dominguez
Advertising doesn’t make you buy stuff. Other people’s expectations don’t make you buy stuff. Television doesn’t make you buy stuff. Your thoughts make you buy stuff. Watch those suckers. They’re dangerous to your pocketbook—and to a lot more.
Your Money or Your Life by Vicki Robin, Joe Dominguez
The key is remembering that anything you buy and don’t use, anything you throw away, anything you consume and don’t enjoy is money down the drain, wasting your life energy and wasting the finite resources of the planet. Any waste of your life energy means more hours lost to the rat race, making a dying. Frugality is a user-friendly and earth-friendly lifestyle.
Your Money or Your Life by Vicki Robin, Joe Dominguez
People don’t need enormous cars; they need respect. They don’t need closets full of clothes; they need to feel attractive, and they need excitement and variety, and beauty. People don’t need electronic equipment; they need something worthwhile to do with their lives. People need identity, community, challenge, acknowledgment, love, and joy. To try to fill these needs with material things is to set up an unquenchable appetite for false solutions to real and never-satisfied problems. The resulting psychological emptiness is one of the major forces behind the desire for material growth.
Your Money or Your Life by Vicki Robin, Joe Dominguez