on their journey
instagram | twitter | shop | commission info
Show & Tell
🪼
Cosmic Funnies
Mike Driver
KIROKAZE
d e v o n
art blog(derogatory)

titsay

tannertan36
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr
The Bright Sessions
cherry valley forever
Phantogram Three

No title available
todays bird
tumblr dot com
𓃗
hello vonnie

Kiana Khansmith

PR's Tumblrdome

seen from Malaysia
seen from Venezuela

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Egypt

seen from Indonesia

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Germany

seen from Venezuela

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Mexico
seen from United States

seen from Argentina
seen from Singapore
seen from United States
@yusrinasabila
on their journey
instagram | twitter | shop | commission info
tak kenal usia
kalau kamu sudah melewati usia 20-25 yang konon adalah masanya seseorang mengalami quarter life crisis, akan tetapi masih kerap merasakan keresahan, kekhawatiran, atau ketidaknyamanan hati, kemarilah duduk bersama saya.
saya hanya ingin bilang bahwa kamu tak sendirian. bahwa yang kamu alami sangat wajar. bahwa apa yang kamu rasakan perlu untuk kamu terima.
saya mengerti bagaimana merindunya kamu kepada teman-temanmu yang sudah tenggelam dalam kehidupannya sendiri-sendiri: keluarganya, pasangannya, anak-anaknya, pekerjaannya, bisnisnya, karyanya.
saya mengerti bagaimana sesekali kamu ingin kembali menjadi anak kecil di hadapan orang tuamu. menangis dan meraung karena tak berhasil meraih sesuatu. atau hanya ingin menangis karena sekadar mengantuk.
saya mengerti bagaimana mungkin kamu ingin cuti hidup. sehari dua hari tanpa melakukan apa pun, tanpa menjalani peran apa pun.
saya mengerti bagaimana kamu gengsi untuk menumpahkan rasa lelahmu karena yah, seharusnya kamu sudah dewasa sekarang. yang kamu percaya, menjadi dewasa adalah tidak pernah mengeluh.
saya mengerti bagaimana kamu pada titik-titik tertentu berujar, "ah seandainya ini dan itu bisa diulang kembali. saya akan ambil keputusan ini atau itu."
saya mengerti bagaimana masa depan tampak mengerikan meskipun kamu telah sekuat tenaga membuat rencana dan menggalang persiapan.
saya mengerti bagaimana jiwamu seakan berceceran sebelum kamu tidur. kamu berharap bahwa malam akan mengumpulkan potongan-potongan jiwamu itu. namun tidak, di pagi hari, masih ada lubang yang menganga di hatimu.
kemarilah, kawan. duduklah di sebelah saya. tumpahkanlah semua yang menggantung di ujung matamu. menjadi dewasa tak berarti memiliki hidup yang paripurna. menjadi dewasa adalah menjalani hidup dengan berani--dengan penuh kesadaran bahwa krisis tak kenal usia.
semoga kamu selalu menemukan keberanian itu.
Self-love is not just about giving your self and mind a comma; an empty room of nothing and you sit there to do rest all day.
But it’s also about giving appreciation in knowledge, skills, healthy living, and good quality of relationships.
Self-love is not about accepting yourself with all the goods and bads and that’s the end.
It’s about to know yourself deeper in order to grow better and be better day by day.
To see yourself as a truly growing man, to be fully aware of your diverse emotions, to give your brain and mind new insightful knowledge, to give a reward for your struggles, to give you a soft-but-assertive warning for your bad habits and bad attitudes, and also give warm hugs whenever you feel like a crap someday.
you are responsible for yourself; your own satisfaction and the peaceful feeling of being you, your upgraded-version-self every time, without comparing so much to others or blaming yourself too much
Happy learning and growing, dear myself Have a nice day :)
#2: Gak Ada yang Instan
Iya, bahkan masak mie instan pun perlu dimasak dulu kan? #klasik
2 minggu ke belakang ini aku disadarkan lagi bahwa segala hal butuh proses. Salah satu yang paling teringat (karena kejadiannya baru kemarin) adalah pas masak bareng Ibu. Kita mau masak sapo tahu, yang mana bumbu dan cara masaknya mirip capcay biasa. Gampanglah, udah biasa masak tumisan di kosan kataku dalam hati.
.....Iya Ti, gampang. Soalnya selama ini kamu masaknya ngasal hahaha *menertawakan diri sendiri*
Ini bener-bener dari motong bawang sampe ngasih garam gula dan ngaduk sayurnya aku dikomentarin Ibuku. “kok motongnya gitu? Kan bentuknya jadi gak cantik” “masukin wortel dulu dong, baru pokcoy” “ngaduknya ga usah sering-sering” “saus tiram kira-kira 2 sendok” *aku mengambil sendok* “ya gausah pake sendok, dikira-kira aja” *tapi aku tidak punya sense....*
Pokoknya sesi penjurian Master Chef-nya panjang deh, hehe
Setelah masak sapo tahu itu aku langsung merasa sangat cupu. Jadi selama ini aku masak tuh masak apa ya kalo di kosan? wkwk. Ya jadi sih masakannya, tapi kayaknya goal masakku kalo di kosan ya yang penting edible, bisa dimakan. Ga ada mikirin bentuknya bagus apa engga (karena aku doang yang bakal makan), penampakannya menggugah selera apa engga (karena balik lagi, yang penting edible).
Oke, itu sesi kocak di masakan.
Ada lagi sesi kocak di kantor. Ga kocak sih ini, lebih ke sedih wkwk. Karena males cerita (loh piye?) detailnya, intinya aku pernah diminta ngerjain sesuatu yang aku merasa udah terbiasa dengan itu, terus ternyata ada orang lain yang ngerjain juga, dan hasilnya....bagus banget. Rasanya skill-ku ga ada apa-apanya. (ya memang engga sih, harus banyak belajar lagi) Walaupun aku tau temen kerjaku itu memang udah jauh experienced dibanding aku, tetep aja rasanya ada yang...sedih-sedih gimana gitu. Tuh kan, makanya jangan pernah merasa puas dalam belajar. Karena di atas langit masih ada langit. Satu ilmu selesai masih ada ilmu lain yang lebih advance. Dan selalu sadari, menjadi expert di sebuah bidang itu memang butuh waktu, butuh kerja keras, butuh kesabaran.
Ya, gak ada yang instan untuk mencapai sesuatu
#1: Di Rumah Aja, dengan Nada yang Berbeda
Harusnya #3 gitu ya berhubung hari ini hari ketiga Ramadhan hehe. Tapi baru realisasi #1Hari1Tulisan hari ini, jadi yaudah gapapa kita mulai dengan #1 dulu.
Pertama-tama mau mengucap Alhamdulillah, karena masih bisa dipertemukan dengan Ramadhan tahun ini. Di tengah masa pandemi ini pula Alhamdulillah aku masih bisa kumpul sama keluarga di rumah (ayah, ibu, dan adek. Kakak masih di Tangerang) dan Insya Allah akan melalui satu bulan Ramadhan full bareng-bareng. Kebetulan kantorku pun kebijakan WFH-nya sampe lebaran.
Terdengar tidak familiar sebenarnya, karena setelah diingat-ingat, entah kapan terakhir kali aku pernah merasakan Ramadhan full di rumah, SMP mungkin..? Dulu itu bulan Ramadhan masih masuk semester ganjil di kuliah jadi biasanya setengah di Bandung setengah di rumah. Atau dulu pernah juga hampir full Ramadhan di Bandung.
Ternyata udah selama itu ya? Lebih tepatnya, ternyata udah selama itu ya aku gak di rumah dalam waktu yang lama (lebih dari seminggu)?
Sejak SMA di Bandung, kayaknya aku tipe anak rantau yang jarang pulang padahal jarak Serang-Bandung gak sejauh itu, cuma sekitar 5-6 jam. Libur semester sekolah atau kuliah biasanya ada kegiatan, jadi gak full libur di rumah juga. Kalau dihitung-hitung dalam setahun, mungkin total waktu aku ada di rumah cuma 1 sampai 2 bulan..? Dan itu berlangsung selama 7 tahun...? wow oke, Oti. Sebenernya kadang orangtua yang ke Bandung sih, tapi itu pun jarang, dan semakin jarang begitu aku kuliah tingkat 2 ke atas.
Oh ya, aku udah di rumah dari 2 minggu lalu. Dan entah kenapa aku jadi merasakan sesuatu lagi yang udah lama hilang (apa coba). Mungkin karena sekarang adekku lagi di rumah juga ya (dan lama pula), jadi kerasa beda aja gitu. Jadi ceritanya aku, kakak, dan adek itu memang udah lama gak di rumah (maksudnya dalam sehari-hari, ya). Aku udah hampir 8 tahun di Bandung (dan sepertinya akan bertambah, karena ngantor di Bandung dalam jangka waktu yang belum diketahui). Kakakku dulu SMA di magelang, terus kuliah di Bandung 5 tahun, dan kerja di Tangerang hampir setahun (berapa tuh totalnya). Adekku udah 4 tahun di Bekasi, pesantren. Ya Allah betapa kesepiannya Ayah dan Ibu ya.....mana kita bertiga itu libur dan lowongnya suka beda-beda, jadi bisa dibilang jarang full-team di rumah.
Dengan kondisi keluargaku yang kayak gini, #DiRumahAja terasa jadi...beda. Karena gak “aja”, justru lebih ke #AkhirnyaDiRumah, karena memang pada jarang pulang.
Rasanya Ramadhan ini terasa lebih spesial (tentu di luar pandemi yang sedang terjadi ya), karena Ramadhan tahun-tahun ke depan belum tentu bisa seperti ini kan? (terus jadi sedih)
Alhamdulillah....
Semoga kita semua diberi kesehatan di tengah wabah covid-19 ini ya
Rumah, 26 April 2020 | Memulai tulisan pertama dari total 30 tulisan, Insya Allah
Miskomunikasi, Lagi.
Entah sudah keberapa kali selama 23 tahun hidup ini, aku punya masalah komunikasi dengan orang lain. Mulai dari hal sepele sampai hal yang besar, dan masih terjadi hingga detik ini. Dari jaman main sore-sore sama anak komplek berujung berantem dan nangis, sampai ke masalah kerjaan hari ini. . Rasanya jadi ingin menertawakan diri sendiri, kok bisa ya dari sekian jenis masalah, akhirnya jatuh di masalah komunikasi (lagi). Padahal udah sering banget jadi lesson learned yang diikuti dengan tekad kuat memperbaiki diri supaya ga ada miskomunikasi lagi dengan siapapun.
. Tapi...ternyata memang susah, ya? Menurutku masalah komunikasi ini tergolong never-ending problem karena kita hidup dengan orang lain, berinteraksi dengan banyak orang yang sifatnya beragam dengan kondisi yang bermacam-macam pula. Perbedaan pendapat, pemahaman, ekspektasi, itu rasanya sangat sulit untuk dihindari.
. Pada akhirnya, never-ending problem ini pun seharusnya akan menjadi never-ending lesson selama hidup. Masalah komunikasi mungkin akan terus terjadi di manapun, kapanpun, dengan siapapun esok hari. . Tapi tentu harus ada yang berubah dan berkembang, bukan? Ya, menjadi lebih dewasa dan lebih bijak. Rumah, 19 April 2020 | “Gapapa, yuk belajar lagi dan belajar terus”
BERCUKUP, BERSYUKUR, JANGAN SERAKAH
"Azima mau apa kalau sudah sampai 500 bintang?" Bunda Azima menanyakan.
"Biskuit Regal". jawab Azima polos.
.
Begitu penggalan percakapan yang diceritakan bundanya Azima ke saya. Perbincangan itu dilakukan saat mereka lagi diskusi soal targetan kebiasaan baik. Tiap melakukan hal yang baik dapat bintang. Kalau sudah terkumpul dapat hadiah yang disepakati.
.
Saya ketawa dengarnya. Polos sekali Azima memilih hadiah biskuit Regal. Menurut kita mungkin kok pilihannya gak "wah" banget. Tapi buat anak ini, itu sudah cukup buatnya gembira. Mencukupkan diri dengan hadiah biskuit Regal :D
.
Merasa cukup adalah benteng kuat untuk menghalangi kita dari keserahakan. Banyak kerusakan di dunia asal muasalnya dari keserakahan manusia. Baik kerusakan alam, ekonomi, maupun sosial.
.
Alam rusak karena kita serakah ambil manfaat darinya. Penyalahgunaan wewenang buat kepentingan pribadi, ada keserakahan di sana. Korupsi, pakai kekuasaan untuk menindas, hingga rela menginjak saudara sendiri, semua bermula dari tidak bercukup, lalu serakah dalam pemuasan keinginan.
.
Merasa cukup bisa dimulai dari selalu bersyukur terhadap nikmat yang Allah berikan pada kita. Karunia dan nikmat Allah pada kita selalu cukup. Kebiasaan mengeluh, melihat yang kita gak punya, dan membanding-bandingkan yang bikin rasa gak cukup dan bersyukur sulit muncul.
.
Mungkin kita perlu lebih menyederhanakan lagi defenisi bahagia kita. Sesederhana bisa makan biskuit Regal, gak sampai makan enak di restaurant mewah ternyata bisa bikin bahagia untuk seseorang. Tapi punya rumah dan mobil mewah mungkin belumlah cukup bagi orang yang lainnya.
.
Saat defenisi bahagia kita gak perlu syarat panjang maka lebih mudah buat kita bersyukur. Dan saat kita senantiasa terus bersyukur, Allah akan tambah nikmat-Nya untuk kita.
In this middle of chaotic minds, a so-called-best-friend called sanity says hello and tells old stories of mine.
"Hey, you've passed through all of those hard times. You've been work hard to stay sane with me. You did great. You're stronger than you think. Stop overthinking.”
Thank you for reminding me always, buddy.
Proses menumbuhkan kembali dari keadaan patah mungkin dapat diakselerasi. Namun saat ini cukuplah engkau mengikhlaskan dan bersabar dahulu. Akan ada waktunya, insya Allah. Akan ada waktunya ketika sekelebat memori itu muncul kembali, kau tidak akan merasakan apa-apa lagi. Akan ada waktunya ketika kau berkunjung ke tempat-tempat di masa lalu, rasanya dirimu hanya ingin tersenyum. Bukan lagi rasa sakit, bukan pula rasa kesal, apalagi sesal.
Saat ini mungkin tidak mudah. Kedepan pun belum tentu akan lebih mudah. Namun bersiaplah, kalau-kalau ternyata di depan sana ada secercah cahaya yang siap menyambutmu. Sebagaimana janji Allah yang akan memberikan suatu pengganti yang lebih baik ketika sesuatu telah hilang dari hidupmu. Ingatlah bahwa tidak ada yang instan, namun ingatlah pula bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Tetaplah pada keyakinanmu. Insya Allah things will get better and you will feel better soon.
Izu no Odoriko
Mengukir Titik Terbaik Di Setiap Harinya
Berita kepergian Ashraf Sinclair kemarin meninggalkan kesedihan bagi banyak orang. Tak terkecuali teman-teman yang bergerak di dunia startup digital. . Beliau pernah jadi partner di 500 Startups Asia Tenggara. Kami pernah bertemu beberapa kali di forum2 500 Startups. Orangnya ramah dan humble sekali. . Satu pelajaran yang kita dapatkan : kematian bisa datang kapan saja. Baik Tua muda, rajin olah raga ataupun tidak. Buat kita merenung, sudah siapkah kita kalau Allah panggil hari ini. . Perjalanan bersiap bukan sebuah rencana yang kita terus bayangkan hari ini lalu diharapkan terjadi suatu saat nanti. Ia adalah usaha hari ini. . Saya teringat ada poin menarik dalam buku The Courage to Be Disliked karya Ichiro Kishimi. Perjalanan menjalani hari demi hari seperti pekerjaan membuat titik demi titik, bukan garis. . Tiap hari adalah titik baru. Titik yang utuh, komplit, dan sempurna seperti perumpamaan hari yang dapat dijalani optimal dan utuh. . Jika Allah beri umur lagi besok, kita bersiap membuat titik lainnya. . Tidak seperti garis, titik tidak bergantung dari mana sebelumnya, dan akan kemana setelah ini. Sekelam apapun kita hari kemarin, atau kegundahan esok yang masih ghaib, orientasi kita adalah membuat titik terbaik baru setiap hari. Bukan meratapi kemarin dan cemas akan esok. . Tiap hari adalah titik baru, yang juga lembaran baru. . Kadang titik kita hari ini tidak sempurna, sempoak sana sini. Sebagaimana ada hari dimana kita gagal, salah, tidak optimal, mengecewakan. Ambil pelajaran, besok kita berusaha terbaik buat titik yang lebih bagus. . Jika besok ibadah dilakukan yang terbaik, amanah dituntaskan, melakukan seoptimal2nya peran sebagai suami, ayah, anak, atau sahabat. Maka titik yang tercipta bisa makin komplit dan sempurna. . Saat ternyata Allah berkehendak panggil kita di hari itu, kita sedang berada pada usaha terbaik tuk buat hari ini paling bermakna. Tiap hari adalah usaha mengkomplitkan hidup di hari itu. . Semakin banyak titik yang kita buat dengan usaha terbaik, lama-lama gak kerasa kita sudah buat sebuah pola garis dari titik2 itu. Dan mungkin jadi sebuah garis indah, yang makin lama makin menukik ke atas. Pertanda kita membaik tiap hari. . Di penghujung hari ini kita sudah hampir selesai mengukir titik. Apapun hasilnya jadikan pelajaran. Mari besok kita torehkan titik terbaik lain yang bisa kita buat jika masih Allah beri kesempatan.
Di Setiap Sudut
Belakangan ini lagi rajin dengerin podcast di Spotify, suatu kegiatan yang sebenernya udah dilakuin cukup lama tapi belum serajin sekarang. Mungkin bermula dari kebosanan dan merasa kesepian, kayak jadi pengen aja ngelakuin sesuatu sambil ada background orang ngomong yang kalo bisa berfaedah karena siapa tau ada yang nyangkut di otak hehe. Contohnya didengerin pas lagi mengerjakan sesuatu atau berada pada kondisi yang gak pake mikir dan cukup lama; beberes, nyuci, ngerjain sesuatu di laptop (yang gak butuh konsentrasi penuh), atau lagi di perjalanan (anaknya gampang mabok jalan juga soalnya jadi bukan tipe yang bisa baca buku atau tulisan panjang di mobil heu, kudu liat jalan. Nah tapi kan kadang lama banget ya di jalan tuh, misal bdg-jkt aja kalo macet bisa 4-5 jam, tidur mulu juga bosen kan), dll.
Salah satu podcast favoritku adalah 30 Days of Lunch. Dulu awalnya ngira ini podcast isinya ngomongin resep makan siang atau review tempat makan siang enak di jakarta wkwk gak taunya....? insightful banget dong kontennya. Intinya sih makan siang, tapi sambil ngobrol sama orang-orang tertentu. Kalo kata creator-nya, waktu makan siang tuh waktu yang efektif buat belajar hal baru. Oh dan biar makan siangnya lebih faedah juga sih ga sekedar haha hihi (walaupun haha hihi pun diperlukan dong pastinya biar gak stress juga).
Dengan prinsip talks the walk (bukan walks the talk), si creator dari podcast ini ngundang orang-orang yang experienced di berbagai bidang buat cerita perjalanan atau opininya di bidang yang dia tekuni. Jadi kayak ga ngasal juga orang ngomongnya, karena bener-bener berdasarkan pengalaman. Sejauh ini episode favoritku itu yang CEO halodoc sama founder indomusikgram. Pokoknya highly recommended deh dengerin podcast ini, udah banyak orang yang ngerekomendasiin juga.
Oke favoritku selanjutnya ada Obrolan Babibu! Yang bikin podcast ini adalah sepasang suami-istri yang menggeluti bidang creative industries. Yang aku tau, keduanya memang kuliah jurusan Komunikasi dan sempet jadi penyiar radio (kayaknya sekarang udah engga sih, tapi sibuk di yang lain). That’s why, suara mereka enak banget didengeriin dong toloong wkwk. Ya tipikal suara penyiar radio gitulah, tau kan, renyah dan ga ngebosenin. Nah konten podcast mereka tuh lebih ke ngobrolin hal-hal dalam hidup kayak perasaan insecure, belajar hal baru, dan isu-isu kehidupan bersosial lainnya yang lagi rame dibahas netizen.
Sisanya aku dengerin random aja sih, misalnya dengerin cerita investigasi kasus kriminal di Casefile True Crime. Emang pada dasarnya udah demen detektif-detektifan dari kecil ga bisa ilang sampe sekarang wkwk. Atau dengerin podcast sejarah. Lumayan juga sih jadi bisa sekalian melatih listening.
Anyway, setelah dengerin berbagai podcast, aku makin menyadari kalo ilmu tuh setersebar itu dimana-dimana, di setiap sudut.
Aku masih belum lupa perkataan seorang dosen (sebut saja Pak Titah wkwk), yang bilang kalo privilege anak jaman sekarang (maksudnya yang seumuranku, 20an. Atau ya katakanlah millenials) adalah banjirnya informasi dan begitu mudahnya akses ke sumber informasi tersebut. You name it, google, YouTube, Coursera (dan berbagai sumber online course lainnya), Spotify, dll. But at the same time, masih kata Pak Titah, itu menjadi tantangan kita yang harus giving extra efforts untuk menyaring berbagai informasi yang masuk; mana yang bener-bener fruitful mana yang engga. Dan tentu saja dari diri kita sendiri juga, mau apa engga memanfaatkan segala informasi itu untuk mengembangkan pengetahuan? Mau menghabiskan waktu dengan belajar, atau malah cuma dengan hal2 yang sifatnya entertaining dan sementara?
Sedikit cerita latar belakang dari perkataan dosenku, beliau ngomong begitu setelah sedih ngeliat kita ngerjain tugas beliau dengan so-so. Beliau bilang, harusnya kita tuh bisa banget loh ngerjain yang lebih bagus, lebih insightful, toh segalanya kan ada di google, kenapa males banget sih? [super tertohok huhu]. Beda dengan era beliau yang nyari buku dan paper berkualitas tuh susah, belum ada internet, dsb.
Jadi, maukah kita mencari ilmu ke setiap sudut? Semoga aku, kamu, kita semua bisa jadi orang yang bijak dalam menggunakan teknologi dan gak males buat nyari ilmu :”
Tangerang, 8 Februari 2020 | Sedang mengerjakan sesuatu tapi kok bosen ya jadi yaudah deh nulis
Logistik kehidupan
Cape tapi seru banget ya ternyata kehidupan orang “dewasa” hahah. Dulu pas bocah (sampe kuliah) kan kalo laper udah ada makanan, mau pake baju tinggal ambil di lemari, ga usah pusing kalo mau mandi lama-lama karena ga kebayang tagihan airnya berapa.
Baru nyadar kalo dulu tuh kita bisa belajar, main dan eksplorasi hobi sepuas-puasnya itu karena sebagian besar waktu kita lowong dari memikirkan dan mengerjakan logistik kehidupan. Beranjak dewasa, baru sadar kalo untuk menyiapkan makanan sehat 3x sehari itu butuh: duit, belanja, potong-kupas, masak, cuci piring. Ga bisa tiap hari order UberEats karena selain mahal juga bosen karena pasti menunya itu lagi itu lagi. Betapa aku dulu take the homemade meal for granted. Masalah sesimpel mikirin menu pun ada effornya gilee.
Belum lagi ternyata baju kotor tuh cepet banget numpuk ya wkwk. Karena mesin cuciku mini (cuma 4.5kg), akhirnya harus jadwalin nyuci 2-3x seminggu, abis nyuci harus jemur, nunggu kering, ngelipetin terus masukin ke lemari, kalo ada yang kusut di setrika. Bahkan sampe aku kuliah di Bandung pun, aku biasanya tinggal masukin baju kotor ke mesin cuci terus tibat-tiba tar udah kelipet rapi di kamar. Dicuciin bude hehe. Oh bahkan pas ngekos di Jakarta pun kosannya include laundry, jadi ada mbak yang nyuci-nyetrikain. Baru berasa kalo proses keseluruhan mengkonversi baju kotor ke baju bersih tuh cukup makan waktu huhu.
Belum masalah duit ya kan. Jadi aware sama konsumsi internet, listrik, gas dan air ya karena harus bayar tagihan hehe. Jadi mulai baca-baca tips finansial dan budgeting biar kehidupan bisa rada mulus. A side note here: ternyata punya dana darurat bener-bener bikin tenang pikiran loh. Ada sisihan dana untuk kalo tiba-tiba sakit gigi, mobil rusak atau tiba-tiba harus nginep di luar kota karena ketinggalan transportasi umum paling lambat.
Barusan banget dapet whatsapp dari temen kalo doi gajadi ikut latihan angklung di KJRI karena komitmennya udah banyak: riset, ngajar ngaji, liqo, ngegym. Terus flashback sama masa-masa S1 yang pulang ngampus jam10 apa 11 malem hampir tiap hari dan besok paginya udah berangkat lagi. Jadi bisa ikut kegiatan ini itu di kampus. Sekarang mana bisa coy, the food doesn’t cook itself, hehe.
Jadi sadar, kalo sekarang tuh ada sebagian waktu yang harus dialokasikan untuk logistik biar kehidupan berjalan lancar. Pulang kampus sempetin belanja sayur, masak makan malem kadang dilanjut nyuci, kadang ngelipetin pakaian, kadang beberes bersih-bersih. Kelarnya tiba-tiba udah jam9 apa 10 malem. Udah ngantuk tinggal nonton tv bentar terus tidur. Meski gitu masih berusaha nyempetin ngegym 2-3x seminggu, main angklung dan baca buku (lagi menggalakkan program baca satu buku sebulan nih ehehe).
Weekend sekarang berasa berhargaa banget. Bisa tidur sampe siang, baca buku di taman, bikin risol mayo, bisa macem-macem deh. Tapi jujur setelah nikah jadi ga pernah crocheting sama sekali hiks. Jadi gaun nikah tuh masterpiece terakhir aku haha. Dulu crocheting biasa pas di tram kalo ke kampus, sekarang ngampus jalan kaki. Mau weekend nyempetin tapi ada aja halangannya.
Intinya adalah mau mengapresiasi semua orang dewasa yang dulunya bikin aku ga harus ngerjain semua logistik kehidupan biar bisa fokus belajar dan bertumbuh. Aku tau ga semua orang bisa dapet privilege itu. Sekarang cita-citanya adalah mau tetap bertumbuh meskipun harus ngerjain logistik, semoga jadi lebih bertanggungjawab dan mengapresiasi hal-hal kecil di kehidupan.
Cheers.
animation + painting practice of food!
instagram | twitter | shop | commission info
So relaxing
Beda Jalan
Ada yang menikah di usia 20an, alhamdulillah. Energi masih banyak. Idealisme masih membara. Perjuangan membangun keluarga insyaallah menjadi amal salehnya.
Ada yang menikah di usia 30an, 40an, atau lebih, alhamdulillah. Secara finansial sudah lebih mapan. Lebih matang juga dari berbagai segi. Kesabaran menjaga dan menyiapkan diri insyaallah menjadi amal salehnya.
Ada yang bekerja sesuai impian dan passion, alhamdulillah. Kerja jadi ngga kerasa kerja. Dedikasi insyaallah menjadi amal salehnya.
Ada yang bekerja di luar passion, alhamdulillah. Ada manfaat untuk sesama yang kadang lebih utama daripada impian pribadi. Kelapangan hati insyaallah menjadi amal salehnya.
Ada yang memulai bisnis dan berhasil di usia 25, alhamdulillah. Masa mudanya produktif dan bermanfaat. Kerja keras insyaallah menjadi amal salehnya.
Ada yang mencoba berbisnis berkali-kali dan baru berhasil di usia 40, alhamdulillah. Pengalaman gagal bisa jadi jalan buat rezeki tak ternilai bernama kebijaksanaan. Ketekunan insyaallah menjadi amal salehnya.
Hidup tidak selalu berjalan sama untuk semua orang. Ada banyak hal yang terjadi di luar kendali kita. Tetapi, itu ngga perlu jadi masalah. Kita hanya berbeda dalam memilih jalan amal saleh. Tujuan kita tetap sama, kan?
Kita mungkin bertolak dari titik yang berbeda. Rute perjalanan kita barangkali ngga sama. Waktu keberangkatan dan kedatangan kita pun mungkin beda. Tetapi, jika kita mengarah ke tujuan yang sama, perbedaan itu tidak menjadi masalah.
Rute mana pun yang tengah kita jalani, duluankah atau belakangan kita memulai, cepat maupun lambat kita berjalan, selalu ada kesempatan untuk menghimpun amal saleh.
Toh, yang ‘menang’ bukan yang paling duluan sampai. Tapi yang paling banyak bawa muatan amal saleh selama perjalanannya. Biasanya kalau pengen dapet muatan banyak, perjalanannya pun bakal lebih berat. Semoga kita kuat.
A reminder to stop comparing myself to others that ended to self-blaming
Always Changing
Akhirnya buka tumblr lagi setelah sekian lama. Padahal dulu sesedih itu pas Tumblr sempet diblokir sama Kominfo. Selama diblokir sempet pindah-pindah platform; wordpress dan medium. Tapi entah kenapa di dua platform itu ga bisa se-ekspresif nulis disini haha. So yeah, hello my old friend, Tumblr. Semoga bisa sering-sering nulis disini lagi buat menumpahkan isi hati dan pikiran hehe, menuju #2020LebihEkspresif
Anyway, aku mau sedikit (atau banyak, ya? let’s see) cerita tentang excitement kemarin malam, yaitu nonton orang main gitar, piano, clarinet (semoga ga salah liat. perbendaharaan jenis alat musiknya jelek nih haha), dan nyanyi. Semoga ada faedahnya ya hehe
Oke, yang bikin membekas dan istimewa dari pengalamanku semalam adalah semua orang yang di panggung adalah orang-orang keren. Mereka biasanya cuma bisa kuliat di IG atau YouTube. Ada Gerald Situmorang (Gesit), Sri Hanuraga, Ify Alyssa, dan temen-temennya Ify (maaf mas-mas yang lain aku lupa namanya).
Yap, aku dari dulu se-ngefans itu sama Gesit. Waktu itu lagi scroll IG tiba-tiba muncul ke IG-nya gesit ini. Dan...langsung suka sama main gitarnya karena jujur jarang nemuin musisi Indo yang main gitarnya tuh gitar akustik yang adem bener (walaupun Gesit mainannya bukan akustik doang sih). Dulu aku emang pengen belajar gitar walaupun pada akhirnya cuma berhenti sampe SMP, itupun cuma mainin kunci dasar dan otodidak banget. Seengganya dulu sempet bisa main iseng sama anak-anak di kelas dan main lagu simpel di pensi SMP haha.
Nah, setelah itu aku masih keep up with guitar-things walaupun gak main lagi, salah satunya ya dengerin orang main gitar. Jaman SMP-SMA anaknya Sungha Jung sama Depapepe banget lah pokoknya. Awal-awal kuliah dengerin yang lain (bukan instrumental). Sampe akhirnya tahun 2018 itulah aku nemuin Gesit dan wow oke, sebuah “penemuan” gak sengaja yang gak disesali.
2018 itu adalah masa-masa aku ngerjain TA dan tahun dimana terjadi drama hidup lainnya. Dari tahun 2018 itulah musiknya Gesit jadi temenku, yang somehow relaxing and inspiring. Kayak ya seneng aja gitu dengerinnya, sampe sekarang.
Terus tahun lalu sempet ada interview dari Kala Journal (thanks tim Kala!) yang nyeritain perjalanan Gesit dari 0 sampe akhirnya jadi musisi keren kayak sekarang. Menurutku konteks ceritanya universal sih, bukan buat orang yang pengen jadi musisi doang. Tapi intinya setelah nonton interview itu, aku semakin nge-fans sama Gesit haha (karena cerita perjalanannya). Yang paling aku inget dan nempel banget adalah cerita gimana Gesit bisa mengekpresikan maunya apa and he walks the talk. Keluarganya bukan keluarga musisi jadi kebayang gak sih komunikasi ke keluarganya gimana? Terus dia sempet kuliah di UI juga, tapi akhirnya dia berani dan serius ngejalanin karier sebagai musisi. Kudos to you, bang!
Sejak tau Gesit, emang sepengen itu nonton show-nya yang instrumental (bukan yang bareng Barasuara. bukan karena ga suka lagunya tapi emang kurang suka ke gigs yang vibesnya rame dan jingkrak2, pengennya yang duduk dan khidmat gitu). Tapi ya ga nemu-nemu aja momennya, mana biasanya dia ngadain gigs tuh di Jakarta. Dan dia bisa dibilang jarang sih bikin pertunjukkan yang dia sendiri doang.
SAMPAI AKHIRNYA (akhirnya ngegas juga) awal tahun 2020 dia ngumumin mau bikin show 7 hari buat mainin semua album yang dia punya (semacam peringatan satu dekade berkarya gitu). Wah ya ga bisa dilewatin banget dong inii. Awalnya mau nonton yang tanggal 2 Februari, pas mainin album Solitude, tapi ternyata gabisa. Akhirnyaa aku mutusin buat dateng yang tanggal 27 Januari bareng Shabrina (thanks a lot sabe yang udah mau nemenin! nah kalo sabe nge-fans-nya sama Ify hehe).
Awal nyampe di venue deg-degan dong. Kayak wow akhirnya aku akan liat Gesit for real, mainin lagu-lagu instrumental favorit di album META? Di awal ada opening act oleh Ify, nyanyi 5 lagu yang dulu cuman bisa kudengerin di YouTube haha. Suara Ify emang angelic, alus pisan kalo kata Sukma. Daan akhirnya Gesit main sama Aga, hampir seluruh lagu di album META.
My impression? bagus banget
Ini emang pengalaman pertama dateng ke gig instrumental + Gesit pula jadi entah kenapa seseneng itu! Gesit mainnya ga kaleng-kaleng (ya iyalah wkwk) dan Aga juga, aku setuju sih kalo Gesit manggil dia Maestro because yes he is.
Oh ya buat info terakhir, nama rangkaian shows 7 hari-nya Gesit ini adalah “Always Changing: A Decade of Gerald Situmorang”. Always Changing itu salah satu judul lagunya di album Solitude. Selama perjalanan balik ke Bandung aku ngobrol sama sabe tentang banyak hal. Dan akhirnya aku berkesimpulan, hidup tuh emang always changing, selalu berubah. Perjalanan hidup dari kita lahir sampe detik ini ada banyak kejadian yang kita sadari dan gak sadari, disengaja maupun enggak, sedih maupun senang, mudah maupun susah.
Mungkin kita punya pengalaman pahit atau masa lalu yang menyesakkan.
Tapi kita harus selalu bergerak dan berubah, berbenah diri ke arah yang lebih baik, kan?
Berdamai dengan masa lalu, memaafkan diri sendiri dan orang lain, berterimakasih pada diri sendiri, bijak dalam menyelesaikan masalah adalah beberapa proses kita untuk berubah.
Ada beberapa hal yang masih menjadi PR pribadiku dalam menjalani fase changing ini (yang sebenernya adalah fase seumur hidup).
It’s ok untuk sedih, marah, kecewa, dan lain sebagainya. Jangan dipendam lagi Ti, tapi ya secukupnya juga aja dan diekspresikan dengan tepat. Terima dan jalani prosesnya, yuk kita berubah :) bismillah ya.
Bandung, 28 Januari 2020 | Sedang merasa senang dan belajar untuk lebih ekspresif, semoga terus berlanjut
Ada banyak sekali sumber lelah di dunia ini.
Pastikanlah lelahmu lillah, dan untuk hal yang bermanfaat