gue rasa gue ini cukup jago kecewa.
ini gue sadari saat menimbang-nimbang banyak hal yang udah terjadi. di dalamnya ada harapan-harapan gue yang gak dan yang belum terwujud; rencana-rencana yang gak terjadi dan yang terjadi di luar rencana; dan momen ketika gue gak dipilih atau merasa gak punya pilihan.
banyak orang bilang kekecewaan itu ada karena terlalu besar berharap.
mnurut gue, kekecewaan ada karena kita salah menakar atau malah belum mampu buat melihat berbagai possibility dari sebuah kejadian.
terakhir kali gue merasa sangat kecewa adalah ketika sahabat gue bilang kalau gue itu 'hanya cocok dijadikan teman bekerja bareng aja, bukan teman dekat'. dengan segala latar belakang peristiwa yang terjadi sebelumnya, di titik itu gue sangat kecewa. gue nangis di tempat. gabungan antara kaget, gak nyangka, dan merasa performa gue sebagai teman dekat sangat buruk sehingga dia bisa merasa seperti itu.
singkat ceritanya, konflik kekecewaan itu malah jadi tempat untuk gue dan teman gue mempelajari dinamika persahabatan kita dengan lebih baik lagi. sampe sekarang pun, kekecewaan itu masih bisa gue recall dan setiap kali gue ceritain ulang, gue masih sangat inget kayak gimana sedihnya gue saat itu.
kesempatan kecewa lainnya ada ketika gue ditolak sama cowo. momen itu juga ga gue sangka-sangka. di masa itu, menurut gue, gue juga belum cukup skill untuk bisa menerka orang lain dengan akurat atau minimal mendekat ke kenyataannya. jadi, singkat cerita, looking back, perasaan kecewa itu salah gue juga.
selain 2 hal itu, gue mencoba buat inget-inget lagi kapan terakhir kali gue ngerasain kecewa. tapi mostly, sejauh yang membekas di ingatan gue, gue cukup bisa meng-handle hal-hal yang gak berjalan sesuai keinginan gue dengan cukup baik.
misal, ketika ada teman yang gak show up di event gue, gue bisa cukup punya kemakluman. 'oh, mungkin ada urusan lain yang lebih penting', atau 'oh mungkin dia lagi gak pengen keluar rumah'. dan ketika alasannya yang kedua, gue merasa nggak masalah untuk dikalahkan dengan keinginan teman gue untuk tetap berada di rumah daripada dateng ke acara gue. meski, i would be very happy if they came.
mungkin gue udah bisa establishing the fact that humans are not reliable. no matter how close your are to the person, they can't always be there for you, especially for a thing that doesn't have anything to do with them.
ada waktu di mana dia nggak bisa aja. atau lo gak se-penting itu aja. atau lo se-gak penting itu aja. mnurut gue, butuh waktu sangat panjang untuk alasan-alasan di atas bisa dan valid untuk dipermasalahkan. dan anyway yang mana pun alasan aslinya, sejujurnya harusnya itu nggak papa.
looking back soal career, misalnya. orang-orang yang ketemu sama gue di writer era gue sekarang ini, pasti selalu ada kagetnya kalau tau dulu gue sekolah teknik, belajar batu, dan punya kesempatan buat masuk ke oil company. belum lama, gue masuk ke percakapan semacam ini, dan gue jadi mikir lagi. 'dih, iya lagi gue gak punya rasa kecewanya.'
bagi gue, karier yang gue pilih sekarang, hal-hal yang lagi gue jalanin, itu sepenuhnya pilihan sadar gue dan udah gue usahakan. ketika gue ingin kerja kantoran, it's only natural for my business to be slower or dormant. i don't have to feel disappointed about it. i mean, do i delegate the business to other people? no. do i create prevention scenario for it not to happen? no. jadi nggak ada yang mengagetkan. gak perlu dikecewakan.
beda sama keputusan gue saat sekolah dan kuliah dulu. semua gue jalanin karena diarahkan, dan kebetulan gue mampu survive, alive. tapi untungnya, gue cukup senang dan enjoy juga saat gue bisa jago matematika, mempelajari gelombang, kesehatan kerja, dan segala ilmu yang bener-bener udah gak punya relevansi profesional apa-apa ke fokus yang lagi gue jalanin sekarang.
gue cuma bisa merasa, kalau dulu gue bisa jujur sama diri gue sendiri, gak butuh pembuktian, dan bertemu orang-orang tepat dengan lebih cepat, mungkin nggak butuh selama ini buat gue akhirnya bisa merasa gue ada di path yang akan gue senangi untuk jangka waktu lama.
tapi, itu aja. pada akhirnya gue bisa menerima kalo keadaannya dulu, emang nggak seperti itu. dan yaudah, gapapa.
menurut gue, kekecewaan itu pada akhirnya, adalah tanggung jawab lo ke diri lo sendiri. bukan hal yang harus butuh orang lain untuk bantu diri lo agar lo gak terhindar dari perasaan kecewa.
kalo lo masih sering merasa kecewa, mungkin lo butuh mendefinisikan ulang arti kekecewaan buat lo.
akhir kata, it takes skills to know what things are worth being disappointed by. good luck!