Kota bernasib buruk
Kota yang kudekap letak senjanya, tersenyum samar pada warna yang sedang memecah semesta juga nasib buruk orang-orang di dalamnya. Di kota ini, aku tumbuh dan runtuh bersama seperti tidak ada remang paling redup selain kota ini.
Beberapa tahun lalu, di kota ini, pernah ada seseorang yang dengan sengaja pulang tanpa berkabar. Ia yang ada di saat kau memilin luka, ia yang selalu ketika kisahmu sembilu, ia yang lihai mengubah lengkung di bibirmu agar lupa akan bilai. Namun kau acapkali terlalu angkuh untuk menganggapnya ada, terlalu acuh untuk memahaminya selalu, terlalu merasa bahwa ia cuma mampu berucap andai. Sebenarnya ia tak lebih dari sebuah omong kosong yang isinya sedang getol ia upayakan. Ia tidak begitu istimewa dari siapa pun sebab kelebihannya hanyalah kekurangannya saja.
Kota yang kudekap letak senjanya ini, aku tersenyum pada warna murungmu yang sedang memecah semesta. Di kota ini, aku sengaja pulang tanpa kabar dan tidak sengaja menemukanmu yang kehabisan bahan bakar di sudutnya.
Istirahatlah sejenak, tidak usah terburu-buru. Kita nikmati dahulu beberapa petang sebelum pulang. Pasti akan sangat menyenangkan apalagi dengan sepotong roti isi stroberi kesukaanmu. Agar kau kenyang; agar kau tenang di samping tubuhku.
Dulu sekali, ya, ketika mengingat silam di mana aku murka sendiri. Bagaimana tidak, kecewa sudah memaksa diriku merasa sia-sia melakukan segala hal atau dengan kata lain berkorban. Ah gara-gara silam itu dan waktu-waktu menuju hari ini, aku masih kecewa terhadap diriku sendiri. Ternyata aku baru menyadari bahwa memberi sebenarnya tidak mengurangi apa pun dalam diri. Oleh sebabmu aku belajar bahwa Semesta tidak perlu selantang pita suara untuk membalas kebaikan-kebaikan. Ia selalu bisu dalam gemerlap warnanya dan ketika berulangkali aku di sini, aku mulai paham bagaimana cara bersyukur.
Sekarang, ya, sekecil apa pun memberi sudah menjadi barang pasti bahwa merupakan kepedulian yang tinggi entah itu sekadar membersihkan rumah dan ngopi dengan teman sebaya meski aku tidak memiliki materi berlebih. Setidaknya dengan tenaga, aku bisa menyenangkan orang tersayang dan dengan meluangkan waktu, aku masih bisa membahagiakan orang tercinta.
@karenapuisiituindah @hujanmimpi @aksarannyta










