Ramai sekali apa yang ada di benak ini dan banyak hal yang ingin diluapkan, tapi tydac bisa. Terlalu banyak, terlalu eneg dan terlalu...ngga ada jawabannya.
Jadi ingat, sebulan lalu aku mulai masuk ke titik keadaan tidak baik-baik saja. Semakin dipikir-pikir kenapa ya bisa begitu, mungkin campuran antara burn out, kecewa tetapi dipendam saja sampai sudah waktunya meluap. I seek professional help, karena berada di tahap yang aku udah ngga tahu bisa kemana lagi, rasa ngga nyaman yang sangat mengganggu aktivitas hingga berdampak secara fisik (sakit-sakitan yang ngga penting, pilek dan batuk terus menerus). Kepalaku tahu apa yang harus dilakukan, memberikan komando untuk menyelesaikan banyak hal. Tapi, secara fisik, aku cuman duduk di depan laptop dan bengong.
Yang terlintas waktu itu cuman,
‘Ngga bisa’
‘Aku ngga mau’
‘Capek. Capek banget’ (padahal sudah istirahat seharian)
Pernah ngga sih berada di titik secapek itu?
Sayangnya itu masih hingga sekarang.
--
A little sharing, that was my first time for seeking professional help.
Rasanya lega untuk bisa menyampaikan segala hal yang sudah menumpuk, tapi sayangnya itu kembali datang ke aku sekarang. Mulai kembali ‘ada tumpukan’ yang ada di kepala. Direkomendasikan untuk melakukan journaling. Aku belum pernah melakukan journaling sih sebelumnya. Journaling bertujuan untuk bisa identifikasi diri sendiri, apa yang aku rasakan dan pemicu seperti apa. Seminggu awal masih rajin, tapi sekarang udah ngga. Makanya jadi kembali menumpuk sih.
Tapi dari mencoba berani bantuan profesional ini, aku merasa I was once a step ahead from the old me. Berkali-kali juga psikolog aku ini bilang,
‘Terima kasih sudah berani mencari bantuan profesional, untuk ketemu psikolog’
‘Terima kasih sudah berusaha untuk membantu diri kamu sendiri’
Awalnya biasa saja, sampai sedikit menyadari bahwa memang berat untuk bisa berani masuk ke tahap ini ya. Karena niatku sudah dari 2020, tapi memang baru terlaksana di tahun 2023. Jarak yang ngga dekat sama sekali. It took me 3 years later to seek for help.
Ketika sesi, psikolog-ku ini menyampaikan sesuatu hal yang membuatku merenung.
‘Yang kamu alami itu ibarat sebuah gelas, meski isinya tidak penuh tapi kamu pegang terus menerus tidak ada penyangganya sama sekali dan tidak ada istirahatnya sama sekali. Apa yang kamu rasakan? Berat. Apalagi kalau gelas tersebut penuh? Berat banget.’
I am. Hanya belum bisa share sepenuhnya aja, kadang setiap mau share bawaannya malah jadi mikir ‘Etiskah aku cerita?’ ‘Aku oversharing ngga ya?’ ‘Apa yang nanti dipikirin orang lain ya kalo aku cerita?’
Psikolog aku kembali menyampaikan,
‘Hal yang kamu alami ngga akan selesai, kalau pusatnya ngga dibenerin. Kalau mengenai gelas tadi, berarti hal yang bisa dilakukan adalah kamu istirahat, taruh gelasnya dan mengurangi isinya. Mengurangi dengan mengeluarkan emosi yang kamu rasakan atau emosi ini ditempatkan di tempat yang berbeda, supaya tidak kamu bawa terus-terusan yang membuat kamu jadi berat’.
Berada di tahap sedang berusaha untuk mengeluarkan emosi dan menempatkan di tempat lain. Masih butuh waktu.
Ohiya, ada kata-kata yang terngiang-ngiang banget hingga sekarang meski aku bercerita banyak hal dan banyak topik, tapi ini cukup mengenaiku, ‘Masalah keluarga itu adalah masalah yang tiada hentinya. Hal yang bisa dilakukan adalah mengontrol diri sendiri.’
Yah, karena memang kata beliau aku sih aku seperti sponge--jadi menyerap energi orang sekitarku dan ini yang harus di kontrol. Karena aku ngga ada tempat yang aku percaya untuk bisa mengeluarkan sepenuhnya.
Ngga mau muluk-muluk. Semoga, semoga, semoga aku akan baik-baik saja untuk kedepannya.
Sebenernya aku berencana untuk nonton sih di akhir tahun ini. Tapi karena sudah cukup larut jadi kalo nonton kayaknya bakal begadang, takutnya jadi kurang bobo (maklum, usia).
------------------------------------
Di tahun 2021 ini, aku banyak belajar dan bertemu orang baru. Ketemu orang baru--berarti mendapatkan insight baru, perspective baru dan experience baru. It’s such an amazing year, though I had to face many difficulties and hard time. Bersyukur bisa melewati hingga titik ini dengan segala tantangan yang ada dari tahun-tahun terberat sebelumnya, terutama 2019-2020.
Pada tahun ini, aku mencoba untuk mengumpulkan pundi pundi semangat buat bangkit lagi. Mengumpulkan keberanian untuk menjalani hidup, menerima hidup aku dengan segala tetek bengeknya, menerima segala karakter orang yang ada di sekitar aku.
A little recap, awal tahun 2021 itu aku masih berjuang buat belajar UI/UX design. Mencoba memahami untuk bisa switching career. It’s hard until now I’ve finally landed a job as UI/UX designer. Thank you, Amanda. You’ve gained this far.
Pertengahan 2021, aku mencoba untuk mengikuti program design (biar lebih bisa paham tentang product design) akhirnya coba dari program Tokopedia -- unfortunately, I didn’t pass the test. Kemudian, coba mencari pengalaman melalui volunteer di salah satu komunitas perempuan. Jadi sambil belajar, aku bisa menerapkan ilmu yang pernah aku dapat dari berbagai course yang aku ikuti sebelumnya. Thank God, I met many new people, jadi aku bisa belajar banyak juga dari orang lain. Aku bisa mendengarkan juga pengalaman mereka. We shared many things for about 6 months in 2021. It turned out, aku mendapatkan bekal ilmu dan relasi.
Pertengahan hingga menjelang akhir 2021, aku mencoba ikut scholarship dari Kominfo untuk bisa lagi-lagi belajar. Iya, belajar tentang UI/UX design. Bersyukur banget dengan bekal yang dipunya, aku bisa passed the test dan dapat kesempatan buat ketemu orang baru lagi dan belajar. Tapi sistemnya disini, meski ada mentor, belajar bertemu mentor hanya dua minggu sekali. It’s ok, kalau dari aku yang penting ilmunya. But..unexpected things happened, ketika diberikan tugas akhir yang mana hanya diberikan kesempatan untuk presentasi hanya 10 orang, ternyata aku bisa masuk didalamnya. Aku? orang yang punya background design atau IT aja ngga ada. Paling menyimpang sih iya. Diberikan kesempatan ini alhamdulillah banget. Kenapa? Karena dari 600 orang di kelas aku, 10 terpilih untuk presentasi it’s a huge compliment for me. Terima kasih ya Allah atas kesempatan ini.
What’s more surprising, when the class ended--I was being contacted by my mentor to have a freelance project. O-my-God. I was being so thrilled! Tanpa pikir panjang, jelas aja aku terima. Ini kesempatan aku untuk berkembang. Terima kasih ya Allah atas kesempatan ini.
Another things that’s surprised me was...I was being selected as student of Apple Developer Academy! Yes, the Apple from Apple Inc. Lagi-lagi, ya Allah terima kasih atas kesempatan ini. Sebelumnya memang aku menerima kegagalan dari test yang pertama, akhirnya aku tetap mencoba lagi buat daftar. I dare my fears on being rejected again. But turns out different.
“Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Ayat yang menjadi pengingat aku untuk setiap langkah yang aku dapatkan selama ini. Sejak tahun sebelumnya adalah tahun terberat aku, bawaannya yang pengen hilang aja dari muka bumi. Tapi, rasa sayang Tuhan ke aku membawa hal yang berbeda. Pengen nangis....
Kadang aku jadi mikir bahwa benar adanya kalau waktu Tuhan itu adalah waktu terbaik. Rencana Tuhan adalah rencana yang terbaik. Kita ngga tau kesulitan apa yang kita hadapi, seberat apa ujian-ujian yang sebenernya akan kita hadapi. Tapi itu memang cara Tuhan untuk menunjukkan kasih sayangNya, dengan membuat kita menjadi kuat untuk masa selanjutnya.
“God’s timing will never fail you”
Kalau tahun lalu bawaannya menyalahkan diri sendiri, tahun ini rasanya terima kasih banget sama diri sendiri bahwa sudah bertahan hingga sejauh ini.
Di tahun 2021 ini juga aku jadi semakin berpikir bahwa, I’m living not only for me, myself and I, tapi ada hal lain--ngga cuman mikirin material for me but also the one who love me.
Ada satu hal yang menjadi prioritas aku disini, I wanted to make my parents smile or at least - I could help my family. Yes, you could say, I’m at the moment for my family right now. Hal sederhana yang bisa aku lakuin sehari-harinya dan semampu aku adalah dengan membelikan makanan enak buat ibu dan ajak makan keluarga (ketika semuanya memang bisa). Thank God, aku bisa seenggaknya mengajak makan enak banget di Kintan for a whole family and the bills on me. Biasa aja sih sebenernya yah kayaknya, tapi seneng banget lho untuk masa saat ini yang mana kami lagi dihadapi beberapa masalah.
And it feels good everytime you heard, “Asyiiik ada makanan ini” “Alhamdulillah bisa makan ini” came from your mother -- dari yang sebelumnya ibu, atau orang tua yang capek-capek kerja dan beliin makan buat kita. Karena ternyata emang feels so warm for the excitement from the family feels. Now, I understand why dad or even mom like to buy anything just to make their children smiling meskipun lagi ngga punya uang juga.
Beberapa waktu lalu juga, aku ngobrol sama teman kantor. Temanku ini bilang, “Dalam kita kerja dan mendapatkan uang, usaha kita mencari dan untuk apa selanjutnya itu ngga cuman masalah duniawi aja. Tapi ada hal lain”. Untuk hal ini, aku kurang lebih setuju dengan pernyataannya. Walaupun tidak bisa dipungkiri, aku juga suka uang. Tapi dibalik itu, misalkan dalam spending money -- ada hal lain yang tujuannya tidak tertakar dalam hal materialistik saja melainkan lebih dari itu. Misalkan sedekah, atau yang paling dekat adalah bikin seneng orang tua kamu sendiri.
I’m on missions in trying to start making my parents happy -- though only to the little things by buying things or foods they like. Karena rasa senang yang didapat ke kita juga berbeda. Sometimes I feel like, it ease my grave and gloomy feelings on that day. Sama halnya ketika melakukan sedekah.
Kemarin pas lagi di lampu merah Grogol, aku melihat ibu-ibu udah tua banget lagi jualan tisu. Ngga ada yang beli. Melihat ibu-ibu itu, kinds reminding me of my mother. “What if she was my mother?” “Gimana ya rasanya mereka memikirkan untuk at least bisa makan dalam satu hari itu”. Banyak banget dalam pikiran aku, dengan mencoba memposisikan dalam posisi ibu itu atau menjadi bagian dari keluarga ibu itu. Mau banget bantu, sayangnya aku orangnya cashless sekarang. Jadi jarang ada uang cash di dompet. Coba mencari peruntungan siapa tau ada duit keselip di dompet dan alhamdulillahnya nemu, tapi cuman lima ribu doang...
Yaudah, akhirnya coba nanya ke ibu penjual itu kan. Niatnya beli tisunya, kalaupun harganya mahal yaudah nggapapa aku kasih aja. But then, karena harga tisunya pas dengan uang yang ada, aku beli.
She said, “Alhamdulillaaaaahhhhh...”
...
Well, I couldn’t describe exactly the way she feels. Tapi aku merasa ada satu hal yang sedikit meringankan meski aku cuman beli satu dan seharga lima ribu.
Berkaitan dengan hal sebelumnya pembahasan dengan temanku bahwasanya ada hal yang kita lakukan dari bekerja itu ngga cuman untuk menyelesaikan duniawi aja, tapi more than that. Dalam kasus aku dengan ibu tua penjual tisu misalkan sebagai salah satunya, yaitu membantu ke sesama. Secara fisik, iya membantu dalam hal material tapi...yang dirasakan oleh orang lain yang tidak bisa dilihat secara fisik itulah maksud dari temanku itu.
So, 2021? This was the lessons I learned this year. What about you?
Happy new year anyway. Now I wanted to sleep so bad.
Tadi pagi abis dari pasar terus pas pulang terlintas banyak hal, sekelibat memori percakapan, bepergian, interaksi dengan beberapa orang lewat gitu aja pas lagi nyetir. Salah satu memori yang terlewat adalah ketika aku membuat kesalahan-kesalahan.
Random, sih. Emang kalo pas lagi nyetir itu suka random pikiran ini. Pikirannya ikut jalan-jalan juga.
Dulu, pas awal bekerja aku pernah melakukan kesalahan yang cukup fatal. Bermula dengan miskomunikasi hingga aksi yang aku lakukan salah dan berdampak buruk ke pihak lain. Waktu itu sejujurnya aku berniat untuk ignore kejadian, tapi aku mikir skenario kejadian yang kemungkinan terjadi kedepannya. Dari semua skenario yang aku pikirkan, semuanya ngga ada yang lebih baik. Ada masa pahitnya dan resiko yang berbeda dengan jangka waktu berbeda.
Akhirnya aku memutuskan untuk jujur saat itu juga.
Disasters starting here. Jelas aja aku dimarahin habis-habisan oleh seniorku. Mau gimana lagi? Itu memang kesalahanku. I do admit my mistake. Pengakuanku ini memang bertujuan untuk memutus rantai bad effects yang mungkin terjadi kedepannya.
“Daripada nanti-nanti yang malah makin parah, kenapa ngga sekarang aja”, pikirku waktu itu.
Emang sakit sih. Tapi mencoba untuk menerima omelan dan kritik pedas dengan lapang dada. Itu resiko yang aku ambil.
But, guess what? Unexpected response came from my senior setelah dimarahin habis-habisan.
“Makasih ya kamu udah jujur ngakuin kesalahan kamu. Jadi kita bisa cepet buat nanganinnya. I should’ve learned from you”
Baru kali ini, aku salah tapi aku di-’terima kasih’-in...
Disisi lain, aku ngerasa lebih tenang dan masalahpun jadi bisa cepat teratasi.
Beberapa waktu lalu juga sempat menemukan akun komunitas gitu yang lagi membahas kesalahan yang dilakukan, judulnya “You are challenged by mistakes. Run from it or accept it?”.
Respon adminnya itu bilang, “Mengakui kesalahan pasti butuh mental baja. Tapi memang harus berani jujur dan tanggung jawab, karena kalau ditutup-tutupin snowball effectnya akan jauh lebih repot lagi”.
Pas dijalan juga aku teringat kasus temanku yang dia disalahkan terhadap hal-hal yang bukan kesalahannya dia dan itu membuat dia sakit hati banget. Terus aku kepikiran...
Kalo aja dunia ini diisi oleh orang-orang yang mengakui kesalahannya, tanpa harus lepas tangan (diam, lari), atau bahkan melemparkan kesalahan ke orang lain, mungkin masalah di dunia ini cepat selesai dan lebih damai. Iya ngga sih? Karena dari setiap permasalahan itu bisa cepat dicari solusinya bersama.
Misalnya aja deh, ada orang yang melakukan suatu kesalahan. Mungkin bukan pure kesalahannya dia tapi dia terlibat atau menyumbang kesalahan itu terjadi sebesar 65% dan sisanya adalah orang lain. Kalau mereka mengakui titik kusutnya dimana dan segera mencari solusinya, masalah itu ngga akan berlarut-larut.
Tapi sayangnya, ada aja yang diem, pura-pura ngga tau, ignoring the mistakes. Aku kadang suka mikir, “Mereka itu suka ngerasa ngga nyaman ngga sih di lubuk hatinya itu?”. Soalnya dengan permasalahan kasus aku yang sebelumnya, aku merasakan perasaan janggal yang ngga enak gitu dan bikin kepikiran. Kenapa orang lain bisa ignoring sebegitunya ya?
Tapi...
Yah..lagi-lagi kembali pada pernyataan bahwa kita tidak punya kendali atas orang lain.
Udah ujian hidup yang begitu, ditambah dengan bumbu-bumbu ragam manusia di dalamnya. Wah, kayak makan wasabi dengan lauk sambal matah rasanya. Bikin nangis..
Memang kita hanya manusia biasa. Berbuat kesalahan itu pasti dan itu ngga apa-apa. Tapi juga mengakuinya pun, ngga apa-apa and it’s better than running away. Post effectnya mungkin akan kemana-mana, tapi mereka yang menerima kejujuran atau pengakuan biasanya akan memiliki sudut pandang sendiri yang lebih ke arah positif. Maksudku respon orang yang terlibat karena kesalahan kita, kebanyakan mereka akan mengerti (atau mencoba mengerti) dan aksinya itu ke arah “yaudah yuk gimana kita cari solusinya bareng”.
Aku pun melihat ini dua kali di ibuku. Beliau memang marah, tapi sebentar aja sama seperti respon seniorku.
Kesalahan karena keborosan aku dan aku pernah ngga jujur sama ibu. Aku mengakui semuanya, awalnya sudah membayangkan peringai ibu yang kayak api. But, Instead of the angry mom appeared, she did the opposite of my actions.
Aku pernah boros uang kuliahku buat jajan, hingga ada semester yang akhirnya belum kebayar. Respon ibu, “Yaudah, mau gimana lagi. Nanti coba dicari lagi, abis itu dibayar ya”. It actually heartbreaking for hearing my mom’s response, abis itu aku kapok boros.
Aku pernah ambil uang ibu niatnya buat ritual ulang tahun pada umumnya, traktiran. Tapi tetep ngga cukup pas dihitung-hitung. Akhirnya aku malah jujur sama ibu. “Ibu aku mau nraktir temen pas ulang tahun besok. Tapi ngga punya uang, tadi ambil di dompet ibu sekian”. Respon ibu, diem aja. Tapi pas mau berangkat besoknya aku malah dikasih uang lebih. Lebih banyak dari hitungan aku.
Tapi tapi tapi, ada hal yang perlu digarisbawahi bahwa bukan berarti dengan mengakui kesalahan then everything will be ok after that--dan kamu melakukan kesalahan lagi yang sama, begituuuuu terusss dan diulang karena patternnya yang sama, yaitu respon orang lain yang akan mengerti terhadap kesalahan yang kita perbuat. Jadi akhirnya kita buat kesalahan--mengakui-orang lain responnya yaudah aja dan terima-terima bae. No, dude! Ngga!
Kita ngga tahu dampak internal atau psikis orang lain atas kesalahan yang kita lakukan. Kalau kesalahan yang kita buat berdampak parah terhadap psikis orang lain dan dilakukan berulang, itu mah namanya zalim menurutku. Namanya bukan kesalahan, tapi sengaja melakukan kesalahan. Tentu saja hal itu merugikan orang lain.
Things for sure that I tried to say here,
It’s ok to make mistakes,
It is better for you to admit the mistakes and won’t run from the responsibilities ahead. Maybe it requires pain in the beginning, but will be worth sooner.
Be good and do good, let God do the rest.
Ketika memang niat kamu baik, semesta akan membantu kamu menemukan jalan keluarnya.
“Ibu jangan sakit, kalo ibu sakit dunia serasa berhenti”
Sebuah tulisan yang aku temukan pas scrolling twitter beberapa waktu lalu. Beberapa kata yang bikin aku ‘makdeg’ pas baca. Meski terlihat ada unsur egoisme dari kalimatnya, tapi aku sangat setuju.
Aku, anak bungsu dari tiga bersaudara yang sudah memasuki umur seperempat abad ini masih ngga bisa membayangkan menjalani hidup kalo ngga ada ibu. Semakin kesini dan semakin berumur, dari pov aku, aku semakin tergantung dengan ibuku. Manja, ya?
Jaman sekolah, untuk bisa tinggal sendirian dan jauh dari orang tua itu seperti cita-citaku banget. Jadi ngga ada dengerin ocehan ibu dan berantem sama ibu. Hingga akhirnya cita-citaku terkabulkan ketika kuliah.
Kuliah rantau, tinggal di rumah milik orang tua di Jogja dengan perabotan lengkap bersama tv kabel dan dibekali kendaraan pribadi. Nikmat manakah yang didustakan sebagai mahasiswa kala itu?
Tapi tentu saja ada konsekuensi yang harus aku bayarkan, pemeliharaan rumah dan mobil dibebankan ke aku. Pemeliharaan yang umum ya, isi bensin misalkan. Ya sedih sih tapi...merana banget kalo akhir bulan dilema buat isi bensin apa buat makan uangnya...
But, I learn many things by living alone.
Awal merantau dan bisa tinggal sendirian, jelas itu merasa seperti masa-masa kejayaan. Bebas kemana aja, pulang kapan aja tanpa ada yang komentar. Karena hobiku jalan-jalan, keluyuran is my thing. Hingga akhirnya semasa mendekati akhir semester, aku menyadari bahwa ada yang kurang.
Aku merasa tinggal di rumah, tapi ngga berasa ‘rumah’. And I just realize it by now. Ngga ada sosok ibu yang membuat rumah menjadi berasa seperti ‘rumah’. Iya, ngga salah sih ketika Raisa bilang ke Hamish bahwa Hamish build the house dan Raisa make a home.
Ibu yang membuat rumah, seperti ‘rumah’.
Rumah ramai, rumah terasa hangat dan...pokoknya berasa ‘rumah’. Tempat yang pengen buat balik lagi. Makanya hotel bintang lima pun ngga bisa mengalahkan sama yang namanya rumah, sebagus apapun itu hotel.
Tapi mungkin beda cerita kalo memang tinggal di hotel atau rumah seperti hotel dan ada ibu disana.
Hal ini baru aku sadari sekarang ketika ditinggal ibu pergi ke Aceh. Aku baru selesai beberes rumah dan merenung..
Capeknya beberes rumah. Tapi ini yang ibu lakuin tiap hari.
Sepinya di rumah. Biasanya ibu riweh komentarin sinetron Indosyer.
Sekarang, lagi hening. Hawanya beda. Masih hangat, tapi ada yang kurang. Itu lah yang seperti aku bilang tadi. Kurangnya ibu sebagai pelengkap di rumah.
Ibu, sebagai one call away. Tanpa kita cerita, ibu pun pasti bisa tahu. Pernah ngga sih mengalami ini?
I was once experience this, mungkin sering sebenernya, tapi ini yang paling mengena dan aku ingat. Jadi pernah pas koas laboratorium, stase koas yang paling mengerikan ini. Aku lagi susahnya buat dapet acc dari dosen. Pengen nangis kan pas di rumah, mau cerita juga bingung mau cerita ke siapa karena udah mentok rasanya tuh karena ngga ada kemajuan sama sekali. Sampe tiba-tiba pas lagi bengong depan laptop ada telpon dari ibu. Biasanya ibu emang suka telpon, tapi cuman buat ngingetin aja bayar bulanan yang rutin kayak bayar listrik
Tapi, waktu itu beda. Tiba-tiba ibu itu nanya, “gimana koasnya?”. Rasanya kayak--makjleb dan tentu saja aku pecah dong. Aku jadi ceritain semuanya dan perkara ini mendadak jadi besar :’)
Mari kita skip masa memilukan itu.
Intinya, aku ngga tahu bagaimana tapi rasanya ibu itu selalu ada pas disaat-saat genting yang tiba-tiba dateng gitu. Aneh bin ajaib, tapi aku percaya sih bahwa feeling seorang ibu itu kuat.
Sesosok ibu, peran ibu, ini kayaknya ngga ada yang bisa mengalahkan deh. Aku melihat peran ibu dari tiga orang yang berbeda di keluargaku. Ibuku sendiri, kakakku dan kakak iparku. Mereka semua punya caranya sendiri dalam memerankan menjadi ibu, apapun itu, aku sangat salut dengan mereka--dengan peran ibu.
Ibuku, pensiunan dari pegawai negeri sipil. Sekarang menjadi ibu rumah tangga full-time. Sebelumnya pas jaman aku masih sekolah, ibu dibantu sama mbak ART. Ibu kerja dan pulang selalu sore. Mbak ART ku itu yang menginap di rumah, tapi paling sedih kalo pas pulang kampung. Aku sendirian di rumah dan ibu tetap pulang sore meski mbak ART pulang kampung. Jadi pas kecil, udah terlatih buat ditinggal sendirian.
Dulu, aku sempat benci banget sama ibu. Karena yang kulihat, sosok ibu yang kerjaannya cuman marah-marah aja, jarang ada waktu sama aku sebagai anak dan save place aku adalah tempat mbak ART-ku. Hingga suatu saat cekcok dan ibuku bilang “kamu anak ibu apa anak mbak sih?!”. Karena aku lebih banyak ke mbakku. Kebencianku dulu sekarang sudah terjawab sih, kalo dulu mungkin aku mikirnya ibuku ngga sayang denganku tapi sebenernya hanya berbeda penunjukkan rasa sayangnya ke aku dan aku mulai paham dengan kondisi ibu. Kondisi ibu yang bekerja, tapi sambil ngurusin anak dan rumah. Meski disisi lain, keluargaku itu tipikal gengsian, affections are not our things.
Kakak perempuanku, pegawai BUMN dan memiliki dua anak kicik. Tentu saja dibantu juga dengan ART. Ngga kebayang bukan capeknya kayak apa kalo ngga ada ART. Dua bulan ikut kakakku di Aceh bersama anak kicik itu yang membuatku menyadari bahwa menikah dan memiliki anak adalah saat dimana memang kita siap. Bukan karena diuber oleh omongan tetangga ataupun netizen budiman.
Sedikit cerita ketika aku ikut kakakku disana, aku merasa benar-benar seperti kursus kilat menjadi ibu. Kakakku punya dua anak, anak pertama berumur 4 tahun, Joon Gil dan kedua berumur 7 bulan waktu itu, Kana. Pas banget juga, kakakku terdiagnosa Covid-19 jadi mau ngga mau pembatasan interaksi dengan anaknya. Aku bantu ngurusin krucil ini. Waktu itu, aku memang belum mendapatkan pekerjaan full time, tapi terkadang aku sambil freelancing dan kursus online.
Setiap malam, Kana jadwal minum susu itu jam 10, jam 12-1 pagi, jam 3-4 pagi dan jam 5-6 pagi abis itu bangun gelinding-gelinding. Paling sedih banget kalo masih ngantuk, tapi anak bayik ini udah melek seger buger dan ndemplok, yang mana udah mulai gangguin dan itu berarti dia udah waktu aktivitasnya dia, alias main. Kalo aku masih tetep merem dan membiarkan anak ini bermain, dia tiba-tiba suka udah nyungsep dari kasur (crying mode: on).
Bangunlah akhirnya sekitar jam 6-6.30. Abis itu, jam 7.30 anterin Joon Gil ke paud. Jam 12 siang jemput lagi. Waktu pas Joon Gil lagi di paud itu adalah masa keemasanku untuk bisa me time, bekerja freelance atau ikut kursus. Kalo siang juga biasanya ada mbak ART disana, tapi kalo udah Joon Gil pulang dari paud, yasudah...begitulah pokoknya. Untuk bisa me-time lagi lebih cukup ribet.
Dan, aku membayangkan hal rutin seperti itu tapi dari perspektif kakakku yang sambil kerja dan ngga ada aku disitu. Malem, kurang tidur. Pagi harus bekerja, siang jemput anak di Paud, terus pergi kerja lagi dan pulang mengurusi krucil dan rumah. Karena mbak ART nya itu yang tipikal pulang-pergi jadi ngga stay dan weekend ngga dateng. Aku ngga bisa bayangin betapa capeknya itu, jiwa dan raga.
Kakak iparku, mantan auditor dari big four company dan menjadi full time ibu rumah tangga. Anaknya sekarang udah berumur satu tahun. Ngga punya ART sama sekali, jadi anak bayik full di urus sama kakak iparku langsung beserta urusan rumah. Kalo kamu pikir itu hal normal dan ngga capek karena di rumah aja. No, you are totally wrong. Bagaimana kamu bisa menjadi ninja hatori sambil urusin rumah dan anak bayik dalam waktu bersamaan, tentu saja itu memerlukan skill dan energi berlimpah ruah physically dan mentally.
Dengan segala kekurangan dan kelebihan dari masing-masing peran ibu pada kondisi yang berbeda ini, hal ini benar-benar membuka mataku. Bahwa ngga ada memang yang bisa menandingi sosok ibu.
Sosok yang energinya sebanyak ibu, mentalnya sekuat ibu, kasih sayangnya sebanyak dari ibu.
No one can ever beat them.
Hadits pun mengatakan bahwa untuk berbakti itu ke ibu, ibu, ibu dan bapak.
Bukan peran bapak ngga ada, tapi sosok ibu itu...memang irreplaceable buatku. Bahkan masakan aja bisa beda, entah kenapa masakan ibu itu lebih enak dibanding masakan sendiri. Padahal bumbu dan cara masaknya itu sama...
I still can’t imagine living my life without my mother. Disisi lain, aku salut dengan mereka yang sudah siap untuk menjadi ibu tapi aku juga salut dengan mereka yang sudah ditinggalkan oleh ibu mereka. How could they be so strong...
Beruntunglah aku dan kamu (mungkin yang baca) yang masih memiliki ibu. Aku masih memiliki ‘rumah’ ku untuk pulang.
Selama masih memiliki ‘rumah’ untuk pulang, hal apa ya yang bisa aku lakukan agar ‘rumah’ku ini tetap hangat? agar ‘rumah’ku masih tetap tersenyum?
We have many ways on saying goodbye to the people we love or we care so much.
Baru saja, tepatnya enam jam lalu yang sudah termasuk kemarin (23/7), aku kehilangan satu-satunya eyangku. Eyang dari Bapak, eyang putri. Memang disisi lain eyang sudah sepuh sekali, sudah menginjak di usia sembilan puluh tahun. Eyang dirawat di rumah sakit karena terindikasi oleh positif COVID-19 dan eyang memiliki komorbid jantung.
Aneh, masih merasa aneh banget rasanya ditinggal pergi selamanya oleh orang yang kita kasihi. Walaupun tahu, bahwasanya memang akan ada waktunya tiba masa seperti ini, kita yang ditinggalkan atau kita yang meninggalkan.
Siap? Engga. Tapi kudu disiap-siapin, mau ngga mau.
Baru saja dua minggu lalu eyang video call. Eyang memang suka random video call, terus kadang abis itu nanya ‘ini siapa’ hehe namanya juga orang tua yah. Bisa video call aja sebenernya udah keren banget buat eyang. Waktu telepon kemarin, eyang suaranya seneng banget. Nanyain kabarku gimana, kondisi kesehatanku gimana, aku lagi dimana, sekarang udah kerja apa gimana. Pas aku bilang aku lagi work from home, tanggapan eyang seneng banget tahu aku bisa kerja WFH karena situasi pandemi di negara ini yang semakin seram.
Eyang juga cerita kalo ngga kemana-mana sama sekali selama pandemi dan baru saja ikut antri vaksinasi shot 1 di Serangan. Dari cerita eyang kayaknya eyang seneng banget gitu bisa keluar, karena emang eyang udah sepuh kan, dengan situasi pandemi yang seperti ini eyang adalah golongan yang paling rentan sekali terinfeksi.
Tapi, balik lagi yang perlu kita garis bawahi, ada hal yang tidak bisa dan bukan berada di bawah kendali kita dan salah satunya itu adalah kesehatan.
Di akhir telepon, eyang sambil senyum sumringah gitu sambil ngegodain, “Kamu kok tumben cantik hari ini”.
Padahal aku kerja WFH pake kaos bobo butut, rambut dikuncir acakadut sambil duduk ala warteg, dan kalo kakakku dateng ke rumah pasti nyeletuknya malah “Kamu tu kerja apa ngga sih?”...
Tuhan ternyata memiliki rencana lain untuk eyang, rasa sayang Tuhan dengan eyang tentu saja melebihi dari aku dan keluarga besar. Rencana Tuhan itu adalah memanggil eyang kembali ke pangkuan-Nya.
Sedikit cerita mengenai kepergian, meninggalkan untuk selamanya ini mengingatkan aku dengan kisah lama.
Waktu aku SMP (kayaknya kelas dua), aku punya kawan sebangku yang baik dan cantik banget. Aku duduk sama dia terus waktu itu. Kami sering ngobrol banyak hal mulai dari pelajaran sampai ke cowok yang kita suka, dia memang teman dari SD juga tapi kami ngga sebegitu dekat seperti jaman waktu SMP.
Kalo ngga salah waktu itu kelas VIII SMP (tingkat dua), setiap naik kelas itu kan selalu di rolling. Katanya waktu itu kelasku itu isinya kelas anak rajin, teman mainku ngga ada semua disitu, aku sendirian dan akhirnya duduk sama kawanku ini. Sungguh, temanku ini baik banget. Meski baik, tapi dia agak kompetitif juga sih karena pernah bilang, “Ih aku mau ngalahin Manda, ah. Siapa tahu ranking 1″. Yea, I was so rajin pada jamannya yang sangatlah 180 derajat berbeda dengan sekarang, blangsak.
Suatu saat, kita jajan sama dua temanku yang lain, terus nongki depan kelas dan dia batuk-batuk parah. Aku keinget banget pas ini, karena dia tiba-tiba nangis. Kita yang lagi bareng kaget dong, kenapa? Ada masalah apa? Takutnya dia ada masalah di rumah yang ngga bisa dia ceritain ke siapa-siapa yang akhirnya jadi beban ke dia.
Tadinya dia ngga mau cerita, tapi akhirnya dia cerita juga. “Iya, aku takut. Kemarin aku ke dokter dan katanya aku udah komplikasi, aku ada asma dan ada masalah juga di jantung. Aku takut...aku takut ninggalin kalian”. Disitu aku langsung ‘makdek’, aku freeze. Karena di umur segitu, aku masih ngga pernah kepikiran tentang kematian. Pikiranku masa itu cuman nonton anime, baca komik dan les bahasa Inggris (karena aku suka mata pelajaran ini).
Sebagai teman baik, kita semua mencoba untuk menghibur dia. Apa yang bisa kita bantu, akan kita bantu. Tapi semenjak dia cerita itu, emang dia jadi suka izin karena sakit atau pergi ke dokter. I thought, this was real. I mean, dia bisa sembuh kan?
Aku takut, tapi aku juga ngga tahu harus bantu seperti apa. Pokoknya pas dia batuk, aku selalu siap sedia minuman buat seenggaknya membantu melegakan rasa ngga nyaman di tenggorokan dan kerongkongan. Dia minta tolong apa, ya aku bantu.
Sampai suatu hari...
Selepas sekolah pas aku main ke kelas lain, dan waktu itu tempatnya persis di tepi panggung (karena panggung permanen sekolah depan lorong kelas), aku keinget dia manggil aku pas lagi di lorong, “Mandaaaaa” (sambil senyum dan itu cantik banget! Kalo aku laki juga kayaknya aku akan naksir sih sama temenku ini). Aku nengok kan, “Hey, kenapa?”. “Ngga apa-apa, cuman mau manggil aja hehe”, jawab temanku itu. “Eh, beneran, kenapa?”, jawabku sambil mau nyamperin karena takutnya ada sesuatu. “Ngga apa-apa kok beneran, cuman manggil aja, yaudah sana gih kalo mau main”, jawab temenku itu sambil santai.
Selang dua atau tiga hari dari kejadian itu, aku dapat kabar bahwa teman sebangkuku itu pergi untuk selamanya. I totally shocked for what was just happened. She was really gone...
Dari kedua cerita ini, aku malah seperti menemukan sebuah ‘pattern’ yang sama. Tapi pattern yang aku temukan ini lebih ke perasaan atau intuisi aja kali ya, walaupun begitu...aku merasa bahwa mereka yang memang ingin meninggalkan dunia seperti memberikan pesan tersirat bahwa mereka akan pergi.
Dan mereka yang pergi, they gave me that ‘last beautiful smile’ as a way of saying goodbye to me.
Lantas, aku berpikir kembali, apakah meninggalkan dunia yang fana menuju ke dunia eternal ini memang sebahagia itu ya? Huallahualam, semua ngga ada yang tahu, hanya Tuhan yang tahu dan tentunya orang tersebut.
Selain senyum, aku juga merasa seperti ada gut feelings that questioning of ‘what’s wrong’. Aku merasa ada yang aneh, tapi aku ngga tahu exactly terhadap keanehan yang aku rasain.
Despite all of the patterns and signs that I felt, this make me reflected of my self. Seberapa siap aku?
Seberapa siap aku menghadapi kematian yang sebenarnya begitu dekat denganku? dan seberapa siap aku menghadapi dan menerima kehilangan orang-orang terdekat aku untuk selamanya?
Bapak dan ibu, usianya sudah tidak muda dan terus bertambah tiap harinya. Kemarin ibu sempat sakit, dan seperti kata sebuah tulisan yang aku temukan di laman twitter, “Ibu jangan sakit, dunia serasa berhenti”. Ini, benar adanya. Benar-benar menyayat banget. Apalagi membayangkan kalo ibu udah ngga ada...
Dari situ aku semakin menyadari, bahwa aku belum siap untuk menghadapi itu semua. Betapa hebatnya orang-orang diluar sana yang melewati masa ini. Masa merelakan orang terkasih dan tercinta dalam hidup.
Aku mungkin masih termasuk yang beruntung, atau memang ini rezekiku, tapi disisi lain juga ini merupakan ujian buat aku. Apa yang udah aku lakukan untuk ibu dan bapak?
Semoga ketika suatu saat memang tiba saatnya masa itu tiba, aku bisa menerima dan tidak ada penyesalan dalam hidup aku.
Tapi...
Apa aku bisa ya? Mimpi bapak meninggal atau ibu meninggal aja pas bangun mataku sembab kayak habis sparing tinju tujuh hari tujuh malam.
-- Kepada Tuhan Semesta Alam, yang Maha Awal dan Maha Akhir, yang Maha menciptakan dan Maha mengakhiri, sesungguhnya kepadaMu tempatku kembali dan hanya kepadaMu aku mengadu. Semoga setiap keputusan dan jalan yang Engkau pilihkan untukku, aku bisa menerima segala keputusanMu dengan lapang dada dan melewati segala ujianMu. Sesungguhnya Engkau yang Maha Mengetahui apa yang Terbaik untukku, dan apa yang tidak aku ketahui.
Aku barusan dapet pesan di instagram dari teman kursus aku, dia menawarkan sebuah project untuk bisa dikerjain bareng. Tapi disini aku bukan mau bahas projectnya, cuman terlintas di benak aku...
Kok bisa sih orang bisa keinget sama aku? atau kepikiran gitu sama aku?
Dulu juga pernah kejadian hal yang sama, dikontak oleh orang yang deket banget sih ngga, cuman kami satu organisasi. Pada suatu acara konferensi dia mengajak aku untuk ikut. Surprised? Iya, dong. Masa engga.
Tapi, kalo boleh jujur. Aku seneng banget ketika ada orang inget sama aku. Sesederhana inget nama dan manggil. Aneh, ya?
Apa karena aku orangnya cuek dan susah banget buat inget orang, ya? Jadi semacam terharu gitu kalo ada orang yang inget aku hahahahaha.
Aku harus bilang apa ya ini, sebuah nikmat atau rezeki? atau keduanya? Apapun itu istilahnya, aku bersyukur banget.
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Terkait nikmat rezeki ini, aku bersyukur banget atas apa yang telah Tuhan berikan kepadaku. Sesederhana hari ini aku ngga sakit, aku bisa kerja, aku bisa makan tempe bacem, aku masih punya keluarga lengkap, aku punya teman-temanku, dan masih banyak lagi sampai susah aku hitung.
Aku teringat pernah curhat ke temanku tahun lalu. Kita membahas banyak hal, sampai dia pernah bilang,
“Bersyukur mendapat hal besar, hal yang kita inginkan itu biasa. Tapi bersyukur terhadap hal-hal kecil aja itu jarang banget bisa dilakuin. Karena kita mikirnya itu hal biasa”.
Kata-kata itu melekat banget di aku sampai sekarang. Pas aku capek beberapa hari lalu di kereta, aku tiba-tiba nangis. Karena menyadari bahwa ternyata aku masih bisa aktivitas, aku punya kerjaan, aku pulang dijemput sama bapak ibuku di stasiun, aku pulang naik mobil, aku punya teman baik yang nawarin buat tinggal dulu di apartemen dia selama dia di Jakarta biar aku ngga capek, aku pulang bisa makan masakan ibu, aku tidur dirumah... Waw, banyak banget hal baik yang aku miliki ternyata.
“Ohiya ya, aku memang ngga punya uang. Tapi ternyata rezekiku dalam bentuk lain ya...”
Aku menyadari bahwa nikmat, rezeki itu ngga melulu soal uang atau kaya. Tapi apa yang terjadi padaku sekarang itu adalah nikmat dan rezeki aku. Aku melihat sekeliling aku, aku punya orang tua, mas dan mbak yang bisa support dengan kondisiku, aku punya teman baik yang peduli, selalu ada pas aku down dan support aku...ini udah nikmat besar banget yang bisa aku rasain. Apalagi ditambah dengan hal-hal yang kayaknya biasa, padahal itu luar biasa. Ngga semua seberuntung berada di posisi aku sekarang.
Kalo aku coba buat kilas balik saat kondisi burukku, terutama mulai dari dua tahun lalu. Ketika aku pikirkan baik-baik, ya ampun ternyata banyak nikmat rezeki untuk aku. Mulai dari aku yang ngga jadi berangkat ke negeri tetangga karena sakit, tiba-tiba datanglah pandemik global. Aku yang lagi down sangat, selalu ada tiba-tiba temanku telfon, datang ke rumah atau sekedar chat dan semua memberikan aku support. Aku pas sakit pun ditungguin sama bapak ibu...
Sampai pas awal tahun kemaren ketika kondisiku mulai pelan-pelan membaik, aku cerita ke teman baikku dan respon mereka,
“Man...maaf ya gue ngga tau lo ngerasa kayak gitu ternyata selama ini. Gue emang mungkin ngga peka, tapi kalo lo ada apa-apa cerita aja. Beneran...cerita aja...”
Mungkin kalimat yang biasa aja buat orang lain. Tapi, waktu itu respon temenku itu totally surprised me. Karena aku mikir ‘kenapa minta maaf?’ padahal yang bermasalah aku dan diri aku sendiri :’) What more surprising me, aku merasa pundak nih jadi lebih ringan.
Pas pulang aku langsung ibadah solat dan mikir, Tuhan... ternyata Tuhan masih sayang sama aku. Cuman rasa sayangnya beda aja dengan caraNya.
Satu lagi hal yang aku pelajari dari pengalaman buruk aku mengenai rasa syukur. Bahwasanya, nikmat rezeki ngga selalu berupa harta fisik. Tapi harta yang ngga keliatan secara kasat mata (hubungan baik, rasa peduli, rasa sayang, etc). Pun terlihat kasat mata, itu adalah orang-orang yang memiliki rasa sama aku. Rasa sayang, rasa peduli, rasa kasih, rasa ingin kerja bareng, rasa ingin main, rasa ingin ngobrol, rasa nano-nano, termasuk rasa umami. Tinggal ditambah bawang merah, bawang putih, ketumbar sama nasi putih hangat. Jadi deh nasi goreng :)
Stop for awhile, a moment...and take a look around you. Elevate your perspective when looking around. See what you have and congratulate for all the things you have.
Sudah dari lama sih kepikiran buat nulis lagi karena pernah kepala penuh banget beberapa waktu lalu, tapi aku tunda terus jadi lupa apa yang mau ditulis..
But, to be asked ‘How’s life?’
I’d say ‘unexpected’.
As what I’ve already shared on my previous post, 2019-2020 was my worst year ever. As life goes on, I have to move.
Gampang? Engga.
Aku pernah mendapatkan pernyataan dari kawanku “aku merasa lemah dibanding orang lain (dengan cobaannya)”. Ngga, sayang. Semuanya kuat dengan dirinya masing-masing dan cobaannya sendiri-sendiri. Mendengar pernyataan itu, aku pun mungkin ngga akan sekuat kawanku itu dengan ujian yang dia punya. Tapi, aku bisa merasakan the way she feels, though It’s not me. Iya, melalui empathy kurang lebih aku bisa paham rasanya berada di posisi orang lain.
Aku pun awalnya benci. Benci banget sama ujian hidup sendiri, menyalahkan orang lain, menyalahkan keadaan, menyalahkan diri sendiri “apaan sih? ngapain sih sebenernya aku hidup?”, bahkan menyalahkan Tuhan.
Terus, gimana?
Ya ngga gimana-gimana. Penerimaan adalah yang memang harus aku lakukan. Capek sih memang. Bayangin aja ketika kamu udah semangat lagi buat aktivitas, menjalani hidup, senang-senang tapi tiba-tiba suka mendadak didorong buat jatuh lagi. Mulai lagi dari awal, mengumpulkan pundi-pundi semangat lagi... gitu terus...
Pernah berada di titik muak sampai males hidup, ya iya, wajar. Selayaknya keluhan semua orang, “namanya juga hidup...” tapi semua keputusan balik lagi ke kamu. Kamu mau ngapain buat selanjutnya.
Kalo aku boleh beropini, dari setiap ujian itu atau kesusahan itu sebenarnya ada pesan dari semesta buat kita. Kalo dari sisi agama melihat bahwa ujian itu menaikkan derajat kita sebenernya. Ya ada benarnya memang. Ujian menaikkan tingkatan kita untuk menjadi lebih baik lagi. Percaya atau tidak, dari setiap ujian itu ada hal yang bisa dipelajari juga karena pesan yang ada di setiap ujian yang kita lewati. Kalo lagi ujian bahasa Indonesia nih,
“Hikmah apa yang bisa kamu ambil dari cerita di atas?”.
Tapi, guys. Semakin kesini aku mulai memahami terhadap setiap ujian yang dilewati--it really builds us. Kalo dulu aku ngeluh ngamuk-ngamuk, sekarang kayak “ohhhh ini ya”.
*mulai cerita*
Jadi, tahun 2019 setelah post-op kedua aku bener-bener lost sih. Jadi ngga tau aku mau ngapain, mau kerja apa, dimana dan hal apa yang aku suka lakuin itu aku ngga tau. Tapi, namanya keluarga ya pasti selalu ada desakan untuk menyambung hidup dan bekerja. Kerja apa? Apa yang aku mau?
Akhirnya tuh aku coba apply kan tapi abis interview itu emang ngga lolos sih ya karena aku juga ngga niat dan setengah hati. Terus aku ngejar buat bisa kerja di negeri tetangga, udah nih kan udah siap nih, visa tinggal nunggu. Tinggal beli tiket, eh...
MAK GLEGAR
Aku operasi lagi dong :)
Hidup memang mengejutkan, ya bunda.
Semacam aku tidak diridhoi meninggalkan negara berflower ini. Negara yang ‘gitu lah ya’. Abis post-op ketiga, makin-makin lah aku udah ngga niat buat hidup. Tapi, desakan untuk harus menyambung hidup itu masih berjalan. Aku harus cari kerja juga karena keadaan sekitarku memang sedang tidak baik-baik saja. Aku ngga boleh egois walaupun ingin :)
Mottoku waktu itu, yaudahlah ngga usah membuat rencana hidup karena toh juga nantinya aku gagal. Maksudnya ngapain buat rencana kalo ujung-ujungnya akan ngga kesampean.
Pertengahan 2020, aku sakit lagi dan harus dirawat. Keluar rumah sakit dengan segala kondisi physically and mentally worst itu aku udah ngga bisa sih sama yang namanya “aku ngga apa-apa”. Yaudah, akhirnya pecah. Aku nangis kejer di rumah dan orang rumah panik, dikira aku sakit parah lagi. Ya emang sih sakit, beneran sakit.
As time flies, akhir tahun akhirnya aku membuat keputusan besar. To live my own life.
Aku mulai pelan-pelan melakukan hal yang aku masih penasaran dan aku mau coba untuk explore. Aku mulai berani juga karena support dari teman-temanku dan kakakku----This is the most grateful and precious things ever. Karena selama terpuruk ya aku ceritanya ke mereka dan teman-temanku selalu bener-bener ngasih support meski sesederhana “Nggapapa, Man. Pasti bisa” “Aku percaya sih kamu bisa Man” atau support berupa pertanyaan dari kakak-kakakku yang selalu bikin mikir “Kamu yakin?” “Apa emang yang kamu suka?” dan diikuti dengan “Nggapapa kalo kamu mau coba, mumpung masih bisa coba” “Namanya udah gede, pilihan hidup ada di kita” “LAH GIMANA SIH APA YANG KAMU SUKA AJA NGGA TAU”.
Yap, yang nge-gas itu memang benar-benar mas ku hahaha. Justru dari nge-gas itu akhirnya aku berani take decisions. Karena tiap hari ditanyainnya apa yang aku suka. Maksudnya disini, apa yang aku suka buat dilakuin jadi aku ngga tertekan buat jalaninnya. Physically and mentally distressed, gitu.
Enak ya, Man dapet support gitu kok!
Tidak semudah itu Fergusso. Omongan pahit tetap ada. Tahulah seperti apa manusia kalo komentar, bukan? Bahkan saringan buat teh aja ngga bisa menyaring omongan pedas manusia. Yaudah, pokoknya dari sini aku mulai menjaga jarak dengan orang-orang yang berpotensi membuatku down. Didukung oleh kakakku, akhirnya aku bertapa sendirian di rumah. Aku mulai menjalani as my new lyfe...
Untuk career-shifting menjadi UI/UX designer. A designer. A User Interface and User Experience designer.
Iya, dokter hewan career-shifting jadi designer. But, do I exactly career-shifting? (Let’s talk about it later).
Aku akhirnya buat rencana selama setahun untuk belajar dan melihat adanya perkembangan atau ngga dari diri aku. Aku challenge diri aku sendiri. Aku mulai semuanya dari nol. Aku mulai belajar, aku ikut kelas, aku gabung komunitas, aku perluas perspective-ku, bukain youtube belajar sambil praktek, pokoknya kerjaanku depan laptop aja buat gimana caranya bangun kemampuan baru ini.
Seorang Amanda, yang gambar aja ngga bisa. Apalagi pake tools design.. mikir aja lemot. Pokoknya gas aja, coba aja dulu. Mottoku waktu itu ya nekat aja. Terus semakin aku nekat, semakin aku dihadapi kenyataan bahwa bidang yang baru aku tekuni ini kompetitif banget.
HAHAHAHAHAHAHAHA. Mari kita mengeluh apa, saudara-saudara?
“Ya namanya juga hidup...”
Mengetahui dunia ini juga ternyata keras, bund. Kompetitif karena jelas ya yang jago design disana lebih banyak, perekrut kebanyakan mencari yang sudah berpengalaman. Apalah aku ini yang merupakan serpihan debu? Tentu saja dengan harap harap cemas sambil berdoa sama Tuhan (aku udah taubat, guys) untuk diberikan jalan yang terbaik. Kalo memang ini bukan jalan buatku, semoga aku bisa dilapangkan terhadap semua putusanNya.
5/12 bulan udah terlewati, kelas kursusku udah selesai. Gawat banget aku mulai sendirian lagi buat bikin keputusan selanjutnya apa. Aku pun akhirnya coba aja buat bangun pengalaman di bidang terkait. Aku mulai bikin plan dengan rasa tahu diri bahwa aku hanya butiran debu, aku bangun pengalaman dari volunteer - magang - mulai apply kerja.
Mulai deh aku daftar volunteer. Surprisingly, aku diterima! Tentu saja dengan semangat 45, aku memulai kehidupanku di bidang baru. What makes me grateful more is, timku ini orangnya vokal semua. Jadi kerjaan jelas dan jalan. Kita sering brainstorming bareng.
A week later, tiba-tiba dapet chat dari fasilitator kursusku sekaligus mentorku ya. My first mentor. Awalnya nanyain kabar, dan another surprising thing happened. Dia ngasih kabar kalo kantornya dia lagi bukaan UI/UX design, aku disaranin coba aja dulu. Perihal keterima ngga nya ya belakangan.
Tentu saja dengan motto nekat ya aku daftar aja. Meski resumenya ngga ada tuh kesinambungan. Days later, I was being informed that I was accepted as UI/UX designer :)
Aku jadi keinget salah satu webinar yang aku ikutin terkait product design, ‘Bangunlah networking. Cari mentor sendiri, serap ilmu sebanyak-banyaknya karena ngga tau relasi terjalin dengan mentor ke depannya akan gimana. Siapa tahu mentor kamu yang akan menghubungkan kamu dengan opprtunity diluar sana.’
Seneng ya, man!
I am grateful, now. Tapi untuk kilas balik ke 2019/2020?
Did I ever expected to be here? No.
Ketika aku kilas balik for bad things (that I was thought as bad), aku mulai paham.
“Oh, ini” -- Oh, jadi ini aku ngga boleh berangkat dan dikasih sakit lagi. Kalo aku berangkat, kondisinya lagi pandemik global. Aku akan terjebak di negara orang sendirian dengan kondisi fisik yang dikatakan baik ya tidak, tapi juga dikatakan buruk ya tidak.
“Oh, ini” -- Oh, jadi ini aku dikasih kesempatan buat explore hal lain ya.
“Oh, ini” -- Oh, jadi aku ngga keterima PNS karena Tuhan ada rencana lain buat aku ya. Pada masa down di 2020 itu, aku sempat daftar jadi PNS. Tentu saja arahan orang tua, pekerjaan impian bagi orang tua untuk anak-anaknya. Untuk sedihnya ngga keterima meski arahan orang tua ya tetap ada pada masa itu. Kalo sekarang sih, alhamdulillah ngga keterima hahahaha.
Semakin kesini, aku mulai menerima hidup aku. Menerima, bukan pasrah. Kenapa aku bilang gitu? Karena waktu ikut acara woman sharing, salah satu kegiatan mengenai process healing (religious meditation) dibilang bahwa ketika kita menerima itu berarti kita siap dengan segala keputusan Tuhan yang akan terjadi atau telah terjadi. Disisi lain, kita tetap berusaha untuk menjalaninya. Dalam hal ini, hidup. Berbeda dengan pasrah yang abis itu kita kayak ngga ada usahanya atau kurang.
With no jokes, I should say bahwa keadaan menerima membuatku lebih lapang dada terhadap hal-hal yang terjadi diluar kendaliku. Mengurangi rasa kekecewaan terhadap ekspektasi. Menerima diri aku sendiri apa adanya dengan masa lalu ku.
Semakin kesini juga aku semakin mengenal dunia luar, banyak karakter dengan latar belakang berbeda dan sudut pandang berbeda. Banyak banget ternyata hal-hal diluar sana yang masih harus dieksplor!
By the way, ada sedikit potongan kata-kata dari film favorit aku banget. Hope this could cheer your life. Do not be afraid to take new chances, a different path, sometimes you have to go with the gut’s feeling. Kalo versi mas ku, “Rasain tanda-tandanya”.
Sudah larut, tapi mata ini masih bangun. Semakin larut juga semakin random isi kepalaku ini.
Hari ini abis mengikuti webinar. Topiknya cukup menarik tentang switching-career, bagi orang-orang yang ingin beralih karirnya dan profesinya. Entah mengapa aku lebih tertarik mengikuti webinar pada bidang lain ketimbang webinar untuk pengembangan profesi aku sendiri. Ada beberapa hal yang menarik yang aku temukan dalam acara webinar hari ini. Filosofi dari ex-bossnya narasumber bahwa hidup itu seperti juggling bola gitu. Ada 5 bola/poin yang selalu kita usaha untuk keep balance dalam hidup, diantaranya Keluarga, Teman/Relasi, Kesehatan, Keuangan dan Pekerjaan. Semua berbahan kaca, kecuali pekerjaan. Bola pekerjaan berbahan karet, karena apa? Ketika terjatuh dia bisa memantul kembali yang mana hal ini berarti ketika kita jatuh dalam berkarir, masih ada cara untuk bangkit dan memperbaiki karir. Ada jalannya. Tapi bagaimana dengan yang lain?
Ketika berbahan kaca itu jatuh, tentu saja pecah dan ngga bisa kembali lagi kan?
It happened to me. Bola yang jatuh dari aku itu kesehatan. Bagaimana aku merasa dapat memahami apa yang dimaksud dari ex-boss nya narasumber itu. Aku benar-benar merasakan bahwa kesehatan baik secara fisik dan mental itu benar-benar irreplaceable. Tubuh segalanya, tubuh aku, badan aku itu aset aku. Aset untuk hidup. Core of the core. Fisik atau kondisi tubuh aku rusak jelas aja memengaruhi perform aku dalam beraktivitas, yang dulu kuat latihan muay thai terus abis itu agenda lain, entah lanjut nongkrong sama temen, diskusi, dan lain sebagainya. Sekarang boro-boro, drop dikit nyeri perutku kambuh. Salah makan sedikit, kambuh pula.
Suka iri dengan orang lain yang masih aktif dan bisa melakukan banyak hal dengan kondisi sehat. Meskipun begitu aku tetap bersyukur dengan kondisiku, aku masih hidup.
Masih bernafas, masih bisa makan, masih punya rumah buat tidur, masih punya kendaraan, masih bisa berkomunikasi dengan teman-teman dan masih banyak lagi...
Suka gitu ya, manusia hahaha. Membandingkan hidup sehingga lupa apa yang telah dimiliki. Kira-kira bagaimana caranya untuk bisa mengurangi perbandingan hidup ini ya?
Jadi keinget close statement dari narasumber webinar tadi yang intinya bahwa, it’s ok untuk merasa down terkadang. Tapi ya balik lagi, jalan hidup setiap orang berbeda, kita semua punya timelinenya masing-masing. Aku, kamu, dia, mereka, kita memiliki timeline berbeda.
Cheer up to live, pals. Your timeline, your control.
THIS IS TOTALLY INSANE!
Ini bagus banget sungguh. You have to listen, the symphony is masterpiece. Meskipun gue kurang begitu suka dengan dramanya, tapi soundtrack versi orchestra ini belum ada yang menandingi:’)
Life doesn't give you what you wanted, but what you deserved, sebuah quotes yang gue catut dari film yang abis gue tonton.
What will I deserve....ya...
Hidup, memang semua atas kehendakNya — aku, kamu, kita cuman bisa berencana dan melakukan yang terbaik. Hanya Dia yang mengetahui yang terbaik untuk hambaNya. Membuat semua rencana yang kita buat, gagal, cari lagi yang lain, gagal lagi. Ikhtiar lagi...
Nasib? Takdir?
Sekarang gue merasakan, jadi gini ya hidup itu. Pengalaman memang pembelajaran terbaik, tapi hidup adalah sekolah tidak berujung. Tidak ada kisi-kisi. Tidak ada teman, karena semua memiliki jalan hidup berbeda. Tidak ada masa kelulusan. Roda berputar saja. Semakin kesini gue semakin conclude bahwa hidup itu...hanya tentang berpasrah dan berserah, usaha atau tidak usaha. Bedanya, usaha adalah mereka yang berjuang dan memang diberikan jalan yang terbaik—meskipun jatuh. Sedangkan yang tidak berusaha, bisa menjadi jalan sulit adalah yang memang dia pilih padahal ada jalan lain yang sebenarnya terbuka apabila berusaha lebih keras.
Kadang gue terlalu takut sama hidup, tamparannya terlalu keras atau kadang dibiarkan hingga terjatuh dengan tiada ujung, tidak ada tempat henti. Tapi tidak dijalani, gue kufur nikmat — banyak dari mereka yang masih ingin hidup.
Terlalu cliche untuk bilang, "semangat" menjalani hidup.
I don’t know how many days I have already skipped haha. Next topic of the challenge is my favourite movie.
I couldn’t tell, it’s too many...
But there’s one movie that I still remember clearly, the movie title is ‘click’ and the main actor is Adam Sandler.
Sungguh ya, ini film yang paling mengena banget selama gue hidup. Apa yang ingin disampaikan di film itu gue keinget banget. Gimana sih emang filmnya?
Singkat cerita, film ini mengisahkan seseorang yang punya remote control kehidupan. Awal ceritanya lupa sih gimana, tapi dia dapet remote control kehidupan itu dari ‘Maha Menghendaki’ or should I say God? kurang lebih begitulah pokoknya. Nah, remote control kehidupan ini itu bisa pause, stop, rewind, forward waktu. Yah selayaknya remote bekerja. Asyik ya?
Ternyata ngga.
Kenapa? Karena seperti kata-kata mutiara yang bertebaran, time is the most precious things, memang benar adanya. Nah, mas Adam ini melakukan forward kehidupan ways too much dan menghindari hal-hal yang ngga mau dia rasa ataupun dia hadapi hingga berakhir (stop) di masa dia berada di rumah sakit. Saat di rumah sakit itu dia baru sadar bahwa dia sudah bercerai dari istrinya, keluarganya berantakan, anaknya sudah ngga mau ketemu dia. Serem kan?
Usut punya usut, selama dia forward waktu, itu ternyata dia tidak banyak menghabiskan waktu dengan keluarganya. Dia sibuk bekerja, menjadi seorang yang temperamen dan ambisius mengejar karir serta harta sampai dia kehilangan keluarganya.
Kemudian mas Adam Sandler, mencoba membujuk si pemberi remote control kehidupan itu untuk bisa mengembalikan waktu yang sudah dia lewatkan dan tentu saja tidak bisa. Terus dari situ, ketika menonton perasaan gue langsung ‘deg’.
Oh, man. Iya juga ya. Gue sering banget rasanya mempercepat waktu, ‘seminggu besok di skip aja boleh ngga’, gitu. Terus gue mikir, iya juga ya, waktu/masa ini memang benar-benar berharga...
Waktu itu kalau sudah lewat, ngga bisa balik. Meskipun sedetik aja. Oleh karenanya, waktu itu adalah harta yang paling mahal. Orang-orang yang sudah memberikan waktu dan atau meluangkan waktunya buat seseorang, really...it’s priceless. Hargailah mereka yang memberikan waktunya untuk kita.
Terus gue kepikiran teman, kerabat, keluarga dan semua orang yang ada di hidup gue yang memang kalo gue minta tolong atau minta bantuan itu selalu meluangkan waktunya....terima kasih. Sungguh, gue berterima kasih banyak bahwasanya kalian sudah meluangkan waktunya buat gue.
Waktu adalah harga yang paling mahal, meskipun sering dari kita tidak menyadarinya. Iya ngga sih?
Hal ini jadi refleksi buat diri gue sendiri, gue sudah membuang waktu gue ke hal apa? atau mungkin gue ini pernah membuang-buang waktu orang ngga ya? Kayaknya sering ya...
Hi! I missed a week from the challenge. I told you so, It’s hard to be consistent since the first place...
———————————————————
Move to the next topic of the challenge, it’s a about being single and happy. It’s describing me.
I’m single and so far I’m happy with my self.
Masih merasakan kebebasan gitu dan menikmatinya. Gue bahkan lupa rasa senengnya suka sama orang lagi, rasa senengnya jatuh cinta gitu yang isinya kesemsem tiap hari.
Being single is a choice menurut aku. Beberapa orang ada yang memerlukan tempat sandaran. Ya tidak bisa dipungkiri terkadang memang memerlukan tempat sampah buat cerita dan diskusi gitu. But so far, aku bersyukur banget punya temen-temen aku, sobi-sobi aku yang bersedia jadi tempat sampah aku buat mengeluarkan uneg-uneg.
Semakin kesini juga aku semakin menyadari circle aku, orang-orang yang stay dan peduli sama aku. Semakin sedikit tapi ya ngga apa-apa, we know who our truly friends are.
Terus aku bingung topik ini cerita apalagi...
Oh, selama masih single juga aku, kamu, kita sebagai perempuan diberikan kesempatan banyak banget buat mengembangkan kemampuan diri sendiri. Menggali ilmu sebanyak-banyak di berbagai bidang dan melakukan hal yang kita sukai tanpa merasa dibatasi ataupun dikekang. Justru ini peluang besar banget untuk meningkatkan softskill sehingga value kita sebagai perempuan juga bisa meningkat gitu.
Jangan terlalu bergantung dengan orang lain. Itu mottoku sih, kenapa? Karena orang lain memiliki visi, misi, motto hidup yang juga berbeda dengan kita. Mereka diluar sana menghadapi masalahnya masing-masung juga.
jadi ditulisan sebelumnya gue berencana bahas ini, nothing's totally wrong yet nothing's exactly true. Apa yang gue tulis disini berdasarkan pemahaman sendiri, jadi lebih condong ke opini. Hal-hal yang berbeda dari apa yang diterima orang lain dengan yang gue tulis, justru itu hal menarik. Yuk kita ngobrol lain waktu.
Manusia itu unik, saking uniknya sampe gue ngga suka berurusan sama manusia. Sungguh, it ways too complex in just a body. Huallahualam, emang Allah Maha Besar sih.
Jadi, gue baca buku Everythings is fucked karya Mark Manson. Somehow, buku itu masih dalam top list dari beberapa buku yang telah gue baca. Jadi di buku itu, ada suatu bagian yang bercerita tentang pola pikir seseorang dari kecil dan perkembangannya.
1-- Seorang anak kecil yang belum masuk masa remaja, mereka hanya mengetahui benar dan salah terhadap suatu aksi tertentu. Misalkan ketika mereka masih kecil, mereka makan es krim. Ya jelas ya anak kecil suka banget es krim, itu wajar. Tapi anak kecil ini makan es krim diwaktu orang tua melarang untuk memakan es krim alias diem-diem. Orang tua tahu, orang tua memarahi anaknya. Pola yang anak kecil tangkap saat itu ialah, "Oh, gue ngga boleh makan es krim diem-diem. Ibu marah kalo gue makan es krim diem-diem". Sehingga anak kecil menerima bahwa hal itu salah dan menghindari hal tersebut. Selesai sampai disitu untuk pola pikir anak kecil. Sama seperti, memegang kompor api yang menyala itu panas, karena panas jadinya bikin tangan sakit. Karena rasa sakit yang timbul, yaudah akhirnya menghindari memegang kompor api yang menyala. Sederhananya, ini adalah tahap mereka mulai mengenal sesuatu hal yg dihindari dengan yang tidak. Benar salahnya suatu hal.
Anak kecil umumnya cuman ingin memenuhi keinginannya dia aja, ngga terpenuhi yaudah menangis. Karena apa yang anak kecil hanya paham yang diinginkan, gue mau es makan es krim ya makan es krim aja karena rasanya enak (titik).
2 -- Beranjak ke remaja, anak kecil yang masih suka es krim itu masih pengen dong makan es krim. Tapi mengetahui pengalaman sebelumnya, bahwa makan es krim diam-diam itu salah. Anak remaja mulai mencari tahu 'how to deal'-ing with what surrounded her. Anak remaja ini sudah tahu hal yang harus dihindari atau mengetahui konsekuensi terhadap suatu hal. Sehingga mereka mulai berpikir tahap lain untuk mendapatkan yang diinginkan. "Gue ngga boleh makan es krim kalo makan diem-diem, berarti kalo gue izin boleh ya?", berkembang lagi menjadi luas "kalo gue besok pergi pake baju ini, bakal dikomentarin atau ngga?" Dan sebagainya. Jadi pola pikir remaja ini memasuki pada tahapan untuk berpikir mengenai konsekuensi terhadap suatu aksi yang tergolong benar atau salah. Berhenti hingga disitu.
3 -- But how about the grown adult?
It’s getting complex. Kenapa? Karena berbeda dengan remaja dan anak kecil. Anak kecil yang berpikir hingga ke tahap yang diinginkan. Anak remaja mengetahui konsekuensi dari yang diinginkan. The grown adult atau orang yang sudah tumbuh dewasa, konsekuensi aksi menjadi tidak memiliki batas yang jelas.
“Adulthood is the realization that sometimes an abstract principle is right and good for the own sake, that even if it hurts you, if it hurts the others. Being honest is still the right thing to do”.
Dari hal ini gue mulai berpikir bahwa, oh berarti bisa aja apa yang gue anggap salah itu adalah suatu hal yang benar di persepsi yang lain.
Loh? Tapi bukannya ada hukum? Ada norma-norma?
Hukum bekerja terhadap sesuatu hal untuk menentukan benar dan salah terhadap aksi seseorang. Hukum biasanya dibentuk oleh negara. Iya, benar dan salah ditentukan disitu.
Tapi berangkat dalam suatu case, seseorang mencuri daun ganja untuk pengobatan salah satu keluarganya yang sakit. Udah mencuri, ganja pula yang dia ambil. Double kill hukum yang berlaku. Di mata hukum, jelas salah. Tapi dibalik itu terhadap pemikiran seseorang, itu adalah suatu hal abstrak yang tidak bisa dinilai kebenaran dan kesalahannya. Mungkin ada yang berpikir: “Iya sih, dia salah mencuri. Tapi dia mencuri memang untuk pengobatan anggota keluarganya”. Ada suatu titik celah untuk pembenaran terhadap aksi tersebut.
Jadi, bagaimana?
Is it a matter of perspectives? Sudut pandang?
Terlalu kompleks bukan manusia itu? Bias.
Tapi, adanya hukum itu tetap diperlukan. Kenapa? Karena itu sebagai kontrol terhadap pola pikir yang abstrak. Norma, moral atau akhlaq. Makanya di agama juga diajarkan bukan? Bagaimana berakhlaq baik, apa yang termasuk akhlaq buruk. Tapi kalau norma lebih ke kontrol sosial sih, berbeda dengan hukum dan moral tersebut. Kalo gue melihatnya, kontrol terhadap abstrak pola pikir itu ialah adanya hukum (yang diterapkan secara lebih luas--misalkan hukum negara), kemudian menurun ke norma sebagai kontrol sosial dan moral atau akhlaq yang mengerucut terhadap kontrol individu.
Eh, balik lagi dulu ke pertanyaan tadi. Tentang pola pikir abstrak. So is it a matter of perspectives? Kapan-kapan bahas lagi yuk tentang sudut pandang ini. Yang mana sudut pandang bisa...hm, iya berbeda. Tapi sudut pandang ini berperan terhadap ‘suatu hal’ yang berkaitan dengan film The Social Dilemma.
My parents, it’s just like a water and fire. Bak air dan api yang tergabung tapi berjodoh, bingung ngga?
Tapi kata orang-orang sih gitu, ya? Pasangan itu umumnya yang bertolak belakang, sehingga saling melengkapi. Duileh. Tapi memang sih, bapak itu ekstrovert. Beliau suka banget ngomong, cas cis cus. Kalo ibu gue itu introvert, no berbicara berbicara club. Some people said, I’m more likely my mom but mom said I’m more likely my father.
Whatever it is, well they’re my beloved parents. Tentang orang tua, banyak hal yang gue pelajari dari keduanya yang mungkin bisa menjadi bekal gue nantinya. Baik bekal berumah tangga ataupun bekal untuk hidup gue sendiri. Sebenernya dari keluarga gue banyak belajar sih.
Bapak.
He’s...well, his thoughts is totally open minded. Gue banyak belajar tentang ‘dunia’ dari beliau, tapi berat banget sih bahasannya sehingga gue belum bisa menuliskan disini dengan bahasa yang lebih sederhana. Tapi, tunggu ya. Kapan-kapan gue tulis, karena ilmu gue masih cetek banget sehingga kolaborasi dengan beberapa disiplin yang udah diterapin oleh bapak masih belum bisa gue pahami seluruhnya. Another things that I learned is about family. Family over everythings.
Merasa ngga sih kalian? Kebahagiaan sejati itu berasal dari keluarga. Cinta sejati yang tidak terbalaskan adalah cinta orang tua, cinta bapak ibu ke anak-anaknya. Bapak pernah berbicara, “Kebahagiaan sesungguhnya itu keluarga. Rasanya berbeda ketika kamu merasa senang terhadap hal duniawi, seperti menang lomba, jatuh cinta, kaya..semua itu berbeda dengan ketika bahagianya jalan-jalan sama keluarga dan ketawa bareng dengan keluarga”.
Iya sih, keluarga itu hal pertama buat gue. Meskipun tidak ada keluarga yang sempurna, tapi keluarga adalah tempat gue kembali. Senyebelinnya saudara, atau bapak dan ibu pada masa tertentu, ya rumah gue adalah mereka. Mereka yang mengerti kita, mereka yang dari awal kita melek di dunia ini sudah ada. Mereka yang menerima kita apa adanya.
Tapi ya, keluarga gue itu keluarga gengsi. Tidak bisa mengekspresikan rasa sayang dengan baik haha seperti orang tua gue. Memang sih, sejujurnya terkadang suka iri dengki dengan orang yang terbuka dengan orang tuanya, mengekspresikan rasa sayang dengan terbukanya. Tapi yah...kembali pada setiap keluarga tidak sempurna mungkin ya. Ekspresi rasa sayang dari keluarga gue berbeda.
Ketika gue sakit berkali-kali, knowing the struggle for what my parents did is totally breaks my heart.Sampe ada masa gue berdoa, “ya Allah apabila emang udah waktunya, yaudah nggapapa ya Allah daripada harus bikin susah orang tua terus...tapi ya Allah, dosaku juga masih banyak...gimana dong....nanti aja apa ya Allah...ya Allah terserah deh ya Allah”. Tipikal orang hidup segan mati tak mau.
Lanjut,
Ibu.
She’s super mom sih. Bekerja tapi tetap mengurus anak-anaknya. Sebagai orang yang idealis pingin banget bisa kerja tapi juga bisa mengurus keluarga, mimpi dulu ngga apa-apa ya. Sebulan aja masa trial gue ngurusin rumah sambil kerja, SUMPAH CAPEK BGT BROU. Abis itu gue masuk rumah sakit lagi....
Ngga ada yang sempurna memang di dunia ini. Bekerja dengan sambil mengurus keluarga, pasti ada salah satu hal yang terkorbankan.
Oke, tentang ibu gue. Apa yang gue pelajari?
F-I-N-A-N-S-I-A-L
Ibu gue orang yang benar-benar tertata dalam hal keuangan. Motto ibu gue adalah, yang utama dulu pokoknya. Pengeluaran utama disingkirkan baru hal pendukung lainnya. Hal dasar sih, tapi kalau tidak mulai diterapkan ini adalah hal yang cukup sulit dalam penentuan prioritas. Jadi dari situ gue belajar mengeluarkan keuangan dengan menerapkan skala prioritas. Tapi tetep sih, jeleknya gue adalah pengeluaran terbesar terletak pada jajan...
Ibu gue itu bisa anti jajan jajan club. Ya gue juga sih kalo emang udah limit banget keuangan gue. Ohiya, ibu gue sangat menjunjung tinggi ketika berkeluarga, perempuan atau gue sebisa mungkin tetap bekerja dan memiliki penghasilan. Hal ini bertujuan sebagai penunjang keluarga sih, jadi ada pendapatan tambahan. Berapa kali gue diceramahin sama ibu gue untuk hal seperti itu. Beliau juga menambahkan, kerja dahulu sebelum menikah. “Seneng-senenglah dulu kamu sama hasil jerih payah kamu, sebelum berkeluarga”-kata ibu. Dalam hal ini, sampai siap ya untuk menanggung beban dari berkeluarga. Karena kalau dibilang bekerja dahulu sampai keuangan stabil, well in my opinion it’s such a cliche. Sampai kapanpun keuangan itu tidak akan stabil. Tapi seberapa siap kita menata ketidakstabilan atau managing it well.
Karena...gue berpikir ketika berkeluarga yang dipikirkan itu tidak hanya hal menyenangkan dibalik memiliki pasangan. Tapi lebih luas, salah satunya keuangan. Keuangan ini hal yang sangat sensitif sekali. Masa kuliah, gue tinggal sendirian di rumah Jogja. Sedikitnya gue paham pengeluaran utama rumah, bayar tagihan listrik, bayar tagihan telepon, bayar tagihan internet, belum kalo punya mobil servisnya, terus kalo rumah ada masalah entah itu jamban bocor dan sebagainya. Pengeluaran dong ya? Ngga mungkin kan kita bayar pake daun? How well prepared are you? Ohiya, belum juga pengeluaran makan. Waktu itu masih disponsorin orang tua, tapi tetap aja kerasa buat gue. Belum kalo ada pengeluaran yang berat sebelah jadi harus lari kesana, uang jajan gue kepotong. Bye...
Well, that’s why I see my mom is a supermom. She could handle it all, termasuk handle gue, anaknya yang nyebelin dan manja ini.
Another things that I learned from my dad, is about social problems that I always remember.
“Masalah sosial itu sebenernya masalah psikologi, masalah psikologi itu sebenernya masalah biologi, masalah biologi itu sebenernya masalah kimiawi, masalah kimiawi itu sebenernya masalah fisika dan masalah fisika sebenernya adalah masalah matematika”. - Bapak.
So, we’re all maths. We’re the complicated X, Y, Z and those formula problems. Kepikiran ngga?
gue udah ke-skip dua hari.....bukan karena males, tapi capek banget akhir-akhir ini jadi langsung tidur. Inget sih buat menulis, tapi gue memilih tidur. Sekarang aja udah jam segini, nanti ada kelas bootcamp jam 09.00 pagi. Karena masih lumayan bisa melek, jadi nulis dulu deh sebentar.
Challenge-nya sih bertajuk 'places that I want to visit'. Tempat apa aja sih yang pengen gue kunjungin? Banyak banget sebenarnya brou. Tapi gue kerucutkan ya:
1. Turki
Dari jaman baheula gue bercita-cita pengen banget bisa ke Turki, baik itu sekolah atau liburan aja. Kenapa sih? Karena gue mau tau banget sejarah Islam di belahan Eropa disana. Islam abad pertengahan. Pasti banyak banget monumen atau tempat bersejarah yang menjadi saksi mengenai perkembangan Islam disana. Kenapa sih gue tertarik? Ya pengen tahu aja. Gue ngga suka sejarah sebenarnya, tapi menilik tentang Islam di abad pertengahan itu seru banget. Tentang dinasti ottoman/Utsmaniyyah, gimana Sultan Mehmed II berhasil menaklukan konstantinopel. Penasaran Bosphorus itu seperti apa. Pokoknga gue penasaran banget dan mau liat sendiri gitu kesana.
Disisi lain, gue penasaran sama Cappadocia. Katanya tempatnya bagus dan banyak banget balon udara gitu! Sungguh, gue dari dulu kepingin banget bisa mencoba naik balon udara. Makanya mau banget kesana.
ya Allah, semoga ada rejeki buat bisa kesana. Travelling sendirian juga ngga apa-apa ya Allah.
2. Tokyo
Tokyo, Jepang katanya sebagai salah satu kota besar tersibuk di dunia. Apa yang mau gue cari disini? Jelas city lightsnya. Penasaran juga dengan budaya disana. Gimana ya, kadang bisa berada di tempat itu langsung diperlukan supaya kita paham. Banyak orang yang bilang memang orang Jepang itu sangatlah disiplin. Gue kan lemot ya, jauh pula dari kata disiplin. So, I would like to challenge my self in a place that would be 180 degrees different from my personalities. Apakah gue bisa survive?
3. Sydney
Sydney! Gue pengennnnnn banget banget teramat sangat ke Sydney karena gue pengen banget bisa dateng atau nonton opera or something related di Sydney Opera House! That's one of my buckerlist! Pokoknya gue harus bisa ke Sydney dan menonton Opera di Sydney Opera House.
Sungguh, meski ngga keliatan suka sama classical music tapi gue suka banget dengerin. Musik klasik itu kalo didengerin berasa di istana ye. Pokoknya semoga gue bisa kesana.
4. London Eye
Tempat selanjutnya yang pengen banget gue kunjungin adalah London! Gue pengen banget ke London selain mau banget melihat Oxford ya...mau banget merasakan berada di sekeliling orang yang beraksen British. Ih aneh ya? tapi mau banget buat merasakannya gitu lho.
ya Allah semoga kesampean bisa pergi ke-empat tempag tersebut. Amin ya Allah, amin ya Rabbal alamin. Allahumma shalli alaaa sayyidina muhammad, wa alaaaa ali muhammad.
yarn-of-life @thebrownsweater - Tumblr Blog | Tumgag