Tidak Semua yang Tenang, Hilang
Hidup pernah terasa seperti pertunjukan tanpa jeda. Setiap senyum harus meyakinkan, setiap kata harus terdengar aman, setiap langkah harus tampak benar di mata orang lain. Kalau ada yang nggak suka, rasanya seperti gagal — when in fact, it was just another form of fear of rejection.
Dikenal sebagai anak organisasi, supel, gampang nyambung sama siapa aja — it looked ideal from the outside. But deep down, there was exhaustion that kept growing: tired of adjusting, tired of maintaining an image, tired of always trying to be someone who fits in.
Sampai akhirnya di semester akhir kuliah — di tengah skripsi dan chaos kecil yang rasanya nggak kelar-kelar — I crashed. That’s when silence started to feel like a choice. Menepi dari dunia yang bising, bahkan memilih hiatus dari media sosial.
Awalnya sepi. Tapi ternyata, silence wasn’t as scary as I thought. Dalam psikologi, kesunyian sering disebut ruang untuk self-integration — momen ketika seseorang mulai mengenali diri bukan dari cermin sosial, tapi dari suara hati sendiri. Di titik itu, aku mulai merasa punya kendali. Nggak harus selalu hadir di tiap ruang, nggak perlu tahu kabar semua orang. Just being present in my own life was enough.
Ayat yang sering terlintas waktu itu:
“Dan di dalam dirimu, apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat: 21)
Maybe that’s where the real journey begins — not about finding a place, but a sense of awareness. About learning to stop seeking validation, and start growing values.
Beberapa tahun terakhir, it’s no longer about being liked by everyone. It’s about being trusted, even by myself. Masih dan ingin selalu jadi orang baik, tapi kini bukan lagi demi diterima — melainkan karena itu bagian dari fitrah sebagai manusia.
Perubahan ini nggak datang dari momen besar, hanya dari rasa lelah yang akhirnya diterima, dan keberanian untuk berkata: cukup.
Turns out, calm doesn’t mean lost. Sometimes, it’s where the direction finally becomes clear.