Nasib siswa Era Pandemi
Pandemi yang terjadi berdampak pada semua aspek salah satunya aspek pendidikan. Belajar pun terpaksa berubah daring dan sudah berjalan 2 semester. Dari segi kualitas pendidikan via daring ini malah membuat siswa semakin malas karena sistem pembelajaran yg belum siap, monoton, tidak kreatif, apalagi siswa yg tidak terkontrol oleh guru, bahkan orangtua karena orangtua harus bekerja.
Jika ditarik kebelakang sebelum pembelajaran via daring, Indonesia berada di urutan ke 72 dari 78 negara dalam hal kompetensi siswa dibawah Malaysia dan Brunei (Survey PISA 2019). Maka sistem daring ini sangat diragukan output nya.
Namun bukankah siswa era pandemi ini termasuk generasi milenial yang terbiasa dengan internet dan terbiasa self learning? Benar, tetapi internet ibarat 2 sisi mata pisau, ada baik ada buruk. Apalagi penggunaan internet tidak dikontrol oleh orangtua. Sehingga ada kelemahan dalam hal kontrol dari sisi internal yaitu orangtua dan eksternal yaitu Lembaga terkait seperti Kominfo dan KPI.
Yang sangat disayangkan dari sistem pendidikan Indonesia adalah sekolah berusaha mencetak para siswa penghafal bukan para pemikir yang menghasilkan ide2 dan solusi. Para guru hanya sebagai penyambung lidah dari penulis buku paket dan tidak bisa memancing argumen dari para siswanya. Apalagi mata pelajaran yang sangat banyak membuat siswa kewalahan sehingga hanya tahu sebuah materi di permukaan tanpa bisa menghubungkan elemen2 yg ada di materi tsb. Bahkan ironisnya sejak awal mereka pun sudah tahu bahwa pelajaran tersebut tidak berguna di kehidupan kelak, atau "cuma menuh2in pala gue doang".
Jika berkaca pada sistem pendidikan di New Zealand, para siswa diberikan hak untuk memilih mata pelajaran apa yang mereka butuhkan dan ingin pelajari. Sehingga para siswa terbiasa mengambil keputusan sedari dini dan dapat betul2 terdidik secara terampil serta siap membangun usaha sendiri atau bekerja.
Maka sebuah urgensi bagi lembaga terkait untuk melakukan perubahan kurikulum, peningkatan kualitas guru, dan peningkatan fasilitas belajar. serta dilaksanakan dan dikontrol secara penuh pelaksanaannya.
Bukankah masa depan negeri ini ada pada kualitas anak2 mudanya?










