Mengarungi Lautan Kata Tanpa Tergerus Waktu
Judul Buku: Merakit Kapal
Penulis: Miura Shion
Jumlah halaman: 296 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tanggal-bulan-tahun diterbitkan: April 2021
ISBN: 9786020650885
“Namaku mungkin tidak bisa tercantum di sampul kamus sebagai ahli bahasa, tapi masih ada jalan bagiku untuk terlibat dalam penyusunan kamus sebagai editor. Bagaimana pun juga, aku ingin menyusun kamus. Kamus adalah satu-satunya hal yang tidak membuatku menyesal mencurahkan seluruh waktu dan semangatku.“
Kohei Araki akan mengundurkan diri dari posisinya sebagai editor tetap Redaksi Kamus Penerbit Genbu. Meskipun Matsumoto sensei memintanya untuk menunda tapi Araki sama sekali tak bisa mengiyakan. Sebagai gantinya dia berjanji akan menemukan seseorang untuk menggantikan posisinya. Seseorang yang menyukai kata-kata, serta mampu untuk mencurahkan segala waktu yang dia miliki untuk Daitokai.
Beruntung, Nishioka salah satu anggota Redaksi Kamus memiliki kandidat yang cocok. Namanya Mitsuya Majime, pegawai Departemen Penjualan 1. Kesan pertama yang Araki dapatkan dari Majime adalah pria itu tampak berada di tempat yang salah. Namun, Majime memiliki keseriusan yang Araki cari, terutama saat ia mengartikan kata. Hari itu juga, Araki segera mengajukan permohonan agar Majime dipindahkan ke Redaksi Kamus.
Dari sana, dimulailah perjalan Majime sebagai pemimpin di Redaksi kamus dan perjuangannya bersama-sama anggota penyusun kamus yang lain untuk mewujudkan Daitokai. Meski awalnya merasa tak percaya diri dengan kemampuannya, dengan bantuan rekan kerja, dan sedikit dorongan dari pemilih kos tempat ia tinggal, Majime berhasil menemukan keyakinan dan semangat dalam dirinya. Seiring berjalan waktu, dan tanpa Majime sadari, kegigihan dan kecintaanya pada kata-kata pun ikut mempengaruhi orang-orang disekitarnya.
Membaca buku ini membuat saya sadar dan paham bahwa menyusun kamus bukanlah hal yang mudah, seperti yang selama ini saya pikirkan. Memaknai atau mengartikan sebuah kata haruslah dipikirkan dengan seksama, tidak boleh ada keambiguan. Contohnya, dalam cerita terdapat pembahasan tentang kata Ren’ai (n) yang diartikan sebagai;
Perasaan cinta khusus terhadap lawan jenis yang membuat hati jadi gembira, membuat diri berharap berduaan saja dengannya, ingin berbagi kedekatan emosional, dan jika memungkinkan termasuk mendapatkan kedekatan fisik, tapi bisa membuat orang menjadi patah hati karena tidak selalu berbalas, atau bisa menimbulkan rasa senang ketika berbalas.
Definisi ini kemudian menjadi perdebatan antara Nishioka dan Majime, kalimat ‘perasaan cinta khusus terhadap lawan jenis’ dianggap sebagai makna sepihak. Karena di dunia sekarang ini rasa cinta tidak hanya di alami oleh lawan jenis saja, tapi juga mereka yang mencintai sesama jenis.
Sebuah kamus harusnya tidak tunduk pada mayoritas atau terbatas pada pemikiran-pemikiran yang ketinggalan zaman, kamus haruslah bisa menginterpretasikan kata-kata yang berubah seiring perubahan waktu.
Hal ini mengingatkan saya pada polemik definisi kata Perempuan dalam KBBI yang sempat heboh. Para aktivis perempuan menyatakan definisi berserta contoh kalimat dalam KBBI tersebut terlalu negatif, bersifat seksual atau genital. Hingga pada 2021, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Badan Bahasa dan Budaya Kemendikbud) menambahkan subentri yang bermakna positif pada definisi kata Perempuan.
Merakit Kapal tak hanya bercerita tapi juga ikut memberikan pengetahuan mengenai dunia penerbitan kamus, secara khusus di Jepang. Dalam buku ini juga dipaparkan tentang bagaimana proses membuat kamus. Mulai dari menentukan kata-kata yang akan dimuat, membuat indeks kata, mengumpulkan kontributor-kontributor yang nantinya akan ikut menyumbangkan kata dan makna sesuai dengan tema dan bidangnya masing-masing, bagaimana menyusun kata-kata tersebut sesuai urutan agar bisa memperikarakan jumlah halaman, lalu ada pula proses proofreading yang bisa berlangsung hingga 5 tahap, perlunya ketelitian dalam mengecek ratusan hinga ribuan entri kata dan sumber daya manusia yang tidak sedikit untuk proses tersebut. Tidak hanya hal-hal ini saja, bahkan elemen fisik seperti kertas pun diperhitungkan.
Semua demi menghasilkan sebuah kamus yang berkualitas. Sungguh memakan waktu, tenaga dan pikiran yang tak sedikit. Namun rasanya begitu takjub saat membaca dan mengalami itu semua melalui sudut pandang tokoh-tokoh dalam buku ini.
Penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga banyak, hingga kita dapat melihat kisah dari empat sudut pandang yang berbeda. Merasakan antusiasme dan dedikasi setiap tokoh dalam projek besar dan memakan waktu lama ini. Bagaimana mereka yang awalnya merasa asing dengan kamus, lambat laut menemukan kecintaannya.
Sebuah bacaan yang tak hanya menghibur namun juga informatif. Tentu saja tak hanya melulu tentang kamus, penulis pun tak lupa menyisipkan kisah-kisah romansa yang menarik, serta motivasi-motivasi dalam bekerja lewat tokoh-tokoh di dalamnya. Merakit Kapal patut menjadi koleksi bacaan para pecinta buku.
Tentang Penulis
Shion Miura lahir di Tokyo, tahun 1976. Penulis yang merupakan lulusan Waseda University ini awalnya bercita-cita untuk mejadi editor. Tapi kemudian menandatangani kontrak dengan seorang agen literasi dan memulai karir kepenulisannya. Beliau telah memenangkan tiga penghargaan sastra, menulis belasan buku baik fiski maupun non-fiksi, hingga beberapa karyanya telah di angkat ke layar televisi dan ikut menuai penghargaan. Merakit Kapal atau dalam judul aslinya Fune wo Amu, juga termasuk dalam novel yang telah di adaptasi menjadi film, dengan judul The Great Pasage (2013).

















