Kelak, di mata dan di hati yang tepat, kamu pada akhirnya akan menjadi cukup untuk dicintai.
@milaalkhansah

pixel skylines
Cosimo Galluzzi
d e v o n
will byers stan first human second
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

if i look back, i am lost
DEAR READER
Keni

Andulka
Alisa U Zemlji Chuda
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

No title available
Sade Olutola
No title available

❣ Chile in a Photography ❣
$LAYYYTER

tannertan36
Misplaced Lens Cap

seen from Russia

seen from Iraq

seen from Pakistan
seen from United States
seen from Türkiye
seen from Ecuador

seen from Ecuador
seen from Canada

seen from Morocco
seen from Vietnam
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@zulfiralutfiani
Kelak, di mata dan di hati yang tepat, kamu pada akhirnya akan menjadi cukup untuk dicintai.
@milaalkhansah
Menunggu kabar duka.
Menikahlah dengan dia yang takut kepada Allaah
Seorang laki-laki yang takut kepada Allaah, ketika dia menjadi seorang suami dia pasti akan takut mendzholimi istri, anak dan keluarganya. Begitupun seorang perempuan yang takut kepada Allaah, ketika dia menjadi seorang istri, dia akan takut mendzholimi suami, anak, dan keluarganya.
"Menikahlah dengan seseorang yang tidak akan pernah memaksamu untuk meminta hak-hakmu, yang rela memberikanmu seluruh hakmu karena mereka takut kepada Allah ﷻ"—Julaibib hafidzahullah on tumblr
Nasehat pernikahan di atas, adalah salah satu nasehat yang bisa kita jadikan salah satu tolak ukur dalam memilih pasangan, carilah dan mintalah diberi pasangan yang takut kepada Allaah, semoga kelak dia juga takut untuk mendzholimi diri kita.
Seseorang yang meniatkan menikah karenan ibadah, dia akan paham bahwa dalam menjalani kehidupan rumah tangga, tidak hanya cukup bermodalkan perasaan tertarik saja pada sisi-sisi kebaikan diri yang membuat kita kagum, namun ada yang lebih penting dari itu, yaitu ilmu tentang pernikahan, dan salah satu ilmu pernikahan adalah dia paham bahwa sebaik-baiknya seseorang adalah yang paling baik dengan keluarganya.
Semoga kelak, kita dipertemukan dengan seseorang yang benar-benar ingin menjalani ibadah terpanjang dengan kita, dengan membawa serta perasaan takut kepada Allaah dalam dirinya, sehingga tidak mudah mendzholimi kita sebagai pasangannya, justru dia paham bagaimana Islam mengajarkan cara memperlakukan pasangan dengan baik dan mulia, tanpa perlu ada hati yang terluka dan tersakiti.
Semoga Allaah karuniakan kita keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, dengan siapapun yang Allaah pilihkan untuk kita menjalani ibadah terpanjang. Aamiin Allaahumma Aamiin
Kalo mau nunjukkin effort terbaik kita, emang paling cocok sama pas ya ke Allaah. Kalo mau nunjukkin cinta kita yang paling tinggi, emang paling pas sama cocok cuman ke Allaah. Cuman Allaah yang bener-bener sesayang itu sama kita. Masa lalu buruk aja dimaafin, kita jatuh aja gak dijudge, malah ditolong. Kita ngejauh aja, Allah masih tetep nolong kita dengan segala kemudahan-Nya. Ya, kan?
@terusberanjak
Tepat satu tahun yang lalu di jam yang sama, sedang duduk mendengarkan akad nikah atas nama saya, hari ini saya menghubungi pengacara untuk minta ditemani menghadapi gugatan perpisahan nanti. Maha Kuasa Alloh, hanya Engkau yang sanggup membolak balikkan hati manusia.
Dan jarum yang jatuh pun atas kehendakNya.
Temani hamba ya Alloh.
September, 29 2024 07.48
Bukankah sejauh ini jodoh kita yang paling pasti adalah kematian? Terlepas kita akan bertemu jodoh hidup kita dan menempuh jenjang pernikahan atau tidak, tapi bukan kah jodoh kita yang paling pasti saat ini adalah kematian? Jadi, kumohon jangan hanya memantaskan diri untuk seseorang yang belum pasti benar-benar jodoh kita, tapi pantaskan diri untuk menemui Tuhan dengan keadaan husnul khatimah.
@terusberanjak
1 September 2024. Waktu berlalu begitu cepat.
Mulai gelisah ketika mendengar suara kereta, ketika mendengar adzan subuh, ketika melihat sinar matahari pukul 8-9 pagi, gelisah ketika hujan turun. Semoga Alloh sembuhkan.
how depression feels like
#part2
"kalau aku lompat dari motor yang lagi jalan ini, aku bisa langsung mati ga ya"
"kalau aku minum obat pembersih wc ini sakitnya gimana sih? apa bisa langsung mati?"
"kalau pake piso kayaknya ribet deh,"
"gak mau pake tali, aku pendek gak bisa manjat,"
dulu, aku berpikir pemikiran-pemikiran seperti itu wajar saja dirasakan anak usia 14 tahun. wajar juga setelah 10 tahun berlalu, pemikiran-pemikiran itu gak pernah memudar. pemikiran bahwa tak ada lagi yang menyenangkan dalam hidup ini sehingga kematian kiranya menjadi pilihan yang lebih mudah. Benar kata Nadin Amizah, "hancur lebih mudah daripada bertahan".
Saat aku sedang konsul, aku cerita soal pemikiran-pemikiran ini kepada psikologku. Terus dia tanya, aku mulai memikirkan hal-hal itu sejak kapan. Sebelum membalasnya, aku sempat berpikir "emang orang lain gak pernah mikir kaya gitu?" ternyata emang gak wkwk. Aku ketawa terus ngerasa aneh. Kok orang-orang pada pengen hidup lama, ya? Padahal aku udah cape banget.
Psikologku juga nanya, apa penyebab aku sering berpikiran seperti itu, dan apakah aku pernah mencoba merealisasikan apa yang aku pikirkan. Aku jawab jujur: terakhir kali aku memikirkannya baru-baru ini. Dia menanyakan penyebab mengapa aku berpikir seperti itu. Dengan badan gemetar, aku memaksa diri untuk bercerita. Salah satu alasan aku gak pernah berbagi hal ini kepada siapa pun, bahkan ke keluargaku sendiri, karena setiap bercerita, aku seakan mengulang adegan yang sama berkali-kali. Rasa sakitnya masih sama. Menjijikkannya masih sama. Memalukannya masih sama. Dan bisa dibayangin betapa gilanya aku saat harus mereka ulang itu semua. Berkali-kali.
Ngerasain ini semua aku jadi paham, kenapa banyak sekali berita orang-orang yang mengalami kejadian traumatis memilih untuk menyimpan semua lukanya sendirian. Karena memang tidak pernah mudah untuk bercerita. Dan tidak akan ada yang bisa memastikan, apakah setelah bercerita, orang-orang bisa mengerti itu semua.
Psikologku bilang, setiap pemikiran-pemikiran itu datang lagi, dan keinginan untuk menyakiti diri begitu besar aku bisa mencoba cara-cara berikut:
• cerita ke orang dewasa yang dipercaya (aku ketawa soal ini, kalian akan tau kenapa)
• menggenggam es batu
• meremas kertas
apalagi, ya? Aku lupa. Atau mungkin merasa teralu ribet melakukannya.
tadi malem, aku kumat lagi. Perasaannya campur aduk. Capek kenapa harus ngerasain perasaan ini lagi. Capek gak tau harus ngapain. Capek harus menjalani semua ini sendirian lagi.
Berusaha untuk lebih waras. Aku mencoba untuk menghubungi satu-satunya orang yang aku percaya (sisanya). Kepercayaan yang sudah 1% ini kuberikan untuk dia semua. Siapa dia? sahabatku. Dia satu-satunya orang yang tau kondisiku. Itu pun setelah bertahun-tahun. Awalnya aku mengirim pesan:
"daripada memiliki bunuh diri, aku lebih suka untuk minta Allah mencabut nyawaku saja. Tapi aku juga takut kalau Dia mengabulkan itu, aku masih punya banyak dosa yang aku gak tau tanggung jawabnya gimana. tapi aku benar-benar udah gak ada motivasi apalagi untuk hidup lebih lama..."
ceklis satu.
Poto profil dan status akun tidak terlihat.
Di sisa-sisa kekuatan aku mencoba positif thinking.
"mungkin hapenya lagi dicas makanya mati. Mungkin kuotanya habis, makanya gak aktif, dan berbagai mungkin-mungkin lainnya."
Aku mencoba menelpon dan video call juga gak aktif. Aku cek jaringanku, gak ada masalah.
ternyata aku yang lagi-lagi suka membohongi diri.
Menganggap bahwa semua orang akan stay selamanya. Menganggap atau mencoba percaya bahwa orang yang ku percaya bisa selalu ada.
Mencoba bercerita dan meminta bantuan kepada orang dewasa yang dipercaya...
Haha omong kosong.
Kenapa sih Allah menjadikanku sebagai seorang manusia kalau dibuat selelah ini?
Dengan perasaan yang hancur berkeping-keping. Aku memilih untuk tidur saja. Ditemani pemikiran "kalau aku benar-benar gak ada lagi, dia sepertinya gak akan sedih atau merasa bersalah kan?"
Aku lelah dengan peperangan pikiran setiap malam.
Aku hanya ingin ditemani. Apa sesusah itu?
Pelajaran hari ini:
Jangan membenci orang lain berlebihan karena suatu hari nanti bisa jadi dia satu2 nya yang dikirmkan oleh Alloh untuk menolong kita, juga jangan menganggap orang terdekat adalah orang yg tidak akan menyakiti, ,bisa jadi suatu hari nanti justru dia yang meninggalkan pelajaran paling berharga dalam hidup.
19/07/2024
Barangkali benar bahwa diam-diam semua orang sedang bertahan dan berjuang di medannya sendiri-sendiri: untuk tetap baik-baik saja meski sedang menghadapi hari yang berat, untuk tetap melangkah meski terluka disana-sini, untuk tetap tersenyum dan tertawa meski ada kesedihan dan duka yang mencabik-cabiknya, dan untuk tetap menjalani hidup meski hidup itu sendiri seolah sedang tidak menawarkan apa-apa selain tuntutan untuk tetap dijalani saja.
Jika suatu hari atau saat ini kita sedang merasakannya, semoga kita selalu ingat bahwa Allah pasti punya rencana baik dan kita tidak akan dibiarkan-Nya menghadapi hari-hari yang terus begini-begini saja.
04/07/2024.
Sakinah
Sedang notice banyak hal yang bisa masuk ke kategori "sakinah"-nya rumah tangga itu apa aja sih..
✅️ adanya rasa "cukup" (qana'ah) terhadap rezeki yang sudah dimiliki
✅️ punya pasangan yang mudah diajak bicara dari hati ke hati, peduli satu sama lain
✅️ anak yang mudah diarahkan kepada hal-hal baik
✅️ punya 'standar cukup' tersendiri dan tidak mudah tergoda atau hasad dengan nikmat yang terlihat dari keluarga lain
✅️ jika ada masalah atau sedang berkonflik, kooperatif untuk menyelesaikannya bersama-sama dengan kepala dingin
✅️ yang paling penting, suami dan istri sama² menjadikan Islam sebagai cara hidup/menjalankan kehidupan. Jadi petunjuk penting untuk berbagai urusan.
Tangerang, 21 Juni 2024 | 13.01 WIB
Kalau ada satu keahlian yang bisa aku minta kepada Tuhan dan detik ini juga Dia akan mengabulkan: aku ingin meminta sebuah keahlian di mana aku bisa membuat perasaanku baik-baik saja dalam sekejap.
@milaalkhansah
Dan pernikahan bukan sekedar wujud menikahi orangnya. Tapi juga keluarganya, masa lalunya, masa depannya, mimpi-mimpinya, luka-lukanya, semuanya.
Melihat Pernikahan dengan Lebih Nyata Barangkali, terkadang, kita perlu mengisi otak kita dengan banyak kenyataan. Kenyataan yang menyadarkan. Optimis itu perlu. Tetapi, membuka mata lebar-lebar juga sama perlunya. Supaya kita tak terlalu naif pada kehidupan ini yang berisi banyak kisah dan kenyataan Bahwa tak semua orang baik ternyata, tak semua keadaannya ideal tak semua kenyataan membahagiakan Supaya kita siap mental dan menguatkan lagi pondasi kita dan lebih siap lagi dalam melangkah kedepan Hari ini aku membaca banyak kisah di Quora, hanya dari trigger 2 pertanyaan. Pertama, bagaimana rasanya menjadi single di usia almost atau lebih dari xx tahun? Kedua, apakah kamu menyesal karena telah memutuskan menikah? Diluar ekspektasiku, ternyata lebih banyak yang menyesal dan cerita-ceritanya banyak yang bikin istighfar. Oke, terimalah itu sebagai kenyataan bahwa memang banyak yang tidak ideal Kemudian lebih dari itu, apa yang membuat mereka menyesal? tentu aku ingin tau poin atau polanya. Bisa jadi pembelajaran. Beberapa poin: - perselingkuhan (baik yang dilakukan suami maupun istri) - belum selesai dengan masa lalu, membanding-bandingkan - suami kecanduan judi online, games - suami tidak pengertian, menganggap istri terlalu manja - ternyata suaminya gay - suami tidak memiliki rasa tanggung jawab terhadap istri dan anak-anaknya - suami masih menginginkan kebebasan seperti dia masih lajang (tanpa batasan) - suami suka chatan dengan lawan jenis, masih suka menggoda perempuan lain di tempat kerja, menggunakan aplikasi dating bahkan pesan, mohon maaf, PSK - suami temperamen, maen pukul dll (berkaitan juga dengan kecanduan judi, ekonomi) - salah satu pihak (suami atau istri) menganggap sebuah masalah kecil namun dibesar-besarkan - istri tidak punya sifat keibuan dan tidak menjalankan perannya sebagai istri - masalah ekonomi, tidak ada peningkatan taraf kehidupan Yang banyak membuat menyesal adalah karena mereka masih denial, belum legowo, masih berpikir "seharusnya, seharusnya, dan seharusnya". Pikiran itu yang mengungkung diri mereka sendiri. - Seharusnya aku tidak menikah terlalu muda - Seharusnya dulu aku meneruskan karirku - Seharusnya dulu aku nggak ikut apa kata suamiku untuk resign, sekarang aku diselingkuhi - Aku melihat temanku yang seusiaku masih bisa haha hihi kesana kemari, masih bisa nabung, kalo aku nggak nikah duluan dan langsung punya anak, mungkin aku kayak mereka * di poin ini aku takut dan semakin tidak ingin menunjukkan apapun di muka publik. Karena ternyata apa yang kita tak terpikirkan sebelumnya ternyata bisa menjadi potensi hasad dan iri bagi mereka yang keadaannya sebaliknya dengan kita. Mungkin bukan maksud mereka demikian, tetapi hati tidak akan bisa dibohongi. Yang menjawab tidak menyesal - di awal mereka menjelaskan bahwa di awal memang berat, masih adaptasi. Keyakinan bahwa pernikahan itu sedang menuju kebahagiaan (baik di dunia maupun di akhirat ) yang membuat bertahan Sifat dan sikap yang membuat bertahan: - Suami yang pengertian, berusaha membuat istri nyaman - Istri yang juga pengertian, berusaha juga membuat suami nyaman (dengan penataan rumah, dengan makanan, dengan pelayanan) Poin simpulan: menikah dengan orang yang tepat adalah kunci pertama, jadi, identifikasi dulu. Identifikasi kebutuhan diri, dan identifikasi calon pasangan. Menikahlah dengan penuh kesadaran akan tanggung jawab dan konsekuensinya. Ada tantangan lebih, ada juga kebahagiaan lebih.
Semoga kita bisa belajar. Dan tidak menjadi salah satu bagian dari sebab penyesalan. Sebaliknya, justru jadi sebab syukur dan menjadi salah satu keputusan terbaik dari kehidupan seseorang.