Dalam segala aspek kecuali kekayaaan sumber daya alamnya tidak dapat dipungkiri Indonesia kalah dari negara lain. Kekayaan alam dan budayanya tidak dapat membantu Indonesia dalam persaingan dengan negara lain. Ratusan gunung ribuan pantai bisa kita nikmati di negara kita tercinta ini, ya sudah berapa kali saya bilang, negara Indonesia adalah negara kaya. Negara yang kaya akan segala-galanya, bahkan banyak peneliti yang bilang kalo letak Indonesia itu berada tepat diatas Atlantis, negara kaya yang hilang jutaan tahun yang lalu karena letusan gunung yang maha dasyat.
Suatu hari saya hendak pergi kerumah teman, diperjalanan tiba-tiba hujan besar. Saya pun berteduh diwarung kecil yang didalamnya terdapat seorang pengamen memegang kulele (gitar yang ukurannya mini) Ia sedang menghitung recehan yang ada ditangannya sambil tersenyum kepada saya. Hari menjelang senja hujan masih belum reda. Melihat saya yang kebasahan, pengamen itu menyuruh saya masuk dan mempersilahkan saya duduk di bangku sebelahna dengan nada lembut, sopan dan someah khas orang sunda. Saya pun menyalakan sebatang rokok yang saya beli dan duduk disampingnya dan tak lupa saya menawarinya rokok agar ia tak kedinginan,tapi ia tidak mau menerima pemberian saya melainkan membeli sendiri dengan uang receh yang didapatnya. sambil memandangi hujan yang semakin deras, pengamen itu membeli secangkir kopi hitam dan sebatang rokok. Saya sangat ingat kejadian itu ia meneguk kopi yang panas dan menghisap kembali sebatang rokoknya.
Sungguh iri saya melihatnya ia masih bisa tersenyum dan bercanda tawa dengan pemilik warung yang saya tumpangi untuk berteduh,dengan candanya ia tertawa lepas sambil kembali meneguk kopi yang lama kelamaan habis. Dengan segala kekurangannya ia masih bisa menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok ditangannya, dalam masalah ini kata kuncinya ialah bersyukur atas apa yang telah didapat. Toh dengan uang receh pun ia masih bisa bercanda tertawa lepas serta menikmati secangkir kopi dan sebatang tembakau. Saat saya tanya lebih jauh ia adalah salah satu penduduk asli daerah tersebut, tepatnya dikolong jembatan layang. Sebut saja ia pribumi. Ia mengamen karena tidak adanya pekerjaan, pemuda yang hanya tamat bangku sekolah dasar tidak bisa berbuat apa-apa saat takdir berkata lain. Mahalnya biaya pendidikan saat itu membuat ia memilih untuk meneruskan hidupnya dijalanan, bukan dikursi pemerintahan. Serba kekurangannya membuat pola berfikir mereka berubah. “dari pada buat bayar sekolah mending uangnya pake buat makan supaya gak mati, kalo uangnya dipake sekolah kita mau makan apa? yang ada mati kelaparan”. sungguh kata-kata yang mengetuk hati saya, disisi lain kita masih ngomel ke orang tua jika uang saku kurang dan ujung ujungnya ngambek, tapi mereka? Ada atau tidak adanya uang mereka tidak marah tapi bersyukur. Tetap bisa tertawa, tetap bisa bahagia dan terus menjalani hidupnya.
Secara tidak langsung ialah yang terkalahkan, segelintir orang yang kalah karena perubahan zaman, kemajuan teknologi yang mungkin saja ia tidak bisa menyelaraskannya. Segelintir orang yang masih bisa bertahan hidup di lika-liku permasalahan di negeri ini. Pribumi yang terkalahkan, bukankah ini masalah pemerintah? Yang tidak bisa mensejahterakan masyarakatnya? Obral janji mensejahterakan masyarakat kecil saat pemilihan umum tidak mereka rasakan, ya mereka, mereka pribumi yang terkalahkan. Segala upaya dilakukan pemerintah, dari mulai sekolah gratis, beras raskin, jamsospek dan lain-lain tapi tidak ada efeknya bagi mereka. Mereka ya tetap saja kurang sejahtera, serba kekurangan dengan tingkat kesabaran tingkat tinggi mereka bisa menghadapinya, meski mereka terkalahkan merekalah yang menjaga keseimbangan di negara ini, Right? Ini juga masalah kita bung. Hey kita ini makhluk sosial, ini adalah salah satu masalah sosial. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa bantuan dari orang lain.
Banyak orang orang yang saya temui ketika saya singgah diwarung pudunan. Disitulah saya biasa berdiam diri, Suasananya yang sejuk ditambah banyaknya pohon membuat saya betah untuk beristirahat disitu, dan warung pudunan ini salah satu tempat yang paling sering saya singgahi. Tak hanya saya, para pegawai kantoran, kurir sepeda motor, para pekerja bangunan hingga seorang kakek tua yang mendorong sebuah gerobak pun singgah disana. Mereka juga singgah untuk seedar melepas lelah atau hanya menikmati secangkir kopi. Waktu itu saya singgah sebentar karena vespa saya bermasalah, dan saya bertemu dengan seorang laki-laki pegawai kantoran berbaju rapih serta wangi, sejenak saya beristirahat dan memesan secangkir teh manis. Entah hari apa tapi saya masih ingat waktu itu masih jam sembilan pagi. Saat semua sibuk dengan kegiatannya masing-masing, laki-laki pegawai kantoran itu santai menikmati secangkir kopi sambil sibuk bermain dengan gadgetnya, beda dengan yang lain. Saya gak teralu kepo sih tapi yang saya liat ia sangat asik, tertawa sendiri mirip orang gila. Hal itu pun menimbulkan rasa penasaran, dan akhirnya saya pun bertanya,
“Pa gak ngantor? tanya saya”
“Engga kang soalnya si bos lagi gak ada makanya saya nongkrong disini. Jawabnya singkat”
Lah enak bener ya si bapa ini digaji tetep tapi ga kerja, malah enak enakan diem diwarung. Setelah kami berbincang ternyata ia adalah seorang pegawai swasta yang bekerja di bidang pemasaran ya pokonya dibidang pemasaran deh, soalnya dia gak bilang posisinya apa yang jelas kerjanya cuma nginput data terus nerima telfon. Saat disinggung penghasilannya pun cukup lumayan, ya bisa lah buat nyicil motor matic. Menurut saya sih pekerjaannya enak, ga memerlukan tenaga fisik dan uangnya lumayan, tapi gak berimbang sih dengan tenaga yang dikeluarkan.
Sepulang kuliah saya sempatkan lagi untuk menikmati senja diwarung pudunan, kebetulan waktu itu ada seorang kurir yang terlebih dahulu duduk didalam, makanya saya ambil bangku dan duduk diluar. Sambil menunggu kopi yang saya pesan, saya mendengar percakapan kurir itu dengan penjaga warung. Ini bukannya saya nguping ya Cuma suaranya itu lumayan keras loh jadi terdengar keluar tanpa harus nguping.. Tapi sebagai mahasiswa yang sopan saya meninggalkan percakapan mereka dan pergi menuju mesjid untuk buang air kecil. Setelah selesai saya balik lagi kewarung dan ternyata kurir itu udah gak ada. Tanpa saya bertanya, penjaga warung itu langsung melontarkan pernyataan kepada saya bahwa kurir itu adalah kenalannya sejak setahun lalu, dia sering memasukan dagangan ke warung seperti rokok, mie dan kopi. Lantas kenapa tadi dia ngomong keras gitu? Ternyata lagi kurir itu berniat meminjam uang kepada si penjaga warung sambil menceritakan keluh kisahnya sebagai kurir. Saya menanggapinya dengan serius sambil meneguk kopi yang saya pesan dan mulai bertanya kepada babeh warung. Kami berbincang dengan asiknya, ngalor ngidul membicarakan hal-hal yang lainnya. Saya pun akhirnya tau kenapa kurir itu hendak meminjam uang. Dikarenakan kebutuhan keluarganya yang terbelit hutang kepada depkolektor dengan bunga yang cukup lumayan. Makanya tadi si kurir bicara keras arena kesal sekali, dia menyesal karena pernah meminjam uang kepada depkolektor.
Aduh uang lagi uang lagi masalahnya. Saya sampai heran setiap orang yang saya temui masalahnya tuh pasti gak akan jauh jauh dari uang. Kalo gak kekurangan uang ya kesulitan uang, belum pernah saya denger orang yang curhat kelebihan uang. Tiap hari selasa sebelum berangkat kekampus saya sempatkan untuk meminum kopi diwarung pudunan, menambah perbincangan dengan orang sekitar yang mungkin tidak pernah saya dengar. Seperti biasa saya memesan kopi untuk menemani pagi itu. Tak lama kemudian segerombolan kuli bangunan datang membawa peralatan bangunannya. Dengan semangat dan senyuman di pagi itu mereka menapaki jalan untuk bekerja. Singgah sebentar membeli beberapa bungkus rokok lalu pergi lagi. Merea ramah sekali sopan saat melewat, padahal kan saya Cuma anak kecil yang duduk disitu, tapi mereka tetap sopan untuk melewati saya.
“punten kang…”
“Mangga mangga”
Dalam bahasa indonesia artinya “permisi kang.. silahkan silahkan..”
Tak lama kemudian penjaga warung menghampiri saya, kembalilah saya bertanya tanya kepada si penjaga warung, mereka siapa mau kemana dan banyak hal lagi yang saya tanyakan. Setelah lama bercerita ternyata segerombolan orang itu adalah pekerja bangunan di sebuah proyek dekat warung. Setiap pagi mereka memang lewat situ untuk membeli beberapa batang rokok, Ia mengatakan bahwa mereka memang selalu ceria seriap pergi bekerja, begitu jika pulang kerja mereka masih tetap semangat meski baju berbalut lumpur, mereka tetap tertawa. Kekeluargaan yang membuat mereka seperti itu, kebersamaan yang mereka jalani dan kemistri pertemanan membuat mereka melupakan kelelahan yang setiap hari mereka alami. Bayangkan oleh kamu, pekerja bangunan dapat upah berapa sih? Pasti gak akan melebihi pegawai kantoran yang saya ceritakan diawal. Meski pekerjaan mereka berdua berbeda tapi yang memerlukan ekstra tenaga pasti yang pekerja bangunan kan? Nah selain pekerja bangunan itu selalu bersyukur dan menjalani hidup ini dengan semangat, maka Tuhan memberikan teman yang bisa membuat mereka melupakan kesehariannya sebagai pekerja bangunan. Begitu indah, pekerjaan berat sekalipun jika dijalani dengan kebersamaan tidak akan terasa berat, lelah, letih, lesu dan lemas terobati dengan adanya sebuah pertemanan yang kompak. Hal yang sudah lama tidak saya temukan, hal yang begitu langka dikalangan anak muda saat ini. Manusia memang memiliki ego masing-masing, memiliki sifat individualisme yang tidak bisa dibendung oleh orang lain. Dalam kasus ini saya dapat menyimpulkan bahwa hal terkecil yang bisa membuat seseorang bahagia adalah pertemanan, hal yang membuat seseorang nyaman adalah kekeluargaan dan kedua hal itu menimbulkan ikatan persaudaraan baru. Jangan salah loh, pertemanan ada juga yang tidak didasari dengan sifat kekeluargaan, dalam artian hanya sebatas nama teman.
Seperti biasa sepulang kuliah saya mendaratkan vespa tepat diwarung pudunan. Waktu itu pukul lima sore dalam keadaan mendung segeralah saya masuk ke ruangan tengah tempat biasa saya ngopi memesan kopi dan menyalakan sebatang rokok yang saya bawa. Nikmatnya hari itu hujan gerimis inggris dengan kopi hangat dan asap rokok yang saya rasakan. Selang beberapa menit datanglah seorang kakek tua membawa gerobak berisikan pisang, ya kakek tua itu tukang pisang keliling. Dengan badan setengah bungkuk gerobaknya pun sudah jauh dari kata bagus ia memarkirkan rodanya didepan warung pudunan dengan baju kebasahan dan masuk ke ruang yang saya tempati. Tanpa disuruh saya memberikan ruang duduk untuk kakek tua itu merebahkan badannya, saya tawari kopi ia hanya mengangguk dan tersenyum, yasudah saya suruh aja kakek itu duduk didekat kompor agar setidaknya itu bisa menghangatkannya dari baju yang basah kuyup. Penjaga warung keluar dan menawarinya segelas teh manis dan kake tua pun mengiyahkannya, sambil ngemil roti kakek tua itu nampak kelelahan.
“..aduh hujan aja tiap hari” tegasnya
“..iya nih kek lagi musimnya, tadi darimana aja kek?” tanyaku mencairkan suasana
“..biasa abis keliling didaerah sini nak..” jawab kakek tua itu sambil mengusap air dimukanya.
“..wah jauh amat kek,gak cape apa?” tanyaku lagi
“..ya cape tapi mau gimana lagi? ini pisang harus saya jual nak, kalau engga, nanti cucu saya makan apa..?”
Percakapan aslinya berbahasa sunda tidak kasar. Saya tak henti-hentinya bertanya kepada si kakek dari mana,mau kemana,semalam berbuat apa. Ya saya intinya penasaran, pokonya saya tanya tentang ini itu kepada si kakek. Saya sangat antusias dengan si kakek ini, sudah cukup tua loh, kok masih dorong gerobak malem-malem sambil hujan-hujanan pula kan gak lucu, kemana nih anak-anaknya?. Oiya karena hujan masih deras saya pun menunggu hujannya reda,karena kebetulan saya gak bawa jas hujan begitu pun dengan si kakek, masih sama menunggu hujannya reda, sampai cuaca jadi malam. Obrolan kami semakin seru, akhirnya si kakek bercerita kenapa ia mendorong gerobak berjualan pisang, kenapa ia masih mendorong gerobak sampai saat ini. Saya terharu mendengar semuanya, mendengarkan si kakek tua bercerita membuat saya berfikir bahwa dengan kelapangan hati dan kesabaran membuat kita kaya hati, membuat fikiran jernih dan bersemangat dalam hari-hari yang dijalani. Karena himpitan ekonomi anak pertama kakek tua itu tidak sekolah dan sekarang kerja menjadi tkw dinegara tetangga.
Sudah hampir empat tahun kebelakang anak pertamanya itu tidak pulang kerumah, tanpa kabar dan kakek tua pun menyerahkan segalanya kepada Yang maha Kuasa. Anak keduanya perempuan bernama teh Lilis sekarang sudah menikah dan dikaruniai dua orang anak. Karena keterbatasan ekonomi juga suami teh lilis bekerja jadi kuli bangunan didaerah rumahnya, penghasilannya tak seberapa dan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya maka mereka masih menumpang dirumah kakek tua. Yang membuat kakek itu menjual pisang adalah karena rasa sayang pada cucunya yang masih balita, kakek sangat menyayangi cucunya itu, disela-sela kesibukannya ia selalu bermain dengan cucu yang paling kecilnya. Oiya istri dari kakek itu sudah lama tiada, meninggal karena kanker. Keadaan yang kurang mencukupi membuat kakek tua itu tidak bisa berbuat banyak. Keterbelakangan dalam hal pendidikan membuat kakek tua itu hanya bisa berjualan pisang, ya dari dulu Cuma hal itu yang dapat ia lakukan untuk menyambung hidup. Cuma berjualan yang bisa dilakukan oleh orang orang kecil sepertinya.
Hidup saya penuh dengan drama, drama orang lain yang saya Tanya-tanya. Mungkin melalui catatan saya ini siapa tau pembacanya bisa sampai ke kursi pemerintahan, agar mereka bisa mendengar cerita-cerita dari pribumi yang terkalahkan, dari orang yang tidak mereka temui, yang mungkin sampai saat ini pribumi yang terkalahkan belum bisa merasakan indahnya Indonesia. Himpitan ekonomi dengan kebijakan kebijakan pemerintah yang membuat mereka jengah, mosi tidak percaya bahkan ada yang sangat acuh sekali, menimbulkan sikap apatis. Manusia diciptakan Tuhan untuk saling melengkapi, untuk saling membantu, saling ada untuk yang lainnya dan menjalin silaturahmi. Bukannya untuk berebut kekuasaan, berebut kebahagiaan dan mensejahterakan kehidupannya sendiri.