Sebuah Pertanyaan dengan Kata "Kapan"
Belakangan aku sering bertanya kepada diri sendiri, "Sampai kapan mau kayak gini?" suatu pertanyaan yang harusnya sudah aku ucapkan dari awal ketika mengambil keputusan untuk menaruh hati. Namun sayangnya aku tetap melaju meski kalimat dengan tanda tanya itu selalu menjadi bayang-bayang
Sudah Ramadan yang kesekian, lagi-lagi aku berdoa hal yang sama. Mungkin sudah Ramadan kedua aku berani berani berterus-terang pada diriku sendiri dan juga pada Allah apa yang sebenarnya aku mau. "Kalo memang iya, mudahkan jalannya. Namun kalo memang tidak, hilangkanlah rasa dan pertemukan dengan yang lebih baik." Kemudian aku bertanya kepada diri sendiri, "Tapi kapan ya jawaban itu datang?"
Momen lebaran kali ini rasanya semakin berat ketika orang-orang bukan lagi bertanya kepadaku, melainkan kepada orangtuaku, "Kapan mantu Pak?" Suatu pertanyaan yang sesungguhnya membuatku patah hati. Lebih sakit daripada mendengar orang-orang bertanya langsung kepadaku, "Kapan nikah?" Ternyata ini adalah beban sosial lain menjadi anak pertama - yang selalu dituntut secara tidak langsung menjadi cermin keluarga.
Sesungguhnya aku biasa saja ketika orang lain bertanya kepadaku tentang "Kapan nikah?" karena pada akhirnya itu semua kan yang menjalani aku bukan mereka yang bertanya. Namun ketika pertanyaan itu bukan lagi ditujukan kepadaku dan melainkan ditujukan kepada orangtuaku tanpa aku dilibatkan lagi untuk menjawab pertanyaan itu - maka bagiku rasanya menjadi tamparan besar. Apalagi ketika orangtuaku tidak pernah bertanya ataupun memintaku, "Kapan mau nikah?" Rasanya mereka sangat berhati-hati tentang hal ini kepadaku dan tidak mau membebaniku dari tuntutan yang lumrah di luar sana.
Melihat kenyataan Bapak akan pensiun tahun depan rasanya semakin menyadarkanku jika orangtuaku usianya memang tidak muda lagi dan memang usiaku yang memang sudah layak masuk usia menikah. Hingga akhirnya aku hanya bisa terus meminta kepada Allah untuk kemudahan jalan yang satu ini jika memang ini yang terbaik. Semoga jika memang sudah waktunya dan sudah tepat orangnya, semua prosesnya akan dimudahkan oleh Allah.
Selamat lebaran, semoga kita bisa lebih menjaga mulut kita dari melontarkan pertanyaan, "Kapan"
Jogja, 16 Mei 2021
kadang yang orang lihat dan menjadi patokan hanyalah usia..
Tersenyum memang membuat sedikit tenang namun pasti masih membekas perasaan tidak enak dalam hati.
Di fase inilah harus lebih lebih pandai melontarkan jawaban supaya mereka "bosan bertanya" kembali.. Mungkin membuat mereka "skakmat" misalnya :)
Ribet emang hidup di dunia plus enam dua ini kalau melulu menerima apa yang mereka ucap.. Udah lah di "bodo amat" in aja.. Semua pasti akan baik kok, karena Allah selalu punya kejutan terutama perihal J O D O H.













