Ujung Doa yang Tak Pernah Kita Amin-kan
Kita pernah punya rencana, kau ingat?
Pagi-pagi, kau membicarakan rumah dengan halaman kecil. Aku membayangkan kita menanam pohon jambu, lalu memetiknya sambil tertawa, lupa kalau hidup ternyata tidak sesederhana itu.
Lucu, kan?
Orang dewasa jatuh cinta seperti anak kecil, lalu patah hati seperti orang tua yang kehilangan gigi.
Pelan-pelan ompong, tapi masih pura-pura kuat mengunyah.
Aku sudah berdamai, katanya. Orang-orang senang mendengar kalimat itu. Padahal di balik dada, aku masih mencium wangi bajumu, yang entah kenapa menempel di lipatan ingatan yang paling malas kubersihkan.
Kau pernah jadi alasan aku berdoa.
Seketika aku rajin menadahkan tangan, menyebut namamu di sela permohonan-permohonan kecil: semoga dia bahagia, semoga dia makan tepat waktu, semoga dia pulang ke pelukan yang sama.
Tapi ternyata, tidak semua doa layak diaminkan. Beberapa hanya jadi kabut, terbang ke langit lalu kembali turun jadi hujan yang membasahi pundak sendiri.
Kini aku tertawa pelan, melihat diriku kemarin yang begitu takut sendirian, begitu takut disingkirkan dari duniamu.
Padahal kehilanganmu tidak semenakutkan itu. Pahit, iya. Getir, iya. Tapi di sisa rasa itu, ada napas baru. Ada ruang yang bisa kupakai menumbuhkan diriku sendiri, tanpa perlu minta tolong kau sirami.
Kalau suatu saat kita bertemu lagi di warung kopi, di sudut kota, atau di antrean supermarket, biarkan aku tersenyum biasa. Biarkan aku menyapa tanpa getar di dada.
Karena yang hilang memang tidak perlu dicari, dan yang sudah mati memang tidak perlu dihidupkan lagi.
Hari ini aku menutup doa itu. Tanpa kata amin, tanpa bising air mata. Karena kau hanya perhentian, bukan rumah.
Dan aku, akhirnya, punya kunci untuk pulang ke diriku sendiri.