SEEKOR kuda pak tani, dicuri orang. Selang dua hari pak tani pergi ke pasar, untuk membeli lagi kuda yang lain. Selagi melihat-lihat kuda pilihannya, tanpa sengaja penglihatannya tertuju pada seekor kuda yang sedang ditawarkan pemiliknya. Setelah didekati dan diteliti, pak tani merasa yakin bahwa kuda tersebut dalah miliknya.
"Ini kuda kepunyaanku", kata pak tani sambil memegang punggung kudanya.
"Sembarangan saja kau mengaku-aku kuda kepunyaan orang. Kuda ini adalah milikku yang kubeli setahun yg lalu", kata yang menawarkan kuda itu berang.
"Sungguh kuda ini betul-betul kepunyaanku, yang sejak kemarin malam hilang, karena dicuri orang".
"Janganlah menuduh yang bukan-bukan, mungkin saja kuda ini dengan kuda kepunyaanmu agak mirip", tukas pemegang kuda bertambah berang.
Pertengkaran mulut kedua orang tersebut, terhenti beberapa saat.
"Beranikah kau bersumpah atas nama Allah, untuk mengatakan yang sebenarnya kepadaku, bahwa kuda ini betul-betul milikmu?", desak pak tani.
"Yah, aku berani", jawab pemegang kuda , tanpa ragu.
Sejenak pak tani berdiam diri. Tiba-tiba kedua telapak tangannya diletakkan di kedua mata sang kuda, sambil menatap muka lawannya, ia bertanya:
"Kalau kuda ini benar-benar milikmu, coba kau jelaskan matanya yang sebelah manakah yang tidak bisa melihat dengan baik?"
Dengan desakan pak tani ini, pemegang kuda tampak bingung.
"… Yang kurang awas, matanya yang sebelah kiri", jawabnya gugup.
"Jawabanmu adalah bohong…", bentak pak tani.
"Oh ya, ya, aku keliru, yang kurang awas bukan yang kiri, tapi yang sebelah kanan", jawabnya bertambah gugup.
Kedua tangan pak tani yang menutupi mata sang kuda dilepaskan.
"Ingat, jangan kau coba-coba mengelak dan pura-pura mungkir. Sekarang aku tahu pasti bahwa kaulah yang menjadi pencuri kuda milikku ini. Karena sebenarnya sedikitpun tak ada cacad di kedua belah mata kudaku ini. Alasanmu itu hanya mengada-ada saja, untuk mencoba mengelabui diriku". Bentak pak tani sambil menarik tambang yang melingkar di leher sang kuda untuk dibawanya pulang bersama.
—A. Mahdi Naser
dimuat di majalah sahabat edisi Mei 1989
Sore itu langit tertutup mendung. Sorot matahari enggan menembus kepekatannya. di kebun belakang, saya menelusuri jalur setapak mengitari luasnya kebun. Di samping kanan kiri masih berupa sawah. Duduk termangu, seorang bapak tani di pematang sawahnya. Wajahnya menatap kosong hamparan sawah garapannya. Sudah dua musim panen, ia gagal panen. Semuanya terserang hama. Nasib buruk sudah di pelupuk mata. Ke mana lagi akan mencari hutang untuk membeli bahan dan ongkos produksi? Sementara beras di rumah sudah tidak ada lagi. Tanaman singkong yang ditanam di pematang juga sudah ludes dimakan tikus.
Menjadi petani adalah pilihan mati, padahal kita berada di negeri sawah dan ladang. Sejak jaman Kumpeni dibantu para penguasa negeri, maka hidup petani tak lebih seperti budak. Bekerja untuk majikan, tanpa upah, tanpa keuntungan, dan tanpa kebolehan menentukan nasibnya sendiri. Tanam paksa menjadi pekerjaan petani.
Perjuangan membela petani oleh seorang bangsawan santri, yang bernama Diponegoro, juga gagal. hanya bertahan lima tahun membuat Jawa membara. Kas negara tersedot habis, membuat Kumpeni hampir bangkrut. Nasib tragis bagi petani, karena untuk mengembalikan kebangkrutan kas negara, kumpeni dibantu penguasa negeri, memberi beban pajak yang berlebihbagi petani, dan memaksa menanam komoditas tanaman bagi petani tanpa syarat.
Ketika jaman politik etis, anak petani dilarang sekolah. Tak heran, tidak ada petani yang menjadi tokoh. Bisa dibayangkan dalam sejarah, seorang petani memimpin pergerakan atau harakah atau organisasi apapun bentuknya.
Di jaman perubahan kekuasaaan dari Belanda ke Indonesia, nasib petani agakberubah. Karena harus menampung para ekstrimis yang bersembunyi dikejar Belanda, maka banyak petani yang berjasa. Caping gunung, lagu populer desa yang menggambarkan situasi saat itu.
Di Jaman Soekarno berkuasa, petani memiliki harga tawar yang cukup tinggi dengan adanya barisan tani, tapi dihancurkan juga karena diduga terlibat kudeta negeri.
Di jaman Soeharto, terjadi perubahan besar-besaran para petani. Dikenalkan Panca Usaha Tani dalam program pembangunan lima tahun. Namun di balik itu semua, petani menjadi tidak mandiri lagi. Bibit, pupuk, pestisida dan mesin pertanian telah melumphkan petani. Semua tersedia dalam bentuk buatan pabrik. Belum harga panen gabah yang rendah karena ditentukan negeri.
Di jaman sekarang ini, nasib petani tak berubah dari titik terendah. Tak ada anak sekolah dasar yang punya cita-cita menjadi petani. Tidak ada recycling, semua terpaksa menjadi petani. Bahkan bertani hanya menjadi sambilan bagi sebagian orang. Karena pekerjaan utamanya adalah buruh. Dan lebih aneh lagi, pimpinan kerukunan tani, yang entah kapan bisa rukun, adalah seorang jenderal.
Dulu di zaman kekhalifahan, petani tahu kalau khalifah adalah seorang yang adil dengan melimpahnya panen dan tidak ada hama yang berani mendekat. Dan para penggembala tahu seorang pemimpin adil telah meninggal karena seekor serigala makan binatang ternak yang ia gembalakan.
Jabir meriwayatkan bahwa Nabi SAW menemui Ummu Mubasyir (di kebun) kurma miliknya. Beliau bertanya, “Siapa yang menanam kurma ini? Muslim atau kafir?” ia menjawab, “Muslim”. Nabi lalu bersabda, “Tidaklah seorang muslim menanam tanaman atau benih, lalu dimakan orang, hewan, dan apapun, melainkan apa yang dimakan itu adalah sedekah baginya.” (HR. Muslim: 1552)
Setiap waktu makan selalu terhidang di meja makan sebakul nasi putih. Bisa berasal dari beras yang harganya paling murah atau beras pulen yang mahal harganya. Karena beras termasuk makanan pokok rakyat Indonesia, maka harus tersedia dalam jumlah yang cukup, dan harganya tidak boleh mahal dengan cara ditentukan oleh negara.
Beras yang putih beraroma wangi, hangat, tersaji di taplak piring yang putih seolah berlawanan dengan penanamnya, petani yang kotor berbaju lusuh hitam dan di sawah becek yang beraroma jerami busuk.
Petani, sebuah profesi yang mempunyai anggota puluhan juta. Ada petani yang memiliki berhektar-hektar sawah ladang. Ada petani yang hanya memiliki sepetak sawah. Banyak petani yang memiliki sepersekian petak sawah, bahkan ada yang hanya menggarap sawah orang lain. Mayoritas petani adalah orang msikin. Rata-rata petani hanya memiliki ¼ hektar lahan dan sekitar 80% adalah petani penggarap sawah.
Sejak dicanangkan panca usaha tani dengan dasar revolusi hijau dari sistem barat, petani dibuat tidak mandiri, pupuk dari pabrik, bibit dari pabrik, pestisida dari pabrik. Yang punya pabrik dan distribusinya adalah orang-orang kapitalis.Jadi sangat pantas kalau pas musim tanam harga bibit padi naik, pupuk jadi langka dan harganya naik dan pestisida ikut naik pula.
Sistem subsidi yang diberikan adalah sistem subsidi ke barangnya seperti subsidi pupuk. Bukan subsidi ke petaninnya. Ketika subsidi ke barang maka barang itu belum tentu sampai ke petani dengan harga subsidi. Karena pemilik modal yang bisa memiliki barang tersebut menjualnya dengan harga sesuai keuntungan dia.
Cara sederhana subsidi adalah langsung ke petani, dengan cara menghitung jumlah petani di sebuah kelurahan dan luas tanah yang digarap, di situlah ditemukan berapa jumlah kebutuhan petani untuk satu musim tanam. Pupuk langsung dijual ke petani sesuai kebutuhan selama musim tanam.
Dahulu, petani adalah sosok orang yang mandiri. Punya kerbau untuk membajak sawah, punya cadangan bibit padi sendiri, punya pupuk kandang, punya cadangan simpanan gabah di lumbung rumah. Dengan situasi seperti ini, petani tak mudah ditaklukkan. Tetapi semenjak kemandirian itu dicabut, tak punya traktor, tak punya bibit, tak punya pupuk, tak punya obat-obatan, jadilah petani menjadi sosok yang terkalahkan, tak lebih dari budak di negeri sendiri.
Ketika musim panen tiba petani tak bisa menentukan harganya. Harga patokan dasar ditentukan negara, harga sejatinya ditentukan juragan beras setempat. Sebuah ironi ketika seorang menanam sesuatu yang dia tidak bisa menentukan sendiri harga jualnya.
Saat ini, kebanyakan petani adalah orang-orang yang tua. Jarang sekali anak muda yang jadi petani. Lebih suka jadi buruh pabrik, pedagang kakilima, penjual isi ulang telepon genggam, bahkan lebih kepincut jadi pelayan negara alias pegawai negeri ("Public Servant" kata negara tetangga).
Hampir tidak ada kemajuan berarti tentang sikap dan nasib petani. Petugas penyuluhan lapangan sering tidak bisa memindahkan ilmu teorinya ke dalam ilmu terapan di sawah. Bahkan dalam beberapa segi petani lebih pintar. Para da'i terlihat enggan mendahpingi petani bahkan menjelaskan tentang zakat pertanian pun dilakukan di mimbar-mimbar masjid, bukan di gubug di tengah sawah ketika petani habis kerja bermandikan keringat yang tentu saja berbau. Di saat itulah seharusnya para da'i berceramah. Dampaknya sedikit sekali petani yang membayar kewajiban zakat, yang termasuk rukun Islam.
Para politisi hanya memanfaatkan suaranya dan tidak pernah peduli pada nasibnya. Ideologi mana yang dekat denganmu wahai petani; kapitalis, sosialis, komunis, sekuler, atau Islam? Jumlah dan anggota keluargamu mencapai separuh penduduk Indonesia. Bahkan petani sendiri bisa bergabung menjadi kekuatan yang "Tak bisa dikalahkan" (meminjam istilah orang-orang yang sering berdemo).
Berasmu memang putih tapi nasibmu tetap saja gelap.
Keputusan telah diambil. Para pemuka kafir Quraisy, dalam rapat tertutup di gedung Dar An Nadwah, memutuskan untuk melakukan embargo/boikot terhadap Rasulullah SAW dan para pengikutnya.
Embargo ini berupa embargo ekonomi. Mereka dilarang melakukan jual beli terhadap Bani Hasyim. Selain itu, termasuk pula embargo sosial yang melarang setiap orang mereka menikah dari kabilah-kabilah yang lain. Bahkan tedapat poin-poin tambahan, yakni setiap orang musyrikin dilarang mendengarkan da'wah kepada Allah SWT dari kaum muslimin.
Mereka menulis keputusan tersebut dalam sebuah dokumen atau undang-undang dan mengummukannya kepada seluruh masyarakat, lalu mereka menempelkannya di Ka'bah.
Embargo ini berlangsung hingga pada batas yang tidak bisa ditentukan. Bani Hasyim sampai memakan daun-daun pepohonan. Permintaan pemuka kafir Quraisy adalah menyerahkan Nabi SAW untuk mereka bunuh atau meminta Nabi SAW untuk menghentikan aktivitas dakwahnya.
Rasulullah menceritakan keadaan ini seraya berkata, "Aku telah disakiti tidak seperti yang lain. Aku telah lapar tidak seperti yang lain. Aku telah tinggal 30 hari di rumah Abu Thalib tanpa mengisi perutku dengan makanan yang biasa dimakan manusia, kecuali apa-apa yang disembunyikan Bilal di bawah ketiaknya."
Embargo berlangsung selama tiga tahun. Selama tiga tahun tidak ada satu pun orang Quraisy yang masuk Islam. Kaum Muslimin saat diembargo terbagi menjadi tiga golongan: Sebagian di Habasyah, sebagian dikepung di rumah Abu Thalib, dan sepertinya lagi di Makkah menghadapi berbagai siksaan dan penganiayaan.
Walaupun diembargo, kaum muslimin tetap teguh dalam kebenaran, tidak mundur, dan tidak ada seorangpun yang murtad dari agamanya. Padahal di antara mereka ada para sahabat yang kaya. Akan tetapi mereka rela menahan lapar, rela dibekukan usahanya demi cintanya terhadap Islam yang tertancap dalam jiwa mereka. Kaum Musyrikin menawarkan Khadijah untuk pergi dan tinggal di mana ia kehendaki agar tidak termasuk yang diembargo. Namun, Khadijah memilih dengan keinginan sendiri untuk diembargo bersama suaminya, hidup bersama-sama saudara-saudara mereka kaum muslimin dan menahan lapar bersama mereka.
"Dan jikalau Rabb-mu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?" (Yunus: 99)
"Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat mengbah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah." (Al An'am: 34)
"… Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik." (Yusuf: 90)
Selama tiga tahun kaum muslimin terkurung di rumah Abu Thalib, kesabaran dan ketabahan adalah sarana paling penting untuk dakwah kepada non muslim. Banyak sekali perbuatan orang muslim yang menjadi sebab ketertarikan kaum non muslim. Perbuatan tersebut adalah penghayatan interaksi yang membuat kebanyakan orang cinta terhadap Islam, sehingga perilaku orang muslim menjadi penyebab masuknya orang non muslim kepada Islam.
Dalam pelajaran IPA, Abdurrahman memang menonjol. Di samping itu ia mempunyai daya ingat yang kuat serta kritis dalam berpikir. Karena itu ia sangat disayang oleh wali kelasnya dan guru agama Ustadz hasanudin. Satu kebiasaan lagi baginya, ia kalau berdebat tak mau kalah, asal dalam kebenaran. Guru agamanya sempat kagum melihat kecerdasannya serta pertanyaan yang diajukan demikian kritis. Karneanya ia diangkat sebagai ketua kelas dan selalu menjadi ketua kelompok bila sekolahnya mengadakan tour sekolah.
Pada suatu siang, waktu jam istirahat, Abdurrahman tampak berbicara dengan sahbaatnya, Bukhori. Agaknya Bukhori ingin mengetahui apa sebabnya nilai pelajaran Abdulrahman begitu bagus.
"Tidak ada sesuatu pelajran yang sulit, Ri, semua itu tergantung pada niat kita, mau belajar nggak?"
"Jangan seperti detektip kalau bertanya kepada saya. Rahasia? Tak ada yang perlu kurahasiakan cara belajarku, juga buatmu. Aku malah senang jika kau lebih pandai dariku."
"Dur, jangan berolok-olok begitu, saya tahu kamu pandai, disayang oleh guru-guru."
"Ya disayang, bukan berarti mencari muka atau orang tuaku sering memberi hadiah kepad abapak atau ibu guru."
"Bukan itu maksudku, jawabanmu kok melantur sih? Sampai mana pembicaraan kita?" tanya Bukhori.
"Maaf, kalau aku ngelantur. Soal cara belajar yang kau tanyakan? Biar esok nggak ada ulangan atau testing, aku selalu belajar walau cuma sejam."
"Ooo, begitu, pantas." ujar Bukhori sambil mengangguk-angguk. Tiba-tiba terdengan bell berbunyi, pertanda pelajran akan dimulai lagi.
"Sering-sering datang ke rumah, aku senang punya teman seperti kau dur." Kedua anak itu bergegas masuk ke ruang sekolah."
Secara kebetulan waktu itu pelajaran agama, yang merupakan kesukaan Abdurrahman di samping IPA.
Bapak Hasanudin hari itu menerangkan tarikh mengenai Nabi Ibrahim yang dibakar oleh api raja Namruz, tetapi tidak hangus, bahkan apinya menjadi dingin.
Tiba giliran tanya jawab, abdurrahman lebih dahlu mengacungkan tangannya.
"Ada apa Dur, apalagi yang ingin kau tanyakan?"
"Menurut ilmu pengetahuan alam yang saya pelajari, bukankah sifat api itu panas dan membekar? Dan setiap benda yang terbakar pasti hangus atau menjadi debu?"
"Tetapi kenapa api yang berkobar itu tidak membakar Nabi Ibrahim, bahkan menjadi dingin. Bukankah itu berlawanan dengan hukum alam?"
Ustadz Hasanudin tersenyum, pikirnya, "anak ini memang cerdas kritis jalan pemikirannya. Berbahagialah kedua orang tuanya", kata Pak Hasanudin dalam hati.
"Dengarlah anak-anak, pertanyaan yang diajukan temanmu Abdurrahman bagus danmenarik. Semoga apa yang akan dijelaskan oleh bapak ini akan menambah keimanan dan ketaqwaanmu terhadap Allah dan Rasul-Nya, serta menambah baktimu kepada kedua orang tuamu, khususnya ibumu yang melahirkanmu."
"Dengar baik-baik anakku. Apa yang dikatakan oleh Abdurrahman memang benar. Api mempunyai sifat membakar, panas, dan kalau air dingin. Semua itu benar anakku."
"Sebelum kulanjutkan jawabanku, aku ingin bertanya kepada kalian lebih dulu, mengenai asma-asma Allah dan sifat-sifat-Nya. Coba kau jawab, Arman, cukup dua saja."
"Maha pengasih dan Maha Kuasa, pak."
"Bagus, lalu kamu, Zainab?"
"Maha Adil dan Maha Perkasa".
Sesungguhnya ada 99 asmaul husna buat Allah swt, bahkan lebih, tapi dari jawaban kalian aku kira sudah cukup.
Pada persoalan, kenapa api menjadi dingin, tidak membakar Nabi Ibrahim, ingatlah bahwa Nabi Ibrahim adalah kekasih Allah, seorang Nabi yang Hanif (jujur dan terpercaya). Bagi Allah tidak ada satu pekerjaan yang sulit, jelas karena kehendak (iradah) Nyalah api itu menjadi dingin.
Bukanlah dalam satu firman-Nya "Apabila Allah menghendaki kebaikan, pada seseorang tidak ada seseorangpun yang bisa menghalanginya bukan?"
Allah Maha Berkuasa, di sinilah kita harus melihat Maha Kekuasaannya. Apabila ia berkata,, atau mencipta sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada. Jadilah! Maha suci Allah, pasi terjadi dan dengan seizinNyalah api yg panas itu tidak membakar tubuh Nabi Ibrahim. Maha suci Allah dengan segala firmanNya. Bagaimana cukup puas?".
Abdurrahman manggut-manggut. Mulutnya terasa kelu, karena jawaban yang diberikan oleh pak Hasanudin sangat memuaskan hatinya.
"Nah sampai di sinilah anakku, kisah tentang Nabi Ibrahim dan Raja Namruz kita akhiri disini. wassalam mu'alaikum Wr. Wb."
—Moharro
Dimuat pada majalah Sahabat edisi April 1989
Di layar televisi kita sering melihat pertempuran besar-besaran antara pasukan Rusia dengan rakyat Islam Afghanistan. Pertempuran tersebut terjadi karena Rusia yang komunis (anti Tuhan) ingin menjadikan negara Islam Afghanistan sebagai negara Komunis pula.
Tetapi setelah hampir 10 tahun berlalu (1979–1989), Rusia akhirnya harus angkat kaki dari bumi Afghanistan tepat tanggal 15 Februari 1989. Mereka gagal memaksakan kehendaknya setelah jatuh korban sebanyak 1,5 juta orang berkat kegigihan ummat Islam di medan juang para pemimpin Islam yang menjadi Ketua Organisasi Islam umumnya adalah orang-orang yang berpendidikan tinggi. Ada Dr., Ir., MA dan ada pula yang tidak pakai gelar. Mereka adalah orang-orang yang kuat beribadah, taat menjalankan perintah agama dan menghormati teman-teman seperjuanagn. Salah seorang dari pemimpin tersebut adalah Ir. Gulbuddin Hikmatyar.
Ir. Gulbuddin lahir pada 1949 di propinsi Qundus. Ia seorang yang rajin belajar dan senang berburu. Pada usia 5 tahun, ia sudah belajar bagaimana menggunakan senapan. Setelah menamatkan sekolah dasar, ia dikirim oleh orang tuanya, Haji Abdul Kadir, ke sekolah militer di Kabul dan menghabiskan waktunya selama tiga tahun di sana. Kemudian, ia kembali ke Qundus dan melanjutkan pendidikannya dengan memasuki Sekolah Menengah Atas. Dari SD, SMP, SMA dan smapai ke perguruan tinggi, Gulbuddin selalu mendapat ranking tertinggi.
Berkat pendidikan yang diberikan oleh orang tuanya, Gulbuddin, selain pintar juga taat beribadah, patuh kepada orang tua dan menyayangi teman-teman sepermainan.
Ketika ia dikirim oleh orang tuanya ke Kabul untuk kedua kalinya Gulbuddin masuk Universitas Kabul, jurusan mesin. Di sini, bersama-sama dengan 15 orang temannya, ia mendirikan sebuah organisasi yang bergerak untuk Islam. Karena kepintaran dan sikapnya yang tidak senang kepada keburukan pemerintahnya waktu itu, ia dicari oleh polisi dan dimasukkan ke penjara selama dua tahun. Pemerintah mengharapkan Gulbuddin keluar dari organisasi Islam. Tetapi hidup di penjara semakin membuka pandangannya terhadap kondisi ummat Islam yang semakin hari semakin terjepit. Di penjjara, Gulbuddin juga banyak membaca buku-buku tentang Islam dan perjuangan ummat Islam. Lalu iapun bersumpah untuk mengabdikan seluruh hidupnya untuk agamanya.
Setelah dibebaskan dari penjara, Gulbuddin bersama teman-temannya bergerak secara diam-diam. Pemerintah Kabul yang pro Komunis tetap mencurigainya dan memaksanya keluar dari Afghanistan pada tahun 1974.
Kembali dari pembuangan
Ketika pasukan Soviet menyerbu kota Kabul, ibukota Afghanistan pada tahun 1978 dan menguasai negara tersebut, Gulbuddin kembali ke negerinya secar adiam-diam. Ia tidak pernah menetap di suatu tempat, terus berpindah dari satu propinsi ke propinsi lainnya. Dalam perjalanannya, ia terus menyerukan ummat Islam Afghanistan untuk bertempur melawan Rusia demi kehormatan, kebangksaan, kebebasan dan kebangkitan agama Islam.
Tugasnya cukup berat dan hidupnya senantiasa berada dalam bahaya. Namun Gulbuddin tidak pernah berhenti walaupun ke-15 orang teman seperjuangannya ketika kuliah di Universitas Kabul telah mendahuluinya, mati syahid di medan tempur. Ia juga tidak pernah mundur dari cita-citanya walaupun ayahnya (Haji Abdul Kadir) dan dua orang saudar alaki-lakinya dibunuh oleh tentara Rusia. Semangat perjuangannya membela Islam bahkan semakin tinggi ketika tiga orang saudara perempuannya, anak-anaknya dan esluurh keluarganya dipaksa meninggalkan kampung halaman mereka untuk mengungsi ke Pakistan.
Seluruh ummat Islam Afghanistan sekarang adalah saudaranya. dan kebabasan negerinya dari Rusia Komunis adalah tekadnya. Semangatnya yang tinggi tersebut melahirkan simpati dari anak-anak muda Islam–Afghanistan dan bergabung untuk berjihad menentang Rusia. Dewasa ini Organisasi Hizb-e-Islami yang dipimpinnya memiliki anggota tidak kurang dari 500.000 orang. Mereka semuanya siap mati syahid demi agama Islam dan kebebasan negaranya.
Serangan Bom
GULBUDDIN HIMATYAR adalh seorang pemberani. Di medan tempur ia menjadi panglima yang gagah. Salah seorang anak laki-lakinya ikut pula berjuang bersamanya memanggul senjata. Sebagian besar waktunya berada di medan tempur. Pada tahun 1986, dalam sebuah serangan, pasukan Rusia menjatuhkan bom di tempat Gulbuddin bergerilya. Pada waktu itu, ia sedang memimpin 5 orang pasukan untuk menghadang iringan tank-tank Rsuia. Tiba-tiba, sebuah pesawat membom mereka. Lumpur tersebar dimana-mana. Tentara Rusia mengira Gulbuddin dan pasukannya telah musnah. Ketika suasana tenang dan pesawat tempur telah pergi, alhamdulillah, Gulbuddin dan teman-temanya selamat. Lalu ia berkata kepada teman-temannya, "Mari kita Shalat". Allah telah melindungi kita dari serangan musuj.
Kini di tempat pengungsiannya, yaitu perbatasan antara Afghanistan dan Pakistan, Gulbuddin hidup bersama istri dan anaknya. Mereka senantiasa shalat berjamaah di masjid. Dan Gulbuddin adalah imam shalat. Selesai shalat, ia mengajarkan Al-Qur'an dan Hadits kepada jamaahnya. Dari masjid, ia tidak langsung pulang ke rumah, tetapi berjalan dari satu kemah pengungsi ke kemah pengungsi lainnya. Gulbuddin adalah seorang yang ramah kepada saudara seiman. Gulbuddin baru kembali ke rumah jam 11 malam. Dan bila ia berada di medan tempur, ia jarang tidur.
Adik-adik sekalian … dalam ajaran agama kita, Allah senantiasa menolong hamba-hambaNya yang berjuang demi Islam. Suri tauladan Galbuddin perlu kita tiru. walaupun pendidikannya tinggi dan memimpin ratusan ribu orang, ia tidak pernah mengeluh dan merasa dirinya besar, congkak dan sombong.
Semoga Allah swt mempercepat kemenangan untuk ummat Islam Afghanistan dalam melawan Rusia yang congkak dan anti-tuhan.
Sumber:
The Voice of Mujahiddin
Al-Nahdah
The Muslim World League Journal
—Lydia Choiruna
Dimuat di majalah Sahabat edisi April 1989
Konon, dulu kala ada seorang laki-laki soleh yang memiliki beberopa orang anak. Allah telah mengisahkannya dalam surat Al-Qalam.
Orang tua itu dianugerahi kebun yang bagus yang banyak ditumbuhi oleh berbagai macam buah-buahan. Di bawahnya mengalirlah sebuah parti nan asri. Dari aliran ini pula pepohonan itu disirami hingga subur dan menghasilkan buah-buahan yang lezat, manis danberaneka ragam warna dan rupanya.
Meskipun begitu, orang tua itu tidak kikir. Ia senantiasa memberikan sebagian hasil kebunnya kepada para fakir miskin yang dibagikannya bersamaan dengan waktu panen. Para fakir miskin pun dengan suka ria menerimanya. Apapun yang telah Allah berikan kepada orang tua itu, ia selalu menyisihkannya untuk pfakir miskin dengan hati yang lapang dan jiwa yang bersih. Karena ia tahu dengan memberikan setitik kebahagiaan kepada fakir miskin, Allah akan meridhai dirinya.
Namun sangat disayangkan, anak-anaknya membenci perbuatan baik ayahnya ini, kecuali seorang dari mereka yaitu anaknya yang pertengahan. Kebanyakan anaknya beranggapan bahwa apa yang dilakukan oleh ayahnya itu hanyalah sikap pemborosan saja. Membelanjakan harta bukan pada tempatnya.
Tak lama setelah kematian orang tua itu, anak-anaknya sepakat untuk menumpuk hasil perkebunan itu dan dilahapnya sendiri. Seraya mereka berangan-angan untuk dapat hidup bahagia bersama anak-anaknya tanpa menghiraukan si miskin. Kata salah seorang dari mereka, dengan pongah berkata, "Kini, kebun itu sudah menjadi milik kita! Kita akan banyak memetik hasil darinya!"
"Ya, tidak akan kita biarkan fakir miskin itu mendekati kebun kita", kata yang lainnya menimpali.
"Mulai hari ini fakir miskin itu tidak boleh mengambol kesenangan dari kebun kita," kata saudaranya yang lain lagi.
hanya saudaranya yang pertengahan yang sadar, tak terbawa oleh emosi. Dia menyarankan agar saudara-saudaranya tetap melaksanakan kebiasaan yang sudah ada semasa ayahnya hidup, karena dia yakin pada harta yang dimilikinya itu ada bagian untuk fakir miskin. "Seharusnya kita kagum pada yah kita akna sifat kedermawanannya dalam menginfakkan hartanya kepada fakir miskin." ujarnya lembut.
"Kebun itu 'kan milik kita. Jadi tak ada seorang pun yang bisa merampasnya dari kita," kata yang sulung.
"Tidak, kak." kata yang pertengahan dengan tenang. "Seperti yang ayah katakan semasa hidup, harta itu adalah milik Allah yang di dalamnya ada bagian untuk fakir miskin. Karena itu kita wajib menunaikan wasiat almarhum ayah kita untuk menginfakkan sebagian dari harta itu kepada fakir miskin."
Perdebatan itu kian lama kian sengit juga. Namun meski tidak dengan suara yang bulat, pedebatan itu mereka sudahi juga dengan kesepakatan bahwa pada saat panen nanti mereka harus datang sebelum subuh, karena pada waktu itu fakir miskin belum berdatangan.
Selesai perdebatan yang sengit itu, masing-masing mereka berangkat tidur. Mereka semua terlelap dipenuhi oleh mimpi-mimpi indah. Mereka membayangkan bahwa esok hari mereka akan berlimpah dengan harta kekayaan.
Namun apa yang terjadi tatkala mereka sampai di kebun? Mereka semua tercengang. Berdiri terpaku. Bingung luar biasa. Mengapa? Karena mereka melihat kebunnya kini telah berubah menjadi daratan yang tandus. Tetumbuhan telah tercabut dari akarnya, bebuahannya berjatuhan, daun-daun berguguran, batangnya layu, bunga-bunga pun menciut, dan parit yang tadinya lancar mengalir kini telah kering kerontang!
"Tidak… tidak… ini bukan kebun milik kita…", Kata yang sulung terkesima.
"Ya, kebun kita bagaikan surga yang di dalamnya mengalir parit-parit kecil yang indah, tapi kini…", kata yang lainnya linglung.
Kini giliran anak yang pertengahan bicara. Dengan tenang dia berkata, "Tidak, saudaraku. Benar ini adalah kebun milik kita. Kau tahu? Allah telah menurunkan bencana kepada kita dan akibatnya seperti yang kalian lihat sekarang ini. Karena kita lalai menginfakkan harta kita kepada fakir miskin, kaum yang lemah, maka Allah tidak meridhai kita."
Mendengar penuturan itu, kini tampak di wajahnya penyesalan seraya mereka berucap, "Mahasuci Rabb kita, sesungguhnya kita adalah orang-orang yang zhalim."
lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela. Mereka berkata, "Celakalah kita… sungguh kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas. Semoga Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan kebun yang lebih baik. Kepada Rabblah , kita mengharap ampunan."
Itulah tradisi orang-orang zalim yang melampaui batas. Mereka tidak mau berpikir kecuali kalau mereka ditimpa kesengsaraan dan mara bahaya. Baru ketika itulah mereka mau bertobat dan menyesali perbuatannya. Sebuah penyesalan yang tak berarti apa-apa.
—Makmun Nawawi dan Rahmat Hidayat
Dimuat di majalah Sahabat edisi Juli 1990
Fatimah, salah satu dari putri Nabi SAW menikah dengan Ali bin Abi Thalib RA. Ali bin Abi Thalib menikahi Fatimah dengan mahar sepotong baju besi yang harganya tidak lebih dari 400 dirham. Setelah Sayyidah Fatimah menikah, di rumahnya tidak terdapat sesuatu pun kecuali hanya sehelai tikar kecil, sebuah bantal yang berisi serabut, bejana dan gaung. Sebuah kehidupan putri seorang Nabi SAW yang patut menjadi contoh. Yang lebih mementingkan keimanan dan ketaatan dibandingkan dengan materi.
Ketika Fatimah telah melahirkan dua anak bernama Hasan dan Husain, suatu hari, Nabi SAW datang kepadanya dan bertanya tentang kedua putranya. Dijawab, "Keduanya sedang kelaparan dan Ali membawanya sambil berkata kepadaku, 'Keduanya aku bawa, agar tangisannya tidak mengikutimu.'" Nabi kemudian keluar mencari mereka. Saat menemukan mereka, Nabi SAW berkata, "Wahai Ali, kedua anakmu telah kepanasan, tidakkah kau ajak kembali?"
Ketika beban pekerjaan rumah tangga semakin bertambah dan ia mengetahui bahwa telah datang sebagian budak kepada Nabi, ia pun datang ke rumah bapaknya. Tapi, saat itu Nabi tidak ada sehingga ia mengabarkan kepada Aisyah RA bahwa ia butuh seorang pembantu untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Fatimah meminta agar Aisyah memberitahukan permintaannya kepada Nabi SAW.
Aisyah RA kemudian menceritakan hal itu kepada Nabi SAW. Kemudian Nabi SAW berkata, "Aku tidak akan memberinya. Di sisiku ada Ahlu Suffah yang tidak mendapatkan apa yang akan dimakan".
Tanggapan Nabi tersebut membuat Fatimah sedih. Beliau SAW datang ke rumah Fatimah dan menemuinya di ranjang. Lalu, Nabi SAW duduk di antara Ali dan Fatimah. "Kudengar engkau menginginkan seorang pembantu?" tanya Nabi. Fatimah menjawab, "Benar Wahai Rasulullah."
Nabi SAW kemudian berkata, "Maukah kamu kuberitahu sesuatu yang lebih baik dari itu?" Fatimah berkata,"Apa itu?" Nabi berkata, "Jika kalian mendatangi ranjang (hendak tidur), maka ucapkanlah Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali dan Allahu Akbar 34 kali."
Fatimah berkata, "Demi Allah, sejak mengucapkannya, aku dan suamiku tidak pernah lagi meminta pembantu sesudah itu".
Ketika keluarga kita sedang mengalami kesulitan, keinginan segera dari kita adalah keluar dari kesulitan tersebut dengan meminta bantuan orang lain. Tapi Rasulullah SAW memberi contoh kepada ummatnya, meskipun ketika putrinya sendiri mengalami kesulitan, beliau tidak segera memenuhi keinginannya yang bersifat keduniaan, tetapi mengajak keluarga tersebut mengadu kepada Allah SWT. Berserah diri kepada Allah SWT. Memuji Allah, mensucikan Allah dan mengagungkan asma Allah.
Jangan merepotkan orang lain, mengadulah kepada Allah SWT.
Ada beberapa sebab yang menarik manusia kepada kehidupan dunia. Banyak sekali faktor yang membantu nafsu (yang selalu mendorong berbuat jahat) untuk mengikat pemiliknya kepada kehidupan dunia. Di antaranya adalah “Kebodohan”. Kebodohan adalah merupakan fakator yang utama. Kebodohan adalah kubangan yang busuk baunya. Mengikat setiap yang mempunyai hawa nafsu dengan kebusukannya sehingga ia pun tenggelam dan menyelam dalam lumpurnya yang berbau busuk. Kebodohan adalah faktor terbesar yang merintangi perjalanan seseorang kepada Allah Azza wa Jalla.
Merintangi kaki dari belenggu yang mengikatnya. Merintangi ruh yang akan melepaskan diri dari belenggunya. Kebodohan, apabila telah menimpa diri seseorang, maka terkadang akan membuatnya mengingkari adanya matahari meskipun ia melihat di siang bolong.
“Kalau sekiranya kami turunkan malaikat kepada mereka dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka juga tidak akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengerti (bodoh).” (Al-An’am: 111)
Bodoh di sini bukan berarti kurang pengetahuan, akan tetapi ‘tidak mengerti’. Orang yang mengetahui tentang Allah adalah yang takut dan bertaqwa kepada-Nya.
“Apakah kamu hai orang-orang musyrik yang lebih beruntung ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan ia takut kepada adzab akhirat dan mengharap rahmat Rabbnya? Katakanlah, ‘Adakah sama bagi orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang-orang yang berakalllah yang dapat menerima pelajaran.’ (Azzumar: 9)
Ibnu Mas’ud R.A berkata: Bukanlah yang dinamakan ilmu itu denganbanyaknya riwayat (yang dihafalkan) tetapi ilmu adalah sesuatu yang mendatangkan rasa takut.
Jadi kebodohan adalah rintangan yang paling besar yang menghadang di depan jalan mendaki dari gunung yang dinamakan hawa nafsu yang selalu mendorong berbuat jahat.
Oleh karena kebodohan lebih besar bala’-nya daripada mencemooh, bodoh kepada Allah adalah sebab yang menjadikan seseorang mencemooh dan memperolok-olok yang lain. Tidak menghormati Allah serta tidak mengagungkan-Nya adalah yang dinamakan bodoh/jahil terhadap Allah Azza wa Jalla. Ilmu adalah lawan dari kebodohan. Dan ilmu itu sendiri adalah rasa takut. Boleh jadi seseorang banyak mengetahui sesuatu dan banyak mengerti sesuatu, akan tetapi ia tidak mengetahui kecuali sedikit saja.
Rumahku adalah surgaku. Keluarga menjadi kekuatan inti masyarakat Islam dengan menggariskan sejumlah ketentuan dan hukum-hukumnya. Ketentuan pertama adalah akad nikah atau ijab qabul. Ini harus berdasarkan kerelaan kedua belah pihak. Seorang wanita tidak boleh dinikahkan tanpa persetujuan darinya terlebih dahulu. Ketentuan kedua adalah pengumuman pernikahan. Ini menjadi syarat penting bagi suatu pernikahan. Ikatan pernikahan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tanpa saksi-saksi yang benar adalah tidak sah.
kalau salah satu pihak mengatakan bahwa ikatan pernikahan ini hanya berlaku sementara saja, maka ikatan tersebut batal. Pernikahan seharusnya menjadi ikatan abadi, sehingga kedua pihak dapat membina hubungan yang kekal. Kalau tujuan ini tidak ada, maka pernikahan sama saja dengan perjanjian hampa. Tidak ada artinya sama sekali.
Untuk menumbuhkan suasana yang serasi dalam kehidupan keluarga, Islam meletakkan tanggung jawab pemeliharaannya pada suami. Istri mempunyai cukup waktu untuk menjaga rumah dan mendidik anak-anak. Seorang istri yang juga mencari nafkah, sukar menumbuhkan suasana gembira dan nyaman di rumahnya dan tidak akan mampu mendidik anak-anaknya dengan sewajarnya. Sebuah rumah tangga yang pihak istrinya bekerja, mirip losmen kecil. Rumah tangga semacam ini selalu kekurangan sentuhan tangan lembut yang merupakan ciri rumah tangga sebenarnya. Sentuhan ini hanya bisa diberikan oleh seorang ibu kepada anak-anaknya. Bila dia meluaskan kegitana jasmani dan ruhaninya untuk bekerja di luar, maka hanya kecapekan, kegelisahan dan kebosanan sajalah yang tersisa bagi keluarganya.
Dalam keadaan memaksa, wanita yang sudah menikah boleh bekerja. Tapi jika mereka dengan sukarela bekerja, padahal sesungguhnya mereka tidak membutuhkannya, hal itu sama artinya dengan menciptakan kehidupan anak-anak tak ber-ibu. Anak-anaknya terlantar dan mungkin hidupnya akan tersesat akibat kurang mendapat bimbingan.
Untuk menenteramkan rumah tangga dan menyelesaikan setiap perselisihan yang mungkin meruntuhkannya, Islam mewajibwkan suami menjadi penyokong dan pelindung. Ini sesuai benar dengan kebijakan Islam tentang ketertiban - yang menetapkan agar setiap kelompok, sekalipun terdiri dari tiga orang, hedaknya memilih salah satu di antaranya menjadi pemimpin.
Tapi, kapal tentu punya nakhoda. Begitu pula dengan rumah tangga, harus ad aseorang pemimpin yang bertanggungjawab dalam melahirkan ketertiban dan suasana rukun. Dalam pandangan Islam, pilihan siapa saja yang memimpin mudah saja. Kita harus memilih antara isteri yang lazimnya memikul tugas-tugas rumah, tanggung jawab keibuan , dan suami yang berkewajiban mendukung kehidupan seluruh keluarganya. Pimpinan yang diberikan kepada suami karena dialah yang lebih cocok untuk peran itu.
Kalau disederhanakan lagi, maka segela pertentangan yang timbul antara pria dan wanita di zaman sekarang ini, akan menjadi mudah diatasi. Sebab pada pembagian peran itulah titik pangkalnya. Sistem keluarga semacam ini dimaksudkan sebagai sumber kedamaian dan tempat bertambah keamanan atau ketenteraman umat manusia.