Hari ini hingga Sabtu mendatang seharusnya saya ada penugasan ke luar kota (Makassar). Tapi mendadak kemarin dapat kabar kalau suami tugas ke Semarang juga dari hari ini hingga Jumat, lalu lanjut tugas ke LN hari Minggu sampai week 4 Juni. Pertama kali dengar, saya cukup pusing karena anak kami belum pernah ditinggal oleh kedua orang tuanya dalam waktu bersamaan. Setelah berdiskusi (cukup) panjang kami sepakat untuk tetap lanjut menunaikan tugas kantor. Tugas suami nyaris mutlak tidak bisa dikompromikan, sedangkan saya sudah beberapa kali izin tidak mengikuti dinas luar kota sampai-sampai rasa "tidak enak" menumpuk banyak sekali.
Arina kami tinggal bersama pengasuh di rumah, dan saya meminta ibu (kebetulan sedang di rumah kakak ipar) untuk menginap menemani Arina. Oke, semua insya Allah beres meskipun deg-degan tetap ada.
Lalu tibalah Selasa malam alias tadi malam. Suhu badan Arina meninggi meskipun dia masih terlihat aktif. Makan sore kemarin pun masih bagus. Saya masih meyakinkan diri, oke ini masih aman. Arina hanya sumeng sedikit, nggak sakit. Semalaman tidur Arina tidak nyenyak. Saya pun ikut ga nyenyak sampai-sampai mimpi sudah tiba di Makassar dan salah bawa baju. Dresscodenya putih, saya bawanya warna merah muda.
Pagi-pagi ukur suhu susah sekali karena Arina masih aktif. Jam 07.00 saya izin ke atasan untuk reschedule jadwal pulang, maju sehari jadi Jumat malam.
07.30 Arina sarapan. Satu suap, dua suap, masih lancar. Suapan kesekian Arina muntah. Setelahnya tidak mau makan.
Saya akhiri proses makan. Arina dimandikan. Saya izin ke atasan untuk tidak ikut ke Makassar, mengalihtugaskan yang jadi tanggung jawab saya ke rekan kerja yang berangkat. Tiket pulang di-open statusnya (alhamdulillah pakai Garuda, jadi masih bisa dipakai tiketnya). Tiket berangkat saya ganti pakai uang pribadi ke kantor (Batik Air akan hangus jika dibatalkan).
Ukur suhu Arina. 38,1 dercel.
Meskipun setengah yakin kalau Arina baik-baik saja (bukan sesuatu yang serius), tapi saya yakin kalau memaksakan berangkat ke Makassar hati dan pikiran tidak bisa tenang. Meskipun boleh reschedule pulang, tetap saja paling cepat saya baru bisa sampai rumah hari Jumat malam pukul 22.00. Waktu pasti akan berjalan sangat lambat.
Saya dengan sadar memilih keputusan ini, meskipun rasa tidak enak terhadap atasan dan rekan kerja akan semakin menumpuk. Semoga setelah menulis ini, rasa tidak enak sedikit berkurang dan bisa fokus ke hal-hal yang ada di depan saya sekarang.
Saat suami saya dilantik saya sudah berkomitmen untuk memberikan ruang yang nyaman baginya untuk menunaikan kewajibannya dengan optimal. Tentu saja bukan berarti dia bebas dari urusan domestik dan pola asuh anak. Tapi untuk hal-hal insidental seperti kejadian tabrakan dinas ini, tugas saya yang lebih bisa dikompromikan.
Semoga saya tetap bisa menunaikan kewajiban kantor dengan baik. Aamiin.