Oh, so you hate it? Guess what? We don't care.
I hate to do some things, but I get it done anyway.
Not because I love doing it, not because I want to, but solely because I have to be responsible.

Love Begins
One Nice Bug Per Day

JVL

#extradirty
Three Goblin Art
Misplaced Lens Cap
Not today Justin
d e v o n

No title available

izzy's playlists!

JBB: An Artblog!

titsay
occasionally subtle
TVSTRANGERTHINGS
🪼
Alisa U Zemlji Chuda
i don't do bad sauce passes

blake kathryn
DEAR READER

Andulka

seen from United States
seen from Hong Kong SAR China
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Germany
seen from United States

seen from TĂĽrkiye

seen from TĂĽrkiye

seen from Germany

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Germany

seen from TĂĽrkiye

seen from Italy

seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from TĂĽrkiye
seen from Tunisia
seen from United States
@adityajifchr
Oh, so you hate it? Guess what? We don't care.
I hate to do some things, but I get it done anyway.
Not because I love doing it, not because I want to, but solely because I have to be responsible.
Those who are numb against fear are the first one to die.
Itto Ittosai
Disiplin tidak mengekang, tapi membebaskan.
Refleksi Sebelum Bekerja
      Semakin dewasa banyak hal yang dulu saya rasa sederhana, sekarang prakteknya, menjadi lebih memerlukan seni tersendiri. Contoh hal yang sangat sederhana yang bisa dilakukan manusia: berpikir.
Dulu waktu masih SMP/SMA/Kuliah, i can think of anything at a time. Saya bisa berpikir sesimpel itu tanpa harus terlalu mengkhawatirkan kesehatan psikis/ stamina dalam menjalani hari. Sekarang kayaknya semakin banyak saya berpikir, semakin saya merasakan stamina itu terkuras, karena stamina habis, jadi gampang capek, semangat menyelesaikan pekerjaan nihil. Sekarang jadi harus lebih memilah hal-hal yang worth untuk dipikirkan, me-manage dan memperhatikan timing tanggung jawab yang sekiranya membutuhkan ketajaman berpikir. Mengatur mood supaya berpikir jadi lebih rileks dan minim tekanan. Harus tau tanggung jawab yang musti diperhatikan dalam sehari supaya energi enggak langsung habis ketika tanggung jawab masih banyak. Intinya tau prioritas dan porsi pikiran. Ribet.
Dulu mah mau mikir, mikir aja.
Kalo sekarang, mau mikir aja, mikir dulu!
Life is hard, it's harder when you complain all the time... and if you're stupid
Makanya kuliah woy!
That Intangible “Currency” Called Time
Some people said that Time is Money.Â
Well umm, i couldn't agree to that concept. Walaupun yaaa bisa jadi mungkin konsep persamaan itu terbentuk dengan maksud untuk menyetarakan waktu dengan sesuatu yang sangat berharga. Yang dapat dipahami maknanya sebagai bentuk kekayaan secara universal. Dalam hal ini duit. Â So that we could spend our time like we spend our money. Wise and responsible. Well at least bagi orang yang sadar bahwa duitnya terbatas.
Atau bisa juga diinterpretasikan oleh para enterpreneur bahwa, setiap detik yang mereka manfaatkan itu berarti cuan yang bisa dia hasilkan. Begitu juga sebaliknya, setiap waktu yang dia sia-siakan, itu berarti cuan yang dia sia-siakan juga.Â
Waw. Terdengar arogan sekali.
Bagi saya, yang bukan enterpreneur, duit dan waktu itu ga bisa disetarakan. Philosophically. Yes they are limited resources. But for me, unlike money, time is something you cannot earn. Lo bisa revolve duit tiap pay-day, but it doesn't work like that with time. Waktu yang udah lewat, momen yang udah ilang, ya udah ilang aja. Ga bakal ketemu lagi dengan momen yang sama persis. Setiap sholat subuh yang terlewat, ga bisa digantiin oleh solat subuh yang besok. There will be a moment when we runs out of time, di mana setelah itu terjadi akan dimintakan pertanggungjawaban atas setiap waktu yang kita punya... diaudit... tanpa bisa dimanipulasi datanya. Time can strangle you, slowly, and stronger as it goes. Time is one of the most horrifying resources i could possibily known.... if you can't control them.
Either you run the day or the day runs you.
Jim Rohn
Di langit sana, Allah telah menyiapkan banyak sekali jawaban. Tugas kita adalah bertanya, bukan mempertanyakan. Bila bertanya, maka akan muncul jawaban dari-Nya melalui peristiwa-peristiwa kebetulan, yang sebenarnya justru bukan kebetulan. Mengapa? Karena sebenarnya semua itu telah direncanakan oleh Allah dengan rencana yang sangat sempurna.
Nothing Else Matter
Bismillahirrahmanirrahim.
      Pada tanggal 17 Desember 2017 kemarin, saya agak menyesal untuk pulang ke Bandung karena baru tahu pas udah jalan di Jumat malam ternyata pada hari Ahad ada kegiatan aksi Bela Palestina di Monas which is deket banget sama kosan. Tapi alhamdulillah dalam kesempatan yang sama, saya masih diberikan jatah usia untuk dimanfaatkan. Alhamdulillah senang sekali bisa hadir dalam kajian rutin akhir pekan Majelis Percikan Iman (MPI) yang memang niat awalnya hadir untuk menyimak kajian tematik yang akan disampaikan oleh Ust. Aam Amiruddin (Ketua Umum MPI). Materi kajiannya pun cukup menarik, berkenaan dengan hidayah dan perkara-perkara ikhtilaf, sekaligus “membalas” penyesalan untuk pulang ke Bandung. Tapi rupanya, diumumkan di tempat bahwa beliau diberikan amanah yang lebih besar untuk berjihad pada momen Bela Palestina 17.12.17 lalu. Namun Allah tidak akan membiarkan hambaNya kecewa dalam menunaikan kebaikan. Alhamdulillah kajian tetap diselenggarakan dan disampaikan oleh Ust. Arif Rahman Hakim, seorang cendikiawan muda yang salih dan insyaAllah Allah tinggikan derajat beliau. Semoga beliau selalu berada dalam naungan ridha dan rahmat dari Allah. Aamiin.
      Dalam kesempatan tersebut, saya diingatkan kembali oleh beliau dengan nasihat yang berbicara maupun yang diam. Dibacakan potongan ayat Q.S.: Al-Hajj 22-47 yang artinya:
“Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.”
Cukup jelas secara redaksional bahwa 1 hari di akhirat sama dengan perhitungan 1000 tahun menurut perhitungan dunia. Sederhananya, jika angka harapan hidup manusia rata-rata adalah 60 tahun, maka perbandingannya adalah 0,06 hari akhirat, dikali 24 jam hasilnya 1,44 jam akhirat. Bayangkan, 1,44 Jam! Dan ancaman-ancaman Allah, hukuman-hukuman Allah, bagi orang-orang yang berdosa kelak di neraka nanti, bukanlah sesuatu yang mudah dan sebentar. Pada Al-Quran, ada satuan waktu yang disebut “Hiqbun” yaitu hitungan satu zaman. Analoginya sama seperti “Abad” yang setiap abad berjumlah seratus tahun. Terdapat ikhtilaf terkait jumlah hitungan waktu yang dikonversi melalui “Hiqbun”. Namun, dari jumhur hadits sahih yang telah diriwayatkan, satu Hiqbun sama dengan 80 tahun perhitungan akhirat. Ancaman dalam Al-Quran, contoh yang tertera dalam Q.S. 78-23, yang artinya
“mereka tinggal di dalamnya (neraka) selama berabad-abad (ahqaba)”
Ahqaba adalah bentuk jamak dari Hiqbun, atau terdiri dari banyak Hiqbun-Hiqbun lainnya. Semakin banyak dosanya pada sidang hisab – pengadilan yang seadil-adilnya, semakin banyak vonis “Hiqbun” yang diterima, semakin dalam tempatnya di neraka. Bayangkan jika vonis yang diterima, asumsikan 10 Ahqaba. Artinya ia divonis sejumlah 10 Ahqaba x 80 tahun = 800 tahun akhirat.
800 tahun akhirat x 365 hari akhirat = 292.000 hari akhirat
Perhitungan dunianya
292.000 hari akhirat = 292.000.000 tahun dunia
Itu barulah perhitungan 10 Ahqaba, sekarang kita tanya diri kita sendiri sebanyak dan sebesar apa dosa-dosa kita. Berapa banyak kira-kira vonis Ahqaba yang akan kita terima? Naudzubillahiminzalik, semoga Allah melindungi kita semua dari dosa yang tidak diampuni dan dari godaan-godaan setan yang menghadirkan dosa-dosa lain. Sesungguhnya azab Allah itu amatlah pedih.
Perhitungan waktu hidup kita di dunia dibandingkan dengan kehidupan kita di alam akhirat nanti, bagaikan sebutir pasir di gurun, setetes air di samudera. Jangan sampai kita sia-siakan 1,44 jam kita, jangan kita rusak 1,44 jam kita. Jangan karena 1,44 jam kita bermaslah, jutaan tahun, miliaran tahun, bahkan triliunan tahun, atau bahkan lebih kita celaka! Naudzubillahiminzalik.
Dunia itu hanya persinggahan, jangan terlalu nyaman dengan tempat bersinggah. Manfaatkan persinggahan itu dengan baik untuk mempersiapkan perjalanan yang lebih panjang. Hidup itu tak ubahnya sebuah persiapan sebelum kita melakukan perjalanan yang amat jauh. Hidup bagaikan “packing” yang kita lakukan sebelum kita naik gunung. Kita mempersiapkan dan mengemas segala perbekalan dengan baik. Bahan makanan, air, tenda, carrier, dll, disesuaikan dengan jalur pendakiannya, lamanya perjalanan, dll. Tanpa terasa dan tanpa perlu dinanti, waktu keberangkatan akan segera tiba.
Maka dari itu, mari kita persiapkan sebaik mungkin, mari kita rancang akhirat kita sebagaimana kita merancang dunia kita. Hanya satu setengah jam! Itu pun kalau satu setengah jam, kalau ternyata, qadarullah waktunya lebih cepat... kita tidak pernah tau dan tak akan mampu mengganggu gugat qadar Allah.Â
Segala sesuatu yang sudah pasti kehadirannya itu adalah dekat, sehingga bila kita sadari, kematian itu sesungguhnya lebih dekat daripada hari esok.
Cuma satu jam setengah (or less). Persiapkan dengan baik. Nothing Else Matter.
We are now perched on a strange cusp of history, a time when the world feels like it's been turned upside down and nothing is quite as we imagined. But uncertainity is always a precusor to sweeping change; transformation is always preceded by upheaval and fear. I urge you to place your faith in the human capacity for creativity and love, because these two forces when combined, possess the power to illuminate any darkness.
Edmond Kirsch
Hindari diskusi dengan tukang debat kusir. Mereka berargumen untuk menang, bukan bertukar wawasan.
Self Reminder
Ingatlah ketika Nabi Ayyub a.s. diuji oleh Allah SWT dengan penyakit yang belum pernah ada sebelumnya dan tidak akan ada setelahnya. Lalu seluruh hartanya habis, kemudian ke-11 anaknya wafat. Kemudian Nabi Ayyub a.s. meningkatkan kualitas ibadahnya dan tidak pernah meminta keringanan ataupun mengeluhkannya bahkan sedikit. Sekarang, apa dan seberapa berat masalahmu?
Out of Nowhere
Bandung dan Perjalanan Malam
Bus malam ini melaju cepat membawaku kembali ke perantauan. Aku suka perjalanan malam. Suka dengan temaram lampu permukiman kota Bandung, lebih seperti sekelompok kunang-kunang yang diam di tempat daripada konstelasi bintang. Cahaya yang memberi ketenangan bagi insan yang melihatnya dan kehangatan bagi mereka yang ada di dalamnya, bercengkerama dengan keluarga, atau sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Aku suka dengan jalan yang tidak terlalu ramai. Aku suka kegelapan di dalam bus yang membawaku kembali. Aku suka melihat orang-orang yang tertidur lelap dengan wajahnya yang polos, tertimpa cahaya lampu kendaraan dari arah berlawanan. Namun terlebih dari itu, perjalanan malam memberiku kesempatan untuk berada di rumah lebih lama.
Bandung itu kota yang indah, sangat indah, tapi bagiku, juga kota yang kejam. Ia meninggalkan jejak-jejak kenangan di setiap sudutnya dan menimbun mimpi-mimpi yang tak kuasa diwujudkan. Itu semua menyakitkan setiap kali aku mengingatnya. Bekas bilur-bilur yang mengabstraksi hari ini dan mengaburkan masa depan. Di setiap sisi kota Bandung tergurat lukisan-lukisan tematik, semuanya unik, namun tetap sistematis. Kenangan itu sesuatu yang mengacaukan relung hati. Seperti peluru, ketika timbul pemicu rangsang, ia melesat cepat, tak dapat diterka, lalu bercokol dengan nyaman dalam sukma. Mengolok-olok hari ini dengan  masa lalu.
Kenangan itu indah, tapi juga jahat. Mengaburkan pandanganku untuk mencari ruang kosong dalam kanvas untuk melukiskan kenangan baru, karena terlalu nyaman menikmati lukisan-lukisan lama. Sekaligus mengosongkan ruang inspirasi.
Mungkin itu alasan Tuhan memberiku rumah baru. Tempat yang berani aku sebut sebagai aktivitas "berpulang" setiap kali aku kembali. Ruang yang lebih besar dalam sebidang kanvas baru untuk melukiskan kisah anyar. Kanvas yang masih putih dan terasa kasar dengan torehan-torehan yang masih terlihat abstrak, tapi dengan warna-warna yang sudah cukup indah.Â
Mungkin itu alasan Tuhan.
Agar aku tetap bisa “berkarya” tanpa harus dikaburkan oleh kenyamanan masa lalu.
Ahad, 24 September 2017
Sehalus-halusnya musibah adalah ketika kedekatan kita dengan Allah perlahan-lahan tercabut. Dan itu biasanya ditandai dengan menurunnya kualitas ibadah . - Aa Gym - . . Donasi: https://kitabisa.com/nakindonesia
Dalam kehidupan, sebagian orang mencari makna kehidupan, sisanya mencari uang. Jika mereka kita dapatkan, apakah hidup berubah sempurna? “Yaelah, realistis Lah kita butuh duit bro” “ah tapi menurut gw duit gak penting, gw memilih untuk bisa menjadi bermanfaat” Can we just looking for both? Tapi kalau udah dapet keduanya, kita mau ngapain lagi sih hidup? And the end, Allaah lah yang manusia cari. Yang seharusnya jadi pertama menjadi tujuan, agar hidup jelas bermakna sejak awal.
Zaman yang serba instan melahirkan generasi-generasi yang tidak menghargai proses.
Random Thought
Everytime i talk to you, i can feel myself nothing but a failure.
Dear Atasan