Di balik sebuah buku
Dari buku ini, mengalir sebuah cerita tentang seseorang yang tidak menyukai hidupnya, tidak punya tempat bercerita dan putus asa.
Dan dari ceritanya yang menyedihkan itu, lahirlah pelajaran-pelajaran hidup. Seperti sinar matahari yang menyelinap di balik dedaunan pagi. Berharap ada yang memandang celah sinar itu dengan takjub dan mengakui bahwa banyak hal menenangkan dari hal-hal kecil yang seringkali terabaikan sehari-hari.
Bahwa hidup, bukan hanya perihal mensyukuri nikmat dan hal-hal baik. Tetapi juga mensyukuri bahwa karena kita di beri kesempatan hidup, kita pasti akan di uji dengan hal-hal yang tidak nyaman dan sulit. Namun, bukan kapasitas kita menghitung lebih banyak nikmat ataukah derita yang kita terima. Tugas kita hanya mengakui bahwa keduanya hal yang pasti terjadi dalam hidup. Silih berganti. Dan kita tidak bisa selalu memilih ujian yang hendak kita jalani, lebih banyak takdir yang memilihkan dan sisanya karena kesalahan dan kelalaian kita sendiri.
Hidup juga tentang wabi-sabi; tidak sempurna, tidak menetap dan tidak lengkap. Adalah kesia-siaan jika berharap segala hal sesuai mau kita. Seolah kita melupakan bahwa diatas kehendak kita, selalu ada ketetapan-Nya. Jangan sampai peran sebagai manusia dan hamba terlupakan di dalam diri, juga jangan sampai rasa cinta terhadap apa yang kita dambakan di dunia ini, membuat kita lupa mengenai kehidupan setelah mati.
Musim kemarau dan hujan, musim pasang dan surut, adalah pengingat bahwa selalu ada tarik dan ulur di alam. Kita tidak perlu memaksa setiap saat semuanya berjalan lurus tanpa kerikil dan tanjakan. Setiap usaha memerlukan sabar dan istirahat. Setelah berusaha pun kita semestinya berserah. Bahwa alam selalu berubah, waktu selalu bergulir dan takdir selalu menyusuri garis yang telah di tentukan.
Penghujung januari, 24-01-2026












