Sering, ngga cuma sekali atau dua kali, kalau ada customer yg dateng ke toko dan sempet ngobrol, pada menyayangkan kalau saya lulusan S1 Pendidikan ini, tapi ngg ngajar.
Apalagi kalau tau dari UNY.
"Wah, Univ bagus loh itu."
Kalau menurutku sih B aja. Hehe.. Anak UNY jan ngamuk. Mungkin karena udah terlalu sering liat kampus tetangga yg kampusnya number one di Indonesia itu.
"Karena gajinya kecil y? Sekarang kan ada serdik, ada tambahan 1,5 juta tiap bulan."
Well.. Bener sih, gaji guru emang kecil. Apalagi honorer. Tapi beda cerita si ya kalo ngajar disekolah yang bonafit, atau sekolah inter.
Turut bahagia dengan adanya tambahan gaji dari pemerintah lantaran serdik itu. Setidaknya tidak terlalu menyedihkan seperti dulu mengingat effort yg cukup besar untuk menjadi seorang pengajar. Sepertinya, effort yang begitu besar itu yang tidak bisa saya berikan.
Etapi, tidak serta merta dengan mengajar langsung dapet serdik sih. Harus ada perjuangan dulu. Well, big effort lagi.
Saya menyadari bahwa mengajar pada institusi formal bukanlah diri saya. Terbelenggu pada peraturan, pada tuntutan tiada habis, pelan-pelan akan menghancurkan diri saya.
Lebay ya.. Tapi begitulah yang saya rasakan ketika pertama kali mengajar waktu KKN dulu.
Mengajar terasa tidak menyenangkan. Seperti sesuatu tidak berada di tempatnya.
Beda lagi ketika saya ngajar anak-anak di Sanggar Menulis Cahaya, atau ngisi training ke sekolah-sekolah dengan Faber Castle dulu. Menyenangkan. Apalagi karena saya bertemu dengan banyak orang. Tidak monoton pada satu kurikulum atau satu objek ajar.
Mungkin pada kesimpulannya, saya hanyalah manusia yang cepat bosan, dan memiliki jiwa bebas. Jadi, menjadi guru di sekolah formal itu bukanlah pilihan saya.
"Iya. Tidak apa-apa. Ngga ngajar anak orang ya nanti ngajar anak sendiri aja," saya tersenyum simpul seraya memilihkan gamis yang mungkin customer akan suka.















