Aku adalah karyawan baru di salah satu perusahaan besar. Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja yang terbilang lumayan, aku diposisikan di bagian financial. Katanya aku dibentuk sebagai kepala cabang nantinya. Entah juga. Biru, aku memperkenalkan diri ke pegawai-pegawai lainnya juga ke atasanku. Hari-hari awal tentu masa orientasi dan training. Berlangsung selama 2 minggu. Selanjutnya aku mulai bekerja. Bukan penyesuaian namanya jika setidaknya teman sesama ruangan tak kubaca ringkas karakternya. Nilam, teman seberang mejaku wanita berkacamata yang cukup lincah. Kerjanya teliti, namun agak kaku. Ilham, lelaki lain di ruanganku posisinya sama denganku. Si banyak bicara. Hampir semua wanita ia gombali. Sok tampan. Laras, wanita di pojok ruangan. Kata orang-orang ia adalah Ace di bidangku. Si masa depan cerah. Usut punya usut, jika boss naik jabatan, ia yang akan menggantikan posisinya. Pintar, cantik, menarik, lihai bersosial. Nyaris sempurna. Aku jadi penasaran. Jam pulang kerja teman ruanganku berhamburan keluar. Tersisa Laras di mejanya. Kudekati, kulihat ia masih mengerjakan pekerjaan. "Masih banyak? Mau kubantu?" ia menoleh ke arahku. "Terima kasih, sebentar lagi beres kok." ia kembali mengarahkan mata ke laptop lagi. "Makan malam bareng yuk, ada acara?" tanyaku lagi. "Kamu jajanin ya!" tak kusangka ia bisa semudah itu bergaul. "Deal!" Aku dan Laras bercerita banyak. Mulai dari pengalaman kerja dan kondisi kantor. Ternyata ia lulusan UI, lulusan terbaik pula. S2 ke Australia, sekarang berencana untuk S3. Menganggumkan. Inilah definisi cantik, bukan hanya paras, otak, dan kebaikan juga. Laras tidak ragu memberiku kiat-kiat agar cepat naik posisi. Juga memberitahu bagaimana sifat-sifat pekerja lain, tujuannya agar aku bisa lebih atisipasi terhadap orang lain. (lanjut kolom komentar) #aksarannyta #whitepaperff #WPFF04














