Ada kemungkinan karena tulisan ini, saya akan dicap sebagai Buddhist yang ga menjalankan Buddhist principles dengan semestinya, karena saya masih âmelekatâ dengan konsep âagamaâ Buddha.
Ya memang saya masih melekat dengan banyak hal sih. My needs of sense pleasure masih kuat (saya bakal ngeluh kalo kecapekan, kalo kedinginan atau belum minum segelas kopi pertama saya di pagi hari :p). Ga pernah menjalankan atthasila juga. Pancasila aja masih bolong-bolong mungkin ya. Jarang meditasi. Suka lupa kalo hidup itu anicca. Anatta-nya nyaris ga ada karena saya orang yang temperamental. Banget. Kalo tentang dukkha, ya lumayan sering sadar sih hehe.
Singkatnya, saya umat agama Buddha, tapi masih terkubur di dalam kubangan lumpur penderitaan. Dan ga ada kesadaran buat melepaskan diri juga! Haha :p
Anyway, Indonesia lagi âpanasâ ya belakangan gara-gara isu pilkada Jakarta yang melibatkan kepentingan politik dan agama. Indonesia emang ga bakal pernah bisa jadi negara yang sekuler dan toleran sepenuhnya. Walaupun penduduk di beberapa tempat sangat menghormati mereka yang berbeda keyakinan atau adat istiadatnya, menurut saya mayoritas daerah di Indonesia belum bisa seperti itu.
Entahlah, saya jadi ingin bertanya kepada âseseorangâ diatas sana, apakah Dia memang perlu dibela? Apa pendapat-Nya tentang kondisi Indonesia? Mungkinkah Ia akan tertawa terbahak-bahak melihat kebodohan manusia yang sibuk mengatasnamakan Ia demi menjalankan kepentingan manusiawinya, padahal tentu Dia tahu para manusia itu berbohong?
Dan ada pula manusia bodoh lainnya yang mau dibohongi! Eh buset dahhh. (kata-Nya dalam logat betawi :p).
Buddhism menurut saya adalah agama paling cuek sedunia. Paling cool, paling chill. Disuruh turunin patung ya turunin. Karena ga ada yang perlu dibela.Kalaupun mau meladeni argumen, hanya akan melayani argumen yang masuk akal :p
Ga pernah juga disuruh bawa pengikut sebanyak-banyaknya - karena untuk menjadi Buddhist sejati itu susah puooll. Benar-benar ga gampang untuk tidak melekat pada âkulit luarâ, entah itu ritual puja bakti, konsep-konsep dan sebagainya.
Esensi menjadi seorang Buddhist adalah bagaimana untuk lepas dari semua hal itu, dan ketika kita tidak melekat pada apapun, batin menjadi tenang seimbang. Mau ada badai topan, batin kita stabil. Ga marah, ga panik, ga takut, ga benci, dan ga juga mabok kegembiraan. Enak ya kalau bisa kayak gitu? :)
Sebenarnya, kalau kita belum bisa seperti itu, kita belum bisa disebut Buddhist. Tentunya kita ga mau jadi umat cuma sekedar jadi umat. Ingat, Buddhism itu terkenal karena prinsip non-dogmatic bernama âehipassikoâ: lihat dan buktikan. Walaupun statusnya perumah tangga dan godaannya jauh lebih banyak, minimal kita bisa jadi manusia yang mempunyai batin lumayan seimbang lah. Bayangkan, kalau kita tetap cool under all kinds of weather, we will be more compassionate and make wiser choices in life.
Terombang-ambing emosi itu capek loh... :(
Saya merasa beruntung memilih jalan ini. Jujur, saya sih tidak peduli dengan pilihan orang lain, itu hak mereka masing-masing. Tetapi, saya peduli dengan pilihan hidup saya. Dan saya bersyukur bahwa sesuatu yang sangat berpengaruh dalam hidup saya, mengajarkan bahwa yang perlu kita awasi terlebih dahulu adalah tindakan kita sendiri, bukan tindakan orang lain. Menjalani hidup dengan keelingan adalah sesuatu yang mendasar bagi seorang Buddhist.
Dan ga gampang tentunya untuk eling setiap saat! Haha :p
Nah, siapa bilang menjadi seorang Buddhist itu gampang? Kalau emosinya tersulut terus (self-reminder juga nih), gimana mau seimbang batinnya? Kalau terombang-ambing kenikmatan indrawi terus, bagaimana mau eling?
In Buddhism, you save yourself. No one else will do it for you. Your salvation depends on your own deeds. Peace out! :)