Tangisku. Hanya Allah yang Dengar.
Kemana mereka yang aku harapkan bahunya, yang aku butuhkan telinganya, yang aku dambakan jemarinya? Mereka tiba-tiba menjelma menjadi debu, lenyap terhisap angin berlalu.
Aku jatuh. Iya. Jatuh. Terperosok pada sebuah kubangan dan kebingungan bagaimana caranya untuk keluar lalu melanjutkan perjalanan. Aku sedang memapah beban yang rasanya jauh lebih berat dari bobot tubuhku sendiri. Aku sedang mengerang, betapa pilu ini bukanlah tamu yang pernah aku impikan. Aku sedang bersua dengan luka. Tanpa seorangpun bersedia menyumbangkan cahayanya untuk menuntunku menembus kelam.
Kalau sudah begini. Aku hanya mampu mengunci setiap kata yang berdesakkan ingin keluar. Meredam tangis yang pecah ditengah hening. Menyembunyikan mata yang mulai kemerahan dan menakutkan.
Lalu berlari menjauhi keramaian. Menyempurnakan kembali tangis didepan sebuah kaca. Meracau seperti orang mengigau seraya menatap bayang diri yang sudah dipenuhi bercak duka.
Lucu sekali nasibku. Ketika aku ingin membuncahkan segala sesak ini. Mereka malah berpura-pura tuli. Perlahan memundurkan langkah lalu pergi.
Allah.. Berjanjilah untuk selalu merengkuhku. Karna tangisku, hanya Kau yang dengar. Karna lemahku, hanya bahu-Mu yang selalu tersedia. Karna manusia bisa saja tak peduli, namun Kau tak pernah memutuskan untuk meninggalkanku seorang diri.
Ya Allah.. Maha Pengendali. Kau berjanji untuk selalu mendampingi, memulihkan luka, membasuh duka. Dan aku percaya. Allah tidak akan pernah ingkari janji.
Didepan kaca. 6:45 pm. Wednesday. July 1. 2015











