Misfit
Johnny x OC tanpa nama
[1.15 WIB - di sebuah kafe pojokan, karena di mana lagi?]
Sosok menjulang itu bisa terlihat dari jauh, apalagi dengan hoodie berwarna kuning terang yang dikenakannya. Langkahnya ringan, seolah-olah sedang melayang. Johnny melambai kelewat antusiasâsedikit melompat-lompatâbegitu matanya menangkap sosok yang sedang menyeruput minumannya tersebut.
Si wanita balas melambaikan tangan, senyum terhiburnya tertahan karena sedotan yang ia jepit di bibirnya.
âSudah berapa lama? Sorry, aku telat ya?â Johnny membombardir si wanita dengan pertanyaan bahkan sebelum ia duduk.Tapi lawan bicaranya hanya melambaikan tangannyaâkali ini bukan melambai-lambai untuk membalas sapaan, tapi lebih ke lambaian âoke-tak-apa-tidak-masalahâ.
âOke. Trims. Aku mau pesan minuman dulu.â
Si wanita lagi-lagi melambaikan tangan, kali ini mengusir. Seolah-olah tidak ada respon lain yang bisa ia berikan saja. Johnny mengangkat bahunya, tawanya bisa terdengar ketika ia beranjak meninggalkan meja mereka.
Si wanita sudah tidak menyeruput-nyeruput minumannya lagi. Kali ini perhatiannya terfokuskan pada warna pakaian yang dikenakan Johnny. Kadang ia terpikir-pikir bagaimana mungkin pria besar satu itu memiliki kepribadian yang bertolak belakang dengan fisiknya. Dan satu hal yang menarik: kepribadian itu bisa terlihat dari pakaian yang ia kenakan.
Mendadak ia merasa harus melipat lengan kemejanya yang hari ini berwarna abu-abu.
âApa rasanya mengenakan warna kuning?â
Kalimat pertama yang ia ucapkan begitu Johnny sudah kembali ke meja mereka membuat Johnny menatapnya bingung.
âHah?â
âMaksudku, kuning. Terang banget.â
âBabe, aku tidak paham. Tolong jelaskan.â
Si wanita menyandarkan tubuhnya ke sandaran dan melipat lengan di dada, terlihat kelewat serius untuk hal yang cukup remeh yang hendak ia bicarakan.
âJohn, dengan tampilan fisikmu yang tinggi besar, kadang aku memiliki ekspektasi kalau kamu akan lebih sering mengenakan pakaian berwarna monokrom. Tapi coba lihat: kamu duduk di depanku dengan hoodie berwarna kuning. Rasanya sepertiâŠ. a misfit.â
Tawa Johnny meledak.
Yeah, oke. Tidak meledak as if terbahak-bahak tapi, yeah, tetap saja, Johnny tertawa. Untung saja minuman yang baru ia seruput sudah keburu masuk lambungnya. Jika tidak, mungkin dia akan menyemburkan isi mulutnya.
âBagaimana denganmu sendiri, babe? Kenapa kamu selalu mengenakan warna-warna monokrom?â Mau tidak mau Johnny juga menyadari kalau, lagi-lagi, wanita itu mengenakan pakaian berwarna abu-abu. Kadang Johnny jadi penasaran sendiri ada berapa banyak pakaian berwarna abu-abu yang ia miliki. Jangan-jangan isi pakaiannya berwarna abu-abu semua? Entahlah. Johnny akan menyimpan rasa penasarannya untuk menjadi kejutan di kemudian hari.
âNah, sekarang aku bisa bilang kalau aku merasa seperti a misfit kalau aku mengenakan pakaian berwarna terang.â
âTapi, aku rasa, kamu harus mencobanya.â
Si wanita mencondongkan tubuh dan meletakkan dagu di kedua tangannya. âHaruskah?â
Johnny bisa menangkap rasa penasaran dari kedua bola mata si wanita yang membesar. Johnny memundurkan kursinya untuk memberikan ruang, melepaskan hoodie dan menyodorkannya pada si lawan bicara.
âCoba kenakan ini.â
Si wanita tidak menolak. Beberapa detik kemudian, ia sudah mengenakan hoodie milik Johnny yangâŠ. kelewat kebesaran.
Johnny sedang sibuk menahan senyum terhiburnya, jika bukan tawanya. Rasanya hari ini Johnny terlalu banyak tertawa.
âCocok.â Komentarnya singkat sambil menyodorkan ponselnya dengan kamera depan yang sudah menyala.
Si wanita mengangguk-angguk melihat pantulan dirinya di ponsel. âYeah, aku rasa aku cocok mengenakan warna kuning.â
âTapi, babe.â
âYa?â
Tawa Johnny akhirnya meledak juga ketika melihat tangan si wanita yang bahkan tidak terlihat karena lengan hoodie yang kepanjangan.
âYou are drowning! Now thatâs indeed a misfit! You look funny!â
























