Melampaui Sejarah di Rammang-rammang
“Magnificent!”, kata pertama yang keluar dari mulut bersamaan dengan hembusan nafas. Kami tak berhenti mengagumi kecantikan Rammang-rammang, kawasan karst di Desa Salenrang, Kec, Bontoa, Kabupaten Maros ini. Jejeran gunung kapur yang sudah “dilumuti” pepohonan, dengan disertai rongga-rongga ditubuhnya sehingga membentuk gua kecil.
Di kakinya terdapat beberapa rumah panggung penduduk, mushala, dan hamparan sawah. Kesederhanaan yang begitu indah ini, seolah berjarak satu abad di belakang milenium. Padahal hanya sejauh 40 km atau 2 jam dari Kota Makassar, dan 30 menit dari Bandara Sultan Hassanudin.
Kawasan Wisata Rammang-rammang diawali dari dermaga yang terletak hanya beberapa meter dari jalan raya lintas provinsi. Pada dermaga atau pintu masuk tersebut, terlihat jelas upaya pemerintah setempat mencoba memberdayakan kawasan ini menjadi objek wisata. Tertata rapi, sudah ada lapangan parkir yang cukup luas, rumah makan, toilet umum, hingga tempat penyewaan topi. Beberapa perahu berjejer rapi menyambut antrian rombongan wisatawan yang datang.
Sudah naik perahu untuk menyusuri Sungai Pute, artinya rasa kagummu akan dimulai.
Jika kamu termasuk orang yang sangat tertarik dunia sejarah dan prasejarah, mungkin akan merasa tiba di taman bermain. Taman bermain yang tak habis dijelajahi seluruhnya dalam satu hari. Bayangkan saja, jika kamu harus menyambangi satu persatu daftar objek ini dalam satu hari: Taman Batu, Telaga Bidadari, Gua Bulu Tianang atau Bulu Barakka, Leang Karama atau Gua Telapak Tangan, Gua Pasaung, Sungai Pute, dan Kampung Berua. Mungkin bisa saja, tapi apakah kamu akan menikmati penjelajahan ini? Apalagi, hampir kesemuanya adalah situs peninggalan sejarah, seperti Gua Telapak Tangan yang di dalamnya terdapat lukisan tangan manusia purba, Bulu Pasaung, dan Gua Bulu Tianang .
Tapi untuk kamu yang termasuk dalam kategori “slow-traveler” dan ingin melihat itu semua, tak perlu risau, di sana ada beberapa rumah penduduk yang sudah dijadikan home stay. Bahkan, saat saya mengunjunginya di 5 Desember 2017 lalu, sedang dibangun satu kawasan penginapan yang terdiri dari beberapa bungalow.
Saya dan rombongan termasuk dalam kategori “slow-traveler” yang sayangnya, saat itu tak punya banyak waktu untuk dihabiskan di Kawasan Wisata Rammang-rammang. Saya dan rombongan hanya menyusuri sungai, menapaki pematang sawah penduduk, bertegur sapa dengan penduduk lokal, serta melipir sejenak di mulut Gua Bulu Tianang.
Ada kejadian unik yang sempat membuat bulu kuduk berdiri. Setelah selesai berfoto dan di mulut Gua Bulu Tianang dan hendak pulang. Kamera saya kalungkan di leher, saat melangkah terdengar shutter-nya berbunyi satu kali. Saya laporkan kejadian ini pada kawan di samping. Di saat yang sama pula, shutter itu berbunyi lagi. Spontan saya matikan kamera dan meninggalkan gua tersebut dengan doa. Jangan tanya apa hasil jepretannya, sudah saya hapus.
Well… Jika saja tidak ada drama delay pesawat, destinasi ini akan ditaruh di awal, dan mungkin kami akan lebih puas mengeksplor eksotika Taman Wisata Rammang-rammang ini. Semoga masih bisa kesana lain waktu.