Skripsweet
HeyYo!
Jadi, pada tanggal 16 Maret 2017 yang lalu akhirnya aku resmi menyandang gelar Sarjana Ekonomi. Setelah 3,5 jam diuji aku pun dinyatakan lulus sidang skripsi. Seketika itu juga, beban 3 tahun 6 bulan 15 hari terbayarkan dengan hasil yang memuaskan. Aku lulus dengan ipk 3,96 dan nilai 88 untuk hasil absolut sidang. Dan bagiku mencapai hari itu, bukan melalui proses yang mudah.
Aku masih ingat sekali, bulan Oktober-November 2016 adalah bulan penuh air mata. Saat itu, aku sangat ingin sekali maju seminar proposal, namun keadaan sama sekali tidak mendukung. Aku tidak pernah malas menggarap bab 1-3, aku rajin mencari literatur, merevisi bagian yang kurang tepat, dan selalu patuh pada saran dosen pembimbingku. Namun pada saat aku ingin meminta acc berkas untuk maju seminar, aku dimarahi dosen pembimbingku, sebut saja Pak A. Entah kenapa, mungkin pada saat itu beliau sedang ada masalah.
Dengan sangat berberat hati, aku harus menunda seminar proposal sampai lepas ujian mid semester 7. Setelah itu, aku kembali menghubungi Pak A, namun nomorku diblokir. Kejadian ini membuatku semakin sedih dan putus asa. Aku tidak bisa diam di tempat hanya karena masalah ini, aku harus melakukan sesuatu. Dan aku memilih untuk mengajukan penggantian dosen pembimbing.
Nah, masalah baru muncul lagi karena tidak bisa semudah itu mengganti dosbing. Aku harus mengurus ke bagian akademik, tata usaha, sekretaris jurusan hingga kembali ke ketua prodi. Setelah proses yang panjang dan berbelit-belit, akhirnya disetujui untuk ganti dosbing. Lantas aku menemui Pak B dan meminta kesediaannya untuk menjadi dosbingku. Dengan senang hati, Pak B menerima permintaanku dan dimulailah hari-hari bimbingan bersama beliau.
Tidak perlu menunggu lama-lama, aku pun disetujui untuk maju seminar setelah 2x bimbingan dengan Pak B. Yeay! Tanggal 21 November 2016 aku resmi mengajukan diri untuk seminar proposal. 2 hari setelahnya, aku diberikan undangan seminar dan ternyata salah satu dari dua dosen pengujiku adalah Pak A, yang notabene adalah mantan dosbing yang memblokir nomorku itu.
Tanggal 1 Desember 2016 adalah hari aku maju seminar. Tidak bisa dibayangkan betapa takutnya aku berhadapan dengan Pak A lagi. Dan benar saja, ada bagian dari proposalku disalahin oleh Pak A dan aku merasa aku tidak layak untuk maju seminar pada hari itu, betapa sedihnya aku. Aku telah mengecewakan Pak B yang mendukung dan percaya bahwa aku bisa.
Setelah selesai seminar, dimulailah hari-hari revisi. Revisi dengan Pak A sangat sulit sekali. Berkali-kali bertemu beliau, namun beliau tetap menolak untuk tanda tangan, barulah sampai hari terakhir revisi beliau bersedia acc. Tidak berhenti di hari revisi, aku kembali didera ketakutan jika kelak bertemu dengan Pak A saat sidang skripsi.
Cukup 2 bulan menggarap bab 4 dan 5 dan tibalah saatnya aku (harus) mengajukan diri untuk sidang (karena ditanya terus, kapan sidang?). Lalu, diputuskanlah aku sidang tanggal 16 Maret 2017. Yeay! Ini berarti sebentar lagi bakalan menyandang gelar sarjana. Tapi tetap tidak bisa tenang karena siap-siap harus diuji oleh Pak A.
Ketika tanggal 16 tiba, semakin takut dan cemas, takut tidak bisa menjawab pertanyaan lah, cemas karena dibilang skripsinya tidak baik lah, lalu sidangnya digagalkan. Tapi ternyata, quote “tidak semua hal yang kita takutkan akan terjadi” itu memang benar adanya. Selama 1 jam diuji Pak A, semuanya lancar dan aku tidak menyangka aku bisa menjawab semua pertanyaan beliau tanpa dibantah dan dibikin down. Bahkan sebelum menguji, Pak A masih sempat memberikan selamat karena aku sudah berada di tahap sidang.
Saat itu juga, aku percaya bahwa usaha yang dibarengi dengan doa memang memiliki kekuatan yang sangat dashyat. Hasil dari sidang kemarin bukan hanya karena usahaku sendiri, tapi ada dukungan dari orang-orang sekitar. Aku jadi tahu siapa saja yang turut berbahagia ketika aku lulus sidang dan siapa yang tulus mengucapkan selamat.
Di sini aku hanya ingin membagikan sebuah cerita tentang perjuangan yang berbuah hasil indah. Bagaimana pun juga, hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha. Tuhan tidak akan pernah tega melihat kita berjuang tanpa memberikan kita hasil yang setimpal. Dan satu lagi, Tuhan tidak akan membawa kita sampai sejauh ini hanya untuk meninggalkan kita.
Jadi, berjuanglah. Ngegarap skripsi memang susah, tapi akan lebih susah lagi kalau kamu meninggalkannya, lalu terpaksa harus memulai dari awal lagi. Karena skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai dengan hasil kerja keras sendiri.
Semangat, mahasiswa!















