What is the point of being educated?
Jadi tulisan ini diinspirasi oleh tulisan seorang murid di Yayasan Pemimpin Anak Bangsa yang dia tuliskan sebagai tes menulis mata pelajaran Bahasa Inggris (kalian dapat membacanya di foto lembar jawaban yang aku lampirkan). Sejujurnya, aku sudah punya rencana untuk menulis hal semacam ini sejak sebulan lalu, tetapi aku tidak dapat menemukan judul yang tepat. Dan hari ini, setelah membaca tulisan yang disebar di grup WA tutor YPAB ini, yeah, it was brilliant. I think I found it, the title for my story. I will use the same title, what is the point of being educated?
Jadi sejak Januari lalu, aku mengajar di sebuah yayasan pendidikan kesetaraan yang bernama Yayasan Pemimpin Anak Bangsa. Yayasan ini terletak di komplek PLN di daerah Karet. Aku mengetahui tentang keberadaan yayasan ini berdasarkan info dari salah seorang temanku setelah aku menceritakan keinginanku untuk terlibat dalam hal-hal berbau volunteer terutama di dunia pendidikan untuk mengisi akhir mingguku dengan hal yang berguna, tidak hanya ngaso-ngaso di kosan.:) Aku pun mendaftar untuk menjadi tutor dan setelah itu, beginilah aku menjalani kehidupanku di akhir minggu semenjak aku pindah ke Jakarta.
Beberapa bulan mengajar di sana, aku yang seharusnya mengajar malah lebih banyak belajar. Hah! Maksudnya? Yap, belajar tentang arti perjuangan untuk memiliki pendidikan yang baik dengan harapan untuk dapat hidup dengan lebih baik ke depannya. Di tempat ini aku bertemu dengan orang-orang yang sebegitu semangatnya untuk belajar. Di tengah segala kekurangan dan kelemahan mereka, mereka selalu giat untuk belajar. Mereka bahkan harus menempuh perjalanan yang sangat jauh sebelum dapat belajar. Ya mereka orang-orang yang putus sekolah, mungkin karena masalah biaya, mungkin karena masalah keluarga, mungkin karena penyakit, dan masih banyak lagi alasan-alasan lainnya. Tetapi semua hal-hal itu sama sekali tidak mengurungkan niat mereka.
Mereka memanggilku Kak Monika (aku salah satu yang paling bocah dari relawan-relawan tutor yang mengajar disana), disaat bahkan banyak diantara mereka yang sudah berusia lebih tua daripada aku. Umur mereka beragam, dari yang masih kecil bahkan sampai yang sudah dewasa, bahkan tua. Mereka datang ke tempat itu dengan cerita mereka masing-masing tetapi dengan maksud yang sama untuk belajar. Setelah selesai mengajar, mereka selalu mengatakan, “Terima kasih Kak Monika”. Oh my God. This word gives me a full of happiness. I would say that I am happier when I am teaching them than when I work for my daily job. (Hehe, there is something wrong with me #abaikanpartini). Dan di penghujung tahun ajaran kemarin, beberapa dari mereka mengikuti ujian dan mendapatkan hasil yang memuaskan. Mengetahui kabar itu membuatku tersenyum lebar dan bergumam dalam hatiku aku bangga pernah mengajar mereka.
Mengetahui mereka belajar dengan semangat yang sangat luar biasa membuatku berpikir, betapa beruntungnya aku dan seberapa besar seharusnya aku bersyukur. Setidaknya sejak aku kecil, sampai aku bisa mendapatkan gelar sarjana, aku masih dapat menjalani pendidikanku dengan baik dengan kondisi yang nyaman. Malahan dengan segala kemudahan itu yang ada aku malah sering bermalas-malasan. Berbanding terbalik dengan kondisiku, lihatlah mereka dengan segala kekurangannya, yang bekerja setiap hari, pekerjaannya pun bukan pekerjaan kantoran yang nyaman, yang mungkin harus berpikir setiap harinya tentang apa yang harus dia makan hari itu, tapi mereka selalu datang dengan wajah berseri-seri untuk belajar. Berbicara soal cita-cita juga, mereka semua dapat dengan lantang menyebutkan hendak jadi apa mereka ke depannya. Ada yang ingin menjadi koki dan punya restoran sendiri, ada yang mau jadi astronom, ada yang mau jadi pembuat game, ada yang mau jadi guru, oh my God, rasanya aku harus merenung, bahkan aku sendiri pun belum tahu tujuan hidupku ke depannya.
Aku menghela nafasku dan mendapatkan kesimpulan. They are better than me in every aspects. I really really really mean it. You can see one example of it, they even can write story in English better than me. Hihihi.
Aku sekali lagi menghela nafasku, bersyukur dalam hatiku, dan berjanji kepada diriku sendiri. Aku tidak akan pernah meninggalkan hidup yang seperti ini. Selama aku bisa, seumur hayatku, aku akan selalu berbagi ilmuku yang walaupun tidak seberapa, untuk orang-orang di sekitarku. Aku harus terus belajar sehingga semakin banyak ilmu yang dapat kubagikan. Jika malas menyelimutiku kelak, ingatlah Monika, hal yang tertulis di ijazahmu dan tentang tanggung jawab yang melekat pada sebuah gelar sarjana.
Jadi aku ingin mengakhiri tulisan ini dengan jawaban yang sama (sedikit penyesuaian) dengan tulisan Dapid Nurdiansyah di atas.
Q: What is the point of being educated?
A: To be free and set someone else free.
P.S:
Oya ada satu lagi yang menurutku luar biasa. Para relawan tutor di tempat ini, oh my goodness, mereka semua orang yang amazing. Bisa dibilang aku yang paling culun. Ada yang sudah sangat sukses, ada yg sudah S2/S3 di luar negeri, ada yang sudah keliling dunia, ada yang gajinya sebulan kayaknya sejumlah dengan gajiku berbulan-bulan, tapi mereka semua tetap sama, mereka datang ke tempat ini untuk membagikan ilmu dan cerita mereka. Aku sungguh berbangga menjadi bagian dari YPAB.
Eh btw ini terakhir banget, yang di foto itu, ada pendirinya YPAB, yang kayak orang Thailand, idola remaja saat ini. Wkwkwk, dia juga inspirational sekaleh. Kalian bisa googling deh kalau tidak percaya. Namanya Andri Rizki Putra. Hehehe.











