Saya membaca artikel ini di aplikasi Chai's Play beberapa hari yang lalu, sekaligus mengingatkan saya pada seorang ibu muda yang bercerita bahwa ia dilarang sering-sering menggendong bayinya karena khawatir ketergantungan. Bau tangan, begitu katanya. Akhirnya asalkan si bayi sudah disusui dan diganti popoknya, ia akan dibiarkan begitu saja meskipun masih menangis kencang, hingga si bayi kelelahan sendiri dan tertidur. Padahal, usianya masih beberapa hari. Kasihan sekali kamu, nak 💔 . Kebutuhan bayi, tentu saja tak hanya biologis dan fisik, tapi juga psikisnya. Ia butuh untuk merasa aman, nyaman, disayangi dan dicintai. Kita perlu paham, bahwa dunia masih menjadi tempat yang asing dan menakutkan bagi bayi setelah sebelumnya berada di alam rahim. Jika ia boleh memilih, mungkin ia akan lebih memilih untuk tetap tinggal di rahim dibanding terlahir ke dunia ini. Lalu bayangkan bagaimana perasaannya, saat tangisan ketakutan dan keasingannya itu justru kita abaikan? . Berempati pada perasaan anak, perlu dilakukan sejak ia terlahir ke dunia. Kemampuan berkomunikasinya yang hanya bisa sebatas menangis untuk menyampaikan segala kebutuhan fisik, psikis, dan biologisnya, harus direspon aktif oleh orang tuanya. Jika tidak, tentu efeknya juga bisa jangka panjang. Para remaja dan dewasa yang tidak terlalu dekat dengan orang tuanya, berontak, atau bahkan mengobrol saja menjadi hal yang sulit, kemungkinan karena perasaannya sering diabaikan saat ia masih kecil. Dan tentu saja, pengabaian perasaan dan tangisan bayi ini juga bisa menjadi cikal bakal tantrum pada anak di kemudian hari. . Berempati pada anak sejak dini, juga akan membuat anak mudah berempati terhadap perasaan orang lain, mudah untuk bersosialisasi, dan tentu saja lekat secara emosional dengan orang tuanya. Saat anak menangis, datanglah, tanyakan perasaannya, dan apa yang kita bisa bantu untuknya. . Jika kita saja senang dipahami perasaannya, dibantu saat ada masalah, dan dipeluk saat butuh ketenangan, maka hal itu pula yang dibutuhkan anak dari kita.













