hello D,
Long time no see,
How are you?
My life has changed a lot since the last time i posted here.
There're a lot of things be ready to be told.
I am excited yet still struggling over and over.

Origami Around
DEAR READER
he wasn't even looking at me and he found me

PR's Tumblrdome
I'd rather be in outer space 🛸
YOU ARE THE REASON

shark vs the universe

if i look back, i am lost
NASA
Claire Keane

No title available
taylor price
wallacepolsom
sheepfilms

blake kathryn

JVL
No title available
almost home

tannertan36
One Nice Bug Per Day
seen from Czechia
seen from Morocco

seen from United States
seen from Australia

seen from Sri Lanka

seen from Ukraine
seen from Türkiye
seen from Australia
seen from China

seen from Italy

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from Switzerland

seen from Malaysia

seen from France
seen from Malaysia

seen from United States

seen from Australia

seen from Malaysia
@tomadydi
hello D,
Long time no see,
How are you?
My life has changed a lot since the last time i posted here.
There're a lot of things be ready to be told.
I am excited yet still struggling over and over.
Halo D, lama sekali kita tidak bersua sejak terakhir saling sapa. Kau tentu akan terus baik-baik saja kan? Aku selalu berharap demikian. D, banyak yang telah dan harus berubah dari hidupku. Pada rentang hiatus pertemuan kita, termasuk saat pandemi menyerang, ada banyak perubahan terjadi. D, sekarang aku sudah tak sendiri. Iya, aku sudah menerima seseorang untuk masuk ke dalam hidupku. Dan dalam proses menuju utuh. Penerimaan yang utuh.
Kerap saya berpikir tentang kebersamaan dan penerimaan. Bahwa tidak ada kebersamaan tanpa penerimaan. Penerimaan ada karena kita yakin bisa dan ingin bersama. Begitu mudah bagi orang menerima seseorang, menerima sesuatu dan menjalaninya. Seperti ketika seorang teman yang saya tahu menjadi pusat perhatian banyak orang karena kemampuannya dan berkah penampilan yang dimilikinya. Saya pikir, dia bisa menerima orang hebat untuk mendampingi hidupnya. Tapi dia memutuskan menerima orang lain yang biasa saja. Begitu mudah orang menerima. Padahal sebenarnya, tidak begitu saja. Dia juga memutuskan sikap melalui berbagai pertimbangan panjang yang tidak dia publikasi. Apa urusan kita. Tuhan menggerakkan hatinya menerima. Karena takdirnya sudah ditetapkan sejak lama. Sepanjang sisa hidupnya bersama seseorang yang ia terima sebagai teman hidup. Jadi, mungkin ini semua juga perkara takdir. Saya belum bisa menerima, masih sulit menerima, masih panjang berpikir, masih menebak kelanjutan cerita, karena Tuhan tidak menggerakkan hati saya untuk seseorang yang bukan untuk saya.
Tulisan : Orang yang Tepat
Kalau kamu merasa kamu pendiam, mungkin itu hanya karena kamu belum bertemu dengan orang yang tepat untuk kamu ajak bicara. Kalau kamu sangat pemalu, mungkin itu hanya karena kamu belum menemukan lingkungan yang tepat untuk menjadi ruang yang nyaman bagimu agar kamu bisa menjadi dirimu sendiri. Kalau kamu merasa kamu kurang dalam segala hal, mungkin kamu belum bertemu dengan orang yang lebih kurang darimu, atau bisa juga orang yang mengagumimu pada hal-hal yang selama ini kamu keluhkan.
Seringkali, segala kekhawatiran kita terjadi kita hanya belum bertemu dengan orang yang tepat. Segala persepsi kita tentang diri sendiri itu hanya lahir dari pikiran kita, bukan orang lain. Sehingga, bertemu dengan orang yang tepat memang sebuah hadiah yang tak ternilai.
Orang yang tidak hanya bisa membuat kita menjadi diri sendiri, melainkan orang yang sekaligus bisa menjadi lingkungan yang kita bisa tinggali. Hidup dalam lingkungan tersebut, nyaman memang. Tapi, zona nyaman yang membuat kita terus tumbuh tentu lebih baik daripada kita harus keluar darinya kan?
Kalau kita tidak atau belum juga menemukan orang yang tepat tersebut, bukankah tidak ada salahnya kita berusaha untuk membuat diri kita menjadi orang yang tepat untuk orang lain?
:)
©kurniawangunadi | yogyakarta, 21 september 2017
This is truly for my self
weird asks that say a lot
in
1. coffee mugs, teacups, wine glasses, water bottles, or soda cans?
2. chocolate bars or lollipops?
3. bubblegum or cotton candy?
4. how did your elementary school teachers describe you?
5. do you prefer to drink soda from soda cans, soda bottles, plastic cups or glass cups?
6. pastel, boho, tomboy, preppy, goth, grunge, formal or sportswear?
7. earbuds or headphones?
8. movies or tv shows?
9. favorite smell in the summer?
10. game you were best at in p.e.?
11. what you have for breakfast on an average day?
12. name of your favorite playlist?
13. lanyard or key ring?
14. favorite non-chocolate candy?
15. favorite book you read as a school assignment?
16. most comfortable position to sit in?
17. most frequently worn pair of shoes?
18. ideal weather?
19. sleeping position?
20. preferred place to write (i.e., in a note book, on your laptop, sketchpad, post-it notes, etc.)?
21. obsession from childhood?
22. role model?
23. strange habits?
24. favorite crystal?
25. first song you remember hearing?
26. favorite activity to do in warm weather?
27. favorite activity to do in cold weather?
28. five songs to describe you?
29. best way to bond with you?
30. places that you find sacred?
31. what outfit do you wear to kick ass and take names?
32. top five favorite vines?
33. most used phrase in your phone?
34. advertisements you have stuck in your head?
35. average time you fall asleep?
36. what is the first meme you remember ever seeing?
37. suitcase or duffel bag?
38. lemonade or tea?
39. lemon cake or lemon meringue pie?
40. weirdest thing to ever happen at your school?
41. last person you texted?
42. jacket pockets or pants pockets?
43. hoodie, leather jacket, cardigan, jean jacket or bomber jacket?
44. favorite scent for soap?
45. which genre: sci-fi, fantasy or superhero?
46. most comfortable outfit to sleep in?
47. favorite type of cheese?
48. if you were a fruit, what kind would you be?
49. what saying or quote do you live by?
50. what made you laugh the hardest you ever have?
51. current stresses?
52. favorite font?
53. what is the current state of your hands?
54. what did you learn from your first job?
55. favorite fairy tale?
56. favorite tradition?
57. the three biggest struggles you’ve overcome?
58. four talents you’re proud of having?
59. if you were a video game character, what would your catchphrase be?
60. if you were a character in an anime, what kind of anime would you want it to be?
61. favorite line you heard from a book/movie/tv show/etc.?
62. seven characters you relate to?
63. five songs that would play in your club?
64. favorite website from your childhood?
65. any permanent scars?
66. favorite flower(s)?
67. good luck charms?
68. worst flavor of any food or drink you’ve ever tried?
69. a fun fact that you don’t know how you learned?
70. left or right handed?
71. least favorite pattern?
72. worst subject?
73. favorite weird flavor combo?
74. at what pain level out of ten (1 through 10) do you have to be at before you take an advil or ibuprofen?
75. when did you lose your first tooth?
76. what’s your favorite potato food (i.e. tater tots, baked potatoes, fries, chips, etc.)?
77. best plant to grow on a windowsill?
78. coffee from a gas station or sushi from a grocery store?
79. which looks better, your school id photo or your driver’s license photo?
80. earth tones or jewel tones?
81. fireflies or lightning bugs?
82. pc or console?
83. writing or drawing?
84. podcasts or talk radio?
84. barbie or polly pocket?
85. fairy tales or mythology?
86. cookies or cupcakes?
87. your greatest fear?
88. your greatest wish?
89. who would you put before everyone else?
90. luckiest mistake?
91. boxes or bags?
92. lamps, overhead lights, sunlight or fairy lights?
93. nicknames?
94. favorite season?
95. favorite app on your phone?
96. desktop background?
97. how many phone numbers do you have memorized?
98. favorite historical era?
These are cute. Shoot me some 😛
Allah telah mengajarkan saya perihal ikhlas melalui beragam kejadian dalam hidup saya. Mulai dari yang bersifat ringan (dengan mudah saya ikhlaskan) sampai yang terasa berat (perlu waktu untuk benar-benar mengikhlaskan). Saya pernah membaca bahwa perempuan akan sangat kuat dengan berbagai ujian kehidupan kecuali perasaan. Saya perempuan. Mengikhlaskanmu saya kategorikan sebagai perkara berat (bagi seorang perempuan yang sulit mencintai dengan defenisi yang sering dijumpai dalam buku) sampai usia perasaan itu tersimpan hampir memasuki sewindu. Dalam rentang usia waktu itu, kita benar-benar tak lagi bersua bahkan sekadar melihat bayangan sosok masing-masing selama masa yang hampir sama dengan isi surat cinta ini. Jika dulu saya masih sangat optimis dengan harapan yang saya langitkan secara sporadis. Karena percaya kelak kita akan dipersatukan sebagai takdir dalam lauhul mafdz sejak kali pertama bertemu. Kini saya mulai bersikap realistis juga skeptis, bahwa mungkin hanya keajaiban yang kan pertemukan dua sosok yang direntangi jarak ribuan kilometer dan waktu yang sulit diprediksi akan berlalu mendekatkan atau justru membuat kita perlahan saling melupakan. Tapi percayalah, melupakanmu adalah sesuatu yang sulit. Maka mungkin mencoba mengikhlaskan adalah jalan terbaik. Seperti surat cinta seseorang ini kepada orang yang pernah disukainya, seperti halnya saya kepadamu dalam senyap yang terawat. Pun yang akan saya lakukan kemudian sama seperti konklusinya. Selamat berbahagia menjalani hidup masing-masing di bawah naungan Payung Allah. Mari mengikhlaskan untuk lebih menerima, karena tidak semua hal berjalan sesuai kehendak manusia. Ini sulit, tapi bukan tidak mungkin. Semoga kelak saya maupun kamu bertemu dengan yang lebih baik.
Rinjani Magenta Jannahve
19 Februari pukul 22.27
Dear, Lelaki yang Belum Menjadi Masa Lalu Juga yang Tak Akan Menjadi Masa Depan
Kenyataannya, sampai hari ini aku masih belum mampu memahami diriku sendiri. Akuhanya sibuk untuk terlihat dan menjadi baik di hadapan orang lain. Seringkali aku berpura-pura, bersikap seolah baik-baik saja. Namun, selain aku, tak ada yang tahu apa yang dilakukan dan apa yang terjadi pada pikiranku, jiwaku, hatiku, dan ... diriku.
Aku berkali-kali terjatuh, hingga babak-belur. Terluka, mulai dari lecet biasa hingga yang berdarah-darah sampai hampir hancur. Tak ada yang membuatku takut, atau merasa putus asa. Aku bisa bangun dengan segera meski luka di mana-mana. Aku bisa langsung tertawa, terbahak, seolah semuanya biasa saja.
Namun, ketika aku jatuh padamu, aku mengalami semacam terkena setruman-setruman kecil. Lalu segalanya berjalan dengan efek 'slowmotion' tiap apa-apa yang berhubungan denganmu muncul. Aku bisa tiba-tiba menjadi gagu, tersenyum-senyum aneh saat tak sengaja bertemu denganmu di "perjalanan" dan kau tersenyum padaku. Sepanjang yang kupandang, tiap jumpa di sekali lewat, sapa dan tawa lebarmu itu menggetarkan dada.
Hingga tak terasa, debar-debar itu menyebar dan bersarang lima tahun lamanya. Waktu yang menurut sahabatku perlu ditepuktangani, lalu dirayakan dengan seperangkat kue tart dan lilin merah muda di atasnya.
"Harusnya, kalau kamu suka dia, bilang saja. Nanti keduluan orang. Bukan perkara panjat pinang atau lari kelereng sendok, tapi ini tentang hatimu yang tergembok. Pantas saja. Ternyata ini alasannya. Lalu mau sampai sebusuk apa perasaan itu kamu simpan?"
Mendengarkan sahabatku itu membuatku makin gelisah sendiri. Pikiran dan perasaan tak bisa diajak kerja bakti. Aku diam. Sibuk mempertanyakan segala pertanyaan yang belum sanggup aku tanyakan.
"Bagaimana jika ia menolakku? Kau tahu aku dan dia sudah berteman sejak lama. Tak akan ada lagi percakapan yang dengan santainya terbahak. Tak akan bisa lagi bertingkah sekonyol biasanya. Semuanya akan berubah canggung."
"Kau terlalu berpikiran negatif."
"Sebab ini masalah hati. Tak ada yang pasti."
"Hati itu pasti. Pikiranmu saja yang teracuni."
Segalanya kudiami. Berusaha menggapai sehatinya hati. Mempertanyakan lagi, mengintrospeksi diri.
"Apakah tak menjadi tabu jika aku yang mengatakan lebih dulu?"
"Mungkin tabu. Tapi, tak ada gunanya juga menyiksa hatimu. Katakan! Lalu terima segala jawaban. Setidaknya, jika ia menolakmu, kau tak perlu lagi menyimpan namanya. Percayalah, kau akan lebih lega, dan itu tak sesakit kelihatannya. Kau akan segera bangkit, dengan hati baru sebiru langit. Nah, jika ia ternyata memiliki rasa yang sama denganmu, well, aku tak perlu lagi menjelaskannya, kan."
"Semudah itu?"
"Semudah itu. Tenang saja, ditolak atau diterima, keduanya sama saja. Kau, akan bahagia lebih dari sebelumnya. Yang terpenting, kau sudah jujur. Jujur pada diri dan perasaanmu, dan jujur pada orang lain." **
Maaf, surat untukmu jadi sedikit hilang arah karena percakapan tak jelasku itu.
Kau tahu, cinta adalah hal purba yang tak bisa ditebak akan arah datang dan selesainya. Yang aku tahu hanyalah perihal waktu di mana cinta itu bersarang di dadaku. 5 tahun 10 bulan 18 hari semenjak ia ada di bagian bilik jantung. Sudah ribuan hari, dan aku masih saja menjadi ia yang mengamati dirimu dari kejauhan. Sekalipun sempat kita mendekatkan jarak, hal-hal selalu menyertai sebuah sebab hingga menjadi akibat.
Aku, mungkin tak bisa begitu saja mengatakan perasaan yang telah ada dari sekian lama. Namun, mungkin apa yang dikatakan sahabatku itu benar: katakan, lalu sudah.
Apa pun hasil akhirnya nanti, kau dan aku akan sama-sama tahu bahwa rasa itu butuh diungkapkan. Terlepas, adamu yang tak akan menjadi bagian adaku, kita sama-sama tahu bahwa aku pernah mencintaimu sedalam itu.
Aku hanya butuh sedikit lagi waktu untuk menggenapi penantianku. Menggenapi masa tunggu yang tak pernah kau tahu. Menggenapi keberanianku untuk sepenuhnya ... melepasmu.
Magenta Pulau Dewata, 19022019
How to Care Less about What Other People Think
1. Know what matters to you, personally – what you stand for, and what your values are .
2. Don’t be anxious about breaking social norms. The more often you do this, the less it bothers you.
3. Decide not to live as a people pleaser, or to get upset and take rejection personally.
4. Hang out with people who are self confident, who know what they believe in, and what they want from life. You’ll find that their self-confidence will rub off on you, too.
5. Try and work on becoming more competent in the skills and areas that matter to you. That will naturally enhance your self confidence, and develop a self image that is strong and positive.
6. Travel, and spend time with different kinds of people. That will show you how diverse attitudes and outlooks are. That is, there’s no one way of being – so find, and be, yourself.
it seems like my self is still struggling with those points
My QLC Story (1)
Halo D,
Sangat senang bertemu denganmu lagi di kesempatan yang sudah lebih bebas dari sebelumnya. Semoga dengan ini, kita bisa semakin sering berjumpa.
D,
saya sedang mengalami quarter-life crisis. masa di mana seseorang dengan rentang usia 20-30 sedang mempertanyakan hidupnya, sedang kalut dengan masalah pekerjaan, hubungan sosial (dan romantis), dan finansial. seperti yang kamu tahu D, sebentar lagi saya berumur 25. sperempat abad sudah menjalani kehidupan di bumi sebagai seorang manusia. jelang usia itu, saya banyak berpikir, sedih, dan galau. pasalnya, ada banyak hal yang ingin saya raih dan seharusnya sudah saya wujudkan tapi belum juga terwujud. ini tentang kapasitas diri saya sebagai manusia dan hamba Allah. saya masih sangat jauh dari harapan yang saya ingin lekatkan, yang saya ingin raih, D. T_T
mari kita bahas semuanya satu per satu D,
saya kira kekalutan saya akhir-akhir ini dipengaruhi juga oleh kondisi hormonal dalam diri saya. awalnya saya kira saya benar-benar memutuskan mengambil langkah itu dengan pertimbangan yang benar-benar matang. saya amat percaya diri melakukannya dan percaya jika kelak akan ada hal baik yang datang menghampiri saya. jauh lebih baik dari yang datang hari kemarin. D, ini tentang pekerjaan. awal bulan lalu saya menolak sebuah pekerjaan yang untuk berada pada tahap penawaran kontrak kerja, saya harus melalui bermacam rangkaian tes yang tidak sebentar. wawancara dengan lima petinggi sekolah, microteaching dengan uji mental yang membuat saya antara ingin tertawa dan marah, tes wawasan keislaman sampai hapalan surah dan kemampuan membaca alquran dengan baik.
dua pekan sebelum pihak sekolah menelpon saya, lebih dahulu saya diterima di sekolah yang juga lebih awal saya daftari. saya sudah mengajar selama dua pekan lalu pihak sekolah kedua menerima saya dengan syarat. saya datang ke kantor tidak langsung berstatus diterima, saya harus diwawancara lagi. pihaknya menanyakan kesanggupan saya berkomitmen mengabdi kepada sekolah selama satu tahun pertama. sebagai seorang yang masih belum mau terikat, ini hal berat. di dalam benak saya memikirkan tentang berkas beasiswa yang saya apli, jadwal cpns yang bisa saja hadir di tahun ini, dan sekolah ini amat ketat dalam masalah pemberian izin. meski jika saya menerima statusnya masih paruh waktu, tetap saha saya merasa dikekang. maka dengan segala alasan yang saya sampaikan, pihaknya memutuskan sebaiknya saya tidak usah bergabung saja. awalnya saya merasa ditolak, tapi sebenarnya sayalah yang menolak. karena jika saya mau menerima prasyarat, tentu saya akan langsung bekerja. hal lain karena pihaknya secara tidak langsung bermaksud meminta saya meninggalkan tempat yang belum lama menerima saya.
hal yang tidak kamu tahu D, saya adalah cadangan setelah calon pegawai yang nilainya di atas saya menolak tawaran tersebut karena diterima di tempat yang tidak mengekang langkahnya. saya pikir saya sudah mengambil keputusan yang tepat. sepulang dari sana, saya benar-benar menguatkan diri. merasa saya memang harus bersikap begitu membela tempat yang lebih dulu menerima saya tanpa menjadikan saya cadangan atau orang kedua, tapi memang orang pertama, prioritas.
tapi D, seperti biasa saya diserang perasaan kalut karena sulit move-on. saya terus terngiang dengan keputusan yang saya ambil. mengingat ketidakpastian hidup, belum tentu satu tahun bisa saya lewati dengan rencana yang berjalan sempurna, jika benar tidak, saya pasti kecewa telah menolak tawaran itu dengan jenjang karir yang cukup menjanjikan. apalagi mengingat perbandingan gaji. pihak kedua menjanjikan gaji dua kali lipat dari pekerjaan yang saya jalani sekarang. memang wajar, jika dipikir karena jam kerja saya juga dua kali lebih sedikit andai saya menerima pihak kedua. tapi saya terus dibuat menyesal oleh pikiran bodoh saya itu. apalagi, semuanya memang belumlah seberapa. belum bisa ditabung untuk jalan-jalan. syukur-syukur jika bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari. ya Allah, D, betapa tidak bersyukurnya saya. betapa saya masih labil. betapa saya masih bermental kerupuk. betapa saya masih plin plan. ini masih terkait pekerjaan, gimana nanti kalo sudah berhubungan dengan pasangan hidup? gimana gitu kalo saya sekalut sekarang?
D, saya butuh dikuatkan. apalagi jika berpikir bagaimana jika mereka terselamatkan dari saya? bukan saya yang diarahkan ke jalan lain? maksud saya, pihak kedua itu adalah tempat yang baik untuk menumbuhkan jiwa dan pribadi menjadi lebih dekat kepada Allah juga. bagaimana jika Allah sengaja menjauhkan tempat itu dari saya, yang tidak pantas di sana. bukan karena saya akan memiliki hal baik lain yang jauh lebih baik dari kesempatan itu?
D, saya masih berprasangka buruk begini ya? padahal sudah tua. D, saya harus bagaiamana supaya bisa sembuh dari kekalutan yang berkepanjangan?
Saya sudah lelah dengan diri saya yang seperti ini. Saya merasa hidup dalam kepalsuan, gengsi, terlalu menjaga image, dan semua korelasi sifat negatif. Saya lelah berjuang mendapatkan teman. Saya lelah berjuang memperoleh tempat berbicara dalam kelompok hanya karena saya tak bisa menyesuaikan diri dengan topik pembicaraan. Saya lelah harus berusaha menjadi orang lain dan menempatkan diri saya menjadi orang lain untuk merespon situasi demi diterima secara positif. Saya hanya selalu ingin situasi positif. Ingin diterima secara baik tanpa cela. Saya sulit menerima kekurangan saya, sulit menerima kalau orang2 mengetahui kekurangan saya. Saya sangat menyadari jika tidak sempurna tapi tetap dan selalu ngotot untuk jadi sempurna. Tuhan, saya lelah menjadi orang jahat. Iya saya jahat. Saya cuma pura2 jadi baik selama ini. Saya juga lelah. Jika bukan karena setitik iman dalam kalbu saya, saya yakin sudah akan membunuh orang atau bahkan menggantikan peran Israil kepada saya. Saya lelah dilingkupi aura,energi, emosi, dan ekspresi negatif. Semua itu perlahan membunuh kebaikan dan empati dalam diri saya. Saya sulit membedakan apakah saya benar2 baik tapi tengah dirasuki setan atau sebenarnya saya memang makhluk buruk rupa dan buruk jiwa. Masih pantaskah saya memperoleh tempat terbaik di sisi Tuhan? Saya people pleaser gagal yang mencari kebaikan dalam tumpukan jerami. Sulit dan lelah sekali rasanya.
Belajarlah tuk bercanda nak, jangan serius terus. Kamu itu sangat tidak tahu bagaimana bercanda! I did it, yet i can't 😣😭 It just sounds like mocking to people😌
In a night Mom told me at the bedroom
Sekarang, demi berusaha tidak terlalu baper, tidak terlalu memusingkan apa yang orang pikirkan dan katakan tentangku, terlebih untuk memulihkan kondisi cemas berlebihan dan pikiran negatif aku berusaha untuk cuek. Susah sekali sebenarnya menghilangkan pikiran-pikiran spontan yang tiba-tiba muncul di benak. Apalagi jika korelasinya negatif. Ugh! Sekarang aku berusaha tidak perlu menjelaskan keadaanku pada orang-orang. Cukup meniatkan bahwa jika apa yang mereka pikirkan lebih buruk dari yang sebenarnya terjadi, maka biarlah. Itu urusan mereka. Biarkan Tuhan menilai sejauh dan seberapa baik/buruk yang kulakukan. Sekali lagi ini sulit. Aku masih merangkak melakukannya. Tertatih melatih otak untuk melupakan, mengabaikan, dan menghapus pikiran negatif. Aku menyadari lebih dari separuh hidupku--semenjak aku pandai berfirasat-- semua terisi hampir oleh pikiran negatif. Dia menguasaiku sampai aku menderita penyakit mental yang melelahkan jiwa. Entah apakah bukan hanya berdampak pada penyakit mental, tapi juga penyakit fisik yang sebenarnya serius tapi malah tidak kuindahkan karena gengsi. Penyakit mentalku mengalihkan duniaku, membuat aku harus berjuang keras melawan pengerdilan2 yang kulakukan sendiri terhadap diriku selama berada di lingkungan sosial. Berada di tengah banyak orang. Aku menjadi sangat tidak "manusiawi". Aku merasa tidak memiliki jiwa sosial yang lebih baik daripada individualismeku. Aku tidak peka sosial, hanya amat sangat sensitif pada asumsi dan tindakan negatif orang lain yang selalu kuhubungkan dengan diriku. Mereka menyinggungku dengan semua negativitas yang dibuang ke lingkungan di mana aku ada. Padahal belum tentu itu aku. Belum tentu mereka memedulikanku bahkan sekadar membicarakan sisi burukku. Sebab aku, ada atau tidaknya diriku di antara orang-orang itu adalah sama saja. Invisible and quiet. Di tengah sekumpulan orang2 itu jiwaku bersatu dengan angin. Sekalipun aku bicara, rasanya tidak ada tanggapan bermakna dan yang kuperoleh hanyalah pengabaian. Ini mungkin bisa jadi hanya persepsi perasaanku. Tapi ini yang sungguh terjadi padaku. Maka aku menjadi "EGP" lagi untuk peduli pada apa yang sedang hangat orang bicarakan. Benar bahwa aku sangat kepo, dan kekepoanku hanya kupakai untuk menguping tidak untuk menanggapi. Aku sudah telanjur jengah pada respon yang kuperoleh. Aku hanya akan "baik-baik" pada orang2 yang mendengar dan menganggapku ada. Bagiku selain mereka, hanyalah orang2 yang sekadar singgah dan jadi "pemanis" situasi dan hidupku hari2 itu. Mereka tidak serta merta menjadi pemeran dalam film kehidupanku. Karena aku tak memilihnya. Yang aneh mungkin diriku, terlebih karena meminta orang2 memerlakukanku seperti mereka tapi aku tak melakukannya. Aku juga tak tahu keanehan dan kesalahan apa yang sedang kuperbuat dan kumiliki. Setiap hari aku hanya membaca dan berusaha mengetahui apa yang terjadi di dalam sana. Andai bisa melihat rekaman seperti "inside out" aku mungkin bisa tahu "siapa" di dalam sana yang tengah mendominasi pengontrolan alur hidupku. Tapi aku manusia biasa, skenario hidupku dibuat Tuhan dan penilaianNya terhadapku adalah tentang bagaimana aku menjalani anugerah yang dilimpahknnya kepadaku. Aku masih berusaha. Kuharap Dia selalu membantuku (diam-diam). Di dalam ruang segi panjang di depan meja yang komputernya tiba-tiba mati karena usia, 15 februari 2018, di tengah hujan yang rerintiknya jatuh berfluktuasi menumbuh atap seng yang berirama.
See... sooner or later i'll find ur name and ur fake world 😂 I think and talk to ma self; do i ? But i convince that A BIG NO! Don't u want to know how my expression as the first time seeing ur face on the picture clearly? I become more sure my self to go to optic for checking my eyes. 😂 i feel like to be deceit by ur face. oh no. Oh God. I has been tricked. Okay then we will separate soon so that i don't have to receive a bad feeling. Ha ha ha... you too. You saved! 😂😜
Ψ Follow @mypsychology for more Ψ
In Love With Life
@wnq-philosophy | @wnq-typography | @wordsnquotes
I'm in a struggle to love my self deeply
Be proud of yourself for how hard you’re trying.
(via deeplifequotes)
2018
- wake up with your alarm. don’t lie there for another half an hour. seize the day
- have a glass of water as soon as you wake up and before you go to sleep. hydrate
- stretch. do some yoga. try and do the splits or even just touch your toes. relax and meditate and focus on your breathing
- even if you’re not going out, change your clothes and your underwear. clean is always better
- go for run. or a walk. or to the gym. even just once a week. just get outside
- read a little everyday. maybe for leisure or maybe for class. just learn
- new music is always lush. spotify, apple music, a live gig. go hear someone’s heart
- cut things out that make you unhappy. people, relationships, certain foods, habits, anything
- study hard. work hard. get it. the job, the degree, the relationship. just do it for you
- check your boobs everyday. make doctors appointments
- eat a piece of fruit and veg everyday. we all know 5 a day is far fetched, especially for students
- compliment people. you never know how much someone needs to hear something positive
- compliment yourself. look at yourself in the mirror and say five things you like and maybe one to improve. you can always better yourself but don’t make that your be all and end all
- a relationship should never be your everything. it’s lush to be smitten and to have someone smitten with you but be sure not to become half a person. you are a whole. reclaim your independence. learn to love your solitude
- don’t forget your friends. keep in touch with people. don’t be glued to your phone but make sure you stay in contact
- give yourself time to heal. grief is a weird thing and time isn’t always the healer. you’ll have good days and bad days and you should never feel bad for crying. it’s not over and you don’t have to move on in the way people think you should. memories are good things
- don’t put so much pressure on yourself. eat that pizza. buy that charity shop coat. there’ll always be money and there’s always tomorrow to eat a salad. calm down
- stress is the silent killer. you don’t need that first degree or that promotion. do your best and you’ll be rewarded
- say fuck it once in a while. or a lot. a couple of g&ts, a party, a new outfit
- have sex or don’t have sex. it’s a lot of fun when your needs are met and you’re enjoying yourself with someone you love or just like the look of
- withdraw consent if you get uncomfortable. at the beginning, middle, end, it’s always okay. don’t let social expectations dictate your choices. the idea of being a slut doesn’t exist unless you’re hurting someone you’ve made monogamous promises to. other than that you’re good
- get checked and be good to your body. sex is great if your mind and body are good with it too
- take photos. paint. write in a journal. document your life. you never know when you’ll need some nostalgia or a creative outlet
- families aren’t perfect but they’ll always be in your life in some way. in person or in your heart and memory. try to make them good memories. there are those without parents and siblings and grandparents who would give anything to have what you have. try a little. take the higher ground
- mental health is important. cut out anything that could contribute to its downfall. your mind’s long life is more important than temporary fixes
- listen to the people close to you. most of the time they have your best interests at heart and they’re trying to help you see what maybe you can’t. don’t take things so personally
- we’re living in a time of hate. be a ray of sunshine to this dark world. don’t seclude yourself to your own cave. that isn’t what self love is. we need to take care of ourselves first, yes, but remember to love each other too
- take one day at a time
D, tidakkah kamu bosan mendengarku bercerita ehm lebih tepatnya terus mengeluh tentang "kepribadian aneh"-ku? Tidakkah itu membingungkanmu memutuskan apa yang seharusnya kau sarankan pada perempuan yang terus memaku pandangannya ke luar jendela sambil menyentuh embun di gelas kopi dingin yang terus mencair? Mulutnya terus berbicara dengan kata-kata yang diucap lambat seperti pasrah dan putus asa. Antara menerima nasib atau telah tidak punya ide untuk berubah dan menyelesaikan masalah. D, bantu dia. Jika itu sulit. Temani dia, setidaknya kau ada di sampingnya saat dia bingung. Biarkan keberadaanmu seperti arang aktif. Menjernihkan dengan meresapi cerita tak karu-karuannya, dia yakin masalahnya tak akan merepotkan sosok kuat sepertimu. D, sudah malam. Aku hanya ingin bilang kalau beberapa menit sebelum aku terhanyut dalam alam mimpi, isi kepalaku memuat tentang propaganda KPOP dan iluminati yang menyesatkan banyak remaja, kepribadianku yang ingin kuubah, pertaubatanku, baju buat besok, gaun baru Selamat malam D, semoga mimpi indah
Menuju mimpi indah