Tabung Jin
Entah berapa kali saya nomboki keuangan bisnis kecil-kecilan saya di akhir bulan dengan uang pribadi yang harusnya ditabung, ketika kumat sifat sak det sak nyet kudu kelakon, misalnya saja ketika lagi buka aplikasi marketplace atau ketika jalan-jalan di suatu tempat, ndelalah mata ini berbinar-binar menatap produk yang menarik dan menggoda iman, lalu timbul hasrat yang sangat menggoda untuk meminangnya dan memlikinya.. ooohh duhdek, kangmas gak tahan... lalu lepaslah kendali ini untuk klik Beli, masuk Keranjang, lalu Bayar!
Akhirnya dengan sukses tersunatlah saldo rekening bank yang rekening tersebut seharusnya saya alokasikan untuk dana keluar masuk transaksi bisnis, seperti DP dari customer, dan untuk kulakan barang. Iya deh.. iya, saya tau benak kalian, sebelum kalian menghujani dengan pertanyaan klasik tentang keharusan pemisahan rekening pribadi dan rekening bisnis. Iya, ini sudah terpisah kok, tapi ketika hasrat itu memuncak mendadak rekening-rekening itu rujuk kembali.. halah..
Bagaimana tidak terpakai, lha wong transaksi saya di marketplace itu menggunakan saldo rekening sebuah bank yang seharusnya saya alokasikan penggunaannnya hanya untuk bisnis. Rekening dari sebuah bank yang sangat kondang dengan olok-olok capek antrinya, bank dengan warna biru dan putih, yang mesin ATM-nya pating telecek dimana-mana ada, dan aplikasi mobile banking-nya paling mudah penggunaannya. Karena dengan kemudahan dan tersedia dimana-mana itulah yang jadi pertimbangan untuk saya lantik menjadi rekening bisnis saya, supaya calon customer bisnis saya juga mudah dalam bertransaksi dengan saya.
Sedangkan rekening pribadi saya sengaja menggunakan bank yang kurang populer, bank yang warna dasarnya kuning, bank yang mesin ATM-nya sedikit dan sulit dicari, pertimbangannya supaya tabungan tetap aman tersimpan dan digunakan ketika saatnya telah tiba. Tapi sungguh paradoks, dengan kemudahan-kemudahan si bank Biru yang bertugas sebagai penjaga gawang saldo bisnis dan sulitnya akses rekening pribadi di bank Kuning, ternyata menjadikan saldo bisnis saya tersunat berkali-kali..eh gak berkali-kali juga ding. Kalau berkali-kali nanti bisa jadi bujel deh.
Dan untungnya barang-barang yang transaksinya menggunakan rekening bisnis saya tadi harganya kisaran puluhan sampai ratusan ribu, misalnya untuk beli album CD, buku, efek gitar, asesoris gitar, dan semacamnya. Masih amanlah kalau akhir bulan saya tutup dari rekening pribadi. Meskipun nominalnya tidak sampai jutaan tapi yang namanya pelanggaran tetaplah pelanggaran, kartu kuning buat saya sendiri, alarm waspada untuk ketidak disiplinan ini sudah menyala, apabila diterus-teruskan pastinya membahayakan keuangan masa depan pribadi dan bisnis kecil-kecilan saya, siap-siap saja menerima kartu merah dan didepak dari keuangan liga Serie A, halah opo maneh iki hahaha..
Dari empiris-empiris pribadi itulah, ketika saat ini butuh sepasang speaker audio flat yang standar untuk produksi lagu, recording, mixing dan mastering lagu untuk band saya, yang harganya 7 digit. Saya memutuskan untuk hati-hati dalam keuangan, hati-hati kena kartu merah di akhir bulan. Memang butuh tapi tidak butuh-butuh banget, karena masih ada jangka waktu untuk melakukan sesuatu, melakukan perlawanan terhadap karakter saya yang sak det sak nyet kelakon. Terpikirlah sebuah quote dari seorang trainer keuangan yang saya lihat di youtube beberapa hari lalu, “bukan seberapa besar engkau mendapatkan, tapi seberapa besar engkau bisa menyisihkan”.
Akhirnya saya menggunakan cara old school, cara kuno, yaitu dengan menabung. Lhah, kalau menabung kan cara yang sudah cukup jamak dan bisa di bank? Iya, tapi ini beda. Bedanya menabungnya tidak di bank karena ini menabungnya rutin harian dengan menyisihkan beberapa rupiah dari pengetatan biaya konsumsi harian, jadi malu dong ke mbak-mbak teller bank kalau setiap hari ketemu cuma setor beberapa rupiah, ini mau nabung atau mau modus mbribik mbak-mbak bank hahaha.
Karena menabung itu berasal dari kata dasar tabung, dalam KBBI tabung itu: tempat sesuatu yang bentuknya seperti bumbung, bumbung itu bambu yang panjangnya seruas atau lebih, mungkin karena orang jaman dahulu menyimpan sesuatu seperti dokumen, lontar, atau keping uang ke dalam bambu. Dan supaya greget nabungnya, carilah bentuk tempat yang benar-benar seperti definisi KBBI tadi, yaitu yang lurus, berongga, panjangnya kira-kira seruas bambu dan akhirnya ketemulah kaleng bekas wadah snack.. alhamdulillah greget!
Tabung saya letakkan di pojokan ruangan dekat dengan laptop, kata orang-orang yang mata batinnya lantip, letak jin itu kebanyakan ada di pojok ruangan, maka saya menyebutnya itu Tabung Jin. Jadi ketika nanti akan beraktifitas di depan laptop maka tabung jin ini akan terlhat jelas oleh pandangan mata, secara langsung teringat janji untuk disiplin dalam mengatur keuangan demi terwujudnya cita-cita, kemudian muncul niat memasukkan uangnya ke rongga tabung, lalu tabung dielus-elus sebentar, sambil memejam mata berimajinasi keluar Jin-nya dari dalam dengan setengah berteriak “Kuberi kamu satu permintaan!” Subuh, 5 Februari 2018










