Selamat datang teman² di halaman tumblr kami, terimakasih atas atensinya. Biarkan kami disclaimer dulu di depan bahwa isi tulisan disini tentu kami harap bisa bermanfaat bagi pembaca. Tapi memang pada dasarnya menulis di tumblr karena ini adalah platform yang 'sepi' dan kami jadikan tempat untuk mendamaikan apa yang ada di kepala. Jadi jangan heran, jika satu waktu genre tulisannya akan berubah ubah wkwk kadang dakwah dan pergerakan, kadang hikmah, kadang brainstorming teks penagihan inovice ke customer bermasalah. Jangan sungkan untuk memberi saran masukan atau sekedar menyapa ya! Salam kenal semua!
Disiplin dalam kata untuk mendefisinisikan sesuatu itu penting banget. Melabeli kejadian buruk dengan "kesialan" Akan sangat berbeda dengan label "teguran" Atau "ujian".
Kesialan cenderung cuma jadi bahan omelan bahkan menyalahkan Tuhan.
Teguran atau ujian akan mendatangkan hikmah, evaluasi, dan amal baik lainnya.
Yang aku suka dari belajar islam tu salah satunya ya ini, selalu diajarkan untuk merawat harapan. Bahkan dalam kondisi paling kritis sekalipun. Aku yakin, ga mungkin orang yang belajar islam dengan benar justru putus harapan. InsyaAllah selalu ada jalan.
Selama ini aku agak bingung memaknai prinsip ini. Prinsip yang bisa kita lihat dalam buku sejarah nabi berjudul "manhaj haraki"/strategi pergerakan nabi dalam dakwah. Terlebih, argumen tentang keterbukaan informasi di zaman sekarang terasa sangat relevan.
Lalu muncullah beliau dan barisan para pejuang ini. Yang secara prinsip menekankan kerahasiaan anggotanya dan kerahasiaan jubir utamanya: Abu Ubaidah.
Ancamannya memang sangat jelas: nyawa diri dan keluarganya. Selain itu menjaga agar setiap pejuangnya tetap ikhlas dan terjaga dari ria.
Kerahasiaan dan karya nyata.
ini adalah prinsip yang berat sekali untuk dijalankan oleh hati yang menginginkan panggung dan ketenaran. Atau minimalnya pengakuan. Juga mendobrak nalar, bahwa karya karya yang besar bisa dikerjakan dengan penuh kerahasiaan.
20 tahun, kiprah Abu Ubaidah. Kiprahnya sebagai jubir yang menggerakkan, ditunggu warga dunia, dan menjadi ikon perlawanan tak lantas membuat ia bergeming dari prinsip kerahasiaan. Ia memang dotokohkan, tapi dengan nama samaran.
Bayangkan saja, kiprahnya mendunia dan hampir tidak ada yang tahu namanya siapa!
Amal Nyata dalam Kerahasiaan.
Abu Ubaidah dan sistem perlawanan memberikan contoh, bahwa walaupun dalam kerahasiaan, amal dakwah terus digarap dengan serius dan maksimal. Ia justru tidak diartikan dengan kerja santai dan asal-asalan karena tak ada mata yang mengawasi. Bukankah kerja-kerja ini karena Allah dan mengharap ganjaran-Nya?
Bayangkan saja, berapa banyak apra komandan yang syahid dan tidak kita kenal, dan berapa banyak tukang senjata, tukang gali terowongan, dan sebagainya yang juga tidak kita ketahui namanya. Dan semuanya itu bersinergi mewujudkan sebuah karya nyata yang mengguncang status quo imperium setan.
Ada dua nasihat dari guru kami yang tak pernah yang maknanya dalam dan membekas hingga hari ini:
Seandainya kamu memang ingin meninggikan agama Allah, menjaga izzah umat, coba untuk berusaha menjaga izzah sendiri dengan tidak terlalu mengumbar keburukan : aib dan kelemahan personal di media sosial. Tutuplah rapat hal-hal itu agar terhindar dari fitnah, kecuali dalam ruang tertentu untuk memperbaiki diri dan meminta nasihat kepada orang alim. Selebihnya bijak-bijaklah dalam menampakan suatu hal.
Apa yang kamu kerjakan sekarang --entah amanah dakwah yang sifatnya kecil sekalipun, maksimalkan dan bersikaplah selayaknya profesional dalam rangka menolong agama Allah. Ini prinsip awal sebelum melakukan hal-hal besar. Memang ada saatnya kita tidak mendapat pujian dan sorotan. Namun percayalah, Allah Maha Menilai dan Mengetahui.
Bagaimana kita mau menjaga izzah umat sedangkan menjaga izzah pribadi tidak bisa? Bagaimana ingin melakukan perubahan besar sedangkan hal-hal kecil saja kita tidak profesional?
Kalau Waktu jadi modal investasi, investasi di jogja sebagai karyawan itu kayaknya investasi bodong deh wkwk dengan waktu yang sama aku yakin banget sebetulnya kita bisa menghasilkan lebih banyak baik uang maupun karya, atau karya yang menghasilkan uang malahan.
Otak atik gatuknya gimana itu ketika owner bisnis tempat kerja aja untuk membuat keluarga baru mereka berjalan harus ditopang dengan 4x gaji karyawan, biaya hidup ditanggung uang kantor, dikali dua lagi, plus baby sitter. Itupun mereka mengaku, persiapan dari subuh sampai jam 9 ternyata baru cukup untuk menuntaskan semua urusan domestik sampai gak bisa ikut briefing bareng tim pagi pagi di jam 8. Berarti hey model kerja ini tidak cocok untuk keluarga! Wkwk
Kondisi kekuasaan waktu yang gak mutlak ini juga bikin sebagian aktivitas dakwah harus dipangkas porsinya. Beberapa panggilan pelatihan harus disesuaikan agar tidak terlalu banyak izin kantor. Selain itu, urusan dakwah ini akhirnya dipenuhi panggilannya dengan sisa sisa tenaga, mental, emosi, pikiran yang tentu akan jauh dari kata maksimal.
Terasa seperti marah marah pada keadaan yaa wkwk
Mencari formulasi terbaik sih, cara pikir engineer ku terusik, gimana caranya menciptakan sistem yang efisien. Dan ini tu sangat tidak efisien dan menyulitkan kontribusi dakwah yang lebih besar dari sekedar rapat pekanan.
Ada model kerja yang menarik, salah satu temen itu lagi membuat gerakan dakwah baru, ternyata dari sisi pekerjaan dia ditopang oleh timnya. Pekerjaan yang membuat dia juga bisa menggarap dakwahnya dan waktu yang sama ia juga terjamin sisi maisyahnya. Tidak linier, tapi ketika ada urusan dakwah di tengah pekerjaan, dia bisa mudah mengkondisikan pekerjaannya. Akhirnya dakwah itu tidak kepentok dengan prinsip kantor yang njlimet. Dan yang penting, dakwahnya tumbuh signifikan.
Pertolongan Allah itu amat dekat. Dan terkadang, Dia menunggu kita datang kepada-Nya di waktu-waktu yg amat istimewa.
Di balik waktu yang singkat itu—antara adzan dan iqomah—ada gerbang doa yang terbuka lebar. Doa yang tidak disia-siakan. Air mata yang tidak jatuh sia-sia.
Mungkin bukan tentang kata-kata doanya, tapi tentang hati yang berserah penuh. Dan Allah… Maha Mendengar. Bahkan sebelum kita sempat bicara.
Beberapa waktu lalu aku baca buku karangan Henry Manampiring yang judulnya The Compass. Buku itu tu cerita kalau setiap orang butuh petunjuk untuk hidup dan mencapai kebahagiaan sejati. Kebahagiaan sejati dalam istilah Yunani disebut dengan Eudaimonia.
Eudaimonia didefinisikan sebagai kebahagiaan yang berarti hidup berkualitas yang bisa didapatkan dengan kebijaksanaan praktis, keberanian, keugaharian (kemampuan menahan diri), dan keadilan. Bahagia bukan didefinisikan sebagai mencapai target 1M pertama di 25 tahun, atau bisa tertawa setiap saat, dll. Kebahagiaan ada di kepuasan hati setelah melakukan kebijaksanaan atau hal-hal yang baik.
Kebijaksanaan praktis, keberanian, keugaharian (kemampuan menahan diri), dan keadilan juga harus seimbang satu sama lain, harus moderat dan gak boleh ekstrem kanan atau kiri. Pelaksanaannya harus moderat, seimbang, atau tawazun.
Intinya sih kebahagiaan sejati tu penuh nilai, harus diperjuangkan, dia gak subjektif, bukan bahagia karena kita bisa mencapai hal-hal yang kita suka aja, ia berpegang pada nilai-nilai yang baik dan terukur.
Meskipun sebagai pembaca muslim kita tetap perlu kritis terhadap beberapa hal dalam buku ini, persfektif kebahagiaan sejati ala Yunani ini bisa kita ambil pelajarannya.
Taman bunga Eudaimonia?
Hmmm ini ngarang aja sih aku, aku ngebayangin taman bunga tempat kebahagiaan sejati tumbuh. Setiap bunganya indah menawan. Mahkotanya putih bersih, anggun, dengan aksen emas di tepi setiap kelopaknya, harum semerbak wanginya, tampilannya memanjakan mata, tapi juga membuat mereka yang merasa silau enggan untuk memetiknya.
Taman bunga Eudaimonia begitu ekslusif, menyeleksi setiap mereka yang datang. Juga tidak sembarang bunga mampu tumbuh di taman ini. Bunga disini hanya Utopia bagi para kolektor bunga di taman lain. Kata mereka sih sudah tak mungkin bunga-bunga semacam itu tumbuh di masa sekarang.
Memang apa yang tidak mereka tahu bukan berarti tidak ada, kan?
Beberapa waktu lalu aku disini, berdiri gemetar di antara bunga bunga indah, aksen emasnya menyilaukan mata sesekali, aku hanya tidak sengaja sampai disini, kata penjaganya sih aku harus memilih satu. Hanya satu.
Aku duduk sebentar, sadar diri dan mencoba menyadari sesuatu. Menyadari bahwa semua bunga ini indah menawan, hampir semuanya indah sempurna! Masing-masing cuma beda letak mahkotanya sedikit, letak duri-durinya (oh iya bunga-bunga ini bagai mawar, duri sebagai pertahanan), andaipun aku memetik secara asal, kan tetap ku dapati keindahan paripurna.
Andai ku ambil secara asal... Hmm mungkin akhirnya pertimbangan teknis jadi alasan. Bunga mana yang posisi durinya kan lebih mudah untuk digenggam. Bunga mana yang berada dalam jangkauan. Bunga mana...
Oh hey, intinya taman bunga Eudaimonia adalah kebahagiaan sejati yang diperjuangkan. Barangkali ia tak segemerlap taman bunga lain yang merah merona, atau ungu mempesona, atau kuning putih menggemaskan. Tidak tidak. Taman bunga Eudaimonia menawarkan kebahagiaan sejati, yang bernilai, yang bermartabat, yang kebahagiaannya dilandaskan bukan pada ukuran materil atau hasil kosmetik.
Kerja di lingkungan yang umum, jauh dari bahasan keumatan dan dakwah, menambah pengetahuan tentang realita umat kita hari ini. Salah satunya adalah bagaimana memandang masalah Palestina.
Suatu ketika kami membahas palestina, sebentar saja, tapi cukup jelas untuk menunjukkan sikap masing-masing. Waktu itu seorang kawan bilang kalau dia di tahap yang pesimis dan memilih untuk tidak berpihak pada siapapun. Yang bilang ini bukan sembarang orang, dia lulusan S2 politik dari kampus yang ribut ijazah palsu. Diskusi tidak panjang, hanya ditutup dengan pernyataan ku bahwa aku masih punya harapan untuk Palestina.
Di lain waktu, aku sempat berbalas komentar di akun Mojok. Dengan nada yang sama, salah satu netizen pesimis dibalut kata realistis. Dia bilang kalau negara sebesar entitas I itu tidak mungkin bisa dihancurkan. Dia gak peduli ketika contoh negara besar yang pernah eksis lalu hancur dipaparkan.
Dari sana, aku baru sadar ternyata optimisme juga sebuah nikmat. Kemampuan melihat melampaui apa yang dilihat mata adalah kemewahan tersendiri di tengah umat yang sedang kalah.
Bukankah para pejuang memang harus merawat mimpi?
Bahkan Indonesia saja pada dasarnya adalah negara impian. Yang bahkan para pahlawan dulu tidak memiliki imajinasi yang utuh akan seperti apa negara merdeka ini? Apakah seluas Majapahit? Apakah kan membentang sepanjang Jawa? Atau hanya sepetak kesultanan surakarta? Yang pasti penjajah dzalim yang memperkosa tetangga, keluarga, dan kemerdekaannya itu, dengan segala kemewahan armadanya itu harus terusir bahkan jika kita hanya punya bambu-bambu yang diraut!
Itu hanya bagian kecil warga yang pesimis terhadap perjuangan palestina. Masih banyak yang merawat harapan atas kemenangan para pejuang kok. Di kantor bahkan ada yang sampai menghimpun dana ketika event takbiran di kampungnya. Selalu ada harapan.
Dan kemenangan ini bukan hanya sekedar mimpi atau optimisme semata, ini adalah nubuwah kemenangan. Kemenangan hanya soal waktu, yang harus kita yakini. Yang pasti, ketika kemenangan itu datang, akankah kita terlibat, menonton, atau bahkan menjadi bagian dari para penggembosnya?
Mari nikmati dan senantiasa mengilmui agar optimisme itu kian kuat dan menggerakkan.
Dwaarr! 7 kera mati terbakar terperangkap di oven berjalan bernama merkava selepas disapa oleh 2 pemuda masjid dengan 21kg bingkisan. Menang!
Membawa Cahaya, membawa mereka keluar dari kegelapan
Tentang Dakwah Fardhiyah
Aku suka dengan istilah yang dikeluarkan Ust. Dwi Budi dalam pembukaan bukunya "Tak henti merengkuh hati: Merancang Langkah Dakwah Fardiyah" Yaitu "Gen.36.20" Mengambil inspirasi dari amalan seseorang yang diceritakan di dalam surat Yaasin ayat 20. Yang akhirnya para mufasir menyebut nama Habib An-Najjar sebagai sosok yang diceritakan disini.
Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-lakidengan bergegas ia berkata, "Wahai kaumku! Ikutilah utusan-utusan itu.
[Surat Ya-Sin: 20]
Kisah tentang sesosok tukang kayu asing dari ujung kota untuk sebuah misi mulia dakwah ini diceritakan hingga ayat ke- 27.
Singkatnya, atas peran dakwah yang diambil itu, ia menyambut syahid. Oleh kaumnya ia disiksa hingga isi perutnya terburai lewat dubur. Ia meninggal dalam kondisi mengambil peran dalam dakwah. Ya, ia mengambil peran... Karena pemeran utama sebagai utusan dalwah justru ada orang lain di dalam cerita ini. Ia sebenarnya hanya mengambil peran!
Di dua ayat terakhir, kisah dakwahnya yang penuh cinta pada kaumnya ditutup dengan indah dalam persaksiannya,
Peran yang diambil dalam dakwah, walaupun hanya sebagai orang kedua ternyata sedemikian mulia di sisi Allah hingga direkam secara abadi dalam Al-Qur'an. Hingga kiprahnya saat itu menjadi motivasi bagi kita di hari ini!
Dari kisah itu juga, selain pengambilan peran dalam dakwah, kita bisa mengambil pelajaran bahwa pada dasarnya dakwah fardhiyah adalah tentang ikhtiar mendatangi objek dakwah, masuk dalam gelap membawa cahaya, lalu menarik mereka keluar darinya menuju cahaya iman. Karena bagaimanapun, interaksi antar manusia secara private jauh lebih berdampak daripada seruan-seruan dari atas mimbar atau ppt kajian tematik bertema romansa sekalipun. insyaallah.
yogyakarta, 19 juni 2025
---
oya, sila mampir ke ig @ujarbergambar yak :D tempatku coret-coret garis kayak benang kusut
Kafilah awan gelap singgah di langit Merapi, pagelaran jingga di barat tak jadi dipentaskan. Memaksa puisi-puisi indah tentang senja berganti menjadi puisi rindu di bawah guyuran hujan yang mulai membelai bumi. Mungkin memang dasarnya hujan adalah rahmat atau kasih sayang maka di setiap rintiknya ada yang menitip rindu, menyimpan memori, dan beberapa menggubah sajak indah.
Guyur hujan semakin deras, masih 15 kilometer lagi. Jarak masih terbentang panjang. Dengan sepeda ringkih itu, di jam pulang kerja, di bawah guyuran hujan yang cenderung badai, membawa tas penuh, 15 kilometer adalah perjalanan penuh hikmah. Jas hujan sudah tak berarti lagi.
JARAK
Mari kita bicara lagi soal jarak. Orang-orang memandang 15 kilometer adalah jauh, ada juga yang memandang 15 kilometer itu dekat, ada juga yang memandang 3 kilometer sudah sangat jauh dan melelahkan. Jauh dekat ternyata bukan tentang jarak. Tapi tentang rasa.
Soal rasa dan jarak ini agaknya rumit sekali. Ada rasa yang kandas karena jarak. Sementara yang lain sengaja membentang jarak namun rasa yang tertinggal terasa kian mendekat. Tapi itu cuma rasa. ya, cuma. dalam konteks ini, membentang jarak adalah tentang menggadaikan perasaan untuk menjaga kehormatan.
Tulisan ini akan sangat tidak berperasaan kawan, bersiaplah.
Rasio bukan rasa
Ah memang rasa begitu rumit bukan? Ia seolah harus sekali dirayakan. Ia seolah harus sekali berarti memiliki. Ia seolah harus sekali bersisian dengan romansa dan pelaminan. Ia seolah harus sekali berarti kepunyaan dan saat gagal dicapai itu berarti kehilangan.
Jarak setidaknya memberikan kesempatan untuk berfikir lebih jernih lalu belajar. Maka buku-buku menjadi kawan, kelas-kelas kajian menjadi tempat kembali ketika seabrek kebingungan menyerang, dan dari kesemua (yang sedikit) itu justru semakin tegas bahwa rasa tak perlu dirayakan, ia bukan modal untuk membangun sebuah bahtera keluarga.
"Apakah setiap bahtera rumah tangga dibangun atas dasar perasaan cinta lalu di mana nilai perlindungan dan harga sebuah kehormatan?"
- Umar R.A
Nasihat guru ku menegaskan, bahwa pernikahan adalah hal yang logis. Ia tidak didasarkan pada perasaan yang tak terukur, ia masuk akal.
Maka rasa -walau banyak- bukanlah modal.
Tulisan lanjutannya terlalu berat untuk ditulis sekarang...
----
Membentang Jarak #1 sila dibaca disini
Tumblr is a place to express yourself, discover yourself, and bond over the stuff you love. It's where your interests connect you with your
Ketika para Da'i menjadi barisan paling malas belajar
Ya, tidak perlu mengelak. Barisan para da'i justru diwarnai oleh fenomena kefuturan dalam ilmu. Menjadikan mereka sekumpulan para solihin yang solih secara parsial. Solih dalam lelaku, tapi serba gagap dalam banyak hal. Rajin shalat, lemah lembut, tapi di waktu yang sama tidak berani membela kebenaran, tidak tahu kondisi umat, tidak mampu berusaha, mengalir bersama gelombang materialisme umum. Masih solih gak kalau begitu?
Kemandekan keilmuan ini juga berdampak pada kebingungan kemana arah dakwah ini akan digulirkan. Yang akhirnya segala teori serampangan dipakai dan tak ada ruh teori keislaman sama sekali. Cara menjalin ukhuwah disolusikan dengan agenda senang-senang dan jalan-jalan, menihilkan sisi keimanan yang justru menjadi aspek ukhuwah di surat Al-hujurot. Cara pengambilan keputusan dieksekusi dengan otoritarianisme atau setidaknya dengan rapat yang tidak sehat di saat islam memiliki ajaran syuro dan sederet teladan sejarah tentang musyawarah yang demokratis.
bukankah hanya mereka yang memiliki yang bisa memberi?
Apa yang mau disampaikan jika para da'i tak memiliki ide dan ilmu apapun?
"Belajar" adalah kata yang saya ambil untuk penyederhanaan berbagai aktivitas menuntut ilmu. Salah satunya, membaca.
Penulis menilai, membaca seharusnya tidak masuk dalam jajaran hobi, ia kebutuhan. Kalau ada yang sudah memasukkannya ke dalam hobi, itu berarti ia sudah menikmati. Sama seperti sekolah, ia dijalani bukan karena hobi, tapi karena kebutuhan akan pendidikan. Seharusnya, membaca juga begitu. Ini adalah kebutuhan.
Ketidaksukaan terhadap membaca para da'i saya pandang sebagai Ketidaktahuan diri dan kegilaan yang harus ditaubati.
Mari kita coba masuk ke pembahasan yang lebih terstruktur sesuai dengan pembahasan di dalam buku ini. Sebagai catatan, apa yang saya tulis adalah sebentuk rangkuman ekstrem dari apa yang sudah ditulis oleh Dr. Majid Irsan Al-Kilani dalam bukunya. Kita tidak akan membahasnya secara keseluruhan. Setidaknya mari kita fokus pada fenomena-fenomena kerusakan yang dijelaskan, proses islahnya, lalu pola-pola sejarah yang perlu kita pelajari
Buku ini terdiri dari 6 BAB, yaitu;
BAB SATU: Pola pemikiran masyarakat muslim yang ebrkembang menjelang serangan kaum salib eropa
BAB DUA: Pengaruh kerancuan pemikiran terhadap kehidupan masyarakat muslim
BAB TIGA: Fase pertama geliat gerakan pembaharuan dan islah
BAB EMPAT: Fase penyebaran gerakan islah dan pembaruan, dan madrasah-madrasah yang merepresentasikannya
BAB LIMA: Pengaruh-pengaruh umum gerakan islah dan pembaruan
BAB ENAM: Pola-pola sejarah dan implementasi kontemporer
Kita akan memprioritaskan pembahasannya pada aspek-aspek yang dibutuhkan oleh gerakan dan bisa kita implementasikan untuk melaksanakan perbaikan di generasi kita hari ini
Kekacauan dunia keilmuan dan pemikiran
Di bagian ini kita akan membahas tentang kondisi pemikiran umat islam pada masa itu, ketika membaca ini saya justru melihat pola kerusakan ini terduplikasi hari ini. Ini adalah rangkuman untuk BAB satu dan dua.
1. Rusaknya para ulama
Pada zaman awal kekhilafahan islam, Khulafaur Rasyidin adalah orang-orang yang berada pada puncak keilmuan dan juga pada puncak kepemimpinan. Maka, mereka tidak memerlukan ulama untuk mengawal kepemimpinan mereka karena mereka pun sudah memiliki kapasitas itu bahkan pada posisi puncaknya. Kecuali pada beberapa kasus yang memang pelik dan perlu didiskusikan dengan para sahabat/ulama yang lain.
Zaman berganti kualitas pemimpin pun tidak secakap para khulafaur Rasyidin, mereka berada pada puncak kepemimpinan namun tidak dengan derajat ilmu. Maka, mereka harus mengajak para ulama untuk mau mengawal mereka di dalam pemerintahan. Disini muncullah need and demand. Ketika kekuasaan membutuhkan panduan ulama, sedangkan ulama cenderung menghindar dari kekuasaan demi menjaga kemurnian agama dari kepentingan politik.
Fenomena ini, walaupun tetap pada kerangka "memuliakan ulama", ternyata banyak yang justru menjadikan itu sebagai niat utama dalam mencari ilmu dan menapaki jejak keilmuan sampai tingkat mahir. Sehingga mereka menjadi ulama yang cenderung pada dunia (ulama dunia/ulama suu')
"Rakyat menderita karena rajanya rusak, dan raja menjadi rusak karena rusaknya ulama, dan ulama menjadi rusak karena dikuasai oleh cinta dunia dan kedudukan. Siapapun yang dikuasai oleh cinta dunia niscaya tidak akan mampu melaksanakan hisbah (mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran" - Al Ghazali
Efek dari rusaknya ulama ini akhirnya menjalar pada pengamalan agama yang sekedar formalitas, tidak membahas hal² yang krusial dan cenderung berdebat pada hal-hal remeh dan terkesan populis, dan banyak lainnya.
2. Madzhabisme & Ashobiyah
Pada masa itu, kondisi pemikiran islam diwarnai dengan ashobiyah kemadzhaban (madzhabiyyah). Mari kita bedakan kata madzhabiyyah ini dengan madzhab. Kata madzhabiyyah terkandung di dalamnya ashobiyah kemadzhaban yang ditunjukkan dengan berbagai kejadian baik itu ranahnya keilmuan, hingga bentrok fisik di pasar-pasar.
Pada sisi keilmuan, terjadi kemandekan keilmuan dalam dunia islam karena para cendikiawannya menghabiskan waktu dalam perdebatan antar madzhab, dilarang mempelajari madzhab lain, dan cenderung merendahkan madzhab lain disamping membanggakan madzhab mereka. Sehingga pembahasan para ulama/cendikiawan tidak masuk pada aspek yang solutif bagi problematika umat saat itu.
Contoh dari fenomena ini adalah banyaknya buku-buku seperti thabaqat (memuat biografi dan jasa tokoh-tokoh madzhab tertentu), syarh (penjelasan dari buku induk), hawasyi (penjelasan dari syarah), dan mukhtasar (ringkasan) dari buku-buku madzhab.
Dampak paling parah dari pola madzhabisme ini adalah para pengikut madzhab tidak lagi bersentuhan langsung dengan Al-Quran dan As-Sunnah.
Kondisi ini membuat ijtihad dan inovasi yang sesuai dengan masalah yang dibutuhkan masyarakat mangalami kemandekan -bukan berarti tidak ada juga-
Pergesekan antar madzhab ini tidak hanya melahirkan perpecahan di ranah keilmuan, tapi juga melahirkan generasi pelajar yang menggunakan bahan memabukkan dan cenderung memiliki sentimen kedaerahan atara pelajar iraq dan non iraq.
3. merebaknya ajaran tasawuf yang sesat, filsafat yang menyimpang, dan kebatinan (yang akan melahirkan aliran Hassasyin/Assasin)
Ajaran tasawuf yang dikritisi disini adalah aliran Malamatiyah, aliran Hulul dan kaum sufi yang keluar dari syariat.
Tokoh ajaran Malamatiyah menurut para sejarawan tasawuf klasik adalah Hamdun Al Qashshar (Wafat 271 H/884 M) yang ajarannya bisa tergambar dari ucapan beliau:
" Sesungguhnya jiwa manusia sangat cenderung kepada kejelekan, sekalipun lemah. Kalaupun ia tunduk dalam ketaatan, namun tetap menyembunyikan kejahatan. Untuk itu, kita harus bersikap menyalahkannya setiap saat." Menurut beliau, kata 'al-malamah artinya tidak merasa selamat.
Dr. Majid menulis tentang beliau (Hamdun) bahwa ia hanyalah seorang dari sekian banyak tokoh besar (syaikh) tasawuf murni, yang dikenal memiliki tingkat kesadaran emosi yang tinggi, selalu menjaga diri, dan waspada terhadap riya', baik dalam pengetahuan maupun perbuatan.
Singkatnya, dalam perjalanan tasawuf ini, estafeta pemikirannya kian ekstrim. Berangkat dari pemahaman prinsip kejahatan pada diri manusia justru mendorong penganutnya untuk tidak mengindahkan etika. Semakin dipandang hina oleh manusia, maka semakin mudah untuk meraih hati yang ikhlas pada Allah. Sehingga mereka cenderung berpakaian lusuh, kotor, menjadi pekerja kasar, tidak mencuci pakaian mereka bahkan menjadi sarang serangga dan kalajengking.
Penyelewengan itu kian meningkat hingga penganut ajaran ini menghalalkan perkara hara, dengan alasan memurnikan hari untuk Allah.
Pada pembahasan ini banyak sekali dijelaskan fenomena tasawuf yang berkedok mendekatkan diri kepada Allah tapi pada kenyataannya justru menyimpang dari syariat dan tidak membawa sumbangsih pada penyelesaian problematika ummat.
4. Rusaknya Ekonomi Umat
Kerusakan di tahap pemikiran dan ulama berdampak pada aspek lain yang lebih praktikal yaitu ekonomi dan aspek sosial. Sebab maju dan mundurnya ekonomi justru tergantung pada persepsi yang emnjadi dasar cara mendapatkan dan cara menggunakan kekayaan.
Kemajuan ekonomi bisa terjadi jika menggunakan persepsi berikut: Menempatkan cara mendapatkan dan menggunakan kekayaan untuk kepentingan bersama (umum). Orang-orang yang memegang kendali ekonomi (pemerintah) hanyalah berperan sebagai fasilitator, yang bertanggung jawab untuk mengumpulkan dan mendistribusikan.
Jika terjadi yang sebaliknya, ketika persepsi ekonomi menempatkan pendapatan dan penggunaan kekayaan untuk kepentingan individu, sementara peran orang-orang yang mengendalikan roda ekonomi adalah sebagai perampas dan pelaku monopoli. Maka akan terjadi kekacauan ekonomi di tengah masyarakat.
Dr. Majid menjelaskan bahwa pada masa itu terjadi ketimpangan ekstrem antara para pejabat dengan rakyatnya sehingga banyak sekali catatan tentang kekayaan pejabat yang tidak masuk akal dan tidak dapat dihitung.
Para penguasa baik sultan, militer, pejabat, atau pun menteri menggunakan kesempatan untuk menjarah rakyatnya dengan semaksimal mungkin.
Kondis rusaknya ekonomi ini kian parah hingga harga barang-barang melambung tinggi dan rakyat tak mampu membelinya hingga mereka memilih memangsa sesama anggota keluarganya untuk bertahan hidup (kanibalisme).
Dan seterusnya.
5. Rusaknya Aspek Sosial
Sebagaimana sudah dijelaskan di atas, terjadi banyak kericuhan atas nama madzhab dan ashobiyah. Konflik Sunni dan Syiah juga menjadi perhatian yang membuat kelumpuhan di dinasti Abbasiah. Konflik itu terus ada dan berkembang hingga muncul sekte hassasyin yang mengancam nyawa Salahuddin pada masanya.
6. Lemahnya umat dan ketidak pedulian khalifah terhadap ekspansi Salibis.
Bagi ku, ini adalah part yang paling menyedihkan diantara part menyedihkan lainnya. Karena di part ini kita bisa menyaksikan bahwa kerusakan itu benar-benar struktural hingga umat ini bahkan dipimpin oleh pemimpin kacau yang lebih memprioritaskan burung daripada 70.000 nyawa umat muslim yang teregang di bawah pedang salibis!
Di halaman terakhir BAB 2 diceritakan perwakilan dari Al Quds datang menghadap khalifah membawa karung besar berisi tulang belulang manusia, rambut wanita, dan anak-anak. Semua itu dihamparkan di hadapan para penguasa.
Ironis, khalifah justru berkata
"Biarkan aku sibuk dengan urusan yang lebih penting! Merpatiku, si Balqa', sudah tiga hari menghilang dan aku belum melihatnya!"
Ya! Khalifah tenggelam pada permainan-permainan sia-sia dibandingkan mengurusi umat yang terbantai!
Mari kita tutup Part ini dengan sebuah puisi yang dilantunkan penyair yang dicatat oleh sejarawan Ibnu Taghri Bardi:
Kekuatan kafir telah mengarak awan hitam di atas Islam
Gelap menyelimuti agama yang lurus ini
Hak terabaikan, kehormatanpun tercemar nista
Pedang menebas bebas dan darah bersimbah
Alangkah banyak lelaki muslim yang tertawan
Juga wanita muslimah yang terhormat menjadi tawanan
Sungguh peristiwa-peristiwa itu begitu besar
Jika seorang anak kecil memikirkannya
Niscaya orang tuapun kembali ke masa kecilnya
Akankah ketika wanita-wanita muslimah tertawan
Kaum muslimin hidup nyaman dan bahagia
Katakanlah kepada setiap orang yang memiliki nuarani di mana saja
Jawablah panggilan Allah.. Jawablah!
Aku gak sadar ternyata draft ini dah rilis sebelum rampung. Ini sudah terupdate teman-teman, banyak sekali tambahan dan revisi. selamat membaca, semoga ada manfaatnya
Mari kita coba masuk ke pembahasan yang lebih terstruktur sesuai dengan pembahasan di dalam buku ini. Sebagai catatan, apa yang saya tulis adalah sebentuk rangkuman ekstrem dari apa yang sudah ditulis oleh Dr. Majid Irsan Al-Kilani dalam bukunya. Kita tidak akan membahasnya secara keseluruhan. Setidaknya mari kita fokus pada fenomena-fenomena kerusakan yang dijelaskan, proses islahnya, lalu pola-pola sejarah yang perlu kita pelajari
Buku ini terdiri dari 6 BAB, yaitu;
BAB SATU: Pola pemikiran masyarakat muslim yang ebrkembang menjelang serangan kaum salib eropa
BAB DUA: Pengaruh kerancuan pemikiran terhadap kehidupan masyarakat muslim
BAB TIGA: Fase pertama geliat gerakan pembaharuan dan islah
BAB EMPAT: Fase penyebaran gerakan islah dan pembaruan, dan madrasah-madrasah yang merepresentasikannya
BAB LIMA: Pengaruh-pengaruh umum gerakan islah dan pembaruan
BAB ENAM: Pola-pola sejarah dan implementasi kontemporer
Kita akan memprioritaskan pembahasannya pada aspek-aspek yang dibutuhkan oleh gerakan dan bisa kita implementasikan untuk melaksanakan perbaikan di generasi kita hari ini
Kekacauan dunia keilmuan dan pemikiran
Di bagian ini kita akan membahas tentang kondisi pemikiran umat islam pada masa itu, ketika membaca ini saya justru melihat pola kerusakan ini terduplikasi hari ini. Ini adalah rangkuman untuk BAB satu dan dua.
1. Rusaknya para ulama
Pada zaman awal kekhilafahan islam, Khulafaur Rasyidin adalah orang-orang yang berada pada puncak keilmuan dan juga pada puncak kepemimpinan. Maka, mereka tidak memerlukan ulama untuk mengawal kepemimpinan mereka karena mereka pun sudah memiliki kapasitas itu bahkan pada posisi puncaknya. Kecuali pada beberapa kasus yang memang pelik dan perlu didiskusikan dengan para sahabat/ulama yang lain.
Zaman berganti kualitas pemimpin pun tidak secakap para khulafaur Rasyidin, mereka berada pada puncak kepemimpinan namun tidak dengan derajat ilmu. Maka, mereka harus mengajak para ulama untuk mau mengawal mereka di dalam pemerintahan. Disini muncullah need and demand. Ketika kekuasaan membutuhkan panduan ulama, sedangkan ulama cenderung menghindar dari kekuasaan demi menjaga kemurnian agama dari kepentingan politik.
Fenomena ini, walaupun tetap pada kerangka "memuliakan ulama", ternyata banyak yang justru menjadikan itu sebagai niat utama dalam mencari ilmu dan menapaki jejak keilmuan sampai tingkat mahir. Sehingga mereka menjadi ulama yang cenderung pada dunia (ulama dunia/ulama suu')
"Rakyat menderita karena rajanya rusak, dan raja menjadi rusak karena rusaknya ulama, dan ulama menjadi rusak karena dikuasai oleh cinta dunia dan kedudukan. Siapapun yang dikuasai oleh cinta dunia niscaya tidak akan mampu melaksanakan hisbah (mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran" - Al Ghazali
Efek dari rusaknya ulama ini akhirnya menjalar pada pengamalan agama yang sekedar formalitas, tidak membahas hal² yang krusial dan cenderung berdebat pada hal-hal remeh dan terkesan populis, dan banyak lainnya.
2. Madzhabisme & Ashobiyah
Pada masa itu, kondisi pemikiran islam diwarnai dengan ashobiyah kemadzhaban (madzhabiyyah). Mari kita bedakan kata madzhabiyyah ini dengan madzhab. Kata madzhabiyyah terkandung di dalamnya ashobiyah kemadzhaban yang ditunjukkan dengan berbagai kejadian baik itu ranahnya keilmuan, hingga bentrok fisik di pasar-pasar.
Pada sisi keilmuan, terjadi kemandekan keilmuan dalam dunia islam karena para cendikiawannya menghabiskan waktu dalam perdebatan antar madzhab, dilarang mempelajari madzhab lain, dan cenderung merendahkan madzhab lain disamping membanggakan madzhab mereka. Sehingga pembahasan para ulama/cendikiawan tidak masuk pada aspek yang solutif bagi problematika umat saat itu.
Contoh dari fenomena ini adalah banyaknya buku-buku seperti thabaqat (memuat biografi dan jasa tokoh-tokoh madzhab tertentu), syarh (penjelasan dari buku induk), hawasyi (penjelasan dari syarah), dan mukhtasar (ringkasan) dari buku-buku madzhab.
Dampak paling parah dari pola madzhabisme ini adalah para pengikut madzhab tidak lagi bersentuhan langsung dengan Al-Quran dan As-Sunnah.
Kondisi ini membuat ijtihad dan inovasi yang sesuai dengan masalah yang dibutuhkan masyarakat mangalami kemandekan -bukan berarti tidak ada juga-
Pergesekan antar madzhab ini tidak hanya melahirkan perpecahan di ranah keilmuan, tapi juga melahirkan generasi pelajar yang menggunakan bahan memabukkan dan cenderung memiliki sentimen kedaerahan atara pelajar iraq dan non iraq.
3. merebaknya ajaran tasawuf yang sesat, filsafat yang menyimpang, dan kebatinan (yang akan melahirkan aliran Hassasyin/Assasin)
Ajaran tasawuf yang dikritisi disini adalah aliran Malamatiyah, aliran Hulul dan kaum sufi yang keluar dari syariat.
Tokoh ajaran Malamatiyah menurut para sejarawan tasawuf klasik adalah Hamdun Al Qashshar (Wafat 271 H/884 M) yang ajarannya bisa tergambar dari ucapan beliau:
" Sesungguhnya jiwa manusia sangat cenderung kepada kejelekan, sekalipun lemah. Kalaupun ia tunduk dalam ketaatan, namun tetap menyembunyikan kejahatan. Untuk itu, kita harus bersikap menyalahkannya setiap saat." Menurut beliau, kata 'al-malamah artinya tidak merasa selamat.
Dr. Majid menulis tentang beliau (Hamdun) bahwa ia hanyalah seorang dari sekian banyak tokoh besar (syaikh) tasawuf murni, yang dikenal memiliki tingkat kesadaran emosi yang tinggi, selalu menjaga diri, dan waspada terhadap riya', baik dalam pengetahuan maupun perbuatan.
Singkatnya, dalam perjalanan tasawuf ini, estafeta pemikirannya kian ekstrim. Berangkat dari pemahaman prinsip kejahatan pada diri manusia justru mendorong penganutnya untuk tidak mengindahkan etika. Semakin dipandang hina oleh manusia, maka semakin mudah untuk meraih hati yang ikhlas pada Allah. Sehingga mereka cenderung berpakaian lusuh, kotor, menjadi pekerja kasar, tidak mencuci pakaian mereka bahkan menjadi sarang serangga dan kalajengking.
Penyelewengan itu kian meningkat hingga penganut ajaran ini menghalalkan perkara hara, dengan alasan memurnikan hari untuk Allah.
Pada pembahasan ini banyak sekali dijelaskan fenomena tasawuf yang berkedok mendekatkan diri kepada Allah tapi pada kenyataannya justru menyimpang dari syariat dan tidak membawa sumbangsih pada penyelesaian problematika ummat.
4. Rusaknya Ekonomi Umat
Kerusakan di tahap pemikiran dan ulama berdampak pada aspek lain yang lebih praktikal yaitu ekonomi dan aspek sosial. Sebab maju dan mundurnya ekonomi justru tergantung pada persepsi yang emnjadi dasar cara mendapatkan dan cara menggunakan kekayaan.
Kemajuan ekonomi bisa terjadi jika menggunakan persepsi berikut: Menempatkan cara mendapatkan dan menggunakan kekayaan untuk kepentingan bersama (umum). Orang-orang yang memegang kendali ekonomi (pemerintah) hanyalah berperan sebagai fasilitator, yang bertanggung jawab untuk mengumpulkan dan mendistribusikan.
Jika terjadi yang sebaliknya, ketika persepsi ekonomi menempatkan pendapatan dan penggunaan kekayaan untuk kepentingan individu, sementara peran orang-orang yang mengendalikan roda ekonomi adalah sebagai perampas dan pelaku monopoli. Maka akan terjadi kekacauan ekonomi di tengah masyarakat.
Dr. Majid menjelaskan bahwa pada masa itu terjadi ketimpangan ekstrem antara para pejabat dengan rakyatnya sehingga banyak sekali catatan tentang kekayaan pejabat yang tidak masuk akal dan tidak dapat dihitung.
Para penguasa baik sultan, militer, pejabat, atau pun menteri menggunakan kesempatan untuk menjarah rakyatnya dengan semaksimal mungkin.
Kondis rusaknya ekonomi ini kian parah hingga harga barang-barang melambung tinggi dan rakyat tak mampu membelinya hingga mereka memilih memangsa sesama anggota keluarganya untuk bertahan hidup (kanibalisme).
Dan seterusnya.
5. Rusaknya Aspek Sosial
Sebagaimana sudah dijelaskan di atas, terjadi banyak kericuhan atas nama madzhab dan ashobiyah. Konflik Sunni dan Syiah juga menjadi perhatian yang membuat kelumpuhan di dinasti Abbasiah. Konflik itu terus ada dan berkembang hingga muncul sekte hassasyin yang mengancam nyawa Salahuddin pada masanya.
6. Lemahnya umat dan ketidak pedulian khalifah terhadap ekspansi Salibis.
Bagi ku, ini adalah part yang paling menyedihkan diantara part menyedihkan lainnya. Karena di part ini kita bisa menyaksikan bahwa kerusakan itu benar-benar struktural hingga umat ini bahkan dipimpin oleh pemimpin kacau yang lebih memprioritaskan burung daripada 70.000 nyawa umat muslim yang teregang di bawah pedang salibis!
Di halaman terakhir BAB 2 diceritakan perwakilan dari Al Quds datang menghadap khalifah membawa karung besar berisi tulang belulang manusia, rambut wanita, dan anak-anak. Semua itu dihamparkan di hadapan para penguasa.
Ironis, khalifah justru berkata
"Biarkan aku sibuk dengan urusan yang lebih penting! Merpatiku, si Balqa', sudah tiga hari menghilang dan aku belum melihatnya!"
Ya! Khalifah tenggelam pada permainan-permainan sia-sia dibandingkan mengurusi umat yang terbantai!
Mari kita tutup Part ini dengan sebuah puisi yang dilantunkan penyair yang dicatat oleh sejarawan Ibnu Taghri Bardi:
Kekuatan kafir telah mengarak awan hitam di atas Islam
Gelap menyelimuti agama yang lurus ini
Hak terabaikan, kehormatanpun tercemar nista
Pedang menebas bebas dan darah bersimbah
Alangkah banyak lelaki muslim yang tertawan
Juga wanita muslimah yang terhormat menjadi tawanan
Sungguh peristiwa-peristiwa itu begitu besar
Jika seorang anak kecil memikirkannya
Niscaya orang tuapun kembali ke masa kecilnya
Akankah ketika wanita-wanita muslimah tertawan
Kaum muslimin hidup nyaman dan bahagia
Katakanlah kepada setiap orang yang memiliki nuarani di mana saja
Jawablah panggilan Allah.. Jawablah!
KENAPA SYAMS ? Dan apa hubungannya dengan BAITUL MAQDISH ?
(Book Review "BAITUL MAQDISH FOR DUMMIES)
Kalian tahu bahwa ternyata barometer ummat itu berada pada penduduk negeri Syams? Syams digambarkan sebagai alat ukur izzah serta keimanan seluruh ummat di dunia. Dalam hadits yang berbunyi:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِذَا فَسَدَ أَهْلُ الشَّامِ فَلَا خَيْرَ فِيكُمْ وَلَا تَزَال طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي مَنْصُورِينَ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ» [أخرجه الترمذي]
“Apabila kerusakan terjadi pada penduduk Syam maka sudah tidak ada lagi kebaikan bagi kalian. Senantiasa akan ada dikalangan umatku yang ditolong, yang tidak akan merasa terganggu dari orang yang menyakitinya sampai tegak hari kiamat“.
HR at-Tirmidzi no: 2192. beliau mengatakan hadits hasan shahih. Ahmad 24/363 no: 15597.
Dalam redaksi Imam Muslim dibawakan sebuah riwayat dari sahabat Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لاَ يَزَالُ أَهْلُ الْغَرْبِ ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ » [أخرجه مسلم]
“Senantiasa penduduk barat berada diatas kebenaran sampai tegaknya hari kiamat“. HR Muslim no: 1925.
Dan penduduk barat yang dimaksud ialah penduduk Syam, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ahmad, dan dikuatkan hal tersebut oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Dari hadits di atas kita ketahui bahwa Negeri Syams menjadi barometer kondisi umat muslim di seluruh dunia. Jika Penduduk Syams dalam keadaan hancur maka kaum muslim dalam keadaan yang rapuh, jika penduduk Syams jauh dari agama apalagi muslim dari negeri lain..
Negeri syams memiliki beberapa nama lain yaitu Ardhul Mubarokah, sebagaimana dalam Q.S. Al-Anbiya: 71
Selain itu Syams di sebut juga dengan Biladusy Syams (negeri-negeri Syams) hal itu karena terdiri dari beberapa negeri yang membentuk satu kawasan tersendiri. Seperti pada peta di atas !!
Lantas apa hubungannya Syams dengan Baitul Maqdish ?
Yaa, seperti yang kalian lihat pada peta bahwa Baitul Maqdish-Palestina berada di salah satu wilayah yang ada di Syams. Baitul Maqdish atau bisa juga kita sebut dengan Sanctuary Place memiliki keistimewaan tersendiri dalam penyampaian risalah tauhid.
Karena Baitul Maqdish menjadi satu-satunya temat berkumpul 124.000 orang Anbiya wa Rasul untuk melaksanakan shalat berjamaah yang lansung di imami oleh Rasulullah SAW.
Dan pernahkah kita membayangkan saat kita menapaki kaki di masjidil Aqsha kita telah menapaki tanah yang juga di tapaki oleh Nabi dan Rasul. Allahuakbar.
53.272 jiwa melayang terbang keharibaan Tuhan. Dijemput lewat tembakan, ledakan dan kelaparan mematikan. Jika diruntut sejak 1948 tentu angkanya akan melonjak jauh sekali. Angka di awal hanyalah angka yang terhitung sejak 7 oktober 2023. Itupun yang terdata oleh rumah sakit dan kementrian kesehatan, belum termasuk yang dilaporkan hilang dan tak kembali.
Krisis kemanusiaan ini menghantam umat islam sedemikian rupa hingga sebagian kita mengambil peran aktif dalam mendukung para pejuang. Ekspresi dukungan bisa beragam sekali, dari repost konten kepalestinaan, memboikot, berdonasi, turun aksi, mengambil peran aktif dalam forum internasional hingga menjadi realawan kemanusiaan yang berangkat ke sekitar medan perjuangan. Baarakallah fiikum atas segala upaya kemerdekaan.
Tapi mari kita berhenti sejenak, merenung sejenak apa hal yang membuat umat yang SDM nya 8 milyar ini bahkan dukungannya tak mampu membuka gerbang Rafah dan memasukkan bala bantuan ke dalam Gaza? Apa hal juga yang bisa membuat para generasi terdahulu berhasil dan pantas memerdekakan kiblat pertama umat ini dan menjaga kemuliaannya di dalam naungan islam?
Dari Al Ghazali menuju Salahuddin Al Ayyubi
Salahuddin Al Ayyubi biasanya dijadikan sebagai sosok pahlawan superhero sebagai individu hebat heroik. Kecenderungan sejarah ini menjadikan para pembaca sejarah seolah melihat perjuangan kemerdekaan Palestina adalah projek satu tokoh saja, mengabaikan aspek yang lebih holistik seperti persiapan pendidikan, kesiapan para ulama, persatuan umat, lurusnya pemerintahan, lurusnya aqidah, hingga kesiapam para tentara untuk berjihad memperjuangkan agama dam setia pada agama, bukan pada individu.
DR. Majid Irsan Al-Kilani dalam bukunya ini melihat Salahuddin sebagai satu bagian atau sebagai jubir resmi dari sebuah generasi 'yang pantas menang'. Artinya, standar generasi saat itu memang seperti Salahuddin dan pantas untuk merebut kemenangan dan mengelola masjidil Al Aqsha. Maka hajat paling penting bukanlah berharap-harap muncul sosok seperti Salahuddin dalam umat ini, tapi bagaimana kita membangun sebuah sistem yang mampu mencetak generasi Salahuddin yang baru.
Di dalam buku ini, estafeta perjuangan merebut Al Quds dimulai dari zaman imam Al Ghazali. Ini bukan berarti tak ada ikhtiar sebelum itu. Sebelum zaman Al Ghazali, perjuangan melalui jihad dan politik sudah dilakukan tapi selalu menemukan kegagalan.
Menurut Syeikh As-Sulami, seorang imam masjid di sekitar Al Quds, yang juga sezaman dengan Al Ghazali dan sering mengkonsolidasi kekuatan jihad melawan tentara salib, merumuskan setidaknya 2 langkah pembebasan Al Quds.
Pertama, “reformasi moral” untuk mengakhiri “degradasi spiritual” kaum Muslim ketika itu. Invasi pasukan Salib harus dilihat sebagai hukuman Allah, sebagai peringatan agar kaum Muslim bersatu. Kekalahan Muslim, menurut al-Sulami, adalah sebagai hukuman Allah atas kealpaan menjalankan kewajiban agama, dan di atas semua itu, adalah kealpaan menjalankan jihad.
Tahap kedua, penggalangan kekuatan Islam untuk mengakhiri kelemahan kaum Muslim yang telah memungkinkan pasukan Salib menguasai negeri-negeri Islam. Dalam kitabnya, al-Sulami menyebutkan dengan jelas tentang situasi saat itu dan stretagi untuk mengalahkan pasukan Salib.
Dari kedua tahap itu, tahap pertama menjadi fokus terbesar imam Al Ghazali.
Singkatnya, reformasi moral ini berdampak pada terbentuknya sebuah pemerintahan yang siap untuk mengakomodir kekuatan demi kepentingan umat dan fokus terhadap hal besar umat ini yang diwakilkan oleh Imaduddin Zanki lalu Nuruddin Zanki, lalu Salahuddin Al Ayyubi.
Syeikh Ahmad Yassin hingga komandan Sinwar
5-10 Juni 1967 perang Yomkippur atau perang 6 hari Israel VS koalisi arab setidaknya bisa kita jadikan contoh bagaimana kemewahan dan banyaknya pasukan dan persenjataan tidak menentukan kemenangan. Bahkan disini koalisi arab menelan malu dan kekalahan. Koalisi arab harus kalah dalam 6 hari!
7 Oktober 2023 adalah cerita lain. Sebuah gerakan perlawanan besar Thufanul Aqsha pecah, dunia gempar. Mitos kecanggihan, kegagahan, dan ketinggian moral pasukan penjajahan runtuh seketika. Peralatan serba terbatas, para pejuang melawan dari balik dinding dan embargo penguasa dunia. Dalam kesederhanaan dan segala kondisi pelik itu, para pejuang dan rakyat Gaza mampu bertahan hingga 18 bulan lamanya! Atau 588 hari ketika tulisan ini ditulis (17 mei 2025)
Rahasianya? Kekuatan dibangun secara bertahap dari kelompok kelompok pengajian kecil, diisi oleh para remaja masjid yang kokoh secara ilmu dan iman. Hingga kekuatan itu lahir dari para pejuang yang kokoh iman, ilmu dan amalnya. Mari kita telisik punggawa gerakannya, Hamas. Berdiri 1987, jauh setelah perang 6 hari penuh muhasabah itu tergelar.
Dimulai dari majlis keilmuan dan pembinaan moral, gerakan itu bermutasi menjadi gerakan nun kokoh yang melahirkan para pejuang yang terus berinovasi tiap generasinya. Perjuangan tidak hilang dengan gugurnya satu persatu tokoh, karena perjuangan ditumpukan di atas fondasi ilmu dan kepahaman yang terestafet secara baik dan semakin baik. Bahkan berhasil membina sebuah masyarakat yang juga kokoh menanggung setiap efek perjuangan hingga nyawa diri dan keluarga menjadi taruhannya!
Ketika gerakan ini dirasa lesu secara keshalihan hingga keilmuan dari level individu hingga kolektif, rasanya memang gerakan ini pada kondisi pantas kalah. Hingga perlu dilakukan perbaikan menyeluruh dari hal yang paling mendasar di masalah ruhiyah dan ulumuddin dengan harapan akan tercipta generasi yang tangguh dan mampu beramal maksimal.