Dia yang katanya jatuh cinta padamu sejak lama. Yang mengaku pandai menyembunyikan rasa.
Yang selalu berharap dapat menatap matamu tanpa pernah menginginkan kau membalas tatapnya.
Dia pernah kau buat terluka. Namun lalu melupakan pilunya hanya karna menangkap senyummu secara tidak sengaja.
Dia menanti sosokmu setiap pagi. Menggelar lebar-lebar telinga, demi derap sepasang langkah kaki.
Layaknya kau matahari, yang datangmu membuat pipinya merona berseri.
Dia sering membungkam tangis, tatkala menyaksikan jemarimu terpaut dengan milik yang lain, gadis yang kau percayai, yang kau cintai.
Kau bisa saja melihatnya tersenyum, seolah tak akan ada hal mengkhawatirkan terjadi padanya.
Kau bisa saja menangkap derai tawanya, seolah yang dia pahami hanya bahagia.
Kau bisa saja tak mengenal seperti apa suara tangisnya, seolah dia jauh dari duka.
Kepalanya tidak pernah tertunduk. Bahunya tidak juga merunduk. Matanya tertambat kedepan, entah mengarah kemana, kepada angin mungkin.
Dia selalu mengulas senyum, tulus sekali. Sampai kau sukar menemukan kepalsuan.
Kalau kau pikir, dia kuat. Kau salah.
Dia adalah makhluk terapuh. Sayapnya sudah banyak yang layu dan patah.
Dia hanya pandai. Pandai memainkan peran. Pandai menyamarkan kepedihan
Bagimu, dia bukan apa-apa. Cukuplah menjadi bayang yang samar. Tak perlu kau pedulikan. Tak perlu kau anggap ada.
Jika saja kau mau memicingkan matamu lebih tajam lagi. Jika saja kau bersedia menyibak tudung pada hatimu agar dapat merasa lebih dalam lagi.
Kau mungkin tidak perlu meninggalkan waktumu terlalu banyak untuk menunggu, kau tidak perlu mengucurkan peluhmu terlalu deras untuk mencari.
Cinta yang sesungguhnya, ada padanya.
Cinta yang sebenarnya, selalu ia bawa.
Didekatmu, mengelilingimu walau takpernah benar-benar menyentuhmu.
Dia selalu menanti. Menyimakmu dari jauh. Memandangi hanya sebatas punggungmu.
Bisa menangkap kilasan sosokmu saja, ia akan sangat bahagia.
Bisa merekam samarnya tawamu saja, ia merasa lega.
Seolah rindu yang selalu ia ramu, terteguk juga olehmu. Membebaskan dahaga akan pertemuan.
Seolah ingin dan impi yang selalu ia jadikan padu, kau rapal menjadi bulir-bulir harapan.
Dia jatuh hati. Mengakarkan cinta padamu.
Dia itu aku.
Rizki Adhilia.
9:01 pm. Friday. July 3. 2015.