"Makasih karena kamu tidak menyia-nyiakan rasa sakit hatiku demi bersama dengan orang yang kamu pilih saat ini…"
Pernah tidak, kamu jadi enggan datang ke suatu kota, hanya karena kamu sudah tidak bersama dengan orang yang menciptakan kenangan untukmu di sana? Semua titik di kota itu diam-diam menyimpan cerita. Dan satu hal yang begitu sangsi adalah mengapa rasanya tidak sama, meski kamu lakukan itu dengan orang lain.
Aku pernah, dan itu waktu aku bertemu kamu di kotamu beberapa tahun yang lalu.
Sejujurnya, aku tidak pernah tahu bagaimana cara terbaik untuk memperpendek fase berduka setelah tidak bersama kamu lagi saat itu. Aku berantakan dan kacau; sebab bersamamu, aku merasa telah mencapai level tertinggi peduli dengan seseorang. Pernah sesombong dan sepercaya diri itu untuk memilikimu seutuhnya. Sampai aku tersadar aku justru ditertawakan oleh keyakinanku sendiri. Tapi, tidak apa.
Setiap kali aku menginjakkan kaki di kota itu, aku selalu berharap tujuanku adalah untuk menemuimu lagi. Sayangnya, harapan itu kukubur dalam-dalam sekarang. Waktu kita memang tidak pernah tepat, ya? Kini, aku hanya boleh menjadi bagian dari kisah klasik di masa lalumu yang mengetahui pergantian statusmu. Tapi, tidak apa.
Kalau kamu berpikir aku masih memikirkanmu, kamu salah besar. Aku tidak cinta kamu lagi, beneran. Aku hanya belajar mengenang semuanya dengan perspektif yang tidak menyakitkan saja. Aku tidak mencari tahu tentang kehidupanmu, bahkan aku enggan sekadar membuka laman media sosialmu. Lucu ya, dulu kita dua orang yang saling mencari, sekarang berganti menjadi dua orang yang saling menghindari. Tapi, tidak apa.
Mungkin, perpisahan kita saat itu tidak sarat makna dan terkesan terburu-buru. Sedikit banyak yang tak sempat aku sampaikan untukmu, aku tuangkan di sini:
Terima kasih karena sudah memberiku cerita, pengalaman, dan perasaan yang kadang tak bisa aku pahami. Kamu pernah berbeda, walau akhirnya caramu meninggalkanku sama saja seperti yang lain. Tapi, tidak apa.
Terima kasih karena kamu sudah lebih dulu berbahagia, sehingga aku punya bukti bahwa tidak bersama pun, kita bisa menemukan bahagia masing-masing. Aku belum sih. Tapi, tidak apa.
Terima kasih karena dilepasmu, aku bisa menemukan titik balikku—dan itu menjadi kado perpisahan terindah yang kamu berikan untukku. Kamu mungkin tidak peduli. Tapi, tidak apa.
Dan maaf, jangankan menyapa, kembali menjadi temanmu saja rasanya sulit. Bukan karena aku membencimu. Tapi, kadang kita harus menghancurkan semua jembatan komunikasi yang ada—demi mempunyai jarak, iya 'kan?