Mike Driver
Lint Roller? I Barely Know Her
art blog(derogatory)

pixel skylines

No title available
Xuebing Du
tumblr dot com

titsay
trying on a metaphor
KIROKAZE
will byers stan first human second
No title available

blake kathryn
YOU ARE THE REASON

#extradirty

JVL
Monterey Bay Aquarium
sheepfilms

Kaledo Art
No title available

seen from Brazil

seen from Canada

seen from Italy

seen from Romania

seen from United States

seen from Saudi Arabia
seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States
seen from Germany
seen from Brazil
seen from Canada
seen from Romania
seen from United States

seen from Romania

seen from Brazil

seen from China
@thoughtofdays
sorry but i demand love in the most romantic aggressive way possible
i don’t have a five year plan because every one years i realize i need a different life
Check Chanyeol voting team on X for more info.
PARK CHANYEOL (and Zzar) photographed by Chang Kipyung for Ge Diao | January 2024
Found via Pinterest
Ketakutan terbesar saya adalah ketika saya zalim kepada anggota keluarga saya sendiri.
Karena mereka adalah orang yang saya temui setiap hari. Otomatis, kemungkinan saya menzalimi mereka lebih besar daripada saya menzalimi orang lain.
Mengapa saya punya ketakutan ini?
Bayangkan saja, hak orang lain yang jadi kewajiban kita akan tetap terutang hingga kita tunaikan. Dan utang yang tidak selesai di dunia, semuanya akan dibayar di akhirat.
Saya bisa menggerutu kesal karena utang orang kepada saya yang tak kunjung dibayar, tapi bagaimana bisa saya santai dan merasa tenang ketika saya punya utang (baca: hak yang tidak saya tunaikan) kepada keluarga saya?
Tuhan, tolong berikan saya kemudahan dan kekuatan.
@taufikaulia
T-tapi apakah mereka berpikir hal yg sama seperti kamu, bahwa tindakan mereka terhadap mu melebihi kedzaliman mrk terhadap orang lain?
Penipu Ulung
Sadar nggak sih, orang dewasa itu adalah orang yang paling pandai untuk berbohong, entah berbohong kepada orang lain ataupun menipu diri sendiri. Saat ditanya, "Apa kabar?" jawabanya "Baik-baik saja". Padahal mungkin baru saja terluka. Seolah-olah menjadi dewasa itu dituntut untuk tampak baik-baik saja seterusnya, tak peduli seberapa hancur hidup kita. Padahal baru saja dihajar oleh pasangannya di rumah, kdrt. Padahal baru saja dimaki-maki atasannya di kantor. Padahal baru saja kehilangan sesuatu yang berharga.
Padahal pernikahannya sudah tak berjalan sebagaimana mestinya. Padahal banyak sekali hal yang ditakutkan dalam hidupnya, menjelma menjadi rasa khawatir yang terus menekan sebagai trauma. Dan tetap berusaha bertahan seolah semuanya baik baik saja. Tanpa bisa melawan, tersandera pada ketakutan-ketakutan hidup akan masa depan nanti seperti apa. Kepiawaian untuk menipu itu telah menjadi mahir. Seolah menjadi salah satu keterampilan yang memang harus dimiliki oleh orang dewasa. Hingga tidak terasa, semua itu telah melekat menjadi tabiat. Hingga setelah menjalaninya bertahun-tahun, menyadari betapa hilangnya diri sendiri. Diri yang dulu pernah ada dalam diri kita beberapa tahun lalu, saat menjadi anak-anak yang jujur, saat memiliki mimpi-mimpi yang besar, saat ketakutan dalam hidup tidak lebih dari gelapnya malam atau ke toilet sendirian. Sepandai itu hingga orang-orang di sekitarnya merasa bahwa kita beruntung. Dan kita membalasnya dengan senyum tipis sembari mensyukurinya. Benar-benar piawai sekali menipu diri. Takut dan malu jika orang lain mengetahui sisi terapuh, tak ingin seorang pun tahu apalagi menolong. Tak ingin semuanya tahu bahwa cita-cita yang dulu menjadi mimpi yang dibicarakan bersama, ternyata tidak pernah menjadi nyata. Justru menjadi luka-luka yang menganga. Menjadi trauma yang menggerogoti diri. Hingga tak lagi mampu membedakan antara kenyataan dan asumsi. Sungguh pandai orang dewasa menipu dirinya. Mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Tapi hidupnya penuh dengan rasa kalah. (c)kurniawangunadi
“Breathe. You’re going to be okay. Breathe and remember that you’ve been in this place before. You’ve been this uncomfortable and anxious and scared, and you’ve survived. Breathe and know that you can survive this too. These feelings can’t break you. They’re painful and debilitating, but you can sit with them and eventually, they will pass. Maybe not immediately, but sometime soon, they are going to fade and when they do, you’ll look back at this moment and laugh for having doubted your resilience. I know it feels unbearable right now, but keep breathing, again and again. This will pass. I promise it will pass.”
— Daniell Koepke
Neptunus
Di tengah keramaian pun kamu merasa kesepian, pusat dari segala penjuru perhatian. Kamu kesepian karna konsep dirimu yang kacau balau. Kamu tak akan pernah bisa memelukku, karna kamu gamang dan masih mencari cara untuk memeluk dirimu sendiri.
Kamu menyakiti diri, dua kali. Pertama ketika tak sengaja jatuh hati padaku 10 bulan lalu, kedua ketika kehilangan dirimu sendiri.
Menunggangi perahu kayu murahan, berlayar menerjang badai Neptunus. Gelap, dingin, dan biru. Tak gentar, hingga menjadikan dirimu lebih kuat, namun tak sadar bisa merusak segala hal disekitarmu.
Kamu akan berlayar jauh, karna aku tahu kamu adalah bajak laut yang keren dan gagah. Sementara aku, masih berusaha untuk segera membaik. Yahh setidaknya tak perlu motivasi untuk menghirup oksigen.
“She wanted to tell him she missed him but she knew it wouldn’t change anything so she kept pretending she didn’t.”
Kejadian yang baru saja terjadi dan menjadi viral di twitter yg menyangkut seseorang, yg pernah ku kenal. Ga ada yang bisa dibenarkan dari hal tersebut. Yang amat disayangkan adalah bahwa mengapa kamu begitu bisa menjadi tidak bijak. Kamu itu loh pernah berada di titik rendah dimana kamu sangat merasa kesulitan akan segala hal, orang pun ragu meletakan kepercayaan kepada mu, kemudian kamu bisa bangkit dan berkarya kembali.... Seketika itu pula kamu menjatuhkan diri mu kembali di titik dimana lebih rendah dibandingkan sebelumnya.
Kamu bodoh.
Sakit macam apa yg pengen kamu coba lagi? Ga kapok apa gimana? Sekarang bagaimana membangun kembali kepercayaan orang jika kamu sudah berlabel seperti itu?
Pertama,
Ga perlu khawatir, privasi kamu yg kamu percayakan kepadaku aman. Aku ga akan buka mulut apa pun tentang privasi kamu. Jangankan kamu, orang yg aku benci pun meski aku ada kemampuan untuk revenge, ga bakal aku lakukan. Karna aku tidak serendah, semudah itu.
Kedua,
Aku ga pernah menyesal dan aku selalu berusaha untuk tidak menyesali keputusan yg aku buat apa pun itu (InsyaAllah). Jika keputusan aku salah, aku akan mengakuinya. Resiko atas keputusan aku, aku akan bertanggungjawab. Semoga kamu pun bertanggungjawab atas perbuatan kamu juga yaa...
Ketiga,
Aku melihat kamu sebagai sosok yg sama menyedihkan. Mungkin kamu lupa, tp aku ingat dg sangat jelas kamu bilang bahwa aku berharga, jangan berkorban, jangan merendahkan diri kepada mereka, karna mereka tidak pantas, utamakan diri sendiri, karna kamu berharga. "Aku berharga. Aku berharga. Aku berharga" Aku selalu merapal mantra tersebut ketika depresi selama 2 tahun belakangan ini. Seketika itu aku menyadari bahwa kita bukan sama menyedihkan, tapi justru aku yg lebih menyedihkan.
Apa yang terjadi saat ini pada mu sekarang, aku ingin mengembalikan apa yg pernah kamu katakan dulu pada ku, "kamu berharga. Kamu berharga. Kamu berharga" Bertanggungjawab lah, bertaubat lah, kamu berhak mendapatkan kebahagiaan pula. Jangan menyerah dengan hidup, sebagaimana aku yg tidak menyerah dengan hidup. Karna kamu berharga. Hahhh.... Kamu menyedihkan ya, bodoh pula. Kasian...
01/12/2022 2.35
Saya akan mencintai kamu dengan gesture yang mudah dibaca, dengan kata-kata yang mudah dicerna, dengan hati yang mudah memaafkan, dan dengan ekspektasi yang mudah kamu pahami.
Setiap terjebak drama dengan banyak orang, gue jadi menyadari betapa pentingnya rasa aman dari sisi psikologis (psychological safety) saat kita berurusan dengan seseorang.
Gue beberapa kali ngelihat orang menangis hanya gara-gara bermasalah dengan orang yang temperamennya naik turun sesukanya. Tidak ada upaya sama sekali untuk mengelola emosi dan isi kepalanya.
Gara-gara ini, gue inget obrolan sama temen gue bahwa orang yang misterius dan vulnerable itu lebih menarik. Gue udah meninggalkan pakem seperti itu dalam cerita cinta. Baik cerita fiksi ataupun di dunia nyata.
Ketika kita sudah berkomitmen mencintai orang lain, langkah selanjutnya adalah bertumbuh bersama. Kapan kamu bertumbuh jika kalian berdua sibuk saling menebak? Saling membuat asumsi? Saling menghakimi?
Buat kamu, saya akan mencintai kamu dengan cara yang sangat mudah dipahami. Kita jalani hidup ini dengan baik di setiap tanjakan dan turunannya.
Cinta... Mencintai....hemmmhhh
Entah mengapa definisinya menjadi bias. Ataukah hati ku yang telah kebas.
Ga butuh cinta, kamu ga perlu mencintai aku. Aku butuh kamu menghormati aku, yah setidaknya etika sikap dasar lah yaa.
Apa? Aku gila hormat? Biarin dehh dari pada depresot, trus gila beneran.
Jadi mari saling menghormati, karna itulah definisi mencintai ku paling sederhana, mudah dipahami, dan less drama.
i love sunsets, i love discovering new music, i love stargazing, i love walking, i love the smell of earth after it rains, i love coffee, i love the smell of books, i love quiet afternoons, i love open windows, i love the underlying flavors in food, i love poetry, i love freshly baked bread, i love painting my nails, i love flowers growing through cracks in the pavement. etc etc
Bukan sebuah aib jika kita mungkin dibilang "terlambat dewasa" oleh orang lain. Sebab ada banyak orang juga yang selama hidupnya hanya digunakan untuk bermain-main. Ia tidak mengerti tujuan hidup, untuk apa hidup, apa yang harus ia perjuangkan dan bahkan untuk siapa ia hidup.
Proses dewasa itu tidak pernah memilih usia dan tidak pernah melihat keadaan.
Ada yang sejak kecil dengan suka relanya membantu ibu dan keluarganya karena mengerti kondisi, ia akhirnya di dewasakan keadaan.
Pun juga sama, ada yang baru dewasa ketika menginjak usia puluhan, entah di dewasakan oleh teguran, nasihat, atau keadaan.
@jndmmsyhd