Selalu ada kesempatan untuk menjadi baik. Tinggal bagaimana memaksimalkan diri atas kesempatan yang ada. memberi inspirasi tak mesti kamu harus menjadi orang besar, punya jabatan tinggi, dikenal banyak orang, prestasi yang gemilang, karya yang mendunia dll. Menjadi baik tidak pelu menunggu waktu, sebab kematian menanti setiap saat. Setiap harinya, bertemu dengan beragam tipe manusia, beragam profesi, yang dikenal, bahkan yang sama sekali tak di kenal adalah peluang terbaik untuk menjadi pengamat atas dedikasi yang telah mereka kerjakan.
Kebaikan itu spontanitas, tanpa perlu mengharap balasan atau pujian, ia lahir dari fitrah yang suci. Saya seringkali dibuat speechles oleh orang-orang biasa tapi mampu menyihir saya untuk semangat berbuat baik.
Suatu hari, di hari jumat yang berkah, saya mengunjungi warung makan yang ada di sekitar kosan. Ibu yang menjual sudah sepuh namun senyum ramahnya tak pernah putus. Pelayanannya memuaskan, disertai dengan selingan candaan ketika memilih lauk pauk, sering kali makanan yang dibeli dibuat berlebih. Pagi itu, di tengah antrian yang cukup panjang (Ibunya adalah favorit anak kosan daerah kami), saya dibuat tertegun dengan satu tingkah baiknya diantara yang lainnya. Ibu tersebut memberikan sendok makan kepada pembeli sebelum saya, sendoknya bukan sendok plastik, tapi yang high quality. Kami yang sedang antri saling melirik dan bengong dengan perlakuan Ibu. Hingga tiba giliran saya, saya pun mendapatkan perlakuan yang sama. Sama seperti sebelumnya, saya juga menolak dan bengong mengapa kami dibagikan gratis, ini kan mahal. Seperti itulah ekspresi para mahasiswa yang sedang berbelanja. Ibunya dengan wajah menyakinkan mengatakan bahwa memang untuk dibagi, saya masih punya kok nak, katanya kepada kami. Sendok pun serta merta masuk ke dalam kantung makanan. Perlakuan ibu tersebut adalah sederhana namun mungkin akan berbekas kepada kami. Membuat kami pada senyum bahagia. Saya jadi semakin paham bahwa berbagi memang tak harus menunggu banyak harta. Kebaikan yung sederhana justru membekas bagi saya.
Mengutip perkataan Kak urfa dala bukunya happines laboratory "Kebaikan itu magis. Kita senang melihat perbuatan baik. Kita senang pada orang yang berbuat kebaikan. Orang baik punya daya tarik. Mencintai orang baik itu mudah, sebab ada hal yang selalu bisa dikagumi secara spontan”
Kebaikan selalu menghasilkan jiwa yang bahagia, baik yang memberi maupun yang menerima. Sekelompok peneliti dari Universitas Zurich, Swiss, menemukan hubungan antara aktivitas berbuat baik dengan munculnya kebahagiaan. Hasil penelitian tersebut menyatakan, orang yang melakukan perbuatan baik, dalam hal ini digambarkan dengan kegiatan berderma atau memberikan sesuatu kepada orang lain, memiliki kecenderungan untuk lebih mudah merasakan bahagia.
Penelitian tersebut dilakukan terhadap 50 orang, yang mendapatkan jatah uang sebesar 25 franc swiss setiap pekan dalam beberapa bulan. 50 orang itu kemudian dibagi menjadi dua kelompok besar. Kelompok pertama diminta untuk memberikan uang tersebut kepada orang lain, bisa dalam bentuk hadiah ataupun makan malam gratis.
Sementara kelompok kedua diinstruksikan untuk menghabiskan uang tersebut guna kepentingan dirinya sendiri. Hasil scan otak, yang dilakukan terhadap dua kelompok besar, itu pun berbeda. Kegiatan berbuat baik terhadap orang lain itu mengaktifkan neuron di otak, temporo-parietal junction (TPJ).
Temporo-parietal junction (TPJ) inilah akhirnya ikut mengaktifkan neurons di ventral striatum, atau bagian otak yang diasosiasikan dengan munculnya kebahagiaan atau rasa bahagia. ''Pada kelompok pertama, yang diminta untuk berbuat baik kepada orang lain, neuron-neuron ini begitu aktif,'' tulis hasil penelitian tersebut, seperti yang dikutip The Independent.
Tingkat kebahagiaan ini juga diukur secara subjektif, sebelum dan sesudah masa penelitian. Para peneliti pun menemukan, kelompok pertama memiliki kecenderungan untuk berbuat baik ketimbang kelompok kedua. Kelompok pertama juga mengaku lebih bahagia sesudah mengikuti penelitian tersebut. Data lain juga menunjukan, saat orang berbuat baik kepada orang lain, maka area otak yang berkaitan dengan apresiasi, kebahagian, dan rasa empati, menjadi lebih aktif. ''Studi ini memberikan bukti, ada hubungan antara perilaku dan saraf dan akhirnya mendukung adanya hubungan kuat antara kebaikan hati dengan rasa bahagia yang kemudian muncul. Masya Allah.
saya pikir, siapapun itu akan selalu mencintai kebaikan. berbuat kebaikan juga menjadi hal yang sangat Allah cintai.
"Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik". QS. Al-Baqarah: 195"
saat berbuat kebaikan, sesungguhnya kita sedang memberikan proses pendidikan langsung untuk diri sendiri dan masyarakat. Selalu ada hal yang bisa dibagikan, mulai saja dulu, lama-lama kan terbiasa.
Yogyakarta, Janauri 03 rd 2020