awal dari sebuah cerita
Pernah mendengar istilah waktu seperti membeku? Detik ini aku mengetahui makna dari istilah itu. Waktuku membeku di detik ini.
seen from Germany
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from China

seen from United States

seen from Canada
seen from Australia
seen from China
seen from Australia
seen from United States
seen from Moldova

seen from Moldova
seen from Australia

seen from United States
seen from United States
seen from Brazil

seen from Moldova
seen from Colombia
seen from United States

seen from Moldova
awal dari sebuah cerita
Pernah mendengar istilah waktu seperti membeku? Detik ini aku mengetahui makna dari istilah itu. Waktuku membeku di detik ini.
Saya Terima
Kehidupan adalah misteri yang hanya mampu dipecahkan dengan menghidupinya. Aku memang harus menerima. Mungkin memang begitulah jalan ceritanya. Meski tak dapat ku ubah untuk membuatnya bahagia. Karena terkadang kebahagiaan terjadi katika kita bisa menerima apa yang terjadi, baik ataupun buruk.
Dan mungkin benar, menerima adalah perkara paling berat atas sebuah usaha. Menerima bukan berarti pasrah terhadap sesuatu, tetapi mengikhlaskan segala usaha yang telah dilakukan. Apakah sesuai rencana atau berakhir lebih indah dari itu. Hanya soal waktu, hingga akhirnya kita mampu memahami tak ada yang lebih indah dari rencana-Nya. Dan aku selalu percaya, inilah yang terbaik dari segala yang aku inginkan
Tak Ada Jalan Pintas
Keberhasilan tak di peroleh begitu saja. Ia adalah buah dari pohon kerja keras yang berjuang untuk tumbuh. Jangan terlalu berharap kepada keberuntungan. Apakah kita tahu kapan keberuntungan itu akan datang ? Apakah kita bisa mendatangkan keberuntungan sesuai keinginan kita ? Padahal kita paham, kita tak selalu mampu menjelaskan dari mana datangnya. Sadarilah bahwa segala sesuatu berjalan secara alami dan semestinya. Layaknya proses mendaki tangga, kita melangkahkan kaki melalui anak tangga satu per satu. Tak perlu repot-repot membuang waktu untuk mencari jalan pintas, karena memang tak ada jalan pintas. Sesungguhnya kemudahan jalan pintas itu takkan memberikan kepuasan sejati. Proseslah yang akan mendewasakan kita. Untuk apa berhasil jika tak merasa puas ? Hargailah setiap langkah-langkah kecil yang akan membawa kita sedikit lebih maju. Janganlah melangkah dengan ketergesaan, karena ketergesaan adalah beban yang akan memberatkah langkah saja. Amatilah jalan lurus. Tak peduli bergelombang maupun berbatu, selama kita yakin di jalan yang tepat, maka melangkahlah terus. Ketahuilah, jalan yang tepat itu adalah jalan yang menuntun kita menjadi diri kita sendiri, karena banyak manusia bertopeng di sekitar kita.
Tanya Hatimu
s : “zell, kenapa sih kamu sering pulang?”
z : “selama itu memungkinkan kenapa gak hahhaha”
s : “trus kerjaanmu gmana?”
z : “alhamdulillah selama ini dpt kerjaan yg cukup fleksibel sih, tinggal kitanya aja yang tau diri”
s : “emang ngapain si pulang terus? jangan-jangan mau nikah ya?”
z : (dilema umur 20+++ gitu tuh) “iya mau nikah, tapi belum sekarang dan aku cuma berpikir, perempuan itu kelak kan akan mengabdi penuh kepada suaminya bahkan misal ketika aku ingin bertemu dengan orang tuaku tetapi suami melarang ya gak akan bisa tuh bertemu sama mereka. Nah selama hal itu belum terjadi sekaranglah waktunya memanfaatin moment-moment itu hahahaha”
s : “zzzzzzzzz”
Karena sesungguhnya menikah itu bukan cuma sekedar tentang aku dan dia, tetapi keluargaku, keluarganya, keluarga besarku dan keluarga besarnya. Kalau ingin mendapatkan yang sholeh ya harus jadi sholehah dulu, pun sebaliknya. Dan yang perlu di garis bawahi adalah niat dari menikah itu sendiri.
Jadi, apa tujuanmu menikah? Coba tanyakan pada hatimu yang terdalam. Semoga Allah meluruskan kembali niat-niat itu.
Kamis Manis
Ceritanya hari ini muter-muter keliling Purwokerto untuk membeli kado buat ulang tahun babeh, nikahan teman, dan nikahan sepupu. Berangkat sekitar pukul 9.30 langsung menuju rumah teman lama di daerah Purwokerto Selatan. Cuaca hari ini sedikit mendung-mendung melow menghiasi permukaan langit. Jalanan kebetulan tak terlalu padat, bisa dibilang ramai lancar. Berkeliling dari satu toko ke toko lain. Pilih ini tak cocok, pilih itu ada cacatnya. 3 jam sudah, kita hampir frustasi karna tak kunjung menemukan kado yang tepat. Lelah? iya lelah, jadilah kita istirahat sebentar di cafe untuk menjernihkan pikiran kembali dan memberi sedikit jamuan untuk cacing-cacing di perut yang sudah mulai meminta haknya. Setelah dirasa cukup, aku sempatkan mampir ke sebuah toko yang menjual berbagai pernak-pernik perempuan, mulai dari aksesoris, alat make up, baju, tas, sepatu dll. Tadinya si cuma mau sekedar cuci mata, eh malah ada sepatu yang nyantol. Akhirnya di belilah sepatu itu tanpa banyak pertimbangan. Keluar dari toko langsunglah dipakai sepatu itu, ntah kenapa suka banget dan merasa nyaman. Pulang sekitar pukul 5 sore dengan kado pulpen untuk babeh, cangkir 1 set lengkap untuk teman dan sepasang kain batik untuk sepupu.
Dari serangkaian kejadian di atas, tetiba jadi terfikir bahwa yang namanya jodoh itu datang dari tempat yang tak diduga-duga dan di waktu yang tepat. Ketika masuk toko A, B, C yang sudah direncanakan mau kesana tetapi nyatanya tidak ada yang cocok di hati atau mungkin memang Allah sedang memberi tanda bahwa bukan dia. Kesana kemari tak kunjung menemukan jua, tetapi setelah sejenak istirahat sambil makan siang tetiba seperti ada yang menggerakan hati untuk melangkahkan kaki ke toko pernak-pernik perempuan itu. Dari sini aku belajar bahwa kita perlu ikhtiar untuk mendapatkan kejernihan hati serta pikiran yang jauh dari keinginan nafsu belaka untuk menjemputnya. Alhasil Allah tunjukkan jalannya, seperti ketika aku membeli sepatu itu. Sepatu yang memang sudah berjodoh denganku. Allah sudah membuat ketetapan bahwa hari ini, jam sekian aku akan membelinya. Namun apabila ketika itu aku menyerah untuk memutuskan pulang sebelum istirahat makan siang, mungkin memang kita belum waktunya untuk saling memiliki. Untuk itulah diperlukan keikhlasan yang bersinergi dengan doa-doa serta langkah nyata, maka disitulah Allah akan memainkan perannya.
Kota Kelahiran
Kisah hidupku dimulai dari kota kecil yang bernama Purwokerto. Kota yang terletak di dibawah kaki gunung Slamet ini merupakan salah satu tempat untuk melepas rindu bagiku, karena di kota inilah aku dititipkan oleh Allah ke sebuah keluarga sederhana dengan kondisi keuangan yang masih minimalis. Meski begitu aku tetap bahagia dengan keindahan panorama yang terbentang di depan mata. Seperti ada kedamaian yang tercipta.
Kota Ngapak, begitulah orang-orang menyebutnya, karena bahasa kita memang sedikit berbeda dari bahasa-bahasa Jawa lainnya. Bukan cuma logatnya, tetapi juga tentang kosa katanya. Meski demikian, aku selalu bangga untuk menggunakan bahasa ngapak di dalam keseharian berinteraksi dengan sanak keluarga, teman sepermainan dan tetangga sekitar.
Terlalu banyak kenangan terukir di kota yang tak terlalu besar ini. Dialah saksi bisu dari sebagian besar perjalanan hidupku. Disini ku mengenal banyak makna dari kata senang, sedih, bimbang, sesal, rindu, benci serta cinta. Sebagai balas budi, berharap suatu hari nanti bisa ku jadikan kota ini sebagai salah satu kebanggaan dari Indonesia dari berbagai aspek kehidupan. Ya, semoga saja tak sekedar harapku :"
Sahabat
Selasa pagi menjelang siang di salah satu ruang rapat di lantai 3 Universitas swasta. Kala itu ada sedikit percakapan menarik antara senior dengan juniornya.
..................
s : “jun, lu mending daftar ssg deh”
j : “apaan dah itu bang?”
s : “santri siap guna di DT keren dah pokoknya lu harus ikutan biar bisa ngerasaan sendiri kebermanfaatannya”
j : “jadi lu botak karna ikutan begituan bang? dan harus banget dibotakin gtu?”
s : “enggak sih, rambut cepak ukuran 1-2 cm jga boleh, cuma gue pengen aja dibotakin skalian cari pengalaman baru, ternyata gak buruk2 amat tuh hahhaha”
(selama ini kita diruangan bertanya-tanya, kenapa si kakak ini tiba-tiba botakin rambutnya, ternyata itu jawaban sebenarnya hahhahaha karna selama ini dia slalu ngeles,"biar adem" -_-)
j : “lu ikut begituan dari kapan bang? trus manfaat yg lu rasain itu apa?”
s : “udah lama sih, tahun lalu sekitar bulan Mei (kalo gak salah denger ya hehehhe) waktu itu gue datang ke wisudaan ssg temen di DT, trus dia rekomendasiin gue suruh ikutan, karena niatnya baik jadi gue cobain aja dan ternyata banyak banget manfaatnya mulai dari rajin sholat berjamaah di masjid, dhuhanya lancar, dzikir di waktu-waktu kosong trus yg paling berkesan itu ketika masih di awal2 perjalanan..”
"jadi waktu itu kita semua peserta disuruh nyebrangin sungai yg dalamnya mencapai 4 meter dan cuma dikasih tali buat pegangannya, trus gue yang gak bisa berenang cuma ngebatin, gilegilegile gmana caranya, tapi waktu itu ada 1 cewe yg udah berhasil lolos tes nya dan kasih testimoni,"lo semua harus nyobain sensasinya, rasanya itu kaya sakratul maut, hidup ini gak ada apa-apanya kalo kita hidup gitu-gitu aja tanpa ada kebermanfaatan buat org lain. Jangankan buat orang lain terkadang justru kita malah yang menjadi sumber masalah dan lo harus percaya ketika nyebrangin itu Allah yang bakal ngebantu lolos, kalo emang belum waktunya tetaplah berusaha jangan menyerah di tengah jalan"
s : “jadi dari situ gue termotivasi banget buat nyobain, masa iya gue kalah sama cewe itu. Alhasil beneranlah rasanya kya sakratul maut, bener-bener pasrah dan langsung keinget dosa-dosa gue banyak banget slama ini, trus masih aja sombong :( semenjak saat itulah gue slalu berusaha utk terus memperbaiki diri. Ngrasa Islam gue tuh masih cetek banget, gue cuma kaya butiran debu yang cuma jadi benalu dan ketika di tiup bisa-bisa langsung menghilang tak tersisa. Pokoknya lo harus ikutan jun, gak akan nyesel deh gue jamin, banyak kok macem-macem programnya jadi lu bisa milih yang lu butuhin”
j : (terdiam sambil mikir keras)
s : “udah lu mantepin diri aja buat ikutan, programnya baru di buka lagi akhir tahun ini kok, dan rencananya gue juga mau bilang ke bapak akademik biar anak-anak himpunan dan Alfath fakultas buat ikutan juga, jadi salah satu rekuitasinya harus lolos ssg itu. Keren dah pokoknya kalo itu bisa terlaksana. Wah gak bisa bayangin gue pasti keren banget”
..................
Hampir 1 jam lebih si senior ini ngajakin secara khusus junior di hadapanya. Percakapan di atas itu hanya sebagian dari serangkaian bujuk rayu supaya si junior ini tertarikbuat ikutan, karena si kakak merasakan banget adanya perubahan positif dalam hidupnya. Di ruangan yang sama, kita para cewe-cewe hanya terdiam dengan kesibukan masing-masing di depan laptopnya lengkap dengan headset di telinganya. Ntah mereka denger atau gak. Sedangkan aku yang kebetulan cuma pasang headset tanpa muterin lagu, gak sengaja dengerin dari awal sampe akhir percakapan mereka, dan langsung terfikir, "gitu kali ya yang seharusnya disebut sahabat, selalu memiliki sejuta alasan untuk mengajak ke arah kebaikan, gak ingin sahabatnya tersesat di dunia yang fana ini, dan hanya ingin berjuang bersama2 dalam menebar kebaikan.”
*nb. potongan percakapan diatas adalah dalam bentuk redaksiku
Takut adalah ketika ada dan tiadaku di dunia ini tak ada bedanya, sedang aku hanya selalu disibukkan dengan permasalahan diri sendiri
zelviraa