If you only knew how much I love abandoned greenhouses..

PR's Tumblrdome
we're not kids anymore.

Kiana Khansmith

★
Peter Solarz

ellievsbear

Discoholic 🪩
Alisa U Zemlji Chuda
d e v o n
styofa doing anything
will byers stan first human second
I'd rather be in outer space 🛸

⁂
Xuebing Du

Love Begins

roma★
sheepfilms
Three Goblin Art
Game of Thrones Daily

祝日 / Permanent Vacation

seen from United States

seen from United Arab Emirates

seen from Belgium
seen from Italy
seen from Australia

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Italy
seen from Liechtenstein

seen from France
seen from Portugal
seen from United States
seen from United States

seen from Austria
seen from United Kingdom
seen from Finland

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from Ukraine
@crlins
If you only knew how much I love abandoned greenhouses..
Nda bisa basa enggres I don't speak english i speak fafifueaseeswos
‘How To’ Accept Negative Emotions
semua gambar yang disertakan di sini ditemukan dari Google, cuplikan dari film Inside Out (2015). Credit to Disney. Ini karena film Inside Out bagus banget untuk menggambarkan penerimaan terhadap emosi negatif
Beberapa hari kemarin, saya ngepost tulisan berjudul Negative Vibes yang terbagi menjadi bagian satu dan bagian dua saking panjangnya. Terus terang, nulisnya ngga pake outline atau rencana, tau-tau sebanyak itu. Karena merasa tulisannya udah kepanjangan, yaudin jadinya kemarin menyetop jari sendiri. Lalu dipikir-pikir, kayaknya walaupun udah panjang-panjang tetep masih kurang deh. Haha. Yauds lah ya, ini kan blog pribadi. Tulisan ini bisa disebut sebagai bagian ketiganya. Mungkin nanti bakal ada lanjutan-lanjutannya, semacam tulisan yang terkait satu sama lain.
Oke, jadi, sebenarnya yang saya tuliskan di bawah sudah saya sisipkan juga di tulisan Negative Vibes, tetapi, ini versi panjangnya aja. Karena, ada beberapa pertanyaan bernada, “Bagaimana cara menerima negative vibes dalam diri kita?”
Saya paham betapa sulitnya memulai sesuatu, betapa kakunya untuk mengubah suatu kebiasaan yang sudah lama mendarah daging. Saya juga masih belajar untuk menerima negative vibes yang saya alami.
Dari sedikit pengalaman ini, saya merasa ada tiga hal penting yang harus dilakukan saat kita berusaha menerima negative vibes, atau dalam konteks ini, lebih spesifiknya adalah menerima negative emotion yang kita alami.
1. Call its name
Lima emosi dasar manusia: Senang, sedih, takut, marah, dan jijik
Kenali emosi yang mengisi hati kita. Ada banyak sekali jenis emosi, tapi emosi dasar ada lima: senang, sedih, marah, jijik, dan takut. Emosi lainnya tentu masih ada, misalnya emosi tenang, murka, stres, merasa bersalah, malu, kaget, tertarik, cinta, benci, kagum, kasihan, dan lain-lain. Bahkan, dalam sebuah studi di University of California, C Berkeley terungkapkan bahwa ada 27 jenis emosi yang berbeda-beda yang bisa kita alami.. Kadang bedanya tipis sih, jadi mungkin susah juga ngebedainnya.
Terbatasnya kosakata yang biasa kita pakai untuk mengungkapkan perasaaan kita juga bisa bikin kita bingung membedakannya. Misalnya, antara sadness dan grief. Kalau diterjemahkan secara sederhana, keduanya berarti “Sedih.” Padahal, sadness itu suatu perasaan sedih yang tidak berlangsung lama alias intensitasnya rendah, sedangkan grief adalah kesedihan yang berlarut-larut dan berkepanjangan.
Contohnya, kalau saya kehilangan buku saya, saya bakal sedih, iya. Tapi rasa sedihnya tentu jauh lebih kecil dengan rasa sedih ketika saya kehilangan orang-orang yang saya sayangi. Yang contoh pertama itu sadness, yang contoh kedua grief. Kalau di bahasa Indonesia, saya ngga tahu deh, mungkin padanan yang cocok untuk grief adalah: merana, nestapa, atau muram durja. Kesan intensitas sedihnya terdengar lebih besar beberapa kali lipat.
Emosi juga ngga selalu berdiri sendiri, kadang mereka berkombinasi. Misalnya, perasaan marah dan sedih, senang dan sedih, sedih dan takut, dan lainnya. Kalau kamu pernah nonton film Inside Out pasti inget kan waktu si Joy (Emosi senang) dan Sadness (Emosi sedih) bekerja sama menghasilkan emosi sedih dan senang, yang berujung pada perasaan lega yang dialami Riley.
Nah, untuk bisa menerimanya, tentu kita harus mengidentifikasi terlebih dahulu, emosi apa sih yang memenuhi hati? Sebut namanya, jika perlu.
“Saya sedang sedih,”
“Saya marah,”
“Saya sedih dan takut,”
Bisa juga terjadi, kita mengalami emosi yang sangat kompleks, misalnya terdiri dari sebelas emosi sekaligus. Waduh banyak ya? Iya, bisa saja kan kita mengalami emosi sebanyak itu dalam waktu bersamaan. Bayangkan perasaan seseorang yang dikhianati oleh pasangannya. Dalam satu ‘wadah’ yang sama, dia bisa ngerasa sedih, marah, dendam, cemburu, kecewa, merasa dikhianati, merasa tidak berguna, merasa bersalah, jijik, benci dan cinta sekaligus. Sebanyak itu sampai sulit kalau disimpulkan menjadi satu jenis emosi saja. Walaupun, kita kadang menyebutnya dengan satu kalimat pendek: hatiku hancur! Kalau itu terjadi, cobalah untuk mengenalinya pelan-pelan. Tapi, poinnya adalah kita sadar bahwa kita tengah mengalami suatu perasaan yang negatif. Sadari saja dulu. Jangan menolak pakai alibi, “I’m okay.”
You know what? It’s okay not to be okay, kok :)
2. Don’t feel bad for feeling something bad
Joy menganggap Sadness sering merusak suasana, sehingga ‘memaksa’ Sadness menjauhi papan kendali emosi. Joy yang dominan tak ingin Riley merasa sedih.
Setelah kita aware terhadap apa yang kita rasakan, biasanya logika kita mulai berkomentar macam-macam. Logika kita mulai membangun alasan-alasan, kenapa kita ngga seharusnya merasakan emosi-emosi itu.
Misalnya, ketika sedih, logika kita berkata, “Ih, kamu kok cengeng sih.. Gitu aja sedih. Kuat dong.”
Atau, ketika kita merasa cemburu sama orang lain, logika kita menilai bahwa kita seharusnya ngga merasa begitu, “Memalukan, masa seorang kamu cemburu sama hal seperti itu” dan berbagai penilaian lainnya yang mengarahkan kita untuk merasa buruk karena mengalami emosi yang buruk, alias feel bad for feeling bad. Kayak cerita saya di tulisan bagian pertama yang malu kalau cerita-cerita ke orang lain tentang masalah saya karena saya melihat orang lain hidupnya sangat positif (beda dunia) dan takut dianggap menebarkan negative vibes, merusak citra diri, dan sebagainya.
Nah, don’t do that. Don’t judge yourself. Don’t feel bad for feeling something bad.
Itu semua normal banget kok dialami semua manusia. Kita semua adalah orang-orang yang pernah dipatahkan hatinya oleh kehidupan. Dan rasanya patah hati ya sakit. Hidup itu sulit, menurut perspektif negatif. Hidup itu menantang, menurut perspektif positif. Jadi, ngga perlu merasa malu atau merasa kalah karena mengalami perasaan negatif itu, even heroes have the right to bleed (kata lagunya Five For Fighting–Superman).
3. Be honest to your significant other
Riley akhirnya menyatakan perasaan sedihnya pada orang tuanya
Setelah di poin pertama kita jujur pada diri sendiri, di poin ini saya ingin bilang bahwa kita juga perlu lho jujur pada orang lain. Bukan ke orang asing juga sih, tapi ke orang-orang yang beneran care sama kita, orang-orang terdekat kita. Tahunya dia care darimana? Dari cara mereka bertanya. Ada juga kan yang bertanya, “Apa kabar?” sebagai basa-basi. Tapi ada juga kok yang bertanya begitu karena peduli. Yang ngga berhenti sampai kamu menjawab hal yang sejujurnya.
A: Kamu kenapa?
B: Ngga papa. Cuma sedih.
A: Mau cerita? Aku juga sebenarnya lagi sedih nih.
B: Lho, kamu sedih kenapa?
A: Karena ngeliat kamu sedih. Kalau kamu?
B: *nangis*
Ini penting banget sih menurutku. Kalau kita selalu tampil sok-sok kuat gitu, orang lain ngga bakal tahu kalau kita sebenarnya butuh bantuan. Kalau ngga ada yang peka sama kita, kita juga kan yang jadi merasa sedih dan sendirian, “Kok ngga ada yang bantuin sih. Ngga ada yang peduli sama aku.” Padahal kan itu mungkin bukan karena orang lain ngga peduli, tapi karena mereka belum tahu, karena kita belum membuka diri.
You will be helped
Umumnya, emosi itu muncul sebagai respon dari masalah yang kita hadapi. Misalnya, kita gagal lulus ujian, itu masalah utamanya. Nah, karena kegagalan itu, kita merasa sedih, sedihnya ini masalah emosi. Ada suatu keyakinan (atau bisa disebut teori juga mungkin), bahwa kalau kita mengalami masalah emosi ya berarti diperbaikinya juga pakai cara yang berlaku untuk emosi, bukan pakai cara logika. Sebaliknya, kalau masalahnya adalah masalah yang perlu penanganan logika, ya pakai logika, jangan pakai emosi. Jadi jangan kebalik.
Kegagalan dalam ujian tentu saja harus ditangani pakai cara logika, ya belajar lagi, ikut remedial. Nah, tapi kalau soal emosi, ngga selalu bisa gitu. Ngga bisa serta merta kita ajak supaya tunduk dengan cara-cara logika, misalnya dengan kita buat rasionalisasi. Kalau emosi ya pakai cara emosi juga, misalnya dengan mengekspresikannya (tentu dengan ekspresi yang ngga berlebihan juga). Kalau sudah mengalir, baru kita gunakan rasionalisasi, misalnya, “Oke, aku pasti bisa menghadapi ini.”
Seringkali, masalah utamanya ngga terlalu sulit, tapi karena diiringi oleh masalah emosi yang besar, masalah utamanya jadi terasa besar. Saya juga ngalamin ini. Misalnya pas ngerjain skripsi. Sebenarnya saya yakin saya bisa menuliskan penelitian saya, ikut seminar hasil dan seterusnya, tapi ada masalah emosi yang mengiringinya dan karenanya ngerjain skripsi jadi beraat sekali. Pasti bukan saya aja yang ngalamin. Masalah emosinya bisa bermacam-macam kan, trauma sama dosennya, kesal sama peraturan yang ribet, cemas, dan banyak lagi.
Kalau gitu, masalah emosinya dulu yang diselesaikan. Kalau butuh terapi ke ahlinya, ya terapi. Kalau butuh teman, ya cari teman. Intinya, jangan biarkan emosi negatif itu jadi menguasai hidup kita. Oke kita menerima keberadaannya, kita menerima kenyataaan bahwa emosi negatif itu kita rasakan, tapi kendali tetap ada di tangan kita. Bukan berarti kita boleh membiarkan emosi negatif jadi mengambil hak pilih kita. Itu juga bahaya.
Anggap emosi negatif itu cuaca dingin di pagi hari. Karena cuacanya dingin, bukan berarti kita jadi boleh bolos sekolah atau kerja kan. Kecuali ada badai salju, yang tentunya membahayakan.
Kecuali kalau problem emosi kita sudah sangat parah dan kita ngga mampu melihat jalan keluarnya. Itu satu pertanda bahwa kita butuh bantuan orang lain. Ada ahli yang disebut psikolog dan psikiater yang bisa membantu. Well, saya bukan ahli, semua tulisan ini murni mengalir dari pengalaman dan hasil baca-baca. Jadi mungkin banyak kelirunya juga. Kaget juga sih jadi banyak yang curhat. Saya juga bingung jawabnya gimana. Meski begitu, saya tahu bahwa dalam menghadapi suatu masalah, seringkali kita pertama-tama sekali perlu merasa bahwa kita ngga menghadapinya sendirian, bahwa ada juga kok yang mengalami masalah yang sama. Dan, ya, kamu ngga sendirian kok :)
MOOD BOOSTER
"Hujan reda, kamu tidak", kata bang Taufik Aulia.
Kemarin waktu ngajar, hujan. Anak-anak juga pada nggak bawa payung dan nggak dijemput orangtuanya di masjid. Saya pun nggak bawa payung. Alhasil, saya pinjam payung jamaah yang rumahnya dekat masjid. 3 payung, yang 1 bagus, yang 2 rusak tapi masih bisa dipakai, yang penting anak-anak bisa pulang dulu. Saya antar mereka sampai rumah seperti ojek payung :D semenyenangkan ini bercanda dengan mereka dikala hujan.
Sampainya di rumah mereka, mereka tetep salim sama saya. Yang 1 ngibrit sampai depan pintu, tapi balik lagi nemuin saya buat salim :D masyaAllah, tabarakallah nak.. Semoga jadi anak sholiha... Terima kasih udah jadi mood booster embak ya..
SINOPSIS KEHIDUPAN ROSULULLAH SAW
by. M. Anis Matta Lc
Pernahkah anda mencoba merunut jejak jejak kehidupan Rasulullah ?
Ada tiga tahapan penting dalam kehidupanya: 1).Sebelum kenabian (0-40 tahun) 2).Dakwah di Mekah (40-53 tahun) 3).Dakwah di Madinnah (53-63 tahun)
Tahap pertama terbagi dua: A. Sebelum menikah (0-25 tahun) B. Setelah menikah (25-40 tahun)
1).SEBELUM KENABIAN (0-40 thn)
Rssulullah Saw. Adalah seseorang yg dilahirkan oleh Siti Aminah dari seorang ayah yg bernama Abdullah. Lahir di tengah masyarakat quraisy.
Hari kelahiranya dimulai dg penyerangan tentara gajah, datangnya pasukan Abrahah dari Yaman untuk meruntuhkan Ka'bah.
Usia 0-4 tahun tahun: Beliau hidup di padang pasir bersama kabilah Bani Sa'ad dan selama itu mendapatkan ASI dari Halimah As-sa'diyah.
Usia 4-6 tahun: Tinggal bersama ibunya. Usia 6 thn ibunya meninggal dunia sepulang mengunjungi makam ayahnya di Madinah.
Usia 6-8 thn: Tinggal bersama kakenya. Usia 8 thn tinggal bersama pamanya. Sejak tinggal bersama pamanya. Muhammad kecil sudah bekerja krn Abu Thalib mempunyai banyak tanggungan. Pekerjaan pertama Rasulullah adalah mengembala kambing.
Usia 12 tahun: Ikut bersama pamanya dalam suatu perjalanan bisnis ke Syiria. Disanalah ia bertemu pendeta Bahira yg meramalkan Muhammad sbg nabi ter-akhir.
Usia 15 tahun: Beliau terlibat dlm suatu peristiwa militer paling penting , yaitu perang Fijar yg terjadi antara Quraisy dan kaum lainya selama 4-5 tahun (15-19\20tahun).
Usia 20 tahun: Beliau terlibat peristiwa diplomatik perdamaian antara Quraisy dan kabilah lainya. Setelah itu beliau bekerja pada Khadijah, berdagang ke Yaman\Syiria. Sebagai seorang profesional, Rosululloh telah memperlihatkan prestasi yg sangat unggul untuk seorang Khadijah.
Prestasi beliau bukan hanya pada karakter dan integritas pribadinya tetapi juga kompetensinya sbg manajer yg memberikan keuntungan bagi khadijah.
Usia 25 Tahun: Beliau menikah dg Khadijah. Jadi kita dapat melihat apa yg telah di dapat Muhammad pada usia 25 tahun dan pada setiap jenjang usianya.
Momen-momen yg terjadi: 1. Usia 0-4 tahun, hidup di padang pasir yg pertama kali diperolehnya adalah ASI.
Salah satu fungsi ASI adalah mempengaruhi pertumbuhan otak manusia. Sel otak manusia 66% terbentuk ketika ia lahir dan 34% setelah 18 bulan pertama.
Unsur dominan yg membentuknya adalah gizi yg diperoleh dari protein, kolesterol dan asam lemak yg di hasilkan ASI dan minyak ikan.
Asam lemak berguna untuk membentuk sel pembungkus otak yg berpungsi membawa inpuls dari luar dan mendistribusikanya kedalam tubuh.
ASI membentuk kekebalan tubuh seseorang # sehingga secara fisik sempurnalah tubuh belliau#.
2.Dipadang pasir beliau hidup ditempat yg lapang dan membuatnya dekat dg alam. Alam yg terbuka atau tempat yg luas akan menciptakan iklim pikiran terbuka dan membuat hati yg lapang. # secara psikologis Rosulullah di struktur dg baik#
3.Dalam masyarakat Arab, bahasa Arab yg fasih adanya di padang pasir tidak di kota.
Jadi ada proses pembentukan kemampuan oral. Bahasa Rosulullah sudah terbentuk sejak kecil. Bahasa menurut psikologi adalah cara atau bukti yg paling kuat untuk mengukur tingkat intelektual seseorang.
Kemampuan anda berbahasa menunjukan bagaimana kita merekontruksi, menyusun, mengklasifikasikan, mengungkapkan fikiran dst.
4. Pada usia 4 tahun terjadi peristiwa pembelahan dada, mengeluarkan unsur syaitan dalam dirinya.
Selain secara fisik sempurna, Rosulullah secara psikologis memang sudah siap untuk itu. Dan peristiwa pembelahan dada # memperkuat pengalaman spiritualnya.#
5. Beliau kembali bersama ibunya selama 2 tahun, Yang memberikan kesempatan yg lebih luas untuk # mendapatkan kasih sayang secara cukup#.
Walaupun ini berat, tp dg bekal hidup 4 tahun dipadang pasir menciptakan mekanisme pertahanan diri yg kuat dimasa itu.
Krn dadanya sudah terbiasa lapang dan fikiranya sudah terbiasa terbuka, maka Rosulullah lebih siap untuk menerima segala kemungkinan -kemungkinan.
6.Kemudian beliau tinggal bersama kakeknya, Abdul Muthalib. Kakeknya sering membawa Muhammad Saw, ikut dlm momen momen politik yg dipimpin oleh Abdul Muthalib.
Dalam riwayat di sebutkan bahwa Abdul Muthalib memiliki ciri ciri yg sangat spesifik; ganteng, cerdas dan sangat berwibawa.
Muhammad sering dilibatkan dlm rapat rapat politik sejak usia dini (6 tahun).
Bahkan ketika orang orang Quraisy mengkritik untuk tidak melibatkan Muhammad, beliau mengatakan “Tinggalkan dan biarkan ia terlibat, karena kelak ia akan menjadi orang besar dikemudian hari”
7.Beliau sudah mencari nafkah ketika tinggal bersama pamanya, Abu Thalib.
Jadi sejak kecil muhammad sudah # memiliki pengalaman fisik, psikologis, spiritual, politik dan sekarang memasuki pengalaman ekonomi\bisnis#.
8. Usia 12 thn beliau melakukan perjalanan ke Syiria. Ini merupakan perjalanan global pertamannya yg memperkuat struktur pengalaman psikologisnya yg sudah terbentuk di padang pasir.
9. Usia 15 thn, ketika fisiknya sedang tumbuh kuat, beliau terlibat dlm peperangan yg berlangsung selama 4 tahun. Peristiwa ini memberinya pengalaman militer.
10. Usia 20 tahun beliau terlibat dlm perundingan damai yg merupakan pengalaman diplomatiknya, kemudian beliau mulai bekerja pada Khadijah.
Dan disini beliau mendapatkan pengalaman profesional sbg manajer.
11.Ketika beliau menikah, beliau jg mendapatkan pengalaman sbg seorang suami. Jadi tumpukan pengalaman itu sudah hampir sempurna pada usia 25 tahun.
Jika Khadijah tertarik pada pemuda seperti itu memang wajar sekali.
12. Usia 25-35 tahun Muhammad telah memiliki pengalaman sbg kepala keluarga, pedagang, pemuka masyarakat, orang kaya, orang terpandang dikalangan masyarakat Quraisy dan aktivitas sosial.
Ketika pada usia 40 tahun menerima wahyu, Khadijah mengatakan bahwa aktivitas sosial Muhammad baik. Ini berarti beliau memiliki posisi dan hubungan sosial yg kuat yg dibangunya selama 10 tahun.
Puncak dari hubungan sosialnya terbangun saat banjir yg mengakibatkan bangunan ka'bah runtuh. Saat itu seluruh kabilah bertengkar tentang siapa yg akan meletakan Hajar Aswad pada tempatnya semula.
Kemudian diputuskan untuk menunjuk orang yg pertama memasuki Ka'bah sbg orang yg akan membawa Hajar Aswad.
Keesokan harinya Muhammad-lah orang yg pertama kali memasuki Ka'bah.
Kemudian Muhammad memberikan solusi yg menunjukan keadilanya sehingga mendapat gelar Al Amin. Jadi prinsip prinsip sinergi dan kerja itu sudah beliau lakukan saat itu.
13. Usia 37 tahun beliau telah memiliki pandangan global tentang masyarakat Arab tetapi belum menemukan solusi solusi yg tepat.Oleh karena itu sejak usia 37 tahun beliau sudah melakukan meditasi (khalwat) di Gua Hira yg berlangsung selama 3 tahun. Sampai pada usia 40 tahun, Allah menurunkan wahyunya.
Jadi setelah seluruh pengalaman fisik, psikologi, spiritual, bisnis, perang, perjalanan global, suami, kepala keluarga dan pemuka masyarakat terbentuk, beliau melakukan suatu kerja meditasi, kerja perenungan luar biasa.
Jadi ketika Allah menurunkan wahyu dg Iqra’, klop dgn kondisi kejiwaanya.
2. Dakwah di Makkah (40-53 tahun)
Setelah menjadi Rosul, beliau melakukan dakwah di Makkah dg tiga tahap:
A. Dakwah secara rahasia kepada individu2 potensial tertentu selama tiga tahun.
B. Dakwah kolektif secara terbuka selama tujuh tahun. Tahun ke 4 sampai ke 10.
Beliau melakukan dakwah secara terbuka. Disitulah beliau mulai berbenturan dg masyarakat Quraisy, sebagian masuk Islam, sebagian jadi musuh.
Disitu pula terjadi peristiwa2 penyiksaan atas beliau dan para sahabatnya serta isolasi dan embargo ekonomi atas bani Hasyim sampai dengan tahun ke 10.
C. Persiapan pembentukan masyarakat Islam di Madinah selama 3 tahun.
Pada tahun ke 10 beliau mulai memperluas dakwahya hingga keluar Makkah dan Thaif sambil kemudian mendakwahi musafir Yastrib yg sedang naik haji.
Mengutus Mus'ab ke Madinah pada saat beliau berusia 53 tahun.
3. Dakwah di Madinah (53-63 tahun)
Tiga hal yg dilakukan Muhammad ketika di Madinah:
A. Konsolidasi dan peneguhan eksistensi masyarakat lslam yg baru berdiri 1tahun.
1. Membangun Madinah 2. Membangun Masjid 3. Mempersaudarakan Anshar dan Muhajirin. 4.Membuat perjanjian dg Yahudi. 5. Membangun militer. 6. Mulai merencanakan pasar.
B. Menciptakan dan mempertahankan stabilitas negara dari invasi militer luar selama 5 tahun.
Tahun ke dua mulai mempertahankan Madinah dari ekspansi luar dan terjadi peperangan kurang lebih 68 kali.
Saat mulai terjadinya peperangan usia beliau sudah lebih dari 53 tahun. Rasulullah saat itu sudah memiliki multifungsi tapi mampu memenej seluruhnya; keluarga, negara dan masyarakat.
C. Mulai melakukan jihad ekspansi dan perluasan wilayah lslam selama 4 Tahun.
Demikianlah Rasul kita tercinta, Muhammad Saw, menjalani hidup yg sarat misi, sarat beban dan sarat hasil dalam suatu melodi life time chart yg begitu indah.
Jika beliau memulai kenabian dg wahyu lqra’! (Bacalah!), maka beliau menutupnya dg wahyu “Al yauma akmaltu lakum diinakum (pada hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu) ”.
Untuk kesuksesan dan keteladananya, Rasulullah menyebutkan kata kuncinya
“Allah-lah yg mendidikku maka la mendidikku sebaik baiknya”. Wallahu a'lam..
Kamu bisa jatuh cinta sendirian. Tapi tidak bisa menjalani cinta sendirian
Kamu mengejar sesuatu yang lari, lalu kamu mempersalahkan kenapa kakimu menjadi lelah?
Kamu mencintai sesuatu yang tidak setia, kemudian kamu mempersalahkan kenapa hatimu menjadi patah?
Jangan mudah terbujuk pada sesuatu yang tidak menjanjikan suatu kepastian, sedangkan ada yang lebih setia menjagamu. Mengapa masih mengharap sesuatu selain-Nya?
02022020
Pada akhirnya nanti, akan ada yang berhasil meyakinkanmu tentang masa depan.
Bahwa di dekatnya, hidupmu akan menjadi lebih tenang. Bahwa dengannya, kau bisa membangun mimpi-mimpi hebat berdua. Bahwa bersamanya, berdakwah menjadi lebih mudah.
Mungkin ia memang tak akan pernah menjanjikanmu kebahagiaan, tetapi ia akan membuktikan bahwa ia mampu berusaha lebih demi membahagiakanmu.
Seseorang itu bisa saja berbeda sifat denganmu, karena Allah tau kau butuh penyeimbang yang dapat menggenapimu. Yang akan berjalan bersamamu tanpa membuatmu merasa rendah.
Suatu hari kau akan bersyukur karena ia telah menemukanmu dan memberanikan diri datang kepadamu. Bukan karena sesuatu yang kau miliki, bukan karena profesimu, bukan karena kecantikanmu, tapi karena Allah yang menuntun langkahnya kepadamu.
Kau harus tau bagaimana pada akhirnya ia melawan ketakutannya sendiri dan menyingkirkan segala asumsi. Sampai akhirnya ia mengetuk pintu rumahmu dan bertemu orang tuamu.
Bila ini kau alami, jangan kau persulit. Jangan mencari-cari alasan untuk mengurungkan niat baiknya tersebut. Permudahkanlah ia menjalankan ibadahnya, dan tolonglah sempurnakan separuh imannya.
Yakinlah bahwa tak ada yang lebih mengetahui kondisi dirimu selain Allah.
Bahwasanya di saat kau tidak mengharapkan siapapun, dan Ia datangkan seseorang padamu, maka Allah menganggapmu telah siap.
“Yang bikin ngga maju-maju kalau mau nikah itu terlalu banyak asumsi dan tebak-tebakan.”
-@kurniawangunadi
:’)
Nemu foto editan ini di menfess twitter. Daku ga bisa ketawa sendirian ya Allah wkwkwk. Editannya realistis sekali. Pengen nyari Ok Taecyeon kok nggak ada. Taecyeon mukanya lokal banget. Kalo dikasih kopyah mungkin ya kayak mas-mas pesantren ~XD
Di antara foto ini yang masih kelihatan artis cuma Bapak Je-Hoon. Yang lain mah beneran kayak mas-mas sekitaran sini.
Untuk perempuan; Jika kamu ingin melihat kualitas seorang laki-laki, maka buatlah ia marah semarah marahnya. Jika ia tetap bersabar atasmu, tidak memaki, dan membentak maka ia layak kamu perjuangkan.
Untuk lelaki; jika kamu ingin melihat kualitas seorang perempuan, maka tegur, arahkan, dan nasehatilah ia. Jika ia mendengar dan menuruti nasehatmu tanpa menyelisih, maka ia layak kamu perjuangkan.
Perjuangkan dan pertahankan mereka yang layak diusahakan dengan sungguh. Sebelum menyesal telah melewatkan dan tidak menjumpai yang serupa.
Jika mau benar2 melihat kualitas laki2, coba lihat dan gali bagaimana cara ia mem-breakdown visi hidupnya. (Kalau punya).
Sangat diperlukan kalau visinya normatif "Menjadi muslim yang bla bla bla, meraih ridho dst..." Breakdown dari bagaimana dia mencari nafkah, bagaimana dia dimata orang2 lain, dll.
Tidak perlu membuat laki-laki marah semarah marahnya. Apalagi kalau jelas bukan siapa-siapanya. Kebanyakan laki-laki beban dan tanggung jawabnya sudah banyak dan gak ringan.
Jika mau melihat kualitas perempuan pun, laki-laki nggak perlu menegur, mengarahkan, atau menasihati. Ingat Anda bukan pelatih timnas. Nggak perlu kalau nggak diminta, kalau nggak jelas juga posisinya sebagai apa. Perjalanan hidup perempuan sudah ada perangnya masing-masing.
~Sudut pandang lain :))
d’un terrien en detresse
Tulisan ini mungkin mengandung trigger.
Butuh waktu yang cukup lama untuk mengubah pola pikir di kepala yang depresif. Sebelum ibu wafat, saya sering merasakan bahwa dunia ini bukan tempat saya. Bukan karena saya punya masalah di sekitar. Perasaan semacam itu ada dengan sendirinya. Makanya ketika saya membaca dongeng Le Petite Prince, saya merasa relate dalam beberapa hal. Tentang penulis yang mengeluh harus menyesuaikan bahan pembicaraan dengan orang dewasa agar bisa diterima di lingkungan. Tentang kerinduannya punya teman dengan isi kepala seperti Pangeran Kecil dan seterusnya dan seterusnya.
Adakalanya, kita perlu mengambil jarak yang jauh dari pikiran-pikiran kita. Agar kita memahami bahwa pikiran tersebut hanyalah mewakili sedikit saja bagian dari kita. Pikiran tersebut tidak mewakili keseluruhan yang ada dalam diri kita. Kita berhak untuk tidak meresponnya, kita juga berhak untuk berdialog baik-baik dengannya,
Kepergian orang-orang di sekitar saya membuat saya merasakan kematian ternyata tidak begitu jauh. Dulu, setiap kali merasakan suicidal thought, saya sering bertanya dalam sholat:
Kenapa manusia tidak bisa memilih kapan waktu berpulang?
Sekarang saya merasakan bahwa hidup di dunia itu singkat saja. Jadi, di waktu yang singkat ini, lakukan hal-hal yang menurut kita baik. Selebihnya, pasrahkan semua sama Allah. Sudah lama banget rasanya saya merapal mantra:
Hiduplah dengan baik, makan yang cukup, tunaikan semua amanah dengan baik, jangan memendam rasa marah kepada sesama manusia. Suatu saat kita pasti berpulang, pulanglah dengan hati yang tenang.
Saya merasakan mata saya basah ketika menulis ini.
Ada teman yang bertanya tentang takdirnya. Kenapa keinginan mereka tidak tercapai, kenapa ada orang yang dengan sengaja menyakiti orang lain dan seterusnya dan seterusnya.
Sementara saya sejak dulu jarang sekali bertanya tentang itu. Saya sudah lama belajar bahwa dunia itu tidak sempurna dan tidak akan pernah sempurna. Yang bisa kita lakukan ya cuma berbuat baik dengan apa yang kita genggam. Jangan berharap kamu bisa merubah dunia menjadi jauh lebih baik hanya karena satu tindakan.
Kita terlalu sering didoktrin tentang menjadi pahlawan. Padahal untuk dunia yang lebih baik, kita tidak butuh setinggi itu. Untuk dunia yang lebih baik, kita justeru perlu kebaikan-kebaikan kecil yang continue dan mungkin saja tidak terlihat. Pahlawan kalau di puncak malah rawan sekali jatuh menjadi manusia yang tidak berguna karena rasa takabburnya. Maka dalam kehidupan yang singkat ini, saya berharap bisa dilindungi dari keramaian yang menyilaukan. Biarkan saya duduk tenang di tempat yang sunyi. Melakukan hal-hal yang saya suka tanpa terlalu banyak mendengarkan dunia luar.
Tapi, balik lagi, tidak semua keinginan kita bisa terpenuhi. Dunia ini terlalu ramai bagi kita yang ingin ketenangan. Kita tidak bisa sama sekali menghindarkan telinga dari kritik dan pujian. Kita yang harus memilih kata apa saja yang perlu kita dengar dan kata apa saja yang tidak biar kita bisa hidup dengan lebih baik lagi dari hari ke hari.
Hidup dengan pikiran yang selalu mengingatkan tentang mati ternyata justeru membuat kita semakin mencintai kehidupan. Lakukan kebaikan-kebaikan kecil sampai waktunya pulang.
31′s
Happy birthday to all Cancerian. Mari menua dengan rasa syukur.
Saya ingin bercerita sedikit. Setiap saya membaca inbox, ada banyak orang yang berpikir bahwa admin akun ini adalah orang yang hidupnya bebas dari rasa takut dan bisa sangat tenang dalam menghadapi hidup.
Sebenarnya enggak juga. Terhitung empat tahun saya hidup dengan perasaan yang aneh. Sejak Ibu didiagnosa kanker, saya hidup berdampingan dengan rasa takut. Saya takut kalau besok hari saya bertambah gelap. Di saat-saat terberat, subuh terasa seperti medan perang. Saya yang bangun dari tidur harus bertarung melawan pikiran sendiri. Pikiran yang terus menerus bertanya:
“Kapan pulang? Jangan-jangan besok ujiannya lebih berat lagi?“
dan seterusnya dan seterusnya.
Saya bersyukur dalam pikiran yang demikian gelap, Allah masih menyisipkan sedikit harapan di hati saya bahwa gelap itu datang bersama pertolongan dari-Nya.
Maka ada sensasi yang lucu selama masa-masa terapi. Saya sangat menyadari bahwa pikiran saya selalu bilang bahwa dunia ini bukan buat saya. Sementara hati saya masih ingin merasakan hidup dengan hangat bersama keluarga.
Setiap kali saya mengadukan perasaan takut saya ke temen, mereka selalu bilang:
“Kamu tuh punya Tuhan. Kalo kamu beriman, harusnya kamu nggak takut”
Oh siapa bilaaaaang wkwk.
Saya bukan nggak percaya kalau Allah itu ada. Saya cuma nggak percaya dengan diri saya sendiri.
Rasa takut sama hidup jelas tidak semudah itu hilangnya. Kadang, pas bangun subuh, saya sudah menarik nafas panjang dan pengen tidur lagi. Kalau bukan karena harus kerja, saya mungkin akan tetap pura-pura tidur. Saya benar-benar takut menghadapi kabar buruk.
Gimana kalo besok ada masalah besar yang nggak bisa saya atasi?
“Allah itu nggak akan ngasih ujian melebihi batas kemampuan hamba-Nya“
Semampu-mampunya kita tuh, kabar buruk tetep membuat kita sakit.
Kadang jiwa saya jadi benar-benar seperti anak kecil yang tawar menawar sama Allah:
Ya Allah, saya tuh cengeng, lemah, nggak bisa nahan sakit. Jadi kalo ada kabar buruk, saya jangan dibiarkan sendirian. Nanti kalo saya nggak bisa bertahan hidup gimana?
Ya Allah, saya tuh doyan makan enak dan nggak bisa kalo nggak punya duit. Jadi kalo ada ujian, kalo bisa, saya tetep bisa makan enak dan pegang duit ya :))
Ya Allah, saya tuh bla bla bla ….
Entah berapa banyak pengaduan-pengaduan konyol saya yang kalo diceritain tuh bener-bener jauh dari doa-doa yang diajarkan para nabi ataupun ustadz-ustadz. Ya gimana kan?
Saya juga bingung saking cluelessnya.
….
Pernah suatu hari saya nungguin resepsionis rumah sakit buat ngantri kamar untuk ibu. Antrian kamar Graha Amerta tuh susah banget. Kalau kita nggak beneran standby depan resepsionis, kita bakal susah dapet kamar. Saya udah ngantri dari pagi sampai sore dan tetep nggak dapet. Akhirnya saya nangis di toilet sambil bilang:
Hidup capek amat ya Allah. Ntar kalo ada waktu lowong, saya pengen staycation di hotel yang lama :D Tapi saya nggak punya duit. Tapi saya capek banget.
….
Keluar dari kamar mandi, saya makan tahu tek di kafe rumah sakit. Di kafe, saya ngobrol dengan nenek-nenek yang baru pulang kemo. Beliau sedang menjalani perawatan untuk kanker pankreas. Bersama nenek, ada suami beliau yang menemani. Anak-anak beliau berdua ada di luar kota.
Selama makan, kakek dan nenek juga sempat video call dengan anak dan cucu mereka untuk memberi kabar bahwa nenek sedang baik-baik saja. Kakek bercerita kalau anak-anak beliau sebenarnya ingin pulang dan menemani ibunya. Tapi, kakek tidak sampai hati menyuruh anaknya pulang karena anak-anak beliau bekerja di luar kota.
Habis ngobrol sama pasangan sepuh di kafe tadi, saya merasakan mixed feeling. Satu sisi saya merasa sedih melihat mereka. Di sisi lain, saya merasa hangat. Mungkin jauh di luar kota sana, anak-anak beliau juga berdoa sepenuh hati untuk orang tuanya.
Dalam kesempitan, seringkali ada hal-hal yang tidak bisa kita cerna dengan kacamata kehidupan normal. Orang lain mungkin bilang:
Anak yang berbakti ke orang tua harusnya tetep pulang dan bla bla bla.
Sementara kakek dan nenek tersebut berpikir:
Kemoterapi itu berkala. Kalau mereka pulang setiap kemo, pasti capek juga. Mungkin kalau kerjanya di kota yang sama bakalan enak. Tapi kalau belum bisa pindah, jalani apa adanya dulu.
Setiap orang punya perjuangan masing-masing. Saya tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya mendampingi orang tua yang sakit kanker dari jauh. Meskipun berat, ada rasa syukur juga karena Ibu dirawat di Surabaya dan saya juga bekerja di Surabaya.
Selesai makan, saya balik lagi ke resepsionis. Alhamdulillah, sudah ada kamar kosong yang tersedia. Saya bergegas menelfon orang rumah agar Ibu bisa segera berangkat.
Seminggu kemudian, saya mendapatkan pekerjaan ke luar kota cukup lama. Tinggal di hotel dan masih makan enak. Pas lagi sarapan, saya mikir……
“Kok aku bisa kepikiran doa staycation di hotel ya? wkwk”
Semoga kalo lagi sedih, doa-doa yang terucap tetap doa-doa yang baik dan menyenangkan. Memang tidak semua doa akan dikabulkan. Tapi begitu doa tersebut dikabulkan, kita akan merasakan kebahagiaan yang hangat sekali. Bener-bener seperti sedang disapa sama yang ngebuat hidup.
Saya bukan orang yang percaya dengan hal-hal yang di luar nalar. Dalam artian, orang seperti saya tentunya tidak akan menghadapi peristiwa seperti Nabi Musa yang membelah laut. Saya cuma makhluk akhir zaman yang dibekali pengetahuan akan takdir dan hukum sebab akibat. Jadi, itu aja cukup. Saya tidak mengharapkan melihat lautan terbelah di hadapan saya. Nanti kaget.
Tapi, saya percaya bahwa rahmat Allah itu luas sekali. Salah satunya adalah doa manusia yang dikabulkan. Di luar doa yang dikabulkan, ada juga pertolongan dari arah yang tidak disangka. Pertolongan tersebut juga terasa luar biasa indahnya karena dia ada di luar batas nalar kita sampai tidak terdeteksi oleh kepala kita sehingga kita tidak pernah memintanya dalam doa. Meskipun kita nggak pernah minta, Allah tetep ngasih.
Selama ibu sakit, saya baru menyadari bahwa Allah tidak pernah membairkan saya benar-benar sendirian. Selalu ada teman yang tidak sekedar menyapa. Tetepi juga hadir dan membantu kami melewati ini semua.
Setiap kali ibu masuk rumah sakit, sepupu saya selalu stand by menemani saya menjaga ibu. Suatu hari, ada orang yang bilang ke beliau:
“Kamu dibayar berapa jaga di rumah sakit?”
“Nggak dibayar”
“Wah gimana sih, anaknya aja tetep kerja pas ibunya sakit. Kamu udah ninggalin keluarga dan dibayar“
“Yang sakit keluargaku juga. Lagian kamu ngomong gitu mbok ya mikir, orang kanker itu butuh biaya banyak. Masak nggak kerja?“
Pas denger itu, saya rasanya berterima kasih banget ke sepupu saya. Sampai sekarang perasaan tulus tersebut selalu saya ingat. Dulu, saya juga sempat menanyakan tentang bayaran. Tapi beliau menolak. Di titik ini, saya jadi menyadari bahwa ada kebaikan yang memang tidak pernah bisa dibalas dengan uang sebesar apapun.
Selama beberapa tahun ini, saya beberapa kali melewati lubang jarum. Kondisi keuangan naik turun banget. Tapi mentalitas saya jauh lebih tenang. Karena balik lagi, rezeki itu bentuknya banyak sekali.
Sebagai hamba yang sangat-sangat lemah, saya selalu berharap Allah menurunkan kebaikan dalam bentuk apapun agar hidup saya nggak susah-susah amat :)
Kalau dulu saya punya banyak permintaan dalam doa, sekarang saya sudah tidak pernah mendefinisikan bentuk rezeki lagi.
Kadang-kadang, saya memang minta hal yang remeh. Seremeh minta menu catering yang enak-enak, seremeh minta pikiran yang jernih saat kerja, seremeh minta dibangunin pagi-pagi biar sempet lari pagi dan seterusnya.
Tapi di lubuk hati yang paling dalam, saya sudah ndak pernah neko-neko memaksakan kehendak takdir saya harus demikian atau demikian. Pasrah aja. Terserah apapun itu, Allah punya caranya sendiri dalam menyapa hamba-Nya. Dalam hidup, kita akan selalu merasakan takut dan sakit.
Tapi sebagai hamba, kita masih bisa berharap kepada Allah agar masa fakirnya jangan lama-lama, banyakin senengnya aja, kalaupun sakit jangan sampai saya menangis sendirian. Pokoknya saya tetap mau hidup saya nyaman aja.
Ah, 31 tahun.
Mari menua dengan rasa syukur.
“Sungguh Al-Qur'an itu seperti halnya sahabat. Ia baru akan menyampaikan rahasianya, hanya jika ia telah dekat di hati”.
Bapak: “Mudah-mudahan anak-anak bapak selalu ingat pesan kami sebagai orang tua kalian, dimana selalulah memohon pertolongan, penjagaan dan perlindungan kepada Allah Azza wa Jalla setiap kalian akan melakukan aktivitas apapun. Karena begitulah yang dilakukan para Salafus shalih dahulu nak.
Jangan mudah menganggap sepele perkara apapun, karena segala hal didalam kehidupan ini hanya ada dua kemungkinan nak, yaitu yang akan mendatangkan keberkahan atau kebinasaan.
Termasuk ketika kalian hendak membaca alQur'an, Allah Azza wa Jalla al’Alim al-Khabir pun memerintahkan kepada hambaNya agar hendaknya memohon perlindungan kepadaNya.
Tentunya selain berdoa memohon perlindunganNYA, jangan lupa mohon lah juga agar diberikan kepahaman, keterbukaan pikiran, dan niat yang lurus, agar kalian dapat memahami apapun yang ingin Allah Ta'ala sampaikan baik secara tersurat maupun tersirat.
Karena bukan tentang berapa jumlah ayat yang sudah dirimu baca dan sekadar dirimu hapalkan, tapi berapa ayat yang masuk kedalam hati, berapa ayat yang sudah akalmu pikirkan dan pahami, lalu dirimu amalkan.
Siapapun dia yang memahami alQur'an dengan benar, ia insya Allah akan dituntun berjalan di dalam kebenaran, bukan pembenaran nak. Pembenaran hanya lah akan menimbulkan “kesesatan’ dalam berfikir juga amalan, dan itu adalah awal dari "kebinasaan”, wal iyadzu billah.
Sedangkan salah satu ciri dari orang yang memiliki pemahaman yang benar, salah satunya adalah hati mereka akan lembut dan bersedia menerima kebenaran, walaupun bertentangan dengan hawa nafsunya. Sehingga tercermin dari akhlak mereka, nak. Mereka yang mampu menundukkan hawa nafsu, bukan diperbudak hawa nafsu.
Dan doa kami.. semoga kalian termasuk bagian dari mereka. Aamiin Ya Rabb.“
(Di penghujung ramadhan, dini hari)
"Karena bukan tentang berapa jumlah ayat yang sudah dirimu baca dan sekadar dirimu hapalkan, tapi berapa ayat yang masuk kedalam hati, berapa ayat yang sudah akalmu pikirkan dan pahami, lalu dirimu amalkan.”
Link youtube ada di bio... 😁😂😅 #flipaclip #animasi #motiongraphics #designer #tutorial #youtube #contentcreator #animation #simple #muslimah https://www.instagram.com/p/CQJMD5Mpjmc/?utm_medium=tumblr
Cerita Raha & Shya, untukmu yang ingin bercerita dan berbagi hikmah, bisa DM akun @ceritarahashya ya... mari membaik bersama, bahagia bersama. #CeritaRahaShya #quotes #menulis #berbagihikmah #bercerita #muslimah #mentalhealth #mentalhealthawareness https://www.instagram.com/p/CQDfhfLpDLd/?utm_medium=tumblr
. Kalau seiring berita viral Palestina hilang dan pembelaan kita ikut hilang; berarti kita masih di tempat. Kita membela lebih dengan emosi, melihat video lalu marah, melihat gambar lalu menangis. Jika video dan gambar sudah hilang dari timeline, hilang jugakah perasaan juangmu? Seorang Syaikh pernah bilang, "dibom atau tidak dibom, nyatanya Palestina masih dijajah. Mereka butuh pembelaan bukan hanya ketika dibantai. Mereka butuh itu setiap saat sampai merdeka." Catat ini: membela Palestina itu sepotong akidah kita, dan pembuktian atas kemanusiaan kita. Trending atau tidak trending itu urusan lain. Mau dunia membicarakannya atau tidak, hati nurani kita mesti jadi lentera yang menuntun kita tetap bersuara. Diammu adalah pesta bagi kezaliman. Bisumu adalah nyanyian yang merdu buat penjajah. Saatnya naik kelas! Jikapun ada yang bertanya, "sepenting itukah Palestina? Kenapa mesti terus disuarakan?" Syaikh Ali Muhammad Muqbil, Ketua Ikatan Ulama Palestina pernah berkata, "Palestina adalah sepotong akidah kita. Membelanya adalah konsentrasi utama umat kita." Jika mau tahu 3 alasan tersingkat mengapa Al Aqsha harus terus dibela dari kezaliman zionis, saya harap teman-teman bisa menghafalnya: Pertama; ia kiblat pertama. Kedua; ia masjid kedua yang dibangun di muka bumi Ketiga; ia masjid ketiga yang diperintahkan Rasul untuk diziarahi. twitter.com/edgarhamas @edgarhamas ____________________________ Palestine is not a trend. Keep speaking up. twitter.com/hamdia_ahmed @hamdia_ahmed ____________________________ Donasi dan PO Souvenir masih dibuka sampai tanggal 31 Mei 2021. Mari bersama memulihkan Palestina. sedikit dari kita, sangat berarti untuk mereka, juga untuk kita semua. Senyum mereka, senyum kita. ❤🇲🇨🇵🇸 #FreePalestine #WorldStandsWithPalestine #IStandWithPalestine #PalestineWillBeFree #INAMALAYAforPalestine #SavePalestine https://www.instagram.com/p/CPPDeBdJgwl/?utm_medium=tumblr
I'm Indonesian 🇲🇨 I Stand With Palestine 🇵🇸 Are you with me? #SavePalestine #SaveSheikhJarrah #GazaUnderAttack #savepalestinians background & slide 2 from twitter @aljazeeraenglish #artwork #anime #muslim #muslimah #palestine #gaza #indonesia #autodesksketchbook #mobile https://www.instagram.com/p/CO4kNs2J_av/?igshid=25emudn9y4df