Duh hidup tuh kadang lucu banget. Rasanya udah lama ga ngerasain punya emotional attachment ke orang lain selain keluarga dan emang kayaknya gue secara tidak sadar membatasi diri gue untuk menyelam bersama orang lain sih.
Desember 2024 lucunya gua merasakan patah hati, "hah patah hati, kok bisa??" gua pun mikirinnya sekarang masih lucu tapi masih lebih sering nangisnya sih hahahaha
Sejak kapan gua bisa mikirin orang lain sambil nangis, muntah setiap abis makan malam berhari-hari, ini tuh lebayy bangettt bangett kalau dipikir-pikir, tapi sayangnya tubuh gua berkata lain. Tubuh gua mengabaikan setiap kalimat yang coba gua proses di otak untuk bersikap, "everything it's okay" tapi nyatanya semua tidak baik-baik saja hey Adella.
Gua perlahan mulai sadar. Dari semenjak papa meninggal saat gua kelas 6 SD, kayaknya semua orang tuh mencoba menghibur gua dengan bilang, "semua akan baik-baik aja", semua orang mencoba untuk tidak nangis di depan gua, dan semua orang mencoba meyakinkan, bahwa kita akan menjalani hidup dengan baik walau situasinya seperti ini. Gua memproses itu dan menanamkan kalimat di dalam pikiran gua dengan kalimat "hidup gua akan sama ada atau tidak ada nya papa".
Kejadian ini membuat gua sadar, ada yang salah dari cara gua memproses perasaan duka. Kehilangan itu tetap ada dan merasakan kehilangan dan sedih berlarut-larut itu tidak apa-apa. Kejadian itu kejadian yang penuh luka, dan semuanya sedang tidak dalam kondisi yang baik-baik aja. Ketika lu nangis itu pun normal.
Ternyata cara gua memproses duka ini secara tidak sadar justru dengan membatasi perasaan gua untuk tidak terlalu terikat dengan orang lain, dimana tujuannya supaya gua tidak merasakan sakit dikemudian hari ketika gua harus melepaskan atau merasa ditinggalkan oleh orang lain. Tapi nyatanya itu salah. Luka akibat duka yang gua rasakan, akibat kehilangan yang gua rasakan justru tidak pulih tapi dia hanya terpendam. Ada momen-momen jika luka ini tersentuh sedikit saja, dia akan semakin parah.
Jadi rasanya ketika saat ini gua sedang merasakan patah hati, gua membuka luka itu kembali ke permukaan. Tapi anehnya luka itu bukan seperti luka yang baru muncul, tapi justru luka itu semakin besar karena luka sebelumnya belum pernah dipulihkan.
Ketika gua mengenal orang lain yang mencoba meyakinkan gua untuk percaya sama dia, yang membuat gua mencoba membuka jati diri gua perlahan demi perlahan, ternyata ujungnya dia adalah orang yang sama yang membuat diri ini merasakan luka yang selama ini gua pendam. Tapi ya salah gua juga sih hahahaha. Gapapa. Patah hati tuh emang proses kita untuk lebih mengenal diri sendiri ya. Semoga lekas sembuh deh ya. Gapapa lama, yang penting harus dipulihkan :) mari kita nangis lagi abis ini hahahaha
"Sebelum ini banyak masalah yang lebih berat kok di hidup gue. Dan semua dilewati dengan baik. Mungkin ga ada miracle Allah yang gimana-gimana sih, maksudnya yang gua rasakan ketika sedang proses mencari solusinya itu. Tapi ya tiba-tiba aja hati tenang, nyaman, happy-happy lagi. Emang kadang ga bersyukur dan ga peka aja sama kasih sayang Allah"
Gua cuma berharap bisa mengatasi trauma ini dengan baik. Bismillah.