Tentang Smartphone, Ibu yang Gaptek dan 80 Juta Masyarakat Indonesia
Weekend ini nyokap bikin repot anak perempuan satu-satunya dengan urusan ganti smartphone yang berujung pada kekesalan tingkat tinggi sekaligus membuka pikiran pada kesedihan tingkat dewa sama negara ini. Loh? Apa hubungannya antara nyokap lo ganti smartphone dan sedih sama negara ini. Ok, nanti saja gue jelaskan perihal yang satu itu.
Semua ini berawal dari smartphone nyokap yang biasa-biasa aja itu (gratisan dapat dari Smartfren di tahun 2014) mulai lemot bikin amarah memuncak karena selain memory sudah hampir wafat, sebenarnya smartphone yang satu itu sudah nggak layak pakai dengan kebutuhan sosial dan selfie nyokap gue yang makin menjadi-jadi. Singkat kata, singkat cerita, nyokap butuh smartphone baru. Titik.
Tidak berhenti di sana, pembelian smartphone kali ini mungkin bisa dinominasikan sebagai drama terbaik tahun ini jika ada penghargaan semacam Oscar untuk kategori “Nyokap Paling Drama untuk Hal Kecil”. Memang dramanya apa sih Ke? Panjang! Mulai dari awalnya mau beli Samsung J5 tapi gue yang nggak setuju karena nggak masuk ke budget gue, ga sesuai dengan produktivitas nyokap. Lalu beralih ke Oppo dan Inifinix, tapi dia tetap maunya pakai kartu Smartfren karena biaya internetnya yang sangat bersahabat dan koneksinya yang cepat (untuk yang satu ini gue sangat setuju sekaligus bikin gue benci kenapa Smartfren hanya merilis kartu internet untuk seri Samsung Galaxy tertentu). Masih berkutat dengan smartphone apa yang mau dibeli, nyokap terus bawel dengan percakapan WhatsApp yang tak ingin dia tinggalkan termasuk segala kontaknya. Berkali-kali gue ngotot bahwa nomor WhatsApp bisa digunakan di smartphone berbeda walaupun SIM Card-nya tidak ada di device tersebut. Selama tidak diaktifkan di device yang berbeda (karena salah satu akan log out secara otomatis), tidak akan ada masalah. Itu kebawelan entah yang ke sekian yang menambah drama di Sabtu siang. Jangan sedih, dia masih bawel dengan file foto-foto selfie dan video yang disimpan dari WhatsApp grup yang dikiranya akan hilang jikga dia ganti smartphone. Ditambah lagi dengan ketakutannya kalau nomor-nomor di smartphone lama harus disimpan lagi ke SIM Card. Tanpa dia ketahui semua nomor bisa di-backup ke Google account yang ada di smartphone Android tersebut.
Capek?
Banget!
Kesel?
Sangat!
Apalagi gue itu paling kesel sama orang yang ngototnya sampai ke bulan dan balik lagi, tapi nggak ngerti apa-apa dan ngomongnya ya diulang-ulang kaya nyokap gue yang cuma perihal ganti smartphone kaya mau tanda tangan surat perjanjian berdarah. Karena terlalu kesal, gue pun bilang sama nyokap bahwa kalau gue tidak bisa mengenmbalikan keadaan smartphone lama ke smartphone baru, gue bakalan bayar nyokap gue dengan uang sejumlah Rp 10,000,000. Dari situ gue kira dia bakal diam, nggak dong, bacotnya tetap aja kencang dan berasa dia paling benar.
Gue mengakhiri percakapan dan langsung berangkat membeli smartphone keramat untuk nyokap gue. Mari langsung kita potong adegan ini saat di rumah ketika akhirnya nyokap gue memegang smartphone terbarunya dengan bahagia. Tampangnya sumringah dan senang seakan-akan baru menang undian dari bank dengan hadiah rumah dan mobil mewah. Ekspresinya priceless banget! Memang dia sudah lama mendambakan smartphone kece yang kameranya bagus dan terang di malam hari, yang bisa menyimpan banyak data foto dan video, pokoknya yang kece dan bisa membuat dia terlihat keren (iya, itu poinnya sih, kelihatan keren).
Eits, drama belum berakhir nih kawan-kawan sekalian. Semua bisa berlanjut karena langkah selanjutnya adalah.....NGAJARIN NYOKAP CARA PAKE TUH SMARTPHONE BARU! Sebagai anak yang tidak durhaka dan menghargai orang tua, gue tetap harus ngajarin dia. Kasarnya tuh nggak ada apa-apanya gue dulu diajarin macam-macam sama ini gue cuma ajarin dia cara pakai smartphone. Bayangin aja dulu dia ajarin gue jalan, diajarin baca tulis, diajarin mandi, diajarin makan sendiri, diajarin cebok sendiri, diajarin semua hal-hal dasar manusia sewaktu dia masih kecil. Cuma ya ada gondoknya aja dan pengen terus bilang “Ya ampun, Ma, makanya pay attention dong kalau anaknya lagi nerangin. Ini satu fitur aja udah jelasin sampe botak, masih aja nggak ngerti”
Tapi sebetulnya inisiatif mengganti smartphone ini datang dari gue sih. Gue sedih lihat nyokap gue di Bekasi cuma tinggal sama gue, nggak ada siapa-siapa lagi. Minimal dengan kasih smartphone baru, dia lebih gampang komunikasi ama teman-temannya dan jadi lebih produktif. Gue install Spotify juga buat dia pake (sumpah! ini ngajarinnya ampe urut-urut dada banget mau gila). Gue mau nyokap gue mikir terus, otaknya terus diacak-acak biar nggak kena penyakit Alzheimer. Di smartphone, gue suruh main game yang banyak daripada lihat media sosial, karena main game pake mikir jadi mau nggak mau otak jadi aktif.
Yah, itu cerita nyokap gue yang super gaptek. Gue sebagai anak yang menganggap gaptek itu sebuah kegagalan hidup (ya maaf aja, ini kan dari sudut pandang gue ya) nggak mau malu karena nyokap gue gaptek. Nyokap gue itu sebetulnya fast learner kaya gue, cuma ya masalah usia aja makanya lambat (udah 56 tahun bo, masa lo ngarep dia cepet nerima kaya anak umur 6 tahun).
Terus yang tadi lo bilang kaitan antar smartphone, nyokap dan negara tuh apa, Ke?
Gini. Gue selalu merasa bahwa dengan bekerja di dunia digital marketing selama kurang lebih 7 tahun kadang membuat gue bias sama sekeliling gue. Kadang gue jahat dan mikir, ah pasti semua orang ngerti beneran dengan teknologi. Ternyata gue bias banget. 80 juta pengguna internet di Indonesia, yang masuk kategori smart user dan ngerti benar penggunaan teknologi paling juga hanya berapa persen. Sisanya ya kaya nyokap gue. Tidak ngerti menjaga keamanan data di smartphone, kadang beberapa dari mereka beli smartphone di toko-toko seperti ITC, membuat email yang passwordnya diketahui sama mbak-mbak tukang jaga counter, belum lagi segala data pribadi yang tanpa mereka sadari ‘dihisap’ pelan-pelan oleh device itu sendiri dan sistem yang ada di dalamnya.
Gue mengerti kenapa sih Tifatul bilang “Buat apa internet cepat?” Karena setelah gue telaah kembali, internet cepat mungkin hanya akan dinikmati oleh kalangan kelas menengah. Bagaimana dengan mereka yang masih terhalang dengan infrastruktur di luar Pulau Jawa, atau di Pulau Jawa tapi berada di pedalaman, atau jangan-jangan tinggal di perkotaan tapi tidak tahu cara memaksimalkan penggunaan smartphone. Kan sedih.
Orang-orang awam seperti nyokap gue adalah orang-orang yang nggak ngerti cara jaga keamanan dan online privacy, mereka ada sekumpulan orang yang bertanya-tanya kapan Go-Jek, Grab, Tokopedia dan Bukalapak dapat keuntungan padahal duit keluar terus ngocor deres kaya air terjun. Sementara gue yang loncat dan nyemplung di dunia tersebut hanya bisa bungkam dengan kenyataan yang gue ketahui dan gue telan mentah-mentah. Jika gue utarakan mungkin orang juga nggak akan mengerti.
Kebanyakan dari kita hanyalah user yang siap memberikan jiwa dan raga (serta data) demi aktualisasi diri di media sosial, demi sebuah foto jalan-jalan yang masuk dalam kategori life-porn tingkat tinggi. Itu karena tak semua dari kita tahu. Makanya yang di atas gue bilang, Indonesia terdiri dari masyarakat besar yang menjadi incaran banyak ‘nyamuk-nyamuk nakal’ karena ya terima kenyataan saja, masih banyak yang mudah dibutakan, mudah terbuai dengan teknologi yang untuk mereka terlihat mewah dan canggih.
80 juta pengguna internet di Indonesia, berapa banyak yang akan menyebutkan bahwa Facebook itu adalah internet?
80 juta pengguna internet di Indonesia, berapa banyak yang masih buta bahwa (maaf) kadang media menjadikan mereka tontonan asyik penambah views untuk mengejar iklan biar karyawannya bisa gajian?
80 juta pengguna internet di Indonesia, gue percaya ada banyak yang kaya nyokap gue dan ini pasti bukan hanya di Indonesia.
Ah, ya sudahlah ini cuma curhat ngelantur karena mungkin udah stress dan capek dongkol ngajarin nyokap pakai smartphone barunya. Jangan-jangan besok setelah sudah install Spotify, dia minta Path, Snapchat dan Steller lagi.......pusing deh udah. Semoga nggak kejadian