Persetan dengan maois, trotskyis, serta varian leninisme lainnya yang berkubang di lumpur delusioner. Aku bukan vanguard; bukan pembabibu ayat-ayat ideologis. Aku udara yang melebur bersama gerak rakyat.
wallacepolsom
i don't do bad sauce passes
Peter Solarz
Mike Driver

Kaledo Art

pixel skylines

titsay
dirt enthusiast
$LAYYYTER
RMH
TVSTRANGERTHINGS
🪼

izzy's playlists!
occasionally subtle

Kiana Khansmith
Show & Tell
Jules of Nature
trying on a metaphor

roma★
Stranger Things
seen from Malaysia

seen from Italy
seen from India

seen from United States

seen from Portugal
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye

seen from Canada

seen from Malaysia

seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from France
seen from United Kingdom
seen from Canada

seen from Netherlands
seen from United States
@volkananta
Persetan dengan maois, trotskyis, serta varian leninisme lainnya yang berkubang di lumpur delusioner. Aku bukan vanguard; bukan pembabibu ayat-ayat ideologis. Aku udara yang melebur bersama gerak rakyat.
Pemikiranku di Hadapan Qatar
Semalam sambil lalu melalui berbagai perbincangan di media, massa maupun sosial, Piala Dunia Qatar dan segala pembahasan mengenainya, menyeruak. Aku bukan seorang penggemar sepakbola, tapi aku bisa saja menikmatinya. Terlebih jika begitu banyak hal yang dapat dipikirkan berkenaan dengan pegelaran sekali dalam empat tahun itu.
Mungkin aku bisa bilang kalau Qatar adalah negara dengan kebudayaan Islam yang kental yang pertama menjadi tuan rumah Piala Dunia. Pegelaran yang aku pikir awalnya identik dengan negara-negara Eropa, atau Barat dalam artian umum. Sehingga anggapanku adalah suatu ketidakmungkinan dalam pegelaran tersebut ada unsur-unsur Islam atau akan terselenggarakan di negara dengan aturan Islam.
Karena anggapan ini, ketika akhirnya pegelaran tersebut terlaksana di Qatar, aku memandang ada semacam benturan peradaban atau kebudayaan. Bagaimana suatu negara "Islam" menggelar perhelatan yang biasanya dirayakan dengan beberapa hal yang bertentangan dengan moral Islam?
Namun Qatar sebenarnya bukan negara yang bisa dibilang negara Islam juga. Meski memang dibangun oleh orang Islam dari bangsa asal Islam; Arab, pada praktik kesehariannya Qatar menampilkan diri sebagai negara dan bangsa yang menghormati nilai-nilai sekularitas. Penghormataan ini tidak lepas dari prespektif bisnis di mana Qatar tidak akan bisa bertahan dalam percaturan perekonomian jika tidak bersikap begitu.
Qatar adalah negara kecil yang sangat bergantung pada sumber daya manusia dari luar. Manusia-manusia unggulnya datang dari Eropa dan Barat, sedangkan manusia-manusia untuk tenaga kasarnya diambil dari saudara-saudara mereka di Timur, termasuk Indonesia, yang orang-orangnya banyak bekerja di sana sebagai pekerja kerah biru.
Karena itu wajar jika Qatar membuka diri dan menampilkan citra yang ramah kepada Barat. Ini semua adalah bisnis. Tidak lama lagi minyak Timur Tengah akan habis dan mereka mencari cara untuk bisa bertahan dengan membuka Pariwisata. Mereka menawarkan penawaran pengalaman eksotis dunia Timur Tengah kepada para ekpatriat Barat. Salah satunya adalah perhelatan ini.
Jadi memang dalam pemikiranku, Piala Dunia ini adalah semata bisnis yang Qatar jalankan demi bisa meningkatkan pendapatan perekonomian mereka.
Namun ternyata Qatar tidak sepenuhnya meninggalkan Islam ketika menjalankan bisnis ini. Suatu hal yang aku rasa aneh karena entah membuatku ingin bersyukur atau malah tertawa karena kontradiksi dan kemunafikannya.
Qatar melarang miras, LGBTQ+, dan beberapa tampilan serta kampanye lain yang menurut mereka bertentangan dengan aturan Islam. Mereka juga menyisipkan lantunan ayat suci Alquran dalam seremoni pembukaan Piala Dunia. Banyak orang yang mengagumi langkah ini dan menganggap ini suatu kemajuan dalam penampilan Islam ke muka dunia.
Sedangkan aku malah merasa aneh. Aku merasa aneh karena aku melihat Islam yang tereduksi begitu besarnya hingga hanya tampak sebagai aturan-aturan simbolis dan malah menjauh dari esensinya sebagai suatu agama yang seharusnya dekat dengan masyarakat, terutama mereka yang tertindas dan terpinggirkan.
Mereka menampilkan Islam dalam sebagai simbol dalam beberapa unsur pegelaran. Tidak lebih. Pada inti yang sebenar-benarnya, pegelaran ini adalah produk Kapitalisme yang tentu saja dengan berbagai cara mengharapkan keuntungan sebesar-besarnya.
Maka dalam pemikiranku, Qatar secara faktual tidak lebih dari alat Kapitalisme untuk menyukseskan agenda utamanya; memberi kekayaan tak terhingga kepada segelintir oligarki pemegang modal utama. Demi memuluskan agenda utama ini, Kapitalisme tidak peduli, dan tentu tidak akan peduli, berapa harga kemanusiaan dan juga dalam hal ini keagamaan Islam yang harus dibayar untuk itu.
Maka Qatar juga tidak terlalu peduli ketika ada ribuan bahkan ratusan ribu orang, yang dengan asumsi bahwa para pekerja kerah biru mereka datang dari negara-negara mayoritas muslim, umat Islam yang tertindas oleh proyek Piala Dunia itu. Ke mana ukhuwwah islamiyyah? Ke mana solidaritas sebagai sesama muslim? Ke mana kesadaran untuk menjalankan tuntunan Rasulullah untuk adil kepada setiap pekerja?
Mereka juga tidak terlalu peduli bahwa lantunan ayat suci Al-Qur'an yang mereka tampilkan di pembukaan itu adalah sebatas sisipan di antara musik-musik lain yang menggema yang pada akhirnya membuat signifikansi ayat tersebut tampak tidak ada apa-apanya dibandingkan, misalnya, penampilan Jung Kook.
Karena memang buruh hanyalah bagian tak seberapa dalam bangunan Kapitalisme. Mereka hanyalah alat yang dapat diganti dengan mudah. Sedangkan pasar Jungkook jauh lebih banyak secara kapitalistik ketimbang Al-Qur'an. Di balik penampilan Jungkook, ada jutaan Army yang siap melakukan apa saja untuk menyaksikan penampilannya itu. Suatu kenyataan yang tentu takkan dilewatkan oleh seorang kapitalis. Sedangkan Al-Qur'an, berapa banyak?
Qatar sudah mengeluarkan modal yang begitu besar. Bahkan katanya yang terbesar sepanjang sejarah. Mereka, dan Kapitalis di belakang mereka, tentu menghendaki agar modal ini berbalik beserta keuntungannya. Apalah arti beberapa aturan ketimbang pundi-pundi kekayaan yang akan mereka dapatkan? Maka tidak heran meski tampak kukuh di awal, kini aturan-aturan islami yang ada di Piala Dunia mulai goyah. Salah satu yang paling kentara adalah konsumsi alkohol.
Apakah Qatar akan berpegang teguh pada aturan Islam yang mereka gaungkan di awal atau malah akan menyerah dan tunduk sepenuhnya pada satu-satunya aturan dalam kapitalisme; permintaan Pasar?
Aku ragu Qatar akan memilih Islam.
Lagi-lagi soal keteguhan nilai dasar di hadapan negosiasi kapital/pasar. Jeniusnya kapitalisme adalah membuat pihak manapun yang berseberangan dengannya mengamini kontradiksi. Lalu benarkah Qatar menginfiltrasikan Islam ke hadapan Barat via FIFA World Cup 2022?! Jawabannya adalah di proses-proses sebelum gelaran ini dimulai. Artinya: Qatar yang duluan terinjeksi kelaziman ala kapitalis-Barat. Sementara di Negara +62 (kategori Dunia Ketiga) dengan jumlah muslim mayoritas, warganya banyak yang mengglorifikasi langkah Qatar sebagai kemajuan hegemoni negara Islam. Benarkah Qatar bisa mengkonterbalik hegemoni Barat via langkah ini?! Sangat diragukan. Karena tontonan macam sepakbola adalah morfin massa. Membius. Meninabobokan kesadaran. Atau bahkan, membuat kita antipati atas penderitaan umat tertindas. Tontonan hanyalah citra bagi bisnis; sebagai jalan pembuka menuju kemungkinan-kemungkinan arus kapital berikutnya. Kabarnya persediaan minyak dunia Arab hampir sekarat. Dan mereka pengen menjelma sebagai rezim wisata. Bagimu, agamamu. Bagiku, agamaku bukan pelicin kelicikan!
Aku bukan komunis lho yaaah~