Sebuah refleksi selama di amanahkan sebagai bagian dari keInstrukturan KAMMI. Sebagai salah satu perangkat kaderisasi, instruktur memiliki peran yang begitu besar dalam membentuk kader dalam proses dauroh.
Jika diingat kembali bagaimana proses menjadi instruktur tidaklah mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa di taklukkan. Memang berat karena tanggung jawab keberlangsungan pergerakan ini salah satunya ada di tangan-tangan para instruktur.
Poros kaderisasi adalah proses paling penting yang perlu diperhatikan. Bagaimana bisa mempertahankan eksistensi sebuah pergerakan agar senantiasa dapat bergerak ditengah-tengah dinamika zaman yang begitu menguji keteguhan idealisme.
Aku sering kali mendengar keluh peluh dari pengurus harian KAMMI, bagaimana beberapa poros pergerakan basis pergerakan mereka mengalami stagnasi. Sulit, tapi kondisi itu membuat KAMMI sempat mengalami mati suri.
Tapi, bisa bertahan karena poros paling penting yaitu kaderisasi tidak menjadi bagian dari stagnasi tersebut. Yang lain mungkin bisa membuat organisasi mati suri, tapi jika kaderisasi yang stagnasi maka dapat dipastikan KAMMI akan benar-benar mati. —begitu pentingnya Kaderisasi
Kaderisasi tidak hanya berbicara sedikit banyaknya rekrutmen atau tentang penjagaan dan pengkaryaan kader untuk tetap berjuang di dalam barisan ini saja. Tetapi bertanggungjawab bagaimana pemahaman mengapa mereka di dalam barisan dakwah bisa terinternalisasi di dalam jiwa setiap kader dan ini menjadi poin penting dalam upaya kader tetap konsisten dan konsekuen dalam menjalankan roda perjuangan.
Dan Instruktur sebagai bagian dari perangkat kaderisasi, ikut ambil bagian dalam proses transfer pemahaman agar mengkristal didalam jiwa setiap kader.
Kalo ngomongin instruktur itu sedikit sekali yang bisa digambarkan, karena tidak begitu banyak jam terbang. Tapi, dalam hemat waktu bisa sedikit tergambar bagaimana pola dan peran instruktur sebagai orang yang mentransfer pemahaman melalui proses dauroh.
Menjadi instruktur itu bukan berarti sudah selesai dengan semua yang ada, karena jika merasa demikian mengindikasikan adanya kesombongan pada jiwa seorang instruktur dan ini jelas menodai peran suci seorang instruktur sebagai penjaga nafas pergerakan.
Instruktur itu ibarat menjaga anak tangga, ia menjadi garda terdepan untuk memastikan tangga yang akan di naikin itu aman dan kokoh, dan yang akan menaiki tangga tersebut adalah mereka yang tau bagaimana melangkah dan menaiki anak tangga.
Instruktur adalah sosok keteladanan dalam hal apapun terutama keteladanan dalam beramal, sudah seharusnya intruktur menjadi percontohan utama dalam pengkaderan terutama dalam menjaga kerja amalnya dan menularkannya kepada kader.
Berat memang menjadi instruktur tanggung jawabnya amat berat. Slogannya Intruktrur seumur hidup bukan sekedar slogan semata, ia memiliki arti besar. Menjadi penjaga nafas pergerakan seumur hidup, dan seumur hidup pula pola kebiasaan dan keteladanan seorang instruktur itu diperuntukkan. Jangan sampai memberikan keteladanan yang tidak sesuai dengan cerminan seorang instruktur.
Semoga bisa menjadi refleksi dalam mengingat diri bahwa instruktur itu memiliki peran yang sangat vital dalam pergerakan khususnya pengkaderan.
Jadilah intruktur yang membawa angin segar dalam harokatul amal dan harokatul tajnid.