Menjauh bukan pergi. Diam bukan tak peduli. Hanya memberi waktu untukmu sendiri.
Karna aku tak pernah tau isi dalam hati.
trying on a metaphor
will byers stan first human second
DEAR READER
Game of Thrones Daily

No title available
dirt enthusiast

titsay
Sweet Seals For You, Always

if i look back, i am lost

ellievsbear

izzy's playlists!
Show & Tell
🪼
tumblr dot com
I'd rather be in outer space 🛸
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

Love Begins
KIROKAZE
taylor price

Kiana Khansmith

seen from Germany

seen from United States

seen from Singapore
seen from Hungary
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Germany
seen from Spain
seen from Germany

seen from Spain
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Italy
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from Croatia
seen from Canada
seen from United Kingdom
@widyaocta31
Menjauh bukan pergi. Diam bukan tak peduli. Hanya memberi waktu untukmu sendiri.
Karna aku tak pernah tau isi dalam hati.
Ada banyak pelajaran yang alam berikan diluar buku-buku pelajaran 🌿 (di Rivermoon Outbond) https://www.instagram.com/p/B59juo6phJv/?igshid=wgs0sli8qf1k
Menghias Ulang Keseharian
@edgarhamas
Manusia tak lain dan tak bukan adalah hari-hari yang dilaluinya. Ketika hari berlalu, artinya sebagian nyawanya berkurang. Itulah yang dikatakan Hasan Al Bashri dan diabadikan oleh Abu Naim dalam Hilyatul Auliya. Kalimat singkat yang merasuk segenap zaman. Kaidah sederhana itu harusnya dengan mudah tercerna oleh pikiran kita.
Sebab setiap hari berganti, nyatanya tak ada yang sepasti mati.
Yang lain masih relatif, masih mungkin terjadi atau tidak. Namun mati; sudah dititahkan-Nya bahkan sebelum kita muncul di dunia. Maka sederhananya, mati itu tergantung bagaimana seseorang mengisi harinya. Bagaimana kualitasnya, bagaimana ia berseni menghiasnya.
Itulah setitik renungan ketika kita sedang menyendiri, mengevaluasi hari lalu dan merencanakan hari esok. Kita akan tetap sama saja sampai 5 bahkan 10 tahun ke depan jika harian kita tak bertambah hiasannya.
Hari ini banyak orang merasakannya: rutinitas yang berjalan hampa, membuat manusia bahkan mampu melaluinya andai tanpa nyawa.
Hanya diisi baterai di punggungnya lalu mengulang yang sama, selalu sama.
Maka kemana tujuan bahagia itu? Kalau untuk banting tulang demi menciptakan hari tua yang tenang; justru nanti di hari tua kita malah akan merindukan masa muda kita.
Selagi muda, selagi ada kesempatan, Rasulullah saja bilang, "ightanim", manfaatkanlah semaksimal mungkin, "masa mudamu sebelum masa tuamu."
Caranya? Pertama-tama kita perlu membersihkan lagi visi utama hidup kita.
Untuk apa, untuk siapa, dan apa parameternya. Ia akan lebih indah dan terarah jika dipandu oleh Islam yang paripurna.
Sebab arahnya telah memberi ruang kebahagiaan pada umat manusia sejak zaman Adam sampai kelak akhir manusia. Nabi-nabi pun tugasnya berinti pada mengajak manusia membeningkan visi utamanya dalam hidup ini; menyembah Allah, dengan segala dimensinya dan segala konten beranekanya. Ia bukan ritual semata, ia jalan hidup. Ia bukan gerakan shalat semata, ia desahan napas.
Jika visi sudah terbersihkan, kita akan punya spirit baru untuk menata bagaimana hari-hari berjalan. Orientasinya bukan lagi tolok ukur rutinitas yang membelenggu, tapi naik kelas jadi waktu-waktu produktif yang memberkahi setiap detik hidup berlalu. Jadilah ia menghidupkan, menyegarkan. Karena yang kamu lakukan berbalas kehidupan abadi.
Maka kamu tak resah dan tak pusing. Andai dunia tak memberimu penghargaan semestinya atas hasil kerja kerasmu, maka ingatlah langit selalu adil.
Bahkan Allah Mahakasih melipatgandakan untukmu amal baikmu. Bayangkan saja, niat baik dihitung pahala, melakukannya jadi sepuluh. Berniat buruk tak diganjar apa-apa, melakukan dihitung satu. Betapa baiknya Allah Sang Maharaya.
Saatnya merenung lalu merencanakan, bagaimana harian kita hidup dengan pekerjaan-pekerjaan kecil yang bisa membesarkan ganjaran.
Mata Paling Pesimis
Sudah banyak orang bicara perihal pahitnya kehidupan. Bahkan tak sedikit yang bercerita sampai berbusa, seakan-akan dia orang paling sengsara di dunia.
Sudah banyak orang berbagi pengalaman, bagaimana ia pernah terjatuh, bangkit, jatuh lagi, lalu bangkit lagi.
Kita pun, tak kurang referensi bagaimana kiat-kiat menghadapi sulitnya hidup, pahitnya kegagalan, atau beratnya perjuangan menggapai kesuksesan.
Tapi tahukah kamu, apa yang paling pilu dan menyakitkan di dunia ini tapi belum pernah ada satu orang pun yang berbagi pengalaman tentang itu sebelumnya?
SAKARATUL MAUT!
Jika mau lihat mata paling pesimis, lihatlah mata orang sakaratul maut.
Saat itulah dirasakan sakit yang teramat sakit. Mata membelalak, entah karena kesakitan, atau karena dipenuhi penyesalan. Lidah tercekat, tak sempat ada kata maaf dan terima kasih, atau sekadar ucapan selamat tinggal untuk orang-orang tersayang.
Datangnya tiba-tiba. Ingin teriak meminta tolong, tapi siapalah manusia yang bisa menolong. Dokter dan pengobatan terbaik pun, tak ada yang sanggup menolong.
Sebaik-baiknya manusia, tak ada satu pun yang luput dari perih dan sakitnya sakaratul maut.
Lantas bagaimana kita yang kurang ilmu, sedikit amal, banyak mau, dan banyak mengeluhnya ini?
Taufik Aulia
ya allah, aku yang suka ngeluh padahal masih hidup dan masih dikasih kesempatan berusaha loh...kurang2in mulai besok !
-aku kepada aku
Assalamualaikum kak.. Saya perempuan 22 tahun, Saya mau tanya, menurut kk dlm memilih calon pasangan hidup itu kriteria yg paling d butuhkan itu seperti apa? Dan cara menyakinkan diri kalo dia yg terbaik itu gimana? Dan untuk saat ini, saya masih takut untuk melangkah ke jenjang yg lebih serius, bnyak pertimbangan yg masih menjadi beban, saya memang belum sepenuhnya baik, tpi insyaallah ingin dan selalu mau brlajar untuk menjadi lebih baik 😊
Usia 22 Tahun Mikirin Pasangan Hidup?
Wa’alaikumsalam wr wb.
Hei, Anon, kamu itu masih 22 tahun. Saya tidak tahu buku apa yang kamu konsumsi atau film apa yang kamu tonton. Umur yang masih segar-segarnya begitu, kenapa yang kamu pikirkan malah calon pasangan hidup? Lagipula kamu sepertinya salah bertanya kepada orang yang sudah kepala tiga tapi juga belum menikah. Kamu bisa bertanya kepada mereka yang sudah menikah di usia muda.
Tapi, kalau saya jadi kamu atau saya sebagai kakak kamu, atau guru kamu, atau om kamu, atau orang yang kenal baik dirimu, saya akan menasehati kamu seperti ini:
1) Lebih baik kamu berpikir kamu akan menjadi apa sampai umur 29, lalu kamu akan menghasilkan apa setelah umur 30. Putuskan baik-baik kamu akan berjalan di dunia mana. Umur 22 tidak banyak pengalaman yang kamu punya; masih sedikit dunia yang kamu lihat; dan tidak mencukupi kegetiran hidup yang pernah kamu rasakan. Sekarang saatnya kamu mencoba. Banyak mencoba hal-hal baru yang akan membuka cakrawalamu. Seperti kuasai bahasa asing, pelajari peta dunia, tonton Youtubers global yang membuka horison dalam kepalamu. Di umur 22, kamu mulai merencanakan untuk membangun sesuatu. Bangun peradaban. Bangun perpustakaan. Bangun perusahaan. Bangun fasilitas pendidikan. Bukan bangun perumahtanggaan.
2) Please, pikirkan orang lain selain dirimu–jika kamu sudah tuntas dengan dirimu sendiri. Pikirkan anak-anak yatim di sekitar rumahmu; pikirkan anak-anak di pedalaman hutan Sumatera; pikirkan bagaimana anak-anak perbatasan bisa sekolah; pikirkan orang-orang Sumbawa yang butuh air; pikirkan bagaimana memberantas buta huruf di pedesaan; pikirkan bagaimana muncul 75% menteri adalah perempuan; pikirkan bagaimana KDRT hilang di Indonesia hingga 95%; pikirkan agar ibu-ibu bisa cuti melahirkan 6 bulan; pikirkan agar orang-orang yang peduli selangkangan juga peduli hak pakai hijab; pikirkan agar tidak ada lagi pengemis di jalanan; pikirkan agar tidak ada lagi bayi-bayi yang dieksploitasi; pikirkan agar perempuan tidak lagi menjadi objek seksual di acara-acara televisi; pikirkan bagaimana kualitas tayangan acara kita mampu mendidik anak-anak Indonesia; pikirkan agar tingkat literasi masyarakat Indonesia mencapai 95%; pikirkan bagaimana anak-anakmu kelak bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik.
Bisakah kita semenjak usia belia memikirkan ini semua? Mampukah kita semenjak belia berpikir soal permasalahan bangsa, bukan sekadar hal-hal receh?
Sepanjang pengetahuanku, kisah-kisah heroik di peradaban Islam sekalipun dibangun oleh pemuda-pemuda yang melatih dirinya menjadi generasi yang tak mudah mengeluh. Di usia muda mereka memikirkan bagaimana menaklukkan Andalusia, Konstantinopel, Roma! Ya, Roma. Masih sisa satu lagi kota yang belum ditaklukkan oleh umat Islam. Ini nubuwah. Mengapa kita tidak membahas bagaimana cara menaklukkan Roma? Alih-alih kita bertanya kriteria pasangan hidup? Kamu berpikir hidupmu dihabiskan hanya untuk pasangmu saja? Goddamn no. Kenapa tidak dalam forum-forum gosip, anak-anak muda kita berpikir untuk merealisasikan berita nubuwah–yang kita tahu itu pasti terjadi, tapi kita tak pernah tahu siapa yang akan merealisasikannya? Kenapa kita tidak berikrar bahwa KITALAH pemuda-pemuda itu? Kenapa bukan kita yang bergenggaman tangan bertekad menjadikan Indonesia makmur sejahtera? Kenapa bukan kita yang menjadi pelita dan harapan dari 250 juta rakyat yang kehilangan arah?
Kamu masih banyak waktu untuk menjadi, melakukan, dan menghasilkan sesuatu.
Kecuali kamu, di usia yang 22 tahun ini, bisa mendapatkan seseorang yang mampu mendampingimu merealisasikan dua poin di atas. Itu super dan itulah kriteria yang aku sarankan untukmu. Dia sudah pasti yang terbaik.
Makdegmaktratap.
Aku juga perempuan usia 22 tahun, dulu waktu umur belasan pengen banget nikah muda wkwkw entah apa yang merasukiku~, sekarang malah terlalu nyaman sendiri, menikmati masa-masa kuliah, ikutan organisasi, cari beasiswa, bantu ngajar, bantu ibuk kerja dirumah, kalau capek, pergi ke gunung. Kadang kemana-mana sendiri, ke mall sendiri, beli kain sendiri, ke seminar sendiri, ke kajian sendiri, saking gaada orang yang mau diajak berangkat gara-gara mager. 😂 (ga capek apa ya bikin pager mulu pfft -,-)
Setelah sampai di usia ini masih aja belum siap buat nikah. Nikah? pengen.. Siap? Belum blassss. Tapi juga gak mau nikah tua-tua, maksimal 26 laa (maksa 😂). Jadi banyak ketakutan-ketakutan perempuan kalau nikah di usia yang hampir kepala tiga, salah satunya soal kehamilan. Terus ada beberapa orang ngomongin, “jangan lama-lama, nanti jadi prawan tua”. Perempuan suka main perasaan, kalau udah digituin malu, minder, buru-buru minta dijodohin. Tapi gara-gara buru-buru nikah dan jodohnya juga yang apa adanya, nyesel. KDRT lah, baru keliatan sifat aslinya lah, galak, suka ngomel-ngomel, gak sabaran, gak sholat, ngrokok, hp teros, dst.
Tapi kita berhak milih mau nikah di usia kepala berapapun. 😆 Semantepnya hati aja. Kalau merasa udah siap lahir batin, udah siapin ilmu-ilmunya, udah belajar nanti kalau udah nikah ngapain aja, jangan bayangin enaknya doang, harus siap menerima semua resiko-resiko buruknya.. Yaudah, nikah aja. Asal ada pasangannya yang siap juga. 😂
Oke cukup ngomongku. Wkwk
yosh.
kemarin sempet resah trus tanya temen2 seumuran. "eh apakah ujung dari kita kerja keras dan lulus kuliah, kita hanya berujung pada menikah?" bermacam2 jawaban temen2 karna memang berbeda pemikiran. ada yang sepakat bilang iya, pun ada juga yang bilang tidak tapi belum tau kenapa alasannya.
hihi.. dan aku sudah menemukan jawabannya pun ditambah penguat karna baca ini [terimakasih tulisannya sangat bermanfaat]
em.... jadi, setiap kita pasti punya mimpi, punya keinginan yang ingin dicapai dikemudian hari...hanya saja saat ini kita lupa karna tak pernah menuliskan mimpi itu dan mungkin juga realita hidup kita sulit sekali mencapai mimpi tersebut.
tapi, setidaknya jika kita menuliskannya kita akan mengingatnya dan mengusahakannya.
gitu.
semangat untuk kalian2 yang berumur 20-an. Galau, resah, sedih, malas, capek, dan perasaan2 menyebalkan lainnya.. nikmatilah, inilah prosesnya.. ini adalah fase dan masanya..
bukanya hanya ijasah dan ijabsah yang kita harus capai, tapi mimpilah yang harus kita kejar !!
Rangkul teman sebanyak-banyaknya.. ambil manisnya, buang sepahnya.... eh.. jangan buru-buru mikir *kok jahat sih.. bukan.. bukan gitu.. maksudnya, ambil baiknya.. buang buruknya.. tapi juga tidak dibuang mentah-mentah.. siapa tau ada yang bisa kita olah..dan kita alih.. iya, alih-kan ke sisi baiknya lagi. Gitu :)
Coba menghilanglah barang sehari, lalu lihatlah lingkungan yang kau tinggal itu. Apakah berjalan normal-normal saja dan tak banyak hambatan saat kamu tak ada? Apakah tak ada seorang yang mencarimu? Jika iya, mungkin saja ada dan ketiadaanmu sama saja bagi mereka. Mungkin saja adamu tak berarti apa-apa. Atau lebih jelasnya lagi, adamu tak ada gunanya. Tapi jika sebaliknya, lihatlah bahwa kamu punya tanggung jawab, kamu punya harga diri.
mungkin saja bukan "ada dan ketiadaanmu sama saja bagi mereka" atau "adamu tak berarti apa-apa" atau lagi "adamu tak adanya gunanya"
mungkin bukan mereka yang tak menganggapmu ada, tapi kamu yang selama ini tak menganggap mereka, coba sesekali tengok lingkungan, memperhatikan orang2 sekitar dan libatkan dirimu disana.
maka "ada mu" akan berarti apa-apa. "Ada mu" akan berguna.
SETIAP ORANG PERNAH BERJAYA DIMASANYA
barusan buka google foto, scrol ke bawah disekitar tahun 2015an (?) menemukan foto bersama teman2 seperjuangan. hehe. temen-temen SMK.
gak tau tbtb rindu, rindu tentang susah-susahnya dulu untuk mencapai sebuah pencapaian untuk lulus, untuk membuka pintu kehidupan yang sebenarnya,
waktu SMK yang berbeda dari sekolah-sekolah sebelumnya, iya SMP dan SD tentunyaa....
masa dimana aku pernah merasa jaya2nya hahahaa *eh.
dari mau daftar dengan perjuangan dan pengorbanannya budhe waktu itu, ibuk, mbak sodara. ah terimaksih *ngusap ilu.
kelas 1 (eh kelas X *baca sepuluh* ya hihi) yang biasa aja sih. Mulai kelas XI yang udah nyari uang saku sendiri, bayar sekolah sendiri dari hasil ngeles, ngambil donatur dari sebuah yayasan, alhamdulillah dapat beasiswa juga. Allah baik ❤
Kelas XI yang sudah banyak drama2 nya... saat itu jadi ketua kelas yang semua isi kelasnya cewe2.. pffttt betapaaaa hancurnyaaaa hati dan jiwakuuu *eh.
betapa sedikit banyak sulit untuk mengatur mereka xixi banyak sekaliiiii jika ku ceritakannn. *dah lanjut saja
oke. dikelas XII, dimana mendekati ujian banyak sekali ujian praktek yang harus dikerjakan... drama, seni musik, seni tari, sampai tiba masa pentas waktu itu.
semasa latihan drama yang bener bener penuh "DRAMA" haha nangis2, marah2, hiks maafkan kawan
etttt tpi itu yang bikin sekarang rindu tentang masa2 berjuang..
sejaya itu dulu aku.. *kayaknya.
belum di ekstrakulikuler ROHIS, banyak kali kawan2 ku yang..... emmm... enggg.....tak bisa kujelaskan.. terlalu indah...
dah.
gitu dulu.
kalean juga pernah punya masa kejayaan?
coba ceritakan, siapa tau kita bisa berbagi pengalaman, ya kan?
Kehendak waktu
“Laut yang terlihat tenang menyimpan ombak besar di dalamnya. Begitu pula manusia, terlihat baik-baik saja, tetapi siapa yang tau keresahannya.”
Ada masa-masa di mana kau tak dapat menceritakan apapun. Hanya memendamnya seorang diri, sebab dirimu sendiripun tak bisa mendengarnya.
Sedalam kau berusaha memahami, namun tetap tak dapat kau mengerti. Sebanyak sabarmu meredam, namun tetap sulit kau terima.
Hingga kau hanya bisa diam, menangis merutuki kesalahanmu sendiri. Kau hanya bisa diam, tertunduk menghadapi kemarahanmu sendiri.
Hingga satu-satunya pilihan yang kau miliki hanyalah mengembalikannya. Membiarkan waktu menjelaskan kehendaknya.
—ibnufir
ada waktunya hanya ingin sendiri, tanpa sapa, tanpa siapa, tak tau ingin apa, hanya ingin berteman do'a.
ya percuma kalau orang orang disekitar bikin nyaman, kalo kamunya sendiri ndak nyaman.
gitu kan? gitu ndak sih? kok aku ngrasa gitu ya?
ketika orang orang di kerjaan sudah seperti keluargaa, tapi ada beberapa orang, beberapa faktor, dan beberapa sebab yang bikin kita ndak nyaman. Ya ndak nyaman.
hmm.. resign sudah berada di setiap pikiran.
Bukan menyerah, bukan ndak mau bertahan. Tapi melangkah kedepan dan kembali berjuang.
yaqin~ rejeki bukan hanya di satu tempat asal kita mau mencari, berusaha, dan berdoa.
Area Tunggu. Ada yang menunggu, pun ada yang ditunggu. Mereka sama-sama takut akan rindu. Tapi sekarang, nyatanya jarak dan waktu bisa ditempuh dengan mudahnya agar bisa bertemu. Diri sendiri pun sebenarnya sudah tau, akan teori 'jarak menghasilkan rindu' tapi hati, kadang pura-pura lupa akan itu. Sehingga menjadi sesak dan menangis tersedu-sedu. Ah~ manusia memang suka gitu. Berdoa saja, biar Allah tenangkan hatimu. Tak perlu begitu. https://www.instagram.com/p/BuZwpH5ARnV/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=193hvhvu1ntw
Tergores pena hitam diatas kertas putih, menjadi samar karna tangis.
lembar ke 58 dari 365
tangis alam sih, hujan maksudnya~
manusia cuma ahli teori, saat itu terjadi malah tak bisa menguasai hati sendiri.
ah kamu. *aku deng
Pulang.
MUAHAHAHA. HAI TUMBLR!
Aku ‘pulang’!
Baiklah, aku akan melakukan pengakuan. Pengakuan bahwa beberapa saat terakhir terlalu bersenang-senang di instagram. Tapi tetaplah ya, tumblr adalah tempat ternyaman untuk 'membuang’ pikiran. Aku cuma menempatkan sesuatu dengan tepat pada tempatnya. Setidaknya menurutku. Wkwk.
Kenapa memilih 'buang pikiran’ di sini padahal sama-sama akan dibaca? Penghuni instagram agak kejam menurutku. Mereka menuntut melihat apa yang kita kenakan, bukan apa yang kita pikirkan. Makanya, aku yang manusia biasa ini, cari aman saja. Muahaha. Cih, Hana. Jago kandang. Wkwkwk.
*menghela nafas panjang*
Bukan berarti di Instagram aku mencoba untuk tidak menjadi diri sendiri, mencoba membangun image seperti yang netijen mau. Di sana aku tetap aku. Cuma kayak….aku yang lagi di teras rumah. Sedangkan di sini, aku yang lagi di dalam rumah.
Mengetik di sini kayak lagi selonjoran setelah pulang dari plesiran.
Rasanya kayak…pulang.
Perkerjaan impian katanya, nyatanya bukan.
Waktu masih sekolah, maunya pengen jadi pekerja kantoran. Kerja ditempat ber-AC. Punya meja kotak sendiri, penuh dengan tumpukan kertas, ada fasilitas komputernya. Nyatanya ketika dituntut tekanan atasan, banyak keluhan.
Pekerjaan impian sebenarnya pekerjaan yang membuat hati menjadi nyaman, tenang, lapang. Kan?
Status-status tanpa alamat
Tak pernah sampai
Aku bertahan dan tak pernah berpaling bukan karena tak ada yang lebih menarik, melainkan karena sesuatu paling mahal yang pernah kumuliki adalah kesetiaan.
— Taufik Aulia