Silaturrahim IKPM Malaysia dengan Ayah Man
Bersama Ust Lukman Hakim, di KLCC, 11 Juni 2025
Di tulisan ini mungkin terdapat ungkapan atau istilah yang dipakai/dipahami oleh anak pesantren. Bahasa tidak disensor.
Abdul Lathif Bertanya: âUntuk orang yang mau terjun ke masyarakat, apakah kuliah masih diperlukan?â
Kuliah ini digital, semuanya mesin. Untuk dapetin Rp. 1-2 jualan Qur'an sama Elisardi ke Sri Damansara. Jualan Qur'an besar yang miracle itu berapa dulu ya? Anak dapat margin itu Rp. 15.000 bisa untuk makan 5 hari. Terus anak pas hari terakhir di Malaysia, anak bilang sama kampus. Ya Allah, tolong kembalikan saya ke Malaysia lagi dalam keadaan seperti ini.
Ana dulu pernah Pak Syukri datang kesini. Terus kami ada yang S2, ada yang S3. Terus Pak Syukri nanya gini. Mana restoran yang paling enak disini? Garuda. Garuda Kampung Baru. Wah, kita semua patungan. Ana Sesaruddin. Pak Amal. Terus siapa lagi itu? Siapa lagi itu? Siapa lagi itu? Suhailan. Suhailan, maaf. Patungan lah kami. Kami patungan terus bikin kesepakatan. Beli air putih aja ya. Kita jangan minum jus. Terus makan yang murah aja. Makannya telur. Pas kami udah patungan, Pak Syukri makan. Terus ngasih cerita.
Pas kami mau bayar, udah dibayar sama ibu. Kan kita udah mirip-mirip nih. Jangan makan. Terus apa? Kita protes lah kan. Start, kenapa antum yang bayar. Kalimat itu Ana ingat sampai sekarang. Karena Ana bisa kayak itu juga sama antum-antum. Apa Kiai Syukri bilang? Kata Kiai Syukri, apa? Kalian itu anak-anak saya. Saya datang kesini tuh, bukan cuma mau kunjungan kerja atau kunjungan ngeliat dakwa dan segala macem. Saya kesini mau lihat anak-anak saya. Nah ini kesempatan. Saya datang, saya mau ngasih makan kalian. Oh itu saya, kita nangis. Semua orang bilang ya Allah. Gitu rasanya punya Bapak. Ideologis. Artinya ya dakwa, dakwanya beliau begitu. Ngasih makan. Kalau urusan leher ke atas, ya antum udah lebih banyak ilmunya. Kadang-kadang urusan perut, nggak beres. Kayaknya tadi liat wah, air putih semua ini.
Sesuai budget kayaknya. Kalau kita mau traktir, ngajak antum makan disini tuh supaya bisa milih ya Bang. Masih ada waktu kok. Kita sampai jam berapa sini Bang? Setengah satu. Masih ada waktu. Ada waktu 40 menit. Pilih makan dulu. Mau makan dulu kan. Tanya gue.
Apa tadi antum nanya apa? Ini S2 sekarang. Kur'an sunnah. Mir kehe.
Oke. Mau jawaban yang asli atau mau jawaban yang basah-basih? Asli.
Dua-duanya. Ada ilmu tertulis, ada ilmu tak tertulis. Ada ayat-ayat kauniyyah, ada ayat-ayat naqliah. Dunia kampus itu, dunia naqliah. Antum pasti perlu ilmu itu. Tapi ada ilmu yang jauh lebih antum harus terapkan di masyarakat.
Ana pulang dari Malaysia, itu nggak pakai ijazah bahasanya. Ana tinggalin semuanya di Malaysia, di Kuala Lumpur. Ana jual kopi di pinggir jalan, jual bubur di pinggir jalan.
Ana lagi ngapain sih? Merobohin tiga huruf. Ujian yang kita berilmu ini adalah ilmu itu sendiri. Antum jurusannya Qur'an Sunnah, ujian antum Qur'an Sunnah itu.
Ada satu orang lah yang ngatain cerita dari Surabaya. Dia ngerti Qur'an Sunnah, tapi begitu pulang, gimana cari duit? Kayak Pak Basul Kulus. Antum mungkin bisa jaga keikhlasan, tapi bisa jadi pasangan antum nggak bisa dikasih makan keikhlasan. Dia harus makan nasi, dia harus perlu skincare. Akhirnya jadi manusia split. Sehingga idealismenya hilang, lepas. Jadi akhirnya jadi terlalu realistis. Idealismenya hilang, realistis banget. Akhirnya jadi materialis, kapitalis, gitu-gitu.
Boleh nggak? Nggak, nggak bisa. Islam nggak kayak gitu. Islam itu ngajarin kita dua.
Kita harus idealis, punya prinsip, lakum dinukum wa liya din. Kalau dengan yang sama muslim, lana aâmaluna walakum aâmalukum. Tapi juga harus realistis. Kita harus punya duit, punya uang, harus kerja.
Banyak teman-teman karena saking idealisnya, akhirnya bersembunyi di balik kata-kata kona'ah, bersembunyi di balik kata-kata sabar, bersembunyi di balik kata-kata apa tadi, suhut. Tapi akhirnya sebenarnya kemudian terjadi pemalas, berbalut spiritual. Jadi anak nyebutnya kebo-kebo bergamis, kebo-kebo berjenggot. Kasar nih kalimat ini, nanti dipotong aja. Iya, ustad-ustad, pemalas tapi ustad, ustad tapi pemalas. La yamutu wa la yahya, nggak bermutu karena kurang biaya.
Kurang biaya. Antum secara ilmu udah S3 memang, tapi begitu pulang orang nggak tanya S3 Antum. Orang nggak tanya what you have, tapi orang tanya what you have for us.
Apa yang diperlukan ketika pulang. Karena kok fokus Antum nggak besar kan, jadi kalau ditanya apa yang Antum perlukan, apa yang harus Antum lakukan, cuma satu kalau mudah Antum, pulang ke rumah nanti: Robohkan ego dengan cara berkhidmat. Ana dulu nyikat WC, busun sendal, kan biasanya kan, bawa Rois munazomah-nya, bawa Mumtaz-nya, bawa apalagi, Mahirnya gitu. Di kampung, Antum goiru mustaâmal.
Nah maka Ana mulai dari bawah. Kayak Ana berkhidmat, ngurus masjid, ngurus dakwah. Cuma, belajar dari pengalaman Ana dulu, Ana perlu 8 tahun untuk penyesuaian ke kampung halaman.
Dan Ana, nggak apa-apa lah ya ngomong apa adanya. Ana-Ana Anggap Antumnya adik-adik saya gitu. Anak-anak saya gitu.
Jadi Ana punya teman pintar Mumtaz disini. Dia ngelanjut S3. Lagi. Sudah mau S3, S3 lagi. Tau nggak? Takut menghadapi kenyataan. Jadi dia belajar aja terus.
Nggak punya niat liyunziru qawmahum idza rojau ilayhim, nggak tau. Jadi apa? Mahasiswa abadi. Karena takut berubah status dari mahasiswa, dari pengamuran.
Aduh. Jadi gini, disini survival mode, pulang ke Indonesia ya nggak ada. Nggak ada bertumbuh.
Karena nggak tau mau ngapain. Makanya bikin Munzalan sekarang itu, jadi salah satu track untuk kawan-kawan bisa ambil jalan, jadi nggak usah ngulang kesalahan Ana.
Nggak usah mulang kebodohan-kebodohan saya dulu. Saya dulu perlu waktu 8 tahun untuk penyesuaian. Gimana ya? Gimana ya? Hal-hal basic sebenarnya.
Kalau Ana ngomong sama Antum, pasti Antum bilang, oh Aroftu zalik. Itulah musikilahnya, bos. Aroktu zalik.
Yang bikin insan maâhad nggak bertumbuh itu. Apa? Aroftu. Arofta? Amilta lamma. Kalau bicara tau atau nggak, pasti tau. Tapi udah diamalkan belum? Banyak orang tau, tapi nggak dilakukan. Ana diskusi sama Sofanani. Sofanani kan S3-nya di... Sekarang sama Ana di Munzalan. Ana tarik ke Munzalan. Ana bilang, Fan, Ente marhalati, ente mumtaz dulu, terus S3 ente mau ente apain? Di Syaikun. Sama nggak hisapnya orang yang punya ilmu dengan nggak punya ilmu? Ihmalnya orang yang punya ilmu dengan ihmalnya atau tahawun atau meremehkannya orang yang nggak punya ilmu, beda nggak? Beda. Insan maâhad, nggak sholat gitu? Ya azabnya bedalah. Sama orang luar. Orang yang punya ilmu S2, S3 terus dia nggak perasa dengan ilmunya. Kira-kira hisabnya gimana? Makanya banyak yang stuck di tempat, saking takutnya. Ana bikinin track-nya. Bikinin jalurnya. Ini step-step-nya. Cuma ya Ana nggak bisa paksa juga. Masing-masing punya idealisme.
Apalagi usia-usia 30an tuh lagi menyala abangku. Menyala abangku. Udah lagi on fire-on fire-nya. Pengen bergerak dengan gaya dia. Tapi ya mentok. Kalo ternyata bilang sama siapa? Habis ya? Experience is the best teacher. Tapi kalo menurut Ana, itu harus di-edit. Apa jadinya? Another person's experience is the best teacher. Kalo dia bisa, ya kenapa harus saya? Kalo dia bisa, yaudah dia aja. Dia bisa bangkrut, dia bisa babak belur, ya kenapa harus kita ngalamin juga?
Nah jadi, kalo ditanya ada nggak ilmunya di kampus? Ada. Bermanfaat itu. Bener-bener. Untuk ngomong sama orang-orang yang mengerti, punya frekuensinya sama. Di akademisi, nanti diskusi sama orang besar, ketemu sama tokoh-tokoh. Tapi kalo terjun ke masyarakat, masyarakat kita, no.
Awam banget. Ana tuh harus mengulang hal yang sama berkali-kali. Ngomongin tentang pentingnya sholat berjamaah. Ana sendiri harus mempraktikan juga. Misal yang basic ya. Ana nyebutnya berdasi. Birrul walidayn. Nah, muskilahnya anak pondok, sebagian besar, ngerasa nggak perlu orang tua. Karena sudah biasa hidup mandiri. Orang tua tuh cukup di video call, telepon. Ana, bawa mama. Salah satunya, niatnya itu.
Ana sampai hari ini, kemana pernah terbang, kemanapun, Itu anak ke rumah mama dulu, salam, cium tangan, baru terbang. Kemanapun ana terbang, berangkat. Aroftu zalik, Amilta lamma. Ana ke mama, setiap ketemu, salam, cium tangan, ada amplop yang ana tempel. Insya Allah, setiap ana mau berangkat.
Yang konsekuensinya apa? Ana harus menahan nafsu anak sendiri, kan? Walaupun anaknya setiap hari bermiliar-miliar, nggak akan cukup untuk ngebalas beliau. Minimal, Ana nggak akan salah ngasal orang tua. Ana tidur, kecuali Ana bawa sesuatu.
Aroftu lah. Anak pondok. Insan maâhad tau nggak itu? Nggak tau. Aroftu lah. Bahkan Antum sering men-tasjiâ-kan itu kepada orang lain. Masalahnya dipraktekin nggak? Itu aja muskilahnya.
Coba, insan maâhad. Baca Qur'an lah.
Ana salah satu kebodohan Ana tuh, selama lima tahun di Malaysia, Ana nggak pernah baca Qur'an. Ana ngerasa cukup disolat aja. Ana kasih yang fundamental ya.
Berdasi. Satu apa tadi? Minta maaf, minta doa, minta ridho. Apa? Minta maaf, minta doa, minta ridho. Ana terbang cuma tiga hari. Tapi itu kayak nyelesain urusan satu bulan. Urusan-urusan Ana yang disafar-safar itu harusnya tuh selesai tiga minggu atau bahkan satu bulan. Itu tiga hari beres dengan izin Allah. Doa mama. Apa tadi? Minta maaf, minta doa, minta ridho.
Orang tua ada dua. Ada orang tua biologis, itu bapak mama, ibu kandung kita.
Ada orang tua biologis. Siapa? Kiyai. Banyak anak-anak Gontor yang ngerasa âana proletar, anak goyru mustaâmal, anak goyru masyhur, ana belum ada, belum bermanfaat.â Akhirnya gak mudah ke Gontor.
Ana kan orang Pontianak. Untuk sampai ke Gontor, ana harus ngumpulin uang dua tahun. 2012, 2013, 2014. Baru bisa punya uang. Terbang dari Pontianak, Surabaya, gelantungan gini. Dari Surabaya ke Madiun, supaya murah. Naik bus. Sampai di Gontor, ana ngapain? Ketemu Pak Syukri, ketemu Kiyai, minta doa, minta ridho.
Udah itu aja. Pak Syukri, anak mau bikin lola, bikin gerakan infak beras, minta doa, minta ridho sama Kiyai.
Tahaddus binâmah dengan izin Allah ya. Dulu ana mulai tiga pesantren yang dibantu gerakan infak beras. Sekarang dengan izin Allah, sudah lebih dari 6.800 pesantren. Aceh dan Papua. Itu doa Kiyai, doa ibu. Bukan ana, gak ada sama sekali. Ana gak hebat. Maqbul, Ana. Ana gak mumtaz.
Udah? Clear ya? Satu, minta maaf, minta doa, minta ridho. Jadi ke Kiyai, usahakan kapan lah datang ke Gontor. Sowan sama Kiyai.
Anak nemuin semua ustadz-ustadz tuh. Ustadz Nur Syahid, Almarhum Syarif Abadi. Ana salamin satu-satu, minta doa. Minta doa, minta ridho nya ustadz. Ilmu dari Antum, mana sebar luas kan. Kullu Syaâin idza katsuro rokhuso illa-l-adaba. Aroftu zalik, kan? Aroftu.
Ana pulang ke Gontor. Ana datengin satu-satu. Bu Hasan, Bu Syukri. Ana datengin minta doa. Bu, Luqman lagi merintis dakwah. Minta doanya, minta ridho. Muwaffaq In syaa Allah. Dulu, Almarhum Ustadz Dihyah masih hidup. Anak datengin. Usahakan mau bikin lembaga pendidikan. Minta nasehatnya, minta ini-ini. Insyaallah. Kalau bahasa kita tuh: maâannajah.
Dapat kalimat-kalimat itu tuh, bu. Bagi anak tuh udah on fire. Udah, orang tua.
Yang ketiga STW, sholat tempat waktu.
Itu kenapa ana kalau kemana-mana pake timer. Berapa menit lagi zuhur. Karena kebodohan anak selama di Malaysia, anak nunda sholat. Ana ke Masjid cuma Jum'atan, bayangin. Ini namanya pengakuan dosa. Sama bongkar aib. Selama di KL, ana tuh ke Masjid tuh cuma pas Jum'atan aja. Al-Baqi sholat di kamar. Sholat di mana-mana. Dan tunda-tunda semua. Subuh, kesiangan. Zuhur, dekat-dekat Asar. Dalilnya belum kerja. Dalilnya sekolah. Dalilnya kuliah. Dalilnya ngerjain tugas. Habis. Bapak belum habis.
Mau anak kasih analoginya gini. Tapi jangan di-edit ya. Jangan di-edit. Beneran, Antum enggak lah. Ana, ini cerita ana. Antum jangan pula.
Abu Sofi ngasih saya uang 24 juta. Terus tiba-tiba Abu Sofi bilang gini. Lu harus makan ya. Pak eksprot yang ini. Jadi Abu Sofi ngasih 24 juta. Terus dia bilang gini. Ana pinjam dong 1 juta. Dia yang ngasih, dia yang pinjam. Ana yang dikasih. Terus ana bilang gini: Ente mau pinjam. Enggak, anak nggak mau kasih. Ini punya anak semuanya. Orang kayak ana namanya apa? Dikasih. Dipinjamin. Tapi nggak mau ngasih pinjam. Apa namanya? Apa namanya? Apa? Suluk-suluk. Suluk muqolab. Kurang ajar. Bajingan juga. Oke ya. Sekarang anak tanya sama Antum. Qittun jidan. Syuyuâ.
Sekarang Antum jawab ya. Ada orang dikasih waktu 24 jam sama Allah. Yang ngasih waktu pinjam 1 jam. Subuh 10 menit. Suhur 10 menit. Asal 10 menit. Maghrib 10 menit. Terus yang dikasih waktu bilang Sebentar ya. Karena lagi sibuk. Lagi ngerjain tesis. Lagi di kuliah. Lagi di kampus. Lagi ketemu sama dosen dan segala macam. Ini kira-kira nama orang itu apa? Ayu amalin ahabbu ilallah? Aroftu zalik kan? Tapi insan maâhad praktek gak? Coba jawab. Jawab dulu. Beberapa. Kolil.
Yang lain tuh bisa main futsal, Eh, udah isya nih. Soli awalan. Baâdin faqot sahl. Atau dengan dalil lagi seminar. Misalnya, misalnya. Ada orang tuh yang suka seminar itu. Yuakhkhir sholat. Dia taswir awalan. Dia sibuk ini. Ana paling strict kalau jawab misal sholat.
Yang keempat, terakhir. Inspiring. Infak setiap hari kalau bisa sering-sering.
Apa? Kalau bisa, sering-sering. Malaikat Rasulullah kan. Setiap pagi ada dua malaikat turun. Satu malaikat doain apa? Ya Allah berikan. Malaikat satu. Makbul gak doanya? Makbul. Tapi malaikat yang kedua doanya apa? Ya Allah berikan kebangkutan. Kehancuran. Hancur semua urusannya. Bagi orang yang bisa berimpak dan menahan. Jadi gak ada istilah juga berkah. Tiap hari itu berkah. Karena doa malaikat tiap hari. Karena kita doain malaikat tiap hari.
Nanti aku cari dalilnya. Rido Allah tergantung rido orang tua. Murkanya Allah tergantung murkanya orang tua. Aku gak akan dapat dunia ini. Kalau gak dapat, ridonya Allah. Caranya merayu rido Allah? Ambillah rido orang tua. Rido guru tadi. Supaya bermanfaat. Terus yang ASI-nya, al-Quran-Solat-Infak, Ini dari surah Fatir. Innalladzina yatluna kitaballah, wa aqamush-sholah, wa anfaqu mimma razqnahum, sirrah wa alaniyah, ulaika yarjuna tijaroan lan tabura.
Apa bedanya la sama lan? Tidak. Kalau la? Tidak. Kalau never tidak sama sekali. Berarti kalau lan tabur. Tidak akan pernah merugi. Mustahil miskin, mustahil bangkrut. Mustahil lapar. Asyik. Ana Bapak belur di empat ini: Birrul walidayn. Karena tadi ada rasa. Dua. Al-Quran. Aroftu Zalik. Baca sama artinya. Praktikin satu-satu. Dan sampai sekarang masih belajar. Masih belajar praktikin satu-satu. Wallahu fi aunil abdi ma kana-l-abdu fi auni akhihi, itu kaya gimana? Supaya hidup. Saat keren kan anak datengin.
Langsung. Sebagai saudara saya. Nggak tau ana ngomong apa. Jangan lupa ana. Masih ingat ana ngomong apa. Ada masa-masanya. Nanti. Apa yang anda sampaikan ini. Nanti baru terasa gitu. Terasa di sangkut di gigi ana. Kapan kamu baru terasa. Nanti kalau udah mentok. Kalau udah kejedot. Jadi ada ruqyah daun bidara, ada ruqyah daun pintu.
Udah. Semoga apa yang kita makan dan minum. Menjadi energi. Menjadikan kita sebagai hamba yang paling bersyukur. Menjadi wasilah. Kita doakan. Semua yang hadir disini. Di muliakan Allah. Di berkahi Allah. Allahumma barik wa nafi. Terima kasih.
Transcript oleh turboscribe.ai
Review oleh Abdul Lathif Arridha