Grateful for sunny weather & front yard workouts ☀️💪☀️
Insta
seen from Türkiye
seen from China
seen from United States
seen from Russia
seen from United States

seen from United States
seen from China
seen from China
seen from China
seen from United States
seen from Germany
seen from China
seen from Germany

seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from China
seen from China

seen from Brazil
seen from China
Grateful for sunny weather & front yard workouts ☀️💪☀️
Insta
Please don’t unmute.
5 Websites With High-Quality Stay at Home Jobs
Tentang 18 April 2020
Hari ini seharusnya aku bersama kawan-kawanku menggunakan toga, selempang, dan berfoto selamat ‘wisuda’. Namun, itu hanya delusi semata. Rutinitas hari ini masih sama seperti hari-hari sebelumnya yaknin, beres-beres rumah dan berkelekar cerita di sosmed. Perayaan wisuda berganti ucapan secara virtual. Hari ini masih menggunakan tagline #dirumahaja. Untuk kedua kalinya aku merasa gagal wisuda. Sebelumya di Tumblr ini sudah aku ceritakan kegagalan di Oktober lalu. Hahaha.
Bayang-bayang wisuda sudah di depan mata tentang toga, baju kebaya, ijazah dan beberapa hal yang mengitari pikiran. Semua tampak jelas bayan
Terkadang semesta mengajak bercanda dengan sangat rapi. Tanpa disadari semesta juga mengajak bercengkerama dengan manusia. Tubuh yang biasa aktif bergerak, kini hanya sebatas rebahan dan rumah. Selain itu, pikiran jadi lebih aktif daripada tubuh. Penggunaan gawai (handphone) lebih sering daripada hari-hari biasa.
Manusia terus berusah merawat kewarasannya yang hanya di rumah saja. Di laman sosmed untuk mencegah kebosanan ada yang melakukan olahraga, memasak, membaca buku, menonton film, bermain Tik Tok, dan hal receh lainnya. Kegiatan beralih ke virtual baik seminar, galang donasi, rapat, dan pameran buku. Manusia satu dengan yang lain saling menunggu dan terus bertanya kapan semua ini berakhir. Terlepas dari dampak negatif covid-19, yakni PHK dan pencurian. Semesta mengajarkan kita untuk mengenal diri kita sendiri (sekali lagi). Rutinitas manusia pada normalnya berkisar tentang bangun pagi, bekerja, dan pulang dengan keadaan letih. Akhir pekan ada saja agenda keluar rumah dan tak ada waktu rehat untuk diri sendiri. Sepenggal puisi salah satu penyair dari Solo tampak menfasirkan keadaan sekarang, mari kita simak bersama!
Kota
Bahasa sibuk adalah bahasa kota
Yang tak bisa diajak bicara
Bahasa sibuk adalah bahasa untung-rugi
Bahasa sibuk adalah bahasa kita
Bahasa cinta sudah kita jual
Hidup jadi serba-otomastis
Sulit terharu, lupa meditasi
(Wiji Thukul, 2015:94)
Manusia kadang lupa untuk menyadari apa-apa yang ada di dalam dirinya dan sekelilingnya. Melakukan sesuatu hanya berdasarkan material. Saat seperti ini saat yang pas untuk berkontemplasi. Melakukan hal-hal yang selama ini tertunda, menggali hobi lama, atau membuka album masa kecil. Manusia beberapa hari lalu kerap berdoa, agar semua ini berakhir sebelum Ramadan tiba. Lagi-lagi manusia tak akan sanggup membatah semesta. Sebentar lagi Ramadan dan kali ini paling berbeda dari tahun-tahun lalu. Undangan buka bersama dan silahturahmi hanya melalui virtual. Anjuran untuk beribadah di rumah dengan khusyuk sudah digaungkan ulama. Serumit apapun dan sebosan apapun, tetaplah mencari kebahagiaan. Sesekali abailah terhadap kabar negatif yang bertebaran di lini sosmed. Ingat kita dibentuk oleh informasi yang kita baca dan dengar. Oh iya, untukmu yang membaca tulisan ini untuk menjaga kewarasan selama di rumah apa yang dilakukan?
Let the battle commence.