deactive instagram, twitter, facebook
start from 13 July 2020 until........kita liat aja sampe kapan wkwkwk
The Stonewall Inn
Doug Jones
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
art blog(derogatory)
hello vonnie

gracie abrams
Mike Driver

tannertan36
d e v o n

Discoholic 🪩

#extradirty
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
One Nice Bug Per Day

❣ Chile in a Photography ❣
🩵 avery cochrane 🩵
Noah Kahan
Interview Vampire Daily

Jimmy Eat World

roma★
cherry valley forever

seen from Germany

seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States

seen from Latvia

seen from United States

seen from France

seen from Indonesia
seen from India

seen from United Kingdom

seen from Ukraine
seen from Colombia

seen from United States
seen from Brazil

seen from Honduras

seen from Bolivia

seen from Netherlands

seen from Austria

seen from Singapore

seen from United Kingdom
@windaoc
deactive instagram, twitter, facebook
start from 13 July 2020 until........kita liat aja sampe kapan wkwkwk
teruntuk perempuan..
Cukuplah kalian fahami, tanda jeleknya akhlak seseorang adalah ketika ia dengan mudah menceritakan keburukan saudarinya muslimah kepada orang di sekitarnya. Dan tingkat keburukannya adalah saat dia merasa lebih baik dari saudari muslimahnya tersebut.
dan saya rasa, inipun berlaku pula untuk laki-laki..
(catatan seorang diri - Ibn Syams)
Adalah lisan, satu satunya indera pemberian rabb kita yang nanti akan dikunci. Tak bisa melakukan pembelaan atas diri kita, tak bisa mencari pembenaran atau alasan seperti biasa, dan tak akan bisa membohongi keadaan.
Adalah lisan, salah satu anggota tubuh yang amat sering mencelakakan banyak anak cucu adam dan menjerumuskannya ke neraka. Amat sering ingin tau masalah orang, lalu berbahagia diatas penderitaan yang mereka rasakan.
Adalah lisan, yang tidak bertulang namun teramat sulit bagi kita menjaganya. Melawan keinginan untuk tak berucap nasihat tak tepat saat ada saudara yang sedang murung. Melawan keinginan untuk tak usah mau tahu dan tak mengkorek korek aib saudara kita sendiri. Melawan seluruh ego untuk tak usah banyak bicara saat orang di dekat kita bersedih.
Betapa banyak orang di dunia ini yang amat cerdas dalam pekerjaannya, amat cekatan dan pintar dalam urusan bisnisnya, namun amat sulit dalam mengelola lisan.
Sedikit saja lisan kita salah, ada mata yang diam diam basah. Sedikit saja kita tak timbang timbang bicara, ada hati yang ternyata terluka.
Barangkali perlu kita berkaca kembali pada pribadi Rasulullaah shalallaahu'alaihiwasallam dalam menjaga lisannya. Betapa, tak semua nasihat pantas ditempatkan pada setiap kondisi. Ada kalanya, lisan yang kita anggap fasih betul dan punya sejuta nasihat ini, kita tahan dan cukup pahami saja perasaan saudari kita yang sedah bersedih. Karena tak pada semua keadaan, kita perlu tampil berkomentar.
@lolanyunyu
Pic : muaro padang
Gaya komunikasi kita itu haruslah flexibel, jangan kaku. Tahu kapan keras, tahu kapan lembut. Tahu kapan memimpin, tahu kapan dipimpin. Tahu kapan lantang, tahu kapan berbisik. Tahu kapan tegar, tahu kapan mencurahkan segalanya. Tahu kapan marah, tahu kapan senyum. Kita bertemu banyak orang dalam banyak kondisi, maka gunakan gaya komunikasi yang paling sesuai dengan lawan bicara kita.
- Choqi Isyraqi
Why should I be unhappy? Every parcel of my being is in full bloom 🌼 #buscamp #sunrise #rumi #exploreindonesia #travelwithwhitehoursegroup #canoneosm6 (at Ranca Upas) https://www.instagram.com/p/B4sE3UlDcyExxbqXHvEiOyHevjc8qQq5yu64280/?igshid=17a3tnxgtz94n
Mumpung
Mumpung masih hidup, masih bisa Shalat Jamaah, maksimalkan.
Mumpung masih hidup, masih bisa Qiyamul Lail, maksimalkan.
Mumpung masih hidup, masih sempat taubat, maksimalkan.
Mumpung masih hidup, masih bisa baik sama orang lain, maksimalkan.
Mumpung masih hidup, masih punya waktu untuk Qur'an, maksimalkan.
Mumpung masih hidup, sebentar lagi ramadhan, persiapkan, maksimalkan.
©Quraners
mumpung
BAPAK
Bapak adalah laki-laki paling khawatir saat anak perempuannya jatuh cinta. Ketika usia anaknya bertambah menjadi kepala dua. Bukan kepalang beliau siang malam memikirkan segala kemungkinan. Laki-laki seperti apa yang akan anak perempuannya nanti ceritakan. Cerita yang mau tidak mau seperti petir di lautan siang-siang.
Kekhawatiran itu tidak berlebihan. Sebab sepanjang pengetahuannya, tidak ada laki-laki yang baik di dunia ini kecuali dirinya sendiri. Untuk kali ini, Bapak boleh menyombongkan diri. Karena kenyataannya memang begitu. Tidak ada laki-laki yang cintanya paling aman selain bapak. Ibu sendiri mengakui.
Bapak adalah laki-laki yang paling takut anak perempuannya jatuh cinta. Laki-laki mau sebaik apapun tetaplah brengsek baginya, berani-beraninya membuat anaknya jatuh, cinta pula. Sudah dibuat jatuh, dibuat cinta pula. Benar-benar tidak masuk akal.
Malam itu, ketika dikira anak perempuannya terlelap. Bapak berbicara kepada ibu di ruang tamu. Tentang segala kemungkinan yang terjadi bila anak perempuan satu-satunya diambil orang. Tentang sepinya rumah ini. Tentang masa tua. Tentang hidup berumah tangga. Kukira bapak berlebihan. Tapi warna suaranya menunjukkan kepedulian.
Aku yang sedari tadi pura pura tidur, mendengarkan. Semoga aku bertemu dengan laki-laki yang lebih bijaksana dari bapak. Karena aku membutuhkan kebijaksanaannya untuk memintanya tidak meninggalkan bapak dan ibu sendirian.
Ku harap ada yang menga-aamiin-kan. ©kurniawangunadi
Tulisan ini termuat di buku saya, Hujan Matahari (2014) hlm. 91-92
Ku sambut hari kedua di tahun 2019 dengan status jobseeker kembali setelah 2 tahun lebih bekerja. Alhamdulillah ya, dibalik semua itu kembalinya tumblr menjadi momen yang pas sepertinya untuk mengisi hari-hari agar lebih produktif, (buat baca postingan tumblr orang lain lebih tepatnya)
Well, sejak kemarin ramai tagar 30 hari bercerita, bagi saya cukup menarik sih untuk dijadikan challange mengisi keseharian kali ini. Anyway, berhubung saya telat sehari buat ikutan nulis, tapi masih ada 29 hari lagi kan untuk bercerita? dan yang jelas bisa jadi tantangan untuk menulis sebanyak-banyaknya, ya walaupun harus terpaksa tapi itu lebih baik daripada tidak mencoba sama sekali :))
siapa tau kan setelah ini saya jadi penulis,
*sambil lirik jobstreet
Winda Octhaviana | Depok, 2 Januari 2019.
DIJAUHKAN
Ada hal-hal yang memang sengaja Tuhan jauhkan dari kita. Bukan karena hal itu tidak pantas untuk kita, namun bisa jadi karena belum waktunya saja kita menerima hal tersebut.
Pernah melihat seorang anak kecil dijauhkan dari pisau? Begitu juga dengan kita. Jangan sedih ketika urusan jodoh, rezeki, kesehatan, jabatan, serta hal yang kita inginkan, tidak kita dapatkan sekarang. Mungkin belum saatnya, perlu waktu hingga kita cukup dewasa menerimanya.
DIJAUHKAN Bandung, 22 Februari 2018
Jauh
KURANG SABAR
“Kenapa harus menunggu? Bukankah kita sama-sama mencintai?” Ia terus saja bertanya seperti itu.
Sudah sebulan kami bertemu. Semenjak itu, kami sering berhubungan. Biasa saja, tidak berlebihan. Awalnya, bertanya urusan tugas, lama-lama, ia menanyakan urusan pribadi.
“Lagipula, kita juga tidak akan melakukan apa-apa” Aku memandangi pertanyaan itu di layar handphone ku.
Ia memang laki-laki yang baik, hanya saja, masih ada yang kurang darinya.
“Maaf, aku memang tidak bisa. Aku tidak menjalaninya seperti itu.” Kubalas chatnya. Cheklist dua berwarna biru, ia sudah membacanya.
Ia bilang, ia mencintaiku. Ia bilang, ingin menjadikanku pasangannya. Ketika aku menawarinya hubungan yang halal, ia bilang, jalani dulu saja, toh nanti juga akan halal. Bagiku, tidak begitu.
“Kalau memang mau serius, silahkan datang ke orangtuaku. Ini nomernya.” aku kirimkan kontak bertuliskan ayah.
Semenjak ku kirimkan kontak ayahku, ia tak membalasku lagi. Hanya di-read saja.
Yasudah, aku tak menyesal ia pergi. Lagipula, kalau memang ia benar-benar mau denganku, pasti ia mendatangi keluargaku.
ia memang laki-laki yang baik, hanya saja, masih ada yang kurang darinya. Ia, kurang sabar.
KURANG SABAR Bandung, 08 Februari 2018
Tak apa, katakan saja yang jujur.
- tidak usah menolak jika ingin menerima. tidak usah menerima jika memang tidak mau. jangan membolak-balik keadaan.
APA KAMU BENAR-BENAR BAHAGIA?
Menurutmu, apakah kamu akan benar-benar bahagia dengan yang kamu inginkan?
Dulu, ketika saya kuliah, saya punya seorang teman wanita. Ia selalu bercerita, bahwa ia sangat mengagumi seorang pria di lingkungan kami.
Ya, pria itu memang tampan, baik hati, murah senyum. Perawakannya tegap, pandai bergaul, dan selalu membantu orang. Pria ini, merupakan idola para wanita, wajar saja jika teman saya terpincut, karena tidak hanya dia, tapi hampir banyak wanita lain juga yang mengidolakannya.
Teman wanita saya, hampir setiap kami ketemu, pasti menceritakan kekagumannya pada pria ini. Jujur saja, saya pribadi, ketika melihat teman saya ini, saya agak pesimis. Berapa besar kemungkinannya, sesorang yang diidolakan banyak orang, menjalin hubungan dengan seseorang yang tidak terlalu kenal dengannya? Bak seorang artis, dengan seorang fans.
Namun, apa yang terjadi? Beberapa tahun berselang, mereka menjalin sebuah hubungan.
Menurutmu, apakah kamu akan benar-benar bahagia dengan yang kamu inginkan?
Beberapa bulan berselang, saya kaget mendengar kabar tersebut. Tidak hanya saya, semua orang. Semua sangat yakin, bahwa hubungan mereka akan berjalan baik dan lancar. Bagaimana tidak? Seorang wanita, berhasil mendapatkan orang yang benar-benar ia kagumi, benar-benar ia harapkan, benar-benar ia cintai. Bukankah indah?
Beberapa bulan berikutnya berselang, saya kaget mendengar kabar lainnya. Tidak hanya saya, semua orang. Wanita itu, putus hubungan dengan sang pria yang ia cintai. Bagaimana mungkin? Bukankah ia mendapatkan sesuatu yang ia harapkan? Bukankah ia mendapatkan sesuatu yang sangat ia inginkan?
Singkat cerita, selepas menjalin hubungan. Sang pria sangat senang, mengetahui bahwa ada wanita yang sangat mencintainya sepenuh hati. Karenanya, pria ini ingin membalas perasaan cinta sang wanita sepenuhnya, lebih bahkan kalau bisa. Sang pria, melakukan hal apapun untuk membahagiakan teman saya ini. Menurutmu, ini membahagiakan?
Beberapa bulan berselang, sang pria lebih sering menghabiskan waktu dengan sang perempan, lebih sering mengorbankan kepentingan dirinya sendiri demi sang wanita. Hingga akhirnya, urusan akademik sang pria terbengkalai, kehidupan sosialnya pun mulai terganggu. Tapi, bagi sang pria, tak masalah, selama wanita yang kini menjadi pujaannya ini, merasa bahagia. Padahal, tahukah kamu? Teman saya, ia kehilangan respek pada sang pria.
Bukan, bukan pria seperti ini yang ia harapkan. Bukan pria yang meninggalkan kewajibannya, bukan pria yang meninggalkan teman-temannya, bukan pria yang melupakan urusan akademiknya, bukan. Pria yang ia kagumi, berubah menjadi pria yang tak ia harapkan. Pria yang ia cintai, berubah menjadi pria yang ia benci. Pria yang dulu ia sukai, kini telah berubah. Perubahan pria itu pulalah yang merubah perasaan sang wanita.
Kini, sang pria keluar dari kuliahnya, entahlah menjadi apa, saya tak ingat. Teman wanita saya, tetap bahagia dengan status singlenya, ia tetap menjadi ia yang biasanya. Namun, kisah mereka, menjadi pelajaran yang besar bagi saya.
Menurutmu, apakah kamu akan benar-benar bahagia dengan yang kamu inginkan?
Bagi saya? Belum tentu. Pasangan yang benar-benar bahagia, bukanlah pasangan yang kita inginkan, melainkan ia, yang kita butuhkan.
Maka, jangan bersedih, jika hari ini, kamu tidak mendapatkan seseorang yang sangat kau impi-impikan. Karena, yang benar-benar tahu bahwa ia adalah yang terbaik, hanyalah Tuhan.
Bukankah yang kita inginkan, belum tentu kita butuhkan?
APA KAMU BENAR-BENAR BAHAGIA? Bandung, 23 Januari 2018
Kita bisa pilih siapa yang akan kita biarkan pergi dan siapa yang akan kita paksa untuk tinggal. Kita bisa pilih akan tinggal di kehidupan siapa atau akan pergi dari kehidupan siapa.
Kita bisa pilih.
Tapi aku minta dipilihkan aja ah.
Sama Allah.
Yang Maha Tahu.
Kan?
Semoga membaca ulang tulisan sendiri bukan hal yang memalukan. Toh, tujuan ditulisnya semua ini tidak lebih sebagai pengingat diri.
Rejection doesn’t hurt. Expectation does.
-anonim.
Indeed, when you lost a whole world, it doesn't matter when you found Allah. Eling lan waspada. (at Merapi Park Yogyakarta)
Kesenangan
“Jika kamu memenangkan nafsu di atas segalanya, kamu tidak akan pernah menang”
Di suatu sore, saya ngobrol dengan suami saya. Bayi cantik kami sedang pulas, dipikir-pikir sudah lama sekali tidak ngobrol berdua.
“Ayah, apa kita perlu bikin asuransi pendidikan buat Aufina (anak kami)?”
Pertanyaan itu pertama kali muncul di benak setelah saya menonton iklan komersial asuransi syariah di televisi. Sebagai ibu baru saya begitu excited sekali dengan dunia pendidikan anak.
Seperti kebanyakan orang tua lainnya, saya pun ingin mempersiapkan yang terbaik untuk anak–meski sekarang Aufina baru 10 bulan.
“Kalau baik untuk Aufina, kenapa engga” jawab suami.
“Atau.. Kita bikin tabungan pendidikan aja?” tanya saya lagi. Jangan tanya kenapa perempuan suka banyak bertanya.
“Kayaknya lebih baik tabungan aja” jawab suami.
Dalam pikiran saya saat itu terjadi perdebatan. Bukan antar ide asuransi vs tabungan. Tapi perdebatan tentang kebutuhan mana dulu yang harus masuk daftar prioritas.
Saat berpikir tentang tabungan pendidikan, saya juga berpikir tentang kendaraan roda empat. Setelah punya anak, motor atau kendaraan umum tidak selalu bisa digunakan. Terlalu berisiko. Dan kami tidak selalu bisa meminjam mobil orang tua. Muncullah kebutuhan (atau keinginan?) untuk memiliki mobil sendiri.
Di saat yang sama, saya juga berpikir bahwa kami butuh (atau ingin?) rekreasi akhir tahun. Di saat yang sama saya juga memikirkan rumah milik sendiri, haji bersama, investasi, dan kebutuhan (atau keinginan?) lainnya.
Tanpa saya sadari pikiran saya mengelana begitu jauh. Sampai di satu titik, saya menyadari bahwa saya membuka ‘pintu’ terlalu lebar untuk dunia.
“Astaghfirullah…” ucap saya
Suami saya melirik dengan tanda tanya di matanya.
“Kalau kita mendaftar seluruh kebutuhan dan keinginan kita, kayaknya kita ngga akan pernah selesai menuliskannya, ya” jawab saya, “ketika belum punya pasangan, melihat pernikahan sebagai kesenangan. Setelah menikah, menganggap anak akan menambah kesenangan. Setelah punya anak, muncul keinginan memiliki kendaraan yang memadai, lalu ingin investasi ini itu demi masa depan anak. Dan seterusnya..”
Suami saya menanggapi, “Persis seperti yang Allah katakan, sebelum kita menyadari sifat kodrati kita sebagai manusia”
“Ayat itu ya?”
Saya terdiam sambil mengingat lagi ayat yang dimaksud.
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis perak, emas, kuda, pilihan hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan di dunia. Namun di sisi Allah tempat kembali yang baik yaitu (surga)”.
( Ali Imran : 14)
Begitulah terjemahannya yang saya baca.
“Ayat itu seperti menjelaskan alur ujian duniawi yang akan dilalui manusia. Wanita, anak, emas atau harta, kuda atau kendaraan, ladang atau investasi. Ustadz Salim A. Fillah yang pernah ceramah tentang itu” kata suami saya.
Tepat sekali. Jika dunia adalah lintasan lari dan kita berlari di atasnya, kita tidak akan menemukan garis finish selain kematian yang memaksa kita berhenti.
Semakin dikejar semakin asyik. Semakin dekat semakin memikat.
Dunia tidak akan cukup besar untuk mengisi kekosongan hati manusia. Akan selalu ada sisa ruang yang membuat kita terus mencari dan meneguk dunia.
Meski demikian, kita tetap harus memikirkan dan mencari dunia. Tapi bukan untuk memilikinya, melainkan untuk mengalahkannya. Sebab zuhud berarti mengalahkan dunia, bukan menghindarinya.
“Tempatkan akhirat di hatimu dan dunia di tanganmu”
Sesungguhnya pertempuran paling berat adalah pertempuran antara nafsu dan nurani. Bagaimana pun, kita tidak hidup di dunia untuk selamanya.
Ditulis sejak lama. Direblog untuk menyegarkan semangat dalam tulisan ini.
PERHATIKAN PEKERJAANMU
“Iya, bentar ya, nanti aku nyusul ya. Ini beresin dulu pekerjaan”
“Iya bu, mungkin lain waktu, ini soalnya penting banget. Salam juga ke bapak yah”
—
Seberapa sering pekerjaan kita, membuat kita menunda ibadah kita?
Seberapa sering pekerjaan kita, membuat kita meninggalkan perbuatan baik?
Seberapa sering pekerjaan kita, membuat kita lelah hingga tak ada tenaga tersisa untuk ibadah?
Seberapa sering pekerjaan kita, membuat kita melupakan orangtua kita?
Seberapa sering pekerjaan kita, mengambil waktu kita untuk berbakti pada orang tua?
Seberapa sering pekerjaan kita, menghalangi kita untuk berkumpul dengan orang-orang yang baik?
Seberapa sering pekerjaan kita, membuat kita melupakan hal yang sesungguhnya lebih penting?
Hati-hati, perhatikan kembali pekerjaan kita. Jika pekerjaan kita membuat kita menjauh dari Tuhan, maka hati-hati, bisa jadi itu bukanlah pekerjaan, melainkan perangkap syetan. Dan kota, sedang tenggelam di dalamnya.
Coba renungkan, apakah pekerjaan kita sekarang, memudahkan kita untuk mendekatkan diri pada Tuhan, atau sebaliknya?
PERHATIKAN PEKERJAANMU Bandung, 23 Desember 2017
reminder