A Journey of a Lifetime #1: Extravagant Preparation
When Paris sneezes, Europe catches cold. - Prince Metternich.
Bagi saya, Eropa adalah mimpi, suatu lahan utopik yang muncul berkat imaji kultur populer. Imaji saya akan Eropa tidak jauh-jauh dari pasangan sejoli yang sibuk kencan di Tour Eiffel atau sedang sightseeing mewah di medieval city seperti Praha atau Vienna. Sungguh paradigma mainstream yang merupakan hasil asimilasi suntikan ide dari film Hollywood dan novel remaja.
Whatever it is, a dream is a dream. When God gives me a chance to finally make it alive, I did not want to lose it.
Tahun 2014, teman saya mencetuskan ide untuk mengikuti konferensi ilmiah di Eropa. Terdapat dua event di saat yang berdekatan. Salah satunya berada di Antwerp, Belgia, sementara yang lainnya bertempat di Berlin, Jerman.
Berbekal satu kesempatan kecil tersebut, kami mulai menyusun rencana untuk melaksanakan perjalanan impian. Setelah perdebatan berapa lama, akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti kedua konferensi sekaligus. Tentu saja, seluruh kegiatan tersebut kami selipi dengan bonus ekstravagan: tur keliling Eropa minimalis (lima negara)!
Saya selaku perancang itinerary langsung membuat kerangka perjalanan. Begini sneak peek-nya.
Foto di atas adalah tampakan itinerary yang saya buat untuk perjalanan tersebut. Ada banyak pertimbangan saat merumuskan itinerary tersebut, apakah hanya akan mengikuti satu konferensi (yang di Belgia saja) atau dua-duanya. Konferensi yang di Belgia berlangsung 11-13 September, sementara tanggal 18 September kami harus menginjakkan kaki di Berlin, Jerman. Di balik semua itu, saya tetap ambisius harus mengunjungi lima negara tersebut, meskipun sedikit kebingungan mencari bus yang sesuai dengan jadwal konferensi dan sesuai pula dengan bujet (yang super ekonomis). Kami bahkan tidak memilih moda transportasi udara pada awalnya untuk perjalanan antarnegara, sebab harganya tidak memenuhi perkiraan bujet awal. :’D Maklum, mahasiswa.
· Hostel (di dekat hostel, 350m dari hostel, ada Leidseplein square dan Rijkmuseum yang ada tulisan I AMSTERDAM, but it’s not our main focus because really kita di Amsterdam 3 hari lho baru nyadar, yg dkt2 hostel gt hari ketiga aja lmao)
· 15.00: Sightseeing Cruise
· 17.00: De Gooyer (dari De Gooyer ke Vondelpark mayan 3,4 km, jadi naik tram 10 dari halte Hoogde Kadijk turun di Leidseplein. Ke hotel dulu buat check-in beneran, baru deh ke Vondel Park. Ke Vondel Park jalan kaki aje)
Pagi ke Volendam dulu (naik bus 316, durasi 28 menit—itu kalau dari Amsterdam Centraal, naik di Amsterdam, CS Ijzijde, ke Hotel Volendam). Foto 15 euro!
Abis dari volendam ke amsterdam centraal (naik bus 312, cuma 24 menit, turun di Amsterdam, Prins Hendrikkande)
Abis itu ke Zaanse Schans (naik bus 391 ke Zaanse Schans)
TRAM ADA DARI JAM 7.30 SAMPAI 00.00. Single ticket-nya tram/bus 2,8 euro, one-day pass-nya 7,5 euro. Harga tiket sprinter 2,1 euro dengan surchage 1 euro.
Sepintas isi itinerary saya untuk perjalanan kami di Amsterdam. Please don’t mind the language!
Ini hal-hal yang menjadi kendala selama kami merancang itinerary:
Visa Schengen Eropa itu sangat…. Bikin ngiler. One single visa for 20something (25 kalo ga salah) countries. Dengan visa yang kami dapatkan tersebut, hell, we can go to Greece! Cukup sulit menentukan negara mana-mana saja yang worth it dikunjungi dan sesuai kebutuhan. Pada akhirnya, pilihan jatuh ke Belanda-Belgia-Prancis-Spanyol-Jerman.
Kedua negara yang pasti kami kunjungi adalah Belgia dan Jerman. Prancis adalah bonus utama, karena saya sama seperti remaja picisan lain yang termakan isu romantisme Eiffel. Belanda kami pilih sebagai negara lain, karena Amsterdam kerap dipatok sebagai “gerbang” menuju Eropa. Setelah melihat berbagai website bus lintaseropa, saya melihat rute Paris-Barcelona yang dibandrol dengan harga super miring-20 euro (alias 320ribu saat itu). Jadilah pilihan negara terakhir kami-Spanyol.
2. Kesesuaian jumlah negara yang ingin dikunjungi dengan bujet dan jadwal.
Enak kalo emang travelling-nya pure buat liburan. Dalam kasus saya, saya punya jadwal konferensi ilmiah, jadi ada tanggal dengan jadwal yang sudah terpeta. Misalnya ada moda transportasinya (Pesawat!), harganya terkadang tidak sesuai kantong.
Sebagai contoh, dari Barcelona, saya harus bertolak ke Berlin karena ada konferensi ilmiah. Kami bisa saja menggunakan pesawat murah meriah Eropa seperti Ryan Air Barcelona-Berlin untuk mempersingkat perkara. Sayang sekali, harganya selangit (tidak sesuai bujet), dank arena bukan overnight trip, kami harus menambah jumlah hari menginap di hostel.
Pilihan akhirnya jatuh ke bus. Memang habis di jalan (overnight), tetapi sesuai jadwal dan masih bisa sesuai dengan keinginan utama (menjajaki Berlin tanggal 18 September).
Ada banyak pertimbangan saat memilih visa. Tentu karena kami ke Eropa, visanya adalah Visa Shengen. Hati-hati, ada beberapa negara yang memang tidak dibawah “payung” Visa Schengen, seperti negara skandinavia atau Romania. Singkat kata, karena negara tujuan pertama saya adalah Belanda dan memang paling lama di Belanda, saya apply untuk Visa Schengen dari Kedutaan Belanda. Lengkapnya ada disini.
Saya dan teman-teman berlomba-lomba untuk booking jadwal apply visa online. Jadwal baru biasanya dibuka setiap hari sejak pukul 18:00 sore (kalau tidak salah). Jadwal yang hijau berarti slotnya masih available, jika merah berarti sudah terisi. Setelah booking, maka kami datang di hari yang dijanjikan (jangan telat!) dengan membawa segudang persyaratan visa.
Terdengarnya memang smooth, tapi sebenarnya cukup deg-degan saat booking visa tersebut (sering penuh)! Akan tetapi, perjalanan kami cukup smooth setelah jadwal untuk ke Kedutaan sudah ada. Kami bahkan tidak diberi charge (alias gratis) untuk pembuatan visa karena, kalau bahasa sok kerennya, tugas kenegaraan. Huahaha.
Tanggal 10 September 2014, kami bertolak dari Bandara Soekarno Hatta menuju Amsterdam dengan menggunakan pesawat direct oleh Garuda Indonesia. Tidak kurang dari 14 jam kami habiskan di atas pesawat. Makanan plus hiburan yang disediakan oleh si badan besi menjadi sahabat kami. 14 jam tanpa transit tidak begitu terasa, terlebih setelah melihat pemandangan Amsterdam dari atas udara yang rasanya langsung mengusir rasa lelah tersebut.
Kebun Bunga Matahari di Halaman Bandara Schipol, Amsterdam
Pukul 00.40 tanggal 10 September kami masih berada di Jakarta, namun pukul 09.30 AM di tanggal yang sama (berkat perbedaan waktu lima jam Amsterdam-Jakarta), kami akhirnya sukses menginjakkan kaki di bandara Schipol, Amsterdam!
Welcome our first wanderlust, Amsterdam! (--to be continued in our next post)