Oleh Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.Pengamat, Dosen Pascasarjana UM Sumbar, Ketua PWM Sumbar 2015–2022; 2000–2005.
Smart Surau (SS) atau Surau Cerdas menjadi salah satu ikon penting pada Ramadan 1447 H di Kota Padang. Program ini merupakan wujud nyata Program Unggulan (Progul) ke-3 dari sembilan program unggulan pasangan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Padang, Fadly Amran dan…
Oleh Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.Pengamat, Dosen Pascasarjana UM Sumbar, Ketua PWM Sumbar 2015–2022; 2000–2005.
Smart Surau (SS) atau Surau Cerdas menjadi salah satu ikon penting pada Ramadan 1447 H di Kota Padang. Program ini merupakan wujud nyata Program Unggulan (Progul) ke-3 dari sembilan program unggulan pasangan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Padang, Fadly Amran dan…
Hasril Chaniago: PDRI dan Peringatan Hari Bela Negara
Hari Bela Negara 19 Desember seyogyanya diperingati secara nasional di seluruh Tanah Air, sama dengan Hari Pahlawan 10 November atau Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober. Sebab, jika dilihat dari intensitas dan luasnya cakupan peristiwa, lama kejadian, dampak serta besarnya pengorbanan rakyat, tak diragukan lagi bahwa peristiwa Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang berlangsung selama hampir tujuh bulan (19 Desember 1948-13 Juli 1949) jelas mengandung bobot sejarah.
PDRI muncul pada 19 Desember 1948, saat tentara Belanda melancarkan Agresi Militer II dengan menyerang Ibu Kota RI Yogyakarta dan Kota Bukittinggi di Sumatera Barat. Kedua kota utama basis perjuangan itu, terutama Yogyakarta, dengan mudah diduduki Belanda karena telah dikosongkan oleh TNI yang sudah siap bergerilya. Presiden Sukarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, dan para pemimpin lain ditangkap dan ditawan di Berastagi dan Bangka.
Sebelum ditangkap dan ditawan, Sukarno dan Hatta sempat mengirim kawat kepada Menteri Kemakmuran Sjafruddin Prawiranegara di Sumatera serta Menteri Luar Negeri AA Maramis dan Sudarsono di India.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Isinya, bila Presiden dan Wakil Presiden tidak dapat menjalankan kekuasaannya, maka diberikan mandat kepada Sjafruddin untuk membentuk Pemerintah Darurat di Sumatra. Bila Sjafruddin tidak dapat melaksanakan mandat tersebut, Sudarsono diberi kuasa untuk membentuk pemerintah dalam pengasingan.
Telegram itu tidak pernah diterima Sjafruddin. Namun, Menteri kemakmuran itu berada di Bukittinggi adalah atas anjuran Hatta untuk mempersiapkan pemerintahan darurat bila Yogyakarta jatuh. Makanya, begitu mendengar berita radio bahwa Yogya telah diduduki Belanda serta Sukarno, Hatta dan sejumlah menteri ditawan Belanda, Sjafruddin langsung menggelar rapat darurat di kediaman Komisaris Pemerintah Pusat TM Hassan di Bukittinggi. Bersama Panglima Tentara Sumatera Kolonel Hidayat dan didukung Residen Sumatera Barat Mr. Sutan Mohammad Rasjid, mereka memutuskan untuk membentuk PDRI pada hari itu, 19 Desember 1948. Kabinet PDRI diumumkan Sjafruddin pada 22 Desember 1948 di Halaban.
Dengan terbentuknya PDRI, maka terpatahkanlah propaganda Belanda bahwa Republik Indonesia sudah tidak ada. Sebab, melalui siaran radio, seperti dikutip dari penelusuran Mestika Zed, Sjafruddin berhasil menyampaikan pernyataan ke dunia internasional bahwa Indonesia masih ada.
Jatuhnya Yogya dan ditawannya sejumlah pemimpin menyebabkan kekuatan perjuangan Republik di Jawa sempat kacau. Tapi hal itu tidak lama karena para pemimpin militer di bawah komando Panglima Besar Soedirman dan pemimpin sipil seperti Sultan Hamengku Bowono IX, I.J. Kasimo, Soekiman Wirjosandjojo, dan Soesanto Tirtoprodjo, segera berhasil mengkonsolidasikan seluruh kekuatan perjuangan.
Pada 22 Desember 1948, tiga hari setelah membangun basis pertahanan di dekat Prambanan, Panglima Jawa Kolonel AH Nasution mengeluarkan maklumat tentang berdirinya pemerintahan militer di seluruh Jawa. Nasution mengangkat panglima-panglima divisi di Jawa sebagai gubernur militer di daerah masing-masing, seperti Kolonel Abimayu di Jawa Barat, Kolonel Gatot Subroto di Jawa Tengah, dan Kolonel Sungkono di Jawa Timur.
Prakarsa juga diambil oleh empat menteri yang berada di Solo. Mereka adalah Menteri Dalam Negeri Soekiman Wirjosandjojo, Menteri Kehakiman Soesanto Tirtoprodjo, Menteri Pembangunan dan Pemuda Soepeno, serta Menteri Kemakmuran dan Persediaan Makanan Rakyat IJ Kasimo. Mereka bersama tokoh sipil, anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), dan beberapa perwira militer berapat dan memutuskan pembagian pekerjaan pemerintah pusat.
Saat itu, para pemimpin di Jawa belum tahu bahwa PDRI telah berdiri di Sumatera. Setelah mereka tahu, maka struktur pemerintahan militer maupun sipil di Jawa menyatakan tunduk dan berada di bawah koordinasi PDRI. Hal ini secara resmi disampaikan melalui laporan Kepala Staf Angkatan Perang Kolonel T.B. Simatupang kepada Ketua PDRI Sjafruddin dan Panglima Sumatera Kolonel Hidayat.
Setelah komunikasi yang intensif dan koordinasi, maka pada 31 Maret 1949 dilakukan penyempurnaan dengan memasukkan sejumlah tokoh, seperti Soekiman, IJ Kasimo, Jenderal Soedirman, Kolonel Hidayat, dan Kolonel A.H. Nasution ke dalam Kkabinet PDRI.
Selanjutnya, sudah dicatat dalam sejarah, PDRI berhasil menjalankan tugasnya "menyelamatkkan Republik" hingga kemudian Mr. Sjafruddin bersama Jenderal Soedirman menyerahkan kembali mandat yang tidak pernah diterima itu kepada Presiden Sukarno di Yogyakarta pada 13 Juli 1949.
Selama hampir tujuh bulan PDRI menjalankan fungsi pemerintahan RI dengan segala suka dan dukanya, terutama di Sumatera Tengah dan Jawa, para pemimpin sipil maupun militer serta para prajurit pejuang sama sekali tidak menerima gaji dari negara.
Mereka semua disokong dan dibiayai oleh rakyat di antaranya dengan menyediakan nasi bungkus dan dukungan logistik yang diperlukan untuk perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Itulah inti dari bela negara, di mana rakyat dengan ikhlas, tanpa pamrih dan tanpa janji-janji kampanye, menyerahkan harta benda bahkan nyawa untuk membela negara dan mempertahankan kemerdekaan bangsa dari bekas penjajah yang ingin kembali berkuasa.
Tertutup oleh Simbol Kekuasaan
Meskipun PDRI merupakan peristiwa sejarah yang telah menyelamatkan nyawa Republik Indonesia, tetapi selama nyaris setengah abad seolah-olah sengaja ditutupi, terutama di masa Orde Baru. Peristiwa yang begitu penting hanya dituliskan dalam kalimat pendek saja, terselip di antara ribuan halaman buku Sejarah Nasional Indonesia (SNI) yang disunting Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan-Balai Pustaka (1993).
Pada halaman 161 buku SNI jilid 6 soal PDRI hanya disinggung sambil lalu saja dalam rangkaian kalimat sebagai berikut: Yogyakarta ibukota RI berhasil direbut dan diduduki dengan menggunakan pasukan payung. Presiden dan Wakil Presiden serta sejumlah pembesar negara tidak menyingkir dan ditawan oleh tentara Belanda. Tetapi sebelumnya, Pemerintah telah memberikan mandat kepada Menteri Sjafruddin Prawiranegara yang berada di Sumatra untuk membentuk dan memimpin Pemerintah Darurat Republik Indonesia.
Hingga 50 tahun Indonesia merdeka, nyaris tidak ada sejarawan yang peduli dengan PDRI. Pemerintah daerah Sumatera Barat melalui Gubernur Hasan Basri Durin pernah berusaha mengangkat masalah PDRI ke pemerintah pusat menjelang peringatan Ulang Tahun Emas Kemerdekaan RI (1995).
Sebagai salah seorang tim speech writer gubernur, saya ingat, Sekretaris Pribadi (Sespri) Gubernur, Gamawan Fauzi, pernah ditugaskan menyusun agenda yang akan diusulkan gubernur ketika menghadap kepada Presiden Soeharto. Salah satu agenda tersebut adalah mengusulkan sejarah PDRI dimasukkan dalam penulisan buku sejarah Indonesia.
Permintaan Gubernur Sumbar bertemu Presiden disetujui, tetapi agenda membicarakan masalah PDRI ternyata dicoret oleh Sekretaris Negara sehingga tidak pernah sampai kepada Presiden. Beberapa waktu kemudian, saya mendapat penjelasan dari Brigjen (waktu itu Kolonel) Dr Saafroedin Bahar, Staf Ahli Mensesneg Mayjen TNI Moerdiono. Beliau mengatakan kepada saya, bahwa selama Pak Harto masih jadi Presiden, PDRI tidak akan dapat tempat yang memadai dalam penulisan sejarah Indonesia.
Lalu saya bertanya, kenapa begitu?
Menurut Dr Saafroedin Bahar, Pak Harto sebagai orang Jawa, memerlukan simbol-simbol tertentu berupa peristiwa sejarah untuk menopang kekuasaannya. Simbol yang disukai oleh Pak Harto itu di antaranya adalah tanggal 1 Maret dan 11 Maret. Tanggal 1 Maret mengacu kepada 'Serangan Umum 1 Maret 1949' terhadap Yogyakarta yang dipimpin oleh Letkol Soeharto sendiri. Sedangkan tanggal 11 Maret merujuk 'Surat Perintah Sebelas Maret' atau 'Supersemar' yang menjadi sumber 'legitimasi' pengalihan kekuasaan Presiden Sukarno kepada Presiden Soeharto.
Karena 'kecintaan' Pak Harto kepada dua tanggal bersejarah itulah maka selama masa Orde Baru Sidang Umum MPR sekali lima tahun selalu dimulai pada tanggal 1 Maret dan ditutup pada 11 Maret.
Lalu, apa hubungannya tanggal-tanggal tersebut dengan PDRI? "Kita harus ingat, Serangan Umum 1 Maret 1949 itu terjadi atas perintah Penglima Besar Jenderal Soedirman dalam rangka menunjukkan eksistensi PDRI kepapa dunia. Mengangkat sejarah PDRI tentu akan mengecilkan arti Serangan Umum 1 Maret. Ini akan menganggu kebanggaan Presiden Soeharto," kata Dr. Saafroedin Bahar.
Oh, begitu rupanya. Barulah saya paham, kenapa selama Orde Baru peristiwa PDRI harus diselubungi, termasuk dalam penulisan buku sejarah Indonesia. Karena membesarkan PDRI akan menganggu simbol-simbol dan kebanggaan milik pemimpin yang sedang berkuasa.
Reformasi dan Presiden SBY Membuka Kesempatan
Reformasi 1998 yang menandai berakhirnya era Orde Baru memberi kesempatan untuk mengubah banyak hal, termasuk penulisan sejarah PDRI. Bersamaan dengan itu, terbit buku hasil penelitian Mestika Zed berjudul Somewhere In The Jungle: Pemerintah Darurat Republik Indonesia sebuah mata rantai sejarah yang terlupakan. Buku yang menggambarkan secara komprehensif PDRI sebagai "Penyelamat Republik" ini dipilih Departemen Pendidikan dan Kebudayaan serta Ikapi sebagai buku terbaik 1998 di bidang ilmu-ilmu sosial.
Mestika Zed juga berjasa mengubah secara signifikan porsi PDRI dalam penulisan sejarah Indonesia. Sebagai penulis dan editor Jilid 6 buku Indonesia dalam Arus Sejarah (IDAS) (Departemen Pendidikakn dan Kebudayaan RI dan Ichtiar Baru van Hoeve, 2004), menurut sejarawan Asvi Warman Adam, Mestika berhasil menambah satu kalimat tentang PDRI dalam SNI menjadi puluhan halaman dalam buku IDAS.
Seingat saya, Fadli Zon yang kini menjabat Menteri Kebudayaan RI, termasuk tokoh yang giat dan aktif melakukan kajian, penelitian, dan mengangkat isu mengenai PDRI dan juga PRRI. Berkaitan dengan hal itu, saya sendiri pernah diundang Fadli Zon - melalui Institute for Policy Studies (IPS) yang dipimpinnya-sebagai narasumber bersama Mestika Zed dan Farid Prawiranegara dalam seminar PDRI yang diadakan di Padang tahun 2005.
Sementara itu, tersadar dari memori ketika menulis surat Gubernur kepada Presiden Soeharto tahun 1995, Gamawan Fauzi yang terpilih menjadi Gubernur Sumatera Barat dalam Pilkada langsung pertama tahun 2005, melihat momentum ketika daerahnya menjadi tuan rumah Pertemuan Bilateral Indonesia Malaysia di Bukittinggi tanggal 11-14 Januari 2006.
Pertemuan empat mata antara Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Perdana Menteri Malaysia Datuk Abdullah Ahmad Badawi hanya berlangsung selama 2 jam pada 12 Januari 2006. Sementara Presiden SBY berada di Bukittinggi selama empat hari tiga malam. Melihat ada peluang, Gubernur Gamawan Fauzi bersama Irman Gusman (waktu itu Wakil Ketua DPD RI, Senator dari Sumatera Barat) 'melobi' SBY untuk menerima tiga delegasi tokoh-tokoh masyarakat Sumatera Barat yang ingin bersilaturahmi dengan Presiden.
Melalui Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi, Presiden SBY mengabulkan permintaan tokoh-tokoh Sumbar tersebut. Ketiga delegasi terdiri dari Kelompok Pejuang Angkatan 45 dan Yayasan Peduli PDRI dipimpin Thamrin Manan; Kelompok "Tigo Tunggu Sajarangan" terdiri dari Ketua LKAAM, MUI, dan Bundo Kanduang dipimpin H.KR. Dt. P. Simulia dan Rangkayo Hj. Nur Ainas Abizar; serta Kelompok 11 orang wartawan dan budayawan yang antara lain terdiri dari tokoh pers H. Basril Djabar, Ketua PWI Sumbar M. Mufti Syarfie, dan saya sendiri yang juga ditunjuk sebagai salah satu juru bicara.
Sebelum bertemu langsung Presiden SBY di Istana Negara Bung Hatta Bukittinggi, ketiga rombongan terlebih dahulu mengadakan pertemuan dan mengatur strategi bersama Gubernur Gamawan Fauzi. Selain merumuskan berbagai pernyataan, aspirasi, harapan dan permintaan kepada Presiden, setiap rombongan yang diterima dalam waktu berbeda sepakat menyampaikan satu permintaan yang sama. Yaitu, agar PDRI diberi tempat dan kedudukan dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Dalam rombongan wartawan dan budayawan, saya sebagai salah satu juru bicara dapat giliran bicara terakhir. Dalam kesempatan itu saya menyampaikan permintaan dengan kalimat kira-kira begini: "Bapak Presiden, kita mengetahui peristiwa PDRI mempunyai arti penting dalam perjalanan sejarah Republik Indonesia. Mohon kebijakan Bapak Presiden untuk menetapkan kedudukan PDRI dalam sejarah negara kita..."
Selesai saya bicara, Presiden SBY yang didampingi Gubernur Gamawan Fauzi, Wakil Ketua DPD Irman Gusman, dan Jubir Presiden Andi Mallarangeng, langsung merespon dengan spontan: "Ini kali ketiga saya menerima permintaan yang sama dari masyarakat Sumatera Barat. Saya faham, PDRI adalah peristiwa penting dalam sejarah bangsa kita," kata Presiden SBY.
Tak cukup sampai di situ. Malah Presiden langsung meminta Andi Mallarangeng menghubungkannya via telepon dengan Mensesneg Yusril Ihza Mahendra yang berada di Jakarta. Setelah tersambung, masih di depan delegasi wartawan yang budayawan, Presiden SBY menyampaikan kepada Mensesneg bahwa beliau baru saja menerima aspirasi dari tokoh-tokoh masyarakat Sumatera agar menetapkan kedudukan PDRI dalam sejarah kenegaraan Indonesia.
Untuk itu, Presiden menginstruksikan dua hal kepada Mensesneg: pertama, mengundang para ahli sejarah bertemu Presiden untuk dimintai pendapat dan pandangan mengenai PDRI; kedua, mengadakan rangkaian seminar nasional tentang PDRI di beberapa perguruan tinggi terkemuka di Indonesia.
Arahan Presiden SBY tersebut langsung ditindaklanjuti Mensesneg. Di antaranya mengadakan seminar nasional di Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, dan Universitas Andalas dengan narasumber para ahli sejarah seperti Taufik Abdullah, Anhar Gonggong, Mestika Zed, dan lain-lain.
Seminar juga menghadirkan pelaku PDRI yang masih hidup, termasuk putra-putra Alm. Sjafruddin Prawiranegara seperti Chalid dan Farid Prawiranegara. Bersamaan dengan itu, Gubernur Sumatera Barat juga mengirim surat kepada Presiden mengusulkan agar hari lahir PDRI tanggal 19 Desember 1948 ditetapkan sebagai "Hari Bela Negara".
Singkat cerita, tak sampai setahun, tatkala berkunjung ke Sumatera Barat pertengahan Desember 2006 dalam rangka acara peringatan Hari Nusantara, Presiden SBY memberi tahu Gubernur Gamawan Fauzi bahwa Kepala Negara sudah menanda tangani Keputusan Presiden (Keppres) tentang PDRI.
Keppres Nomor 28 tanggal 18 Desember 2006 itu menetapkan tanggal 19 Desember sebagai Hari Bela Negara, yaitu hari besar nasional bukan hari libur. Hari Bela Negara ini setara kedudukannya dengan hari nasional lainnya seperti Hari Pahlawan 10 November dan Hari Sumpah Pemuda 28 Okktober, yaitu sama-sama hari besar nasional bukan hari libur yang diperingati setiap tahun.
Penetapan hari lahir PDRI sebagai Hari Bela Negara secara tidak langsung kemudian menjadi dasar yang kuat pula bagi ditetapkannya Ketua PDRI Mr. Sjafruddin Prawiranegara sebagai Pahlawan Nasional dengan Keppres No. 113/TK/2011 tanggal 7 November 2011. Penetapan ini sekaligus mengakhiri kontroversi posisi Sjafruddin selaku Ketua PDRI yang juga selalu dikaitkan dengan keterlibatannya dalam Peristiwa PRRI.
Peringatan pertama Hari Bela Negara dilakukan pada 19 Desember 2006 di Bukittinggi dengan Inspektur Upacara Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro. Sejak itu sampai hari ini, peringatan Hari Bela Negara rutin dilakukan setiap tahun dan dipusatkan di Sumatera Barat. Sebagai inspektur upacara selalu berganti-ganti, kadang seorang menteri dan kadang Gubernur Sumatera Barat. Namun belum pernah peringatan Hari Bela Negara dengan inspektur upacara langsung Presiden RI.
Sebagai hari besar nasional, kedudukan Hari Bela Negara sebenarnya sama dengan Hari Pahlawan 10 November dan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober yang ditetapkan dengan Keppres No. 316 Tahun 1959. Bedanya, Hari Bela Negara adalah satu-satunya hari nasional yang dmerujuk peristiwa sejarah yang terjadi di luar Pulau Jawa. Hari nasional yang lain, ditetapkan berdasarkan peristiwa yang terjadi di Pulau Jawa.
Penetapan hari lahir PDRI sebagai Hari Bela Negara, telah membuka mata seluruh bangsa Indonesia bahwa perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dilakukan oleh seluruh rakyat Indonesia di seluruh Tanah Air. Bukan hanya di Ibu Kota Negara atau di Pulau Jawa saja.
Sejak penetapan Hari Bela Negara pula, mata dunia pun tertuju ke Sumatera Barat, karena banyak kegiatan dan proyek yang berkaitan dengan peringatan PDRI dan Hari Bela Negara dialokasikan pemerintah di daerah ini. Salah satu yang terbesar dan terpenting adalah Museum PDRI yang telah menelan biaya ratusan miliar rupiah dari APBN, dan 19 Desember 2024 ini diresmikan oleh Menteri Kebudayaan RI Dr. Fadli Zon, M.Sc.
Meskipun hari lahir PDRI sudah ditetapkan sebagai Hari Bela Negara sejak 18 tahun silam, namun kalau kita mau jujur, belum terasa sebagai sebuah hari nasional. Peringatan Hari Bela Negara yang dipusatkan di Sumatera Barat, dengan inspektur upacara seorang menteri atau Gubernur Sumatera Barat, masih mengesankan Hari Bela Negara terbatas sebagai 'milik' Sumatera Barat. Tidak ada peringatan di provinsi lain di seluruh Indonesia.
Sebagai hari besar nasional, sama-sama ditetapkan dengan Keputusan Presiden, sudah seharusnya peringatan Hari Bela Negara sama derajat dan cakupannya dengan peringatan hari besar nasional lainnya seperti Hari Pahlawan dan Hari Sumpah Pemuda. Yaitu diperingati dengan Inspektur Upacara Presiden RI dan dilaksanakan secara serentak di seluruh daerah oleh semua instansi pemerintah, sekolah dan kampus di seluruh Indonesia.
Semoga harapan ini menjadi kenyataan pada peringatan Hari Bela Negara (HBN) di tahun-tahun selanjutnya, sehingga HBN benar-benar menjadi milik bangsa Indonesia.
Hasril Chaniago Wartawan senior pemegang Press Card Number One (PCNO) dan sertifikat Wartawan Utama Dewan Pers, penulis buku sejarah dan biografi, anggota Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Sumatera Barat.(rdp/rdp)
Sumber:
Meskipun hari lahir PDRI sudah ditetapkan sebagai Hari Bela Negara sejak 18 tahun silam, namun kalau kita mau jujur, belum terasa sebagai se
PENDIRI
Prof. Dr. H. Mestika Zed, M.A.
Dr. H. Shofwan Karim, M.A.
H. Hasril Chaniago
H. Irman Gusman, S.E., M.B.A.
Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc.
Dra. Hj. Emma Yohanna
H. Nofi Candra, S.E., M.M.
Darman Moenir
Edri Yoenif (Eko Yanche Edrie)
Ery Mefri
Dr. H. Yulizar Yunus, M.S.
Alwi Karmena
Muhammad Ibrahim Ilyas
ORGAN YAYASAN PKM PERIODE 2015-2021
PEMBINA
H. Irman Gusman, S.E., M.B.A (Ketua)
Alwi Karmena
H. Basril Jabar
Darman Moenir
Dra. Hj. Emma Yohanna
Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc.
Dr. H. Gamawan Fauzi, S.H., M.M.
Nofi Candra, S.E.
Prof. Dr. Ir. Hj. Raudha Thaib
H. Taufiq Thaib, S.H.
PENGURUS
Ketua Umum : Prof. Dr. H. Mestika Zed, M.A.
Wakil Ketua I : Dr. H. Shofwan Karim, M.A.
Wakil Ketua II : H. Hasril Chaniago
Sekretaris : Dr. H. Yulizal Yunus, M.Si.
Bendahara : Dr. Rahmi Fahmy, S.E., M.B.A.
PENGAWAS
Ketua : Ery Mefri
Anggota : H. Khairul Jasmi, Spd., M.M.
H. Zukri Saad
Sekretaris Eksekutif: Muhammad Ibrahim Ilyas
ORGAN YAYASAN PKM PERIODE 2020-2025
(Akta Perubahan Notaris Noviar Abdul Kadir Firman, S.H., Nomor: 01 Tanggal 22 Februari 2021dan pengesahan dengan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI Nomor: AHU-0007413.AH.01.12.Tahun 2021 Tanggal 24 Februari 2021)
PEMBINA
Ketua : H. Irman Gusman, S.E., M.B.A (Ketua)
Alwi Karmena
H. Arnis Saleh
H. Basril Djabar
Dr. H. Eka Putra Wirman, Lc. M.A.
Dra. Hj. Emma Yohanna
Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc.
Prof. Drs. H. Ganefri, Ph.D.
Dr. H. Gamawan Fauzi, S.H., M.M.
Drs. H. Guspardi Gaus, M.Si.
Prof. Dr. Ir. H. Musliar Kasim, M.S.
H. Nofi Candra, S.E., M.M.
Dr. (HC) Dra. Hj. Nurhayati Subakat, Apt.
Prof. Dr. Ir. Hj. Raudha Thaib, M.P.
Dr. Riki Saputra, M.A.
PENGURUS
Ketua Umum : Dr. H. Shofwan Karim, M.A.
Ketua : H. Hasril Chaniago
Sekretaris Umum : Dr. Yulizal Yunus, M.Si.
Sekretaris : Edri Yoenif (Eko Yanche Edrie)
Bendahara Umum : Dr. Rahmi Fahmy, S.E., M.B.A.
Bendahara : Rahman Kamil
PENGAWAS
Ketua : Ery Mefri
Anggota : H. Zukri Saad
H. Khairul Jasmi, Sp.D., MM
Sekretaris Eksekutif : Muhammad Ibrahim Ilyas
Sumber:
Pengurus - Yayasan Pusat Kebudayaan Minangkabau
Pengurus - Yayasan Pusat Kebudayaan Minangkabau
Pusat Kebudayaan Minangkabau (The Minangkabau Cultural Center) disingkat PKM didirikan dengan Badan Hukum Yayasan berdasarkan Akta Notaris N
Muhammadiyah Dukung Irman Gusman, Buya Anwar: Sosok yang Pas
Muhammadiyah Dukung Irman Gusman, Buya Anwar: Sosok yang Pas
Irman dinilai memiliki jaringan dan komunikasi yang baik.
Joko Sadewo
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas, mengatakan Irman direkomendasikan karena kader Muhammadiyah yang maju di pentas politik nasional, tidak hanya mewakili Muhammadiyah saja, tetapi mewakili seluruh masyarakat Sumbar.
Sponsored
Karena…
Oktober 2023, Pusat Kebudayaan Minangkabau Luncurkan Ensiklopedia Tokoh 1001 Orang Minang
bandasapuluah.com
Oktober 2023, Pusat Kebudayaan Minangkabau Luncurkan Ensiklopedia Tokoh 1001 Orang Minang
Redaksi
6–7 menit
BANDASAPULUAH.COM – Pusat Kebudayaan Minangkabau (PKM) kembali melahirkan maha karya alam bentuk Buku Ensiklopedia Tokoh 1001 Orang Minang. Direncanakan event peluncurannya mengambil momentum Peringatan Hari Jadi ke-78 Provinsi Sumatera Barat, 1 Oktober 2023.
Hal itu diungkapkan oleh Ketua Umum PKM Shofwan Karim dalam acara tak resmi ngopi di “Cafe Dari Sini” Padang, Sabtu siang 12 Agustus 2023.
“Sebelum pencetakan lebih banyak dan peluncuran Buku 1001 Orang Minang ini, penting duduk bersama silaturrahmi PKM dengan pemerintahan: Gubernur Sumatera Barat dan Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat serta temu tokoh lainnya, untuk menyamakan visi persepsi mengintegrasikan event peluncuran dan pendistribusiannya dengan rangkaian acara peringatan Hari Jadi ke-78 Provinsi Sumatera Barat 1 Okktber 2023 ini.”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Karena kelahiran maha karya buku 1001 Orang Minang ini tak lepas dari aktor pembangunan: pemerintahan dan masyarakat lainnya ”, usul Prof. Dr. Ir. Musliar Kasim, MS., sebagai anggota Badan Pembina PKM.
“Sekaligus duduk bersama silaturrahmi dengan Gubernur itu, dapat dijadikan ajang berbincang hal yang lebih besar tentang pemajuan kebudayaan, di samping hal khusus ke depan pemanfaatan buku 1001 Tokoh Minang ini dalam menyemangati dan memberikan spirit pemajuan kebudayaan itu di Sumatera Barat, di ranah dan rantau”, tugas Guspardi Gaus Anggota DPR RI yang juga anggota Badan Pembina.
Badan Pengurus PKM menindaklanjuti arahan Badan Pembinanya itu. Selanjut mengagendakan acara duduk bersama silaturrahmi dengan Gubernur dan segera mengirim surat memohon waktu dan kesempatan Gubernur. PKM akan menghadirkan semua unsur, Badan Pembina, Badan Pengurus dan Badan Pengawas.
Dalam jumpa tak resmi di Cafe Dari Sini” Jl. Dr. Moh. Hatta No.3 Cupak Tangah Padang, Ketua Redaksi Buku 1001 Orang Minang Hasril Chaniago, menyebut sudah pada tahap tersedia naskah fit to print (layak cetak). Dicetak sekaligus terdiri dari 3 Jilid, yakni Jilid I A-E 429 orang Minang, Jilid II F-M 431 orang dan Jilid III N-Z 444 Orang Minang. Jumlah entry varian riwayat hidup tokoh 1.304 orang Minang.
Kenapa 1001 Orang Minang dengan Entry 1.304? Hasril Chaniago menjelaskan. Angka 1001 Orang Minang ini sudah disepakati Tim penulis PKM menjadi topik trending buku monumental ini. Bahkan sudah dimasukan menjadi program unggulan PKM yang dikerjakan Timnys, kata HC menoleh ke Ketua Umum PKM Shofwan Karim.
Enak ota society sambil minum kopi dengan multi topik namun trending. Hadir dalam ota soceity dan ikut ngopi di “Cafe Dari Sini” tadi selain Ketua PKM Shofwan Karim didamping Sekum YY Dt. Rajo Bagindo serta Ketua Redaksi Hasril C haniago yang juga Wakil Ketua PKM, ada dua orang Anggota Badan Pembina PKM.
Keduanya ialah Guspardi Gaus Anggota DPR RI Wilayah Pemilihan Sumbar dan Prof. Dr. Ir. Musliar Kasim, MS Rektor Universitas Baiturrahmah Padang.
Shofwan Karim sambil menghirup, menyambung penjelasan HC. Katanya, Angka 1001 Orang Minang itu bukan menunjuk kepada jumlah pasti (sebanyak 1001 itu) tokoh orang Minang, tetapi lebih menggambarkan begitu banyak dan “beragamnya orang Minang” atau berdarah keturunan Minangkabau yang menyebar di hampir seluruh benua, perlu dicatat dan didokumentasikan varian biografi ringkasnya serta pengalaman hidup mereka dalam berbagai profesi, status dan fungsi.
“Mencermati berbagai pengalaman, orang Minang di ranah dan di rantau pada berbagai benua dan di negara-negara besar seperti di Amerika, Eropa, Australia, Afrika dan Asia lainnya, bahwa mereka dalam mengembangkan berbagai aspek kehidupan, kukuh dan amat siap memasuki berbagai perubahan global dengan daya saing hebat dalam arus modernisasi. Terasa amat menarik mengeksplisitkan karakter perjuangan mereka yang dirasakan amat kreatif inovatif, gigih dan berani. Semua, banyak sedikitnya tercermin dalam buku 1001 Orang Minang ini”, tukas HC sebagai Ketua Redaksi buku monumental ini.
HC menambahkan, dalam proses riset dan penulisan, rekrut nama tokoh orang Minang di ranah dan rantau, pembuatan daftar namanya disesuaikan dengan kriteria yang sudah ditetapkan. Jumlahnya terus berkembang pada satu kali sudah mencapai 1.700 calon entry varian riwayat hidup tokoh orang Minang antar benua itu. Namun dalam tahap ini sampai awal Agustus 2023 ini yang dapat diambil datanya sampai ke tahap penulisan dan editing baru berhasil sebanyak 1.304 tokoh orang Minang. Ini untuk edisi pertama buku 1001 Orang Minang ini, jelas HC
Bagaimana sederet nama tokoh orang Minang lainnya yang cukup banyak di ranah rantau, diaspora Minang global, yang hidup dan atau yang telah wafat yang belum terliput dalam buku ini? “Insya Allah, kita liput dan kita terbitkan dalam edisi berikutnya. Yang jelas tim akan terus melakukan pengumpulan data bagi nama-nama yang belum berhasil didapatkan biodata dan varian riwayat hidup lengkap mereka, akan diterbitkan lagi dalam edisi baru pada cetakan berikutnya, tambah HC.
Buku Ensiklopedia Tokoh 1001 Orang Minang, diterbitkan Yayasan Pusat Kebudayaan Minangkabau (PKM). Tim Penyusun Buku terdiri dari: (1) Tim Pengarah: Irman Gusman, Gamawan Fauzi, Rais Yatim, Taufik Abdullah, Mestika Zed (alm), Azyumardi Azra (alm), Basril Djabar, Fadli Zon, Nurhayati Subakat, Raudha Thaib, Emma Yohanna, Fasli Jalal, Musliar Kasim, Arnis Saleh, Shofwan Karim. (2) Ketua Redaksi/ Editor: Hasril Chaniago, Asisten Editor Rahmat Irfan Denas, (3) Tim Riset: Aswil Nazir, Hasril Caniago, Rahmat Irfan Denas, (4) Tim Penulis: Armaidi Tanjung, Aswil Nazir, Efri Yoni Baikoeni, Feni Efendi, Fenty Effendy, Hasril Chaniago, Hendra Makmur, Muhammad Arief Rahman, Muhammad Isa Gautama, Nasrul Azwar, Nopriyasman, Rahmad Irfan Denas, Syafruddin Al, Yose Hendra; (5) Kontributor: Abdullah Khusairi, Ana Nadhya Abrar, Ka’bati, Hardimen Koto, Holy Adib, Jondri Akmal, Khairul Jasmi, Muhammad Fuad Nasar, Novendra Hidayat, Taufik Darusman, Yulizal Yunus.**