Mengapa kita sangat terpukau dengan tipu daya manusia, padahal Allah jauh lebih dekat dengan kita?
Zainatun
★
The Bowery Presents

PR's Tumblrdome
Lint Roller? I Barely Know Her
Sade Olutola
ojovivo
The Stonewall Inn
No title available
cherry valley forever
official daine visual archive
Monterey Bay Aquarium
🪼

roma★

@theartofmadeline
No title available
Claire Keane
EXPECTATIONS
The Bright Sessions

No title available

Product Placement
seen from Netherlands
seen from Türkiye

seen from Pakistan
seen from Venezuela
seen from Argentina

seen from Colombia

seen from Zambia
seen from Vietnam

seen from United States
seen from Germany
seen from Spain
seen from Brazil
seen from United States
seen from France
seen from France

seen from Brazil
seen from Spain
seen from Italy
seen from United States
seen from United States
@zainatun
Mengapa kita sangat terpukau dengan tipu daya manusia, padahal Allah jauh lebih dekat dengan kita?
Zainatun
Hei Icaa apa kabaaar? Aku mau minta maaf sama ica :(
Halo, alhamdulillah baik. Minta maaf buat apa?
Kita hanyalah ruh-ruh yang tersimpan dalam raga, yang suatu saat kelak akan merapuh karena masa, atau memang telah tertakdir untuk pergi lebih dulu meninggalkan dunia. Dan diantara milyaran ruh itu, semenjak Adam berpijak di wajah bumi sampai manusia terakhir menghembus nafas terakhirnya, berapa milyar yang enggan, lupa, atau dibuat lupa, bahwa kelak kan datang hari dimana semua pekerjaan diperhitungkan dan gerak gerik diminta pertanggungjawaban. Oleh sebab itulah, jika Allah takdirkanmu masih leluasa bersujud pada-Nya dengan amat mudahnya, bayangkan betapa besar kasih-Nya padamu. Ia memilihmu untuk menjadi manusia utuh yang tak lupa dan tak dilupakan. Manusia utuh yang diberi nikmat penghambaan. Di saat manusia lain “gundah kemana harus mencurahkan kegundahannya”, kamu tahu kemana harus mengadu, ada langit dalam hatimu, ada samudera cinta di mungilnya ragamu.
@edgarhamas (via edgarhamas)
Pilihan.
Kita pasti pernah dijadikan bahan pilihan, tapi kita juga pernah membuat orang lain jadi pilihan.
Sedangkan dalam hidup, keadaan selalu memaksa kita untuk menentukan pilihan. Hadirnya kita hingga saat ini, sejauh ini, semua atas pilihan kita, dan kita harus mampu mempertanggung jawabkannya.
Maka memilih untuk terlahir ke dunia juga pilihan. Pilihan hidup yang juga harus dipertanggung jawabkan. Kalo dalam Al-Qur’an, hidup itu cuma punya dua jalan, jalan fujur atau jalan taqwa. Tergantung kita milihnya yang mana. Dua-duanya sama-sama sulit kok, beda tujuannya aja, beda tempat istirahatnya.
Aku bersyukur, di tempat Kerja Praktek (KP) ini ada begitu banyak pelajaran, salah satunya ketika Quality Control bandul.
Bandul yang bentuknya sempurna, akan masuk wadah yang sempurna. Bandul yang bentuknya tidak sempurna, warnanya cerah sempurna, akan masuk wadah yang satunya.
Sedangkan bandul yang bentuknya sempurna, warnanya cerah sempurna, tapi ada satu titik hitam pada salah satu sisinya saja, ia tetap reject, tak berarti sempurna, padahal sudah mendekati sempurna.
Maka dalam hidup pun begitu, di Yaumil Akhir nanti akan ada orang-orang pilihan. Yang jika sempurna amalannya, ia masuk Surga. Yang tidak sesuai amalannya, maka jangan harap masuk Surga. Yang sangat-sangat-sangat mendekati sempurna amalannya, tapi ada kecacatan walau setitik, maka bukan Surga dulu baginya. Mungkin diperbaiki dulu, dicuci dulu. Tergantung kita, pilih yang mana.
Begitulah hidup, betapa Allah akan memilih orang-orang yang sempurna saja amalannya agar bisa masuk Surga, yang setiap langkah dan nafasnya hanya mengharapkan ridho-Nya saja.
Ya Rabb, semoga kita termasuk didalamnya.
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. Al Baqarah : 214)
Bandung, 02 Oktober 2017 | CAA.
/PAST/
[Past] Depending on how you look at it. Will the past make you better, or even worse?
Bagi sebagian orang, diguncang masa lalu adalah hal yang paling ditakutkan. Takut karena ada sebagian yang ingin dilupakan, tapi justru sebagian lainnya utuh, tak terlupakan.
Mungkin bentuk guncangannya beragam, bisa jadi dengan bertemu secara langsung seseorang di masa lalu, atau bahkan karena melihat aktivitas orang lain yang dulu pernah juga seperti itu, hingga tanpa sengaja me-recall ingatan di masa lalu.
Maka orang-orang dengan kriteria seperti ini bisa belajar dari Umar bin Abdul Aziz. Masa lalunya yang kelam justru membuatnya selalu menangis dan ingin memperbaiki diri hingga lubuk hati terdalam.
Masa lalunya yang gemilang dan penuh pujian justru membuatnya semakin menyesal karena yang dilakukannya itu tidak dinilai sebagai bekal amal.
Masa lalunya yang saking buruknya dan selalu terngiang dalam ingatan justru mendorong Umar untuk menghapus kemaksiatan dengan kebaikan melalui jejak langkahnya hingga ke perkampungan.
Maka Umar mengajarkan kita tentang bagaimana memandang masa lalu. Masa lalu kadang membuat kita malu, lalu menyesal, tapi Umar berani untuk memperbaiki semuanya sedari awal.
Masa lalu kadang membuat kita bersedih, bahkan berduka, tapi Umar justru menjadikannya sebagai daya upaya agar terhindar dari api neraka dan menunjukan eksistensi dirinya di hadapan Tuhan saja, tidak lagi manusia.
Maka Umar mengajarkan kita menjadi sebaik-baiknya manusia pasca meninggalkan masa lalu, dan bersungguh-sungguh untuk tidak mengulangi kesalahan di masa lalunya itu bahkan untuk sekecil biji waluh.
Maka masa lalu itu bergantung pada ‘bagaimana cara kita memandangnya’. Will the past make you better, or even worse? Akankah diambil sebagai pelajaran, atau sekedar dilupakan?
Bandung, 01 Oktober 2017. | CAA
Sejak postingan ini, Insya Allah ada harapan besar serta pengupayaan diri untuk menulis setiap hari. Karena menulis bagian dari hobi, jadi bagus tidaknya tulisan bukan ukuran bagi diri. Yang bermanfaat silahkan pahami, yang tidak biarlah menjadi penghibur diri. Sekian.
Bandung, CAA.
Bella’s Reality
superparents, superbella :)
Bagaimana jika ada seseorang yang datang meminta makanan kepada kita? Akankah kita jadi bagian orang yang menolak? Atau kita akan berbagi walau sedikit?
Ini adalah video social experiment terbaru, yang team kami (Mavens studio) dan juga teamnya @academicus (kitabisa.com) buat.
Sebuah gambaran yang kita dapeting dari video ini, bahwa sesungguhnya,
“Gak perlu nunggu kaya untuk bisa berbagi ke sesama”
Jika berkenan, mari sebarkan semangat kebaikan ini dengan teman-teman yang lain. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi yang lain.
Bukan siapa yang menyampaikan, tapi apa yang disampaikan.
Kadang ego kita terlalu melambung, jadi pilih-pilih urusan siapa yang menyampaikan. Jangan dengerin dia, jangan percaya dia. Padahal sekalipun anak kecil yang menyampaikan, ketika isinya adalah kebenaran, idealnya sih terima aja. Kan yang penting bukan siapa yang menyampaikan, tapi apa yang disampaikan.
[INGAT TUJUAN]
Akankah kita berhenti di tempat yang bukan tujuan kita?
Seperti hari ini, ketika naik kereta, perjalanan dari jakarta, akankah kita berhenti di Bekasi, padahal tujuan kita adalah di Bandung? Tentu tidak, sekalipun stasiun yang kita lewati itu nampak indah, nampak mewah, nampak nyaman, tapi memang itu bukan tujuan kita, lantas untuk apa kita berhenti dan menikmati stasiun yang bukan tujuan akhir?
Sama dengan hidup, kita juga punya tujuan akhir. Mungkin semua punya tujuan berbeda, tapi pada akhirnya, kita semua punya tujuan hidup sama, yakni bisa bahagia dunia dan akhirat. Bukankah itu yang kita kejar?
Namun kadang kita bertemu hal-hal yang membuat kita tergoda untuk berhenti, sehingga kita lupa tujuan kita.
Bukankah ada orang-orang yang berdoa keberkahan rizki namun ia “mencuri” harta dari orang lain? Hanya karena ia melihat bahwa kekayaan itu sungguh menggiurkan?
Bukankah ada orang-orang yang berdoa mendapatkan pasangan yang baik namun mencari dengan cara yang tak baik? Hanya karena ia memberi perhatian lebih pada kita?
Bukankah ada orang yang mengharap ridho Tuhannya namun juga meninggalkan-Nya? Hanya karena godaan syetan lebih menyenangkan?
Mungkin.karena kita bertemu dengan pemberhentian yang begitu menggoda, yang lebih menggiurkan bagi kita untuk berhenti, hingga lupa tujuan akhir.
Sabar, ialah obat terbaik untuk bisa membuat kita duduk manis, tanpa perlu tergoda untuk berhenti, hanya karena kemewahan serta kenyamanan semata. Itu kenapa, Allah berfirman, hidup itu sungguh nikmat bagi orang-orang bersabar. Kenapa? Karena setiap ia melewatkan sesuatu yang sangat menggoda, ia tahu, itu bukan tujuan akhirnya. Maka ia takkan pernah menyesal, karena ia tidak pernah melewatkan sesuatu yang memang bukan tujuannya.
Lantas, Apakah kita sudah cukup sabar dalam menghadapi godaan-godaan hidup?
Menguasai Dunia? Kuasai Fitrah
Islam, yang saya pahami, adalah agama yang tidak hanya komprehensif, tapi juga fleksibel, realistis, dan klop dengan fitrah manusia.
Salah satu contohnya—ini terkenal sekali, bisa kita lihat dalam shahih bukhari. Ada tiga orang datang menemui istri-istri Nabi, menanyakan perihal ibadah Rasulullah.
Setelah itu, karena saking bersemangatnya, salah satu dari mereka berkata, “Aku akan mendirikan shalat sepanjang malam.”
Salah satu yang lainnya berkata, “Aku akan berpuasa sepanjang hidupku dan tak akan pernah berbuka.”
Satu orang terakhir berkata, “Aku tidak akan mempergauli perempuan dan tidak akan menikah.”
Kabar ini sampai ke telinga Rasulullah, hingga Rasul menemui mereka dan berkata, “Apakah kalian orang-orang yang mengatakan hal itu? Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut kepada Allah diantara kalian, tetapi aku berpuasa dan aku berbuka, aku melaksanakan shalat dan aku tidur, dan aku menikah.”
Sangat manusiawi, sangat realistis, bukan? Tentu masih banyak contoh lain yang dapat kita temukan, namun semoga poinnya sudah tertangkap.
Islam Menguasai Dunia?
Sebagai muslim yang secara aktif mempelajari Islam, kemungkinan besar kita sudah sering mendengar gagasan bahwa akan datang suatu masa di mana dunia ini diliputi kembali oleh cahaya Islam, entah dalam bentuk kekhilafahan dalam arti sistem politik, atau kekhilafahan dalam makna yang lebih luas (misalnya, aliansi negara-negara Islam), atau dalam bentuk “penguasaan” lainnya.
Dalam logika saya, jika ummat Islam ingin menjadi sang “soko guru peradaban dunia”, salah satu syarat penting yang harus dijaga adalah karakteristik Islam yang fleksibel, realistis, dan sesuai dengan fitrah manusia tadi.
Jangankan manusia, binatang yang mendapatkan pemaksaan, yang diperlakukan secara berlawanan dengan fitrahnya, pasti akan berontak (coba tangkap seekor ikan, keluarkan dari air, ia tidak akan diam sehingga lemas lalu mati).
Kalaupun akhirnya binatang tersebut menyerah, fitrahnya menjadi terpangkas (Pandji Pragiwaksono pernah cerita, temannya memelihara bayi beruang. Setelah beruang sudah cukup dewasa dan dilepaskan ke alam, dalam selang waktu yang tak terlalu jauh sang beruang ditemukan mati, diduga karena tidak mampu bertahan hidup).
Peradaban macam apa yang mau kita hadirkan, jika kita berkuasa dengan pemaksaan atas realitas dan fitrah manusia? Mereka yang terkuasai pasti akan melakukan perlawanan terus menerus, menjadi perang tak berkesudahan. Apakah itu wujud agama rahmat bagi semesta alam?
Pemaksaan Atas Fitrah
Ada banyak realitas dan fitrah manusia yang barangkali sering kita remehkan, kita tekan, kita paksakan.
Misalnya, soal hiburan. Sejujurnya, saya pernah begitu judgemental terhadap teman-teman yang–di mata saya, mengisi hidupnya hanya dengan bersenang-senang. “Hedonisme”, “Maksiat”, “Tak punya visi”, adalah beberapa label saya terhadap mereka.
Saat itu saya gagal melihat realitas bahwa manusia memang memiliki fitrah untuk selalu mencari kesenangan-kebahagiaan, yang mungkin pada setiap orang berbeda kadarnya sebab berkombinasi dengan kompleksitas hidupnya.
Saat itu saya gagal memahami bahwa saya tidak bisa memaksakan standar saya terhadap mereka. Mungkin mereka tidak mengenal Islam sebaik saya, mungkin mereka anak-anak yang broken home, dan mungkin-mungkin lainnya, yang menyebabkan kebutuhan mereka akan bersenang-senang jauh lebih kuat daripada saya.
Namun, coba sekarang tengok @PemudaHijrah. Lihat betapa membludaknya kajian-kajian mereka. Lihat siapa orang-orang yang hadir dalam majelis-majelis mereka. Lihat betapa kerennya event mereka. Teman-teman yang dulu saya cap sebagai kerumunan hedonis, ternyata banyak yang menjadi bagian dari mereka. Mungkin diantaranya karena mereka merasa fitrah mereka, realitas mereka, bisa terakomodasi bersama komunitas Pemuda Hijrah–tentu sebagai bagian dari kehendak dan hidayah dari Allah.
Astaghfirullah, betapa bodohnya saya, betapa jahatnya penghakiman saya.
Jalan Hidayah Itu Banyak
Kita memerlukan sebanyak-banyaknya cara untuk membuat manusia merasakan sendiri nikmat-indah-kerennya cahaya Islam. Perkataan kita semata tidak akan cukup. Apalagi tidak semua orang begitu diperdengarkan ayat Al-Quran langsung menangis seperti Umar bin Khatthab.
Mungkin diantara kita ada yang pertama kali mendapatkan hidayahnya lewat lagu produksi Awakening Records. Mungkin juga ada yang berhijab karena pada mulanya tertarik dengan gaya fashion seorang hijaber. Bahkan mungkin ada yang terpantik mendalami shirah karena menonton film Lord of the Rings (konon beberapa scene perang dalam film ini mirip dengan penggambaran scene perang pada zaman Rasul). Mengapa tidak mungkin?
Masih banyak kemungkinan jalan hidayah lain yang mungkin tidak bisa kita bayangkan saat ini, karena terbatasnya cakrawala berpikir kita, karena sempitnya pergaulan kita, karena sedikitnya referensi kita. Jika kita menyadari dan mengakui hal ini, maka semoga kita bisa mengurangi kebiasaan kita dalam menghakimi sesuatu.
Petualangan Menjelajahi Fitrah
Karena saya meyakini bahwa Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah, maka saya meyakini pula bahwa upaya mengeksplorasi dan memahami fitrah adalah sesuatu yang penting.
Dari sanalah barangkali kita mampu melihat betapa luasnya jalan hidayah Allah, lalu kita bisa memahami bahwa kita pun bisa punya peran sebagai agen hidayah Allah dengan apa yang kita bisa; bahwa tidak hanya yang hafal Al-Quran yang bisa berdakwah; tidak hanya yang berlajar ilmu syar’i yang bisa membangun ummat terbaik; bahkan keberadaan para penghafal Quran dan para ‘ulama syar’i saja mungkin tidak memadai jika kita ingin mewujudkan Islam sebagai soko guru peradaban dunia.
Kita perlu menyediakan alternatif yang lebih baik atas semua realitas dan fitrah yang eksis di muka bumi. Film Hollywood? Drama Korea? Industri Gaming? Musik? Apapun, semuanya, perlu kita siapkan alternatif yang lebih baik, yang bisa menjawab realitas dan fitrah.
Maka, dengan Islam sebagai pemandu, mari menjelajahi fitrah kita masing-masing, menjadi sebaik-baik diri kita dengan segala keunggulan uniknya.
Selamat berpetualang!
Hati-hati ya, jangan terlalu sibuk memikirkan kapan seseorang datang ke dalam hidupmu, hingga melupakan orang-orang yang pasti akan meninggalkan kehidupanmu
Selagi masih diberikan kesempatan, maka berbaktilah dengan penuh kesungguhan.
Sebelum Allah meminta mereka pulang, dan membuatmu menyesal atas segala waktu yang telah terbuang.
Merekalah jalan, yang mampu mengantarkanmu mendapatkan keridhoan dan kasih sayangNya.
(via creativemuslim)
Assalamulaikum, mau nanya mba tentang prinsip mba terhadap pria yang berusaha ngedeketin mba.dan Bagamaina cara membatasi diri mba dari orng yg mba suka
Wa'alaikumsalam.Dulu, waktu belum bener-bener belajar, prinsip saya selalu... "gapapa" selagi gak berlebihan,"gapapa" selagi masih aman, "gapapa" selagi masih kenal dan itu teman.Nyatanya, ke-gapapa-an itu justru menghantarkan pada nafsu bi suu i (hawa nafsu yang semakin menjadi). Awalnya chat ingin tau doang, lhaa jadi curhat-curhatan, merembet jadi ketemuan, eh jalan, eh ngobrol serius tapi gak karuan.Ujung-ujungnya jadi gak bermanfaat, gak berfaedah, bahkan kalo dipikir... malah mendahului ketetapan Allah. Karena kita seolah menghayalkan sesuatu yg belum pasti terjadi.Tapi setelah bener-bener mempelajari Al-Qur'an, alhamdulillah, Allah memahamkan segalanya dengan jelas.Segala aktivitas yg gak mendatangkan Ridha Allah, tackle! Gausah dilakuin. Termasuk menanggapi orang yg suka sama lawan jenisnya. Aku saranin nih yah gausah coba-coba lemah lembut untuk menolaknya, tolak dengan bisa aja. Memang sih fitrah manusia punya rasa suka, rasa cinta, tapi bagaimana perasaan itu dimanfaatkan ke arah yang semestinya. Ke fakir, miskin, teman kita yang kekurangan, butuh bantuan, mereka lebih membutuhkan rasa cinta dan sayang kita.Doi kan udah dijamin sama Allah, ngapain dipusingin. Yang harus dipusingin tuh yang belum pasti, ujung hidup kita mau dibawa kemana.Aku saranin yah, mending anon belajar Al-Qur'an dulu aja, semua jawaban atas kehidupan ada disana. Coba ikut majlis offline atau online yang sesuai sunnahnya Rasul. Biar gak galauin hal-hal yang gaperlu digalauin :)Kalo soal cinta, coba baca surat Yusuf dari awal sampe akhir. Semua jawaban atas kisah cinta anak muda ada disana semua, Insya Allah.Satu lagi, ketika kita bener-bener lurus niatannya untuk mencari keridhoan Allah dengan mempelajari Al-Qur'an, akan dengan sendirinya tertanam bahwa tiada yang lebih pantas kita cinta, selain Allah dan Rasulnya.Selamat belajar dan mencari kebenaran! 🙏🏻
Di Masyarakat
Selepas lulus dan benar-benar keluar dari dunia perkuliahan kemudian menjadi bagian dari warga masyarakat, bertetangga, berumah tangga, bersosial, saya menjadi semakin banyak belajar dalam sekitar tiga tahun terakhir ini.
Sewaktu dikampus, banyak sekali bentukan label yang dibuat dan dilekatkan pada mahasiswa hanya dari apa yang dilakukannya. Saya hanya akan mengangkat satu saja dari sekian banyak, yaitu ansos (anti sosial). Label yang dilekatkan pada mereka yang tidak mau ikut dalam organisasi, tidak aktif dalam kegiatan mahasiswa dsb.
Kini saya paham bahwa setiap orang itu punya semestanya sendiri. Dan pemahaman ini hadir selepas saya masuk ke dalam wilayah organsisasi yang lebih luas, tidak hanya melingkupi kampus. Juga setelah saya masuk ke dalam masyarakat.
Orang yang tidak aktif dalam kegiatan kampus/organisasi tidak berarti dia tidak aktif sama sekali. Dulu saya mendapati kawan-kawan saya adalah orang yang banyak bekerja di lab, kalau dulu labelnya anak-anak SO (study oriented). Mereka punya keaktifan di tempat yang lain. Dan sebagaimana pengisian peran di dunia ini, mereka adalah orang-orang yang melengkapi peran-peran tsb. Dan kontribusi mereka sama sekali tidak bisa disepelekan.
Dulu saya masih dalam cara berpikir yang dangkal, mau sekece apapun peneliatannya kalau gak aktif ya akan dilabelin ansos atau SO. Dan semakin mendekati lulus kala itu, saya paham bahwa pencapaian saya secara akademis sangat biasa-biasa saja dan tidak memberikan kontribusi yang banyak dibidang ilmu pengetahuan, bahkan TA saya atau mungkin juga kita semua hanya dibuat hanya untuk memenuhi syarat kelulusan, kemudian teronggok begitu saja di perpustakaan. Tidak ada niatan untuk membuatnya benar-benar menjadi bermanfaat bagi kehidupan manusia atau alam atau apapun yang kita teliti.
Dan ketika berada di masyarakat, terjun langsung. Kita akan menemukan fakta bahwa tidak akan ada yang bertanya kita lulusan mana dsb. Tapi bagaimana sikap dan sifat kita di masyarakat itu sendiri. Apakah kita menjadi tetangga yang baik. Bagaimana kita berusaha mengenal dan saling kenal dalam satu wilayah baru semisal kita baru pindahan. Juga bagaimana kita mengambil peran dalam masyarakat itu.
Banyak dari kita mungkin merasa kaku atau kikuk ketika di masyarakat, padahal amat terkenal dan banyak teman di kampus. Kita juga enggan mengambil peran sesederhana misal jaga ronda, atau jadi bendahara RT, dsb. Dan sungguh, di masyarakat kita dihargai atau dihormati bukan dari label lulusan kita. Mereka tidak tahu apa yang kita perbuat di kampus, tapi bagaimana kita di masyarakat.
Selamat belajar menjadi warga masyarakat. Sebab sesungguhnya itulah kehidupan yang sesungguhnya, kampus terlalu ideal dan steril. Di masyarakat kita akan menemukan dinamika yang berbeda dan kita akan tinggal disana lebih lama daripada di lingkungan kampus.
Jadi sudah sejauh mana kita mengenal tetangga kiri kanan kos-kosan/kontrakan kita? Padahal sudah bertahun kita tinggal disitu, sebagai pendatang :)
Yogyakarta, 2 Juli 2017 | ©kurniawangunadi
Diluar kendali.
Kadang, Apa yang kita rencanakan hampir selalu tidak sesuai kenyataan. Bukan maksud mengeluhkan keadaan, Bukan. Hanya menuntaskan gejolak di hati dan pikiran. Mungkin, kita sedang dididik untuk hidup yang lebih dinamis. Jika tidak A, tidak mengapa, masih ada B atau C. Tidak perlu kecewa, pun marah. Dan mungkin, kita sedang dibuat paham akan ikhlas dan sabar. Menerima keadaan yang murni karena ketetapan-Nya, dan tidak berputus asa atas apa yang telah ditetapkan-Nya.
Cacat lagi Hina.
Ketika nikmat-nikmat dunia dijelaskan di hadapan manusia,
dan dimintai pertanggung jawabannya.
Apa sebenarnya yang kita upayakan?
Apa yang akan kita pertanggungjawabkan?
***
Ada sebuah kisah, yang dituturkan oleh Jabir bin Abdullah,
Bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati pasar melalui sebagian jalan dari arah pemukiman,
sementara orang-orang (para sahabat) menyertai beliau.
Lalu beliau melewati bangkai seekor kambing yang telinganya cacat (berukuran kecil).
Beliau pun mengambil kambing itu seraya memegang telinga nya.
Kemudian beliau berkata, “Siapakah di antara kalian yang mau membelinya dengan harga satu dirham?”.
Mereka menjawab, “Kami sama sekali tidak berminat untuk memilikinya. Apa yang bisa kami perbuat dengannya?”.
Beliau kembali bertanya, “Atau mungkin kalian suka kalau ini gratis untuk kalian?”.
Mereka menjawab, “Demi Allah, seandainya hidup pun maka binatang ini sudah cacat, karena telinganya kecil. Apalagi kambing itu sudah mati?”
Beliau pun bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya dunia lebih hina di sisi Allah daripada bangkai ini di mata kalian.” (HR. Muslim [2957])
***
Cacat lagi hina. Itulah dunia.
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. - (QS, Al-Ahqaf:13)
Ustadz Quraish Shihab menafsirkan bahwa orang-orang yang mengatakan Tuhan kami ialah Allah, lalu melakukan kebaikan, maka turunnya sesuatu yang tidak mereka sukai sama sekali tidak akan pernah mereka khawatirkan. Mereka juga tidak akan bersedih karena tidak memperoleh sesuatu yang diinginkan. Semoga kita tetap dikaruniai Allah istiqomah dalam hal kebaikan dan jalan kebenaran.
:""