Dalam Balok Berukuran 15 Meter Kubik
Saya ingat kapan hari itu pernah sekali berujar,
"Enak ya bisa ngapa-ngapain cuma dari kamar aja,"
Kala itu saya sedang jenuh karena kegiatan perkuliahan dan tetek-bengeknya seperti samurai yang menyerang tanpa jeda. Semua yang saya lakukan serasa menghabiskan energi, tidur sekalipun.
Berangkat ke kampus pagi-pagi, menuju sekretariat himpunan karena kelas baru mulai pukul sembilan setiap harinya. Di sekretariat himpunan ada saja yang dikerjakan, maklum budak event waktu itu, masih amatir juga.
Pukul sembilan kuliah, dosen lama tidak kunjung datang, akhirnya memainkan ponsel sambil bicara ngalor-ngidul dengan teman sebelah kanan dan kiri saya. Dosen datang setengah jam kemudian, menyatakan hanya memberi materi sebentar, namun pada akhirnya kelas baru rampung satu setengah jam lebih lama dibandingkan jadwal. Kelas selesai, makan siang.
Makan siang selesai, kelas kedua dimulai. Kelas kedua selesai, tugas kelompok memanggil. Mengerjakan tugas kelompok itu sama dengan forum obrolan bebas, bahas sana bahas sini, tugasnya baru selesai tengah malam. Belum lagi ada kegiatan-kegiatan aneh ala-ala mahasiswa, membuat jadwal mengerjakan tugas kelompok terus berubah dan bergeser.
Begitu seterusnya, balok berukuran 15 meter kubik yang saya sewa, kamar kost saya, hanya saya huni maksimal enam jam sehari. Dari situ saja sudah bisa disimpulkan, tiga perempat hidup saya di luar kamar kost.
Sekarang, masihkah seperti itu?
Mungkin kalau coronavirus tidak datang ke Wuhan saya masih dan akan terus berada di luar kamar kost. Ya, penyakit akibat virus tersebut sekarang sudah menjadi pandemi. Semua negara memberlakukan social distancing, beberapa bahkan sudah memberlakukan lockdown.
Siapa sangka virus seperti itu bisa membuat kita akhirnya sadar bahwa balok berukuran 15 meter kubik ini, layak mendapat secuil perhatian kita. Menetap di dalamnya, jangan datang lalu kau pergi kalau kata HiVi.
Di dalam balok berukuran 15 meter kubik ini,
Saya yang tadinya hanya numpang menaruh barang dan numpang tidur kini berubah. Mulai menata ulang barang-barang, mengganti posisinya, ya walaupun banyak yang akhirnya kembali lagi ke posisi semula. Mulai menata ulang pakaian-pakaian dalam lemari, kemudian dengan bangga merasa "Wah, kamarku sekarang sudah seperti istana, pasti betah sampai karantina selesai,".
Mulai memperhatikan beberapa file kuliah dari semester satu sampai semester lima kemarin yang sudah tidak dipakai lagi. Mulai tertawa sendiri mengingat catatan-catatan yang amburadul dalam binder di semester awal kuliah. Kalau kata Hindia ini namanya wisata masa lalu, yang hanya merindu, mencari pelarian.
Wisata masa lalu itu kemudian berlanjut menjalar ke berbagai hal. Mengingat waktu pertama kali sidang tertutup untuk mempertanggungjawabkan tugas besar. Mengingat waktu pertama kali evaluasi semester sebagai mahasiswa. Mengingat waktu pertama kali duduk di dalam kelas bukan mengenakan seragam. Mengingat pertama kali praktikum sebagai mahasiswa. Mengingat OKKBK. Mengingat Gerigi, bahkan jauh mundur ke belakang.
Saat-saat menanti pengumuman masuk PTN, saat-saat menjadi manusia paling labil di dunia hanya karena jurusan yang akan ditempuh. Sungguh, sampai-sampai banyak hal yang dulunya saya lakukan ketika menunggu masa kuliah berlangsung terulang kembali.
Kalau beberapa waktu lalu nonton YouTube hanya untuk memutar lagu dan melihat liriknya. Kemudian, menonton apa yang sekiranya menyegarkan pikiran saja. Sekarang berubah, menjadi melihat berbagai konten dari para YouTuber, entah itu vlog, podcast, cover lagu, atau apalah itu. Menjelajahi semua konten YouTube rasanya tidak akan berbuah capek untuk saya yang sekarang.
Bahkan tak hanya itu, misal sekarang saya nonton vlog si A, ya saya googling juga si A ini siapa, dan seterusnya. Sepertinya saya kumat menjadi stalker semua orang mulai saat ini.
Lagi-lagi, semua hal di atas dilakukannya di balok berukuran 15 meter kubik.
Grup WhatsApp sama teman-teman jaman TK sampai SMA sekarang juga ramai lagi, bukan hanya grup WhatsApp keluarga saja yang sebar-sebar hoax sekarang. Cukup menarik. Bagaimana orang - orang saling menyebarluaskan informasi berupa pesan panjang yang menurutnya benar dan bermanfaat.
Ramai - ramai grup alumni di LINE memulai video call, Bahkan grup angkatan juga, yang satu ini malah semua platform digunakan untuk bersosialisasi. Grup LINE, grup WhatsApp, Instagram, Twitter, bahkan di Microsoft Teams, Zoom, Google Classroom, parahnya lagi sampai di MyITS Classroom. Mungkin karena setiap hari bertemu dan sekarang sama sekali tidak bertemu.
Minggu pertama #DiRumahSaja sudah selesai, tak ada hambatan berarti.
Mulai bosan karena tidak melihat dunia luar, tapi No probs, bro!
Minggu kedua dimulai, kuliah daring juga dimulai.
Macam-macam keunikannya, dari mahasiswa yang telat nimbrung di kelas daring, dosen yang mengajar hanya memakai kaos, sampai ada yang mengabadikan semua tampilan temannya melalui tangkapan layar, lalu dijadikan topik di setiap platform.
Mulai bosan, tentu saja, tapi sekarang lebih sibuk, setiap jam kuliah sekarang sudah berhenti nonton YouTube dan mencari tahu tentang orang - orang yang tidak ada hubungannya dengan saya.
Mata kuliah pertama di hari Senin, mulai mencoba beradaptasi memanfaatkan internet untuk kebermanfaatan. Cukup senang karena ada kegiatan yang disebut berfaedah. Dan untuk pertama kalinya ketika diberi tugas di penghujung kelas, merasa bahagia karena berarti menambah daftar kegiatan berfaedah lainnya.
Mulai mencoba menjadi positif dengan akhirnya memperhatikan beberapa konten sosial media mengenai "Berikut ini hal-hal yang dapat kalian lakukan ketika social distancing". Mulai respect dengan beberapa platform yang menyediakan kuota internet gratis, streaming drama korea dan film gratis, short course gratis. Padahal minggu lalu dibuka sebentar terus ditutup.
Padahal, minggu lalu motto hidup hanya mencoba beradaptasi dan kerjakan pekerjaan yang memang harus diselesaikan minggu ini. Ada pekerjaan untuk minggu-minggu selanjutnya? Losss broo nanti saja!, sepertinya masa karantina masih panjang. Sisa waktu yang bisa digunakan untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan masih panjang, waktu kita tidak akan terpotong oleh waktu untuk mobilisasi. Cukup dalam balok berukuran 15 meter kubik.
Tapi akhirnya, bosan juga, lelah juga, burnout juga.
Suara-suara rasional di kepala saya mulai berteriak pada tim hore di sisi kepala yang lain
“Katanya enak, tuh, enak tuh tugasnya numpuk, bisa jadi bahan biar gak gabut,”
“Tuh, enak tuh diam di dalam kamar, tidak ada yang mengganggu,”
“Bosan dalam balok ukuran 15 meter kubik?”
“Emang lo pikir dulu Bangsa Portugis sama Spanyol datang ke Nusantara karena apa? ya karena kalau diam di sana saja mereka mati bosan, Bro!”
“Kalau nggak bosan, sana tuh! produktif!”
“Katanya ‘Enak ya bisa ngapa-ngapain cuma dari kamar aja’,"
Mahasiswa Departemen Teknik Transportasi Laut