: 'Get your coffee and favorite book. Make your Sunday even brighter' (at Manifesto)

Discoholic 🪩
official daine visual archive
Misplaced Lens Cap
will byers stan first human second
$LAYYYTER

Kaledo Art
Stranger Things
One Nice Bug Per Day
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
No title available
Xuebing Du
taylor price

Kiana Khansmith

Product Placement
Jules of Nature
Fai_Ryy
art blog(derogatory)
todays bird

Love Begins

Janaina Medeiros
seen from Ireland
seen from United States
seen from Germany

seen from Germany
seen from Côte d’Ivoire

seen from Côte d’Ivoire

seen from Côte d’Ivoire

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Netherlands
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Lithuania

seen from Sweden
seen from Malaysia
seen from Indonesia
@ahmadfajarseptian
: 'Get your coffee and favorite book. Make your Sunday even brighter' (at Manifesto)
Like I love You, sweet and bitter ... #palembangicon #blackcanyoncoffee #chococino #palembangfood #coffee #chocolate #iloveyou #barista #special #festivefood
"Buku adalah gudang ilmu. Membaca adalah kuncinya", begitu Katanya. #rafif #gramedia #Palembang #palembangjalanjalan #belajar #tokobuku #bookstore #lesehan
Cause food should ever be this good #spaghetti #spaghettialfredo #cuppacoffee #palembangicon #palembangfood #festivefood #palembangculinary #lunch
Maka perpisahan hendaknya ditemani makanan nikmat
Makan, bukan hanya tentang makan. Tapi bagaimana berbagi kebahagiaan dengan orang tercinta #lunch #latelunch #palembangicon #liberica #chickengrill
Ada hidup di sebalik bening kaca Di dalam ruang berkaca Di tengah rimbun perkotaan #aquarium #nobu #lunch
Kopi, adalah tentang kehilangan, sekaligus kedatangan. #kopi #caffelatte #blackcanyon #palembangicon
Kita tidak meminta beban untuk diringankan. Kita menuntut pundak untuk dikuatkan
Jongos Negara
Bagus ada mall yang larang anak sekolah berseragam masuk selama jam sekolah. Berlaku juga ga buat PNS ya?
Pegawai kantoran ngehe
Tentang Hujan : Buku
“Ke sini gak weekend ini?” tanyanya melalui pesan singkat.
“Rencananya sih gitu. Mau ke Gramed. Mau temeni?” Jawabku.
“Mmm... Boleh”.
Pagi itu kereta api yang kutumpangi baru saja merapat ke stasiun. Sejenak meregangkan badan, sebelum akhirnya turun. Tak perlu berlomba. Toh tak segera juga ke rumah. Masih subuh.
Kubuka telpon genggamku. Mengetik pesan singkat. Tak lama ada pesan balasan masuk. Masih ada beberapa jam lagi. Kutuju musholla di pojok gedung stasiun. Masih bisa tidur untuk sejenak.
---
Aku suka aroma buku. Aroma kertas yang khas. Berwarna coklat dengan permukaan kasar. Bukan putih bersih. Dan ini seperti di surga! Tempatku bekerja tak ada toko buku. Apalagi sebesar ini. Kutelusuri satu rak. Pindah ke rak lainnya. Sesekali aku melihat ke seberang ruangan yang luas. Memastikan ada satu sosok berkerudung di sana.
Kulihat jam tanganku. Hampir dua jam di sini. Perutku mulai berisik. Segera kuhampiri ia. Masih tertunduk membaca buku. Bersandar di salah sebuah dinding.
“Asik bener kayaknya”, aku tegur dia. Ia mengangkat kepalanya.
“Mas udahan? Bosen ya?” tanyanya. Tajam matanya memperhatikanku.
Aku ketuk kepalanya. Beberapa kali. Perlahan saja. Ia merengut sambil melotot. Mengusap kepalanya yang kuketuk tadi. Aku tertawa pelan.
“Laper ga? Makan yuk?” ajakku.
“Boleh”, jawabnya singkat. Merajuk tampaknya. Aku kembali tertawa.
Aku ambil beberapa buku yang memang sudah kupilih sebelumnya. Ia mengikuti sambil memegang ujung jaketku.
Pernah ada yang bilang, toko buku adalah tempat yang buruk untuk berkencan. Tak menyetujui, tak juga membantah. Ketika ada orang yang memiliki kesukaan yang sama denganmu, satu ide denganmu, memahamimu, tidakkah itu menyenangkan?
akhirnya ku menemukanmu saat hati ini mulai meragu akhirnya ku menemukanmu saat raga ini ingin berlabuh
***
Tulisan ini dibuat sebagai bagian dari #Ceritakan15Lagumu @aidicted
Bukan kejahatan, memiliki hati yang lembut
Bapak bapak yang nangis pas nonton Doraemon
Aku selalu bahagia saat hujan turun karena aku dapat mengenangmu untukku sendiri
Utopia - Hujan
Idealisme belum teruji ketika berada di luar sistem. Idealisme baru teruji ketika sama antara perkataan dan perbuatan
Iwan Djuniardi, Direktur TTKI
Lu belum teruji makan ayam kalo belum ngerasain brutu-nya
Kulinarian amatir
Tentang Hujan : Embun
“Kita duduk di sana aja, Mas”, tunjuknya pada sebuah ayunan kosong.
Ya, pastinya sudah kosong. Sudah lewat tengah malam. Ia menggosok-gosokkan telapak tangannya. Menghirup hawa panas yang keluar. Titik-titik air masih jatuh dari langit. Aku sapu bangku ayunan tersebut. Memastikan air tak menggenang. Meski tetap basah juga.
“Ehem .. ehemm ...”, aku berdeham keras. Suaraku masih serak.
“Minum lagi?”, tanyanya.
“Tidak ah. Kembung nanti”, aku menolak uluran botol mineral dari tangannya.
“Emang ga minum di dalam tadi? Dapat berapa album?”, ia bertanya dengan senyum menggoda.
“Haha. Biasalah, ngikutin abang-abang kita itu. Untung ga putus pita suara.”
Ia tertawa. Manis. Lalu menunduk.
Aku genggam tangannya. Ia menoleh. Aku menengadah, melihat langit gelap. Ia mengikuti. Lama kami menatap.
Puncak sedang tak ramai. Hanya kami berdua yang ada di luar saat ini. Tempat ini selalu dingin. Hujan membuatnya bekali lipat. Namun malamnya masih tetap terlihat cerah. Ada beberapa bayang bintang di atas sana.
“Jam berapa, Mas?” tiba-tiba ia bertanya.
“Lewat jam dua,” aku jawab. Kulihat jam. Mendekati pukul tiga fajar.
“Mau masuk?” kali ini aku bertanya.
“Mau di sini dulu aja. Mas mau masuk?”
“Ga ah. Masa ninggalin di sini sendirian?”
Ia tersenyum.
“Mau ngapain kita?” lagi aku bertanya.
“Nunggu pagi aja”, jawabnya santai.
Aku tersenyum. Kuraih kepalanya. Kuerbahkan dibahuku. Ya. Kami duduk di sini. Berdua. Menunggu pagi.
----
Apa yang terjadi dengan hatiku Kumasih disini menunggu pagi Seakan letih tak menggangguku Kumasih terjaga menunggu pagi *** Tulisan ini dibuat sebagai bagian dari #Ceritakan15Lagumu @aidicted
Tentang Hujan : Apa Adanya
Satu tahun sebelumnya
---
Aku raih telpon genggam, memilih satu kontak yang sudah sangat kuhapal. Ada nada sambung di sana. Lama.
“Halo”, sapa suara di sana. Datar. “Halo. Lagi apa?” Aku bertanya dengan gelisah. “Mau ke dokter.” “Lho? Lagi sakit? Perlu ditemani ga?” “Ga. Udah ada yang antar.” “Oh.” “Udah dulu ya. Udah ditunggu.”
Aku menutup panggilan tersebut. Jelas. Nada dingin dan datar itu.
---
Penghujung minggu. Sore. Mendung. Aku raih telpon genggamku. Kuketik pesan singkat. “Di mana?” Tanyaku. “Lagi naik.” Jawaban pesan singkat itu masuk. Benar-benar singkat. “Sama siapa?” “Teman.” “Naek apa?” “Motor.” Lagi-lagi obrolan ini terlalu kaku dan dingin. --- Aku sedang berbaring di kamar hotel. Sudah terlalu rasanya. Padahal belum ada satu bulan aku tak bicara dengannya. Kuputuskan menelponnya. “Lagi apa?” Tanyaku. “Lagi makan, nih.” Jawabnya di sana. Lebih ramah. “Tumben, biasanya telat.” “Iya, udah diingetin soalnya.” Deg !!! Jantungku seperti terhantam keras. “Iya, udah ada satpamnya kok. Tenang aja.” Kembali ia berkata. Menegaskan. Untuk sekedar bangkit dari tempat tidur pun aku tak bisa. Bahkan sepertinya tempat tidur ini menarikku hingga dalam tanpa batas. --- Satu tahun berlalu. --- Telpon genggam masih lekat di telingaku. Panas. Hatiku tepatnya. Di seberang sana suara tangis masih terdengar. Tak lagi terisak. “Awak ga sanggup, Mas.” “Yaudah, gapapa. Pulang aja. Daripada di sana, ga ada siapa-siapa.” “Ga berani. Ga bisa juga cerita sama siapa-siapa.” “Mas temenin ya?” “Kapan Mas ke sini?” “Ntar malam. Besok pagi kita langsung pulang, ya?” Segera setelah menutup telpon, kupesan tiket kereta api. Pulang pergi. Teman yang kutitipkan tiket sampai mengernyitkan dahi. Mempertanyakan. Yakin mau berangkat malam nanti dan langsung pulang lagi esok paginya? Tak ada alasanku untuk menunda. Sudah kukecewakan ia setahun yang lalu. Tak bisa diulangi lagi kali ini. Apa pun yang terjadi padanya. Kupakai kembali headphone komputerku. Masih ada lagu itu mengalun. Kau boleh acuhkan diriku Dan anggap ku tak ada Tapi takkan merubah perasaanku Kepadamu Kuyakin pasti suatu saat Semua kan terjadi Kau kan mencintaiku Dan tak akan pernah melepasku Aku mau mendampingi dirimu Aku mau cintai kekuranganmu Selalu bersedia bahagiakanmu Apapun terjadi Kujanjikan aku ada *** Tulisan ini dibuat sebagai bagian dari #Ceritakan15Lagumu @aidicted